Mindawati-peranginangin’s Weblog

Sharing ideas and media for exchanging information

BARACK OBAMA DENGAN KONTROVERSI PEMBANGUNAN ISLAMIC CENTRE DI GROUND ZERO, NEW YORK, AMERIKA SERIKAT

Kami mengikuti perjalanan perkembangan pemilihan calon presiden Amerika yang dimenangkan oleh Obama, sejak ia masih sebagai calon dari Demokrat sebagai saingan Hillary Clinton. Ketika pemilihan umum itu terjadi, kami berada di New York. Kami masih ingat, sampai tengah malam saat itu, kami masih berpikir ia tak kan menang, mengingat bagaimana Amerika yang cukup rasis, walaupun negaranya adalah yang paling getol berbicara tentang Demokrasi. Kami tidak sekedar cuap, karena kami tinggal disitu selama sembilan tahun. Selama masa kampanyenya pun, dalam diskusi kami dengan perwakilan kulit putih dari belbagai golongan, gema rasisme itu masih bergaung. Kemenangannya adalah kemenangan partai Demokrat, karena orang Amerika sudah “muntah” dengan kebijaksanaan Bush dari partai Republik. Kemenangan Obama atas Hillary, karena orang mau “a new fresh person.” Hillary dipikirkan sebagai “the continued Clinton.”  Pengaruh Clinton masih sangat besar hingga kini, bisa dilihat dari perkawinan Chelsea yang baru berlangsung (link dengan “the jewish heritage”).

Kita tahu bahwa Obama tidak sama dengan SBY. Ini tidak hanya karena faktor perbedaan usia dan latarbelakang, tapi juga perbedaan cara dan konteks berpolitik. Obama berani mengambil keputusan yang tidak popular, terbuka dan berdialog dengan kepentingan publik. Wajar, karena ia dari partai Demokrat, hampir sejajar dengan symbol PDIP untuk wong cilik, di Indonesia. Dalam hal ini sebenarnya jika PDIP secara serius fokus pada kebutuhan rakyat, besar kemungkinan partai ini akan “gets more voters” untuk pemilihan umum di Indonesia yang akan datang. It is a time orang merindukan pemerintah yang pro-rakyat.

Cuma, untuk vote Obama kali ini terhadap pembangunan “Islamic centre” di “ground zero”  meragukan kami, karena menurut kami kebijaksanaan ini tidak memecahkan atau menjawab masalah yang ada, karena “the root of the problem” adalah paradigma politik luar negeri Amerika. Coba kita simak latarbelakang timbulnya “the ground zero”, “who was the actor?” (lepas dari tidak bisa disangkal bahwa ini adalah buah yang dipetik dari permainan politik luarnegeri Amerika dengan CIAnya, dll). Di sini kami  tidak mau mengangkat pemerintah yang diwakili oleh Obama, tapi masyarakat banyak, “the people.” Banyak sekali “innocent peoples” yang mati karena peristiwa yang disebabkan kesalahan politik luar negeri negaranya. Sekarang Negara tidak mau mendengar suara rakyat yang adalah “victim” (korban) dari pada kebijaksanaan mereka.

Dua bulan setelah “Nine Eleven”, terjadi, kami ke New York dan menginap di Soho. Kami suka jalan dari Soho hingga ke “downtown” (lokasi ground zero) karena meliwati China and Italian towns yang banyak makanan dan barang pernak pernik lainnya, juga “the second hand book store”, Strand. Saat itu Nampak di sudut sudut jalan, orang membuat monumen – dengan dipenuhi gambar-gambar korban the Nine_Eleven dengan kata-kata penghiburan mereka, bendera Amerika, lilin-lilin, sahdu sekali- peringatan terhadap orang orang yang meninggal di peristiwa itu.. Hari ini  menjadi hari perkabungan nasional. Jika anda masuk ke gereja (namanya kami lupa) yang berlokasi sangat dekat dengan “the ground zero”, disinilah korban korban dibawa, bahkan ada yg dikubur disitu. Kalau anda lihat ke dalam sudah hampir seperti museum the ground zero. Memory ini sangat kental, bahkan masih sangat kental di masyarakat sekitar.

Amerika berbeda dgn Indonesia. Nyawa org dihargai (jangan bilang, lho kok infasi ke Irak? Bedakan antara pemerintah dan rakyat). Mereka tidak seperti kita yang baik pemerintah maupun rakyatnya sudah mengidap memory lost—(kalau rakyat mungkin karena apatis, yang lainnya karena tidak tahu malu), orang Amerika itu mengingat lama, dan ada ketulusan dalam ingatan. (ukh, sy seperti pro Amerika sekali ya).

Persatuan Gereja Amerika (NCC-USA) berkomentar tentang rencana pendirian ini

“For thousands of families, Ground Zero in southern Manhattan is holy ground. Thousands lost someone they love in the terror attacks of September 11, 2001, and hundreds of thousands know someone who was directly or indirectly scarred by the collapse of the World Trade Center. The emotional investment in Ground Zero cannot be overestimated.

That is precisely why Ground Zero must be open to the religious expression of all people whose lives were scarred by the tragedy: Christians, Jews, Sikhs, Buddhists, Hindus, and more. And Muslims.”

Kami tidak mengutip semuanya, tapi dalam “statement of affirmation” dari Sekretaris Jendral  NCC-USA ini beliau mengajak semua khususnya orang Kristen di Amerika untuk mengaminkan pembangunan centre ini dengan menuliskan beberapa nama korban yang beragama Islam.

Pernyataan Sekjen NCC USA di paragraph satu kami pikir tidak kena mengena jika dipakai sebagai dasar alasan di paragraph dua:

“That is precisely why Ground Zero must be open to the religious expression of all people whose lives were scarred by the tragedy: Christians, Jews, Sikhs, Buddhists, Hindus, and more. And Muslims.”

Kami khawatir, sebagai institusi, NCC USA kembali harus melakukan “politically correct,” dan harus mengikuti trend (in the post-post modern era we have to be inclusive). Pertanyaan kami kembali, apakah pendirian ini memecahkan masalah yang ada? Atau malah merugikan dengan menyakitkan perasaan masyarakat yang merasa hal ini adalah miliknya, dan menjadi boomerang bagi partai Demokrat kelak. Apakah dengan meluluskan pendirian ini bisa menjinakkan “teroris” yang sebenarnya isunya dipakai sebagai bahan propaganda politik dimulai oleh Bush dan serikatnya, lalu diikuti oleh Obama dan SBY?

Kami sendiri tidak setuju jika hal ini dipolitisasi baik oleh lawan politik Obama, baik oleh Obama sendiri, ataupun siapa saja. Sangat keterlaluan jika ini dilakukan. Mengambil keuntungan di atas nyawa nyawa orang yang tidak bersalah. Tidak ada yang dipecahkan dengan pendirian ini. Janganlah kita sekedar melakukan “politically correct” for the sake of  pluralistic society and religion. Ini bukan jawaban yang menyentuh akar masalah. Tapi perubahan paradigma politik luar negeri Amerika Serikat sedikitnya akan memberikan sedikit kesejukan bagi tatanan hidup dunia. Kami hanya mau kita merasa apa yang dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan, juga oleh masyarakat yang mengalaminya disana. Jawaban ada dimereka.

Pdt. Mindawati Perangin angin

Agustus 26, 2010 Posted by | wawancara | 1 Komentar

KEBENARAN TIDAK PERNAH KALAH DARI KETIDAK BENARAN.

KEBENARAN TIDAK PERNAH KALAH DARI KETIDAK BENARAN.

 Orang mengamini pernyataan ini tapi tidak hidup di dalamnya. Mengapa? Karena kita tidak sabar. Kita mau semuanya cepat terselesaikan. Sehingga mata ganti mata gigi ganti gigi. Hasilnya? Perpecahan dan kekacauan. Mengembalikan keadaan menjadi normal sudah memerlukan waktu yang lebih lama. Dan jika sudah ada luka, bekas itu tidak akan pernah sirna. Itukah maunya kita? Ketika kita katakana keledai tidak akan terperosok ke dalam lubang untuk kedua kalinya? Kita bukan hanya dua kali, bahkan berkali-kali.

Ketika manusia penuh ambisi, ia buta dan tuli. Makanya Yesus mengatakan ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Yang buta dan tuli ini bukan orang bodoh, bukan orang yang tidak mengenal rumah Allah, bukan yang bukan aktivis keagamaan, bahkan merekalah biangnya. Mereka pintar dalam kebodohan; mereka suci dalam kemunafikan; mereka aktivis Tuhan dalam kepalsuan, merekalah yang menyalibkan Ia.

Sejak awal Yesus tahu merekalah yang acap menggunakan firman Tuhan untuk menghukum sesama, dan mencari cari kesalahan siapa saja. Musuh utama mereka adalah yang tampil utama. Mereka tidak mau disaingi karena mereka mengclaim dirinya merekalah yang terutama dan yang harus menempati posisi itu. Dicarilah berbagai cara, dan mengkondisikannya yang berpuncak di Golgotha. Jangan bilang Allah membiarkan atau cuci tangan? Itu Pilatus. Allah memakai kebutaan mereka untuk menggenapi rancanganNya. Dinilah kemahakuasaan Allah, yang saat itu juga adalah keterbatasan manusia. Ketika manusia mengatakan bahwa ia menang, ternyata ia kalah; Bahwa ia tinggi padahal ia rendah.

Yang dihina, disiksa, dinista, yang di claim sebagai pembohong, pengacau, sok hebat, sok pintar, sok berani, sok apalagi— dibalikkan menjadi— ya mulut yang sama menyatakan, Ia anak Allah.

Penyerahan diri Yesus pada Penciptanya yang utuh penuh membuat pemenuhan rancangan Allah menghasilkan buah yang lebat sekali. Inilah intinya. Yesus tidak bereaksi atas semua yang dicerca padanya. Ia mengerti kelemahan manusia, untuk itu Ia datang, sehingga jika ia bereaksi atas semua ketidakbenaran yang ditujukan padanya ia sudah tidak Yesus lagi, ia sudah menjadi sama seperti mereka.

Keimanan yang utuh penuh menghasilkan pernyataan, “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.! Yesus percaya Bapanya adalah Tuhan yang hidup yang tidak akan membiarkan Golgotha sebagai penghinaan, tapi puncak kemuliaan sebagai titik tolak perubahan yang radikal, yaitu pandangan dan pola pikir manusia direbut Allah menjadi pandangan dan pola pikir Allah.

Dalam konteks dimana ketidakbenaran sangat berkuasa karena dimiliki banyak orang dan yang berkuasa, jangan gentar. Tidak ada hal yang baru bukan? Percayalah:

1. Mereka dalam keadaan buta dan tuli, anda berteriak mereka tidak dengar, anda bertindak mereka tidak lihat.

2. Waktu akan menjawabnya, biarkan Allah kita yang hidup memainkan perannya. Dalam semua situasi Allah disitu dan waktu Allah adalah yang terbaik buat kita semua.

3. Jika kita bereaksi atas semua ketidakbenaran yang dinyatakan pada kita, kita akan menjadi sama dengan mereka, dan akan jatuh pada ketidakbenaran juga.

4. Dalam konteks begini anda menjadi sendiri, tersingkirkan dan terpojokkan, juga tidak ada hal yang baru. Yesus juga ditinggal para murid yang sebelumnya mengklaim sangat menyayanginya. Ingat Allah mu yang setia tidak pernah meninggalkan diri kita.

5. Perbanyak berdoa dan bersekutu denganNya, sehingga kita mampu bertahan sampai Ia mewujudkan rancanganNya.

Selamat melakukan perenungan menjelang Jumat Agung. Renungkanlah, apakah sebenarnya diri kita adalah bagian dari yang menyalibkan Ia.

Maret 22, 2010 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Let The Church Be The Church

                      Let The Church Be The Church

1. Hubungan Let the church be the church dengan GBP GBKP 2010-2015.

Let the church be church, Biarlah gereja tetap sebagai gereja, dalam arti biarlah gereja setia pada hakikatnya sebagai gereja. Mengapa ini menjadi judul tulisan kami? jawabannya adalah karena pernyataan inilah yang dikumandangkan sebagai dasar teologis Garis Besar Pelayanan (GBP GBKP) 2010-2015 yang akan dibahas di Sidang Sinode GBKP yang ke XXXIV pada tanggal 11-18 April di Sukamakmur. Jadi bagi seluruh jemaat GBKP umumnya dan peserta sidang Sinode khususnya, ada baiknya Jika dasar pemikiran teologis ekklesiologis visi GBP GBKP 2010-2015 sudah disimak lebih dahulu sebelum kita putuskan di sidang Sinode bulan depan.

2. Let the church be the church sebagai dasar visi dan misi GBP GBKP 2010-2015.

Let the church be the church adalah dasar dari visi GBP GBKP lima tahun ke depan yaitu: BERLAKU SEBAGAI TUBUH KRISTUS.

Pengertian Berlaku sebagai tubuh Kristus dijabarkan dalam empat poin pengertian yaitu:

1. Terjadi transformasi pribadi tiap orang menjadi murid Kristus. (manusia baru)

2. Mendudukkan pengertian Gereja yaitu Gereja adalah orangnya (being as a church).

3. Gereja mampu berdampak di dan bagi dunia (church is in the world and for the world) baik dalam relasi antar-gereja (intra church) dan antar-kepercayan (inter-faith)

4. Meningkatkan solidaritas, dan mengerti serta memberlakukan apa artinya solidaritas Kristus bagi seluruh ciptaan (church of the poor dan concern pada integration of creations yang menegakkan kebenaran dan keadilan).

Visi GBP 2010-2015 yang dijabarkan dalam empat (4) poin di atas diwujudkan dalam

a/ enam (6) misi yaitu:

1. Meningkatkan Spiritualitas Jemaat

2. Meningkatkan Teologia dan Peribadahan Jemaat

3. Meningkatkan Sikap Solidaritas Berdasarkan Penghargaan Terhadap Kemanusiaan

4. Meningkatkan Penegakan Kebenaran, Keadilan, Kejujuran dan Kasih

5. Meningkatkan Kwantitas Jemaat yang Terpercaya (kwantitas yang berkwalitas)

6. Meningkatkan Perekonomian Jemaat

Dan b/: THEMA sidang sinode 2010 yaitu : GALATIA 6:2a : Bertolong Tolonganlah Menanggung Bebanmu dan Sub Thema: Bersama-Sama Dengan Seluruh Jemaat Kita Tingkatkan Kehidupan Spiritualitas dan Solidaritas Untuk Kemandirian Teologia, Daya Dan Dana.

Keenam (6) misi GBP di atas diimplementasikan dalam lima (5) program tahunan yaitu:

 1. Tahun 2011 : Meningkatkan Teologia Dan Spiritualitas (Mutu Ibadah)

2. Tahun 2012 : Meningkatkan Solidaritas Internal GBKP.

3. Tahun 2013 : Meningkatkan Solidaritas Eksternal (Ekumene Gereja Dan Masyarakat)

4. Tahun 2014 : Meningkatkan SDM

5. Tahun 2015 : Meningkatkan sosial, Ekonomi,dan Budaya Jemaat

2.  Apa dan mengapa let the church be the church sebagai dasar gerak kita lima tahun ke depan.

Mengapa Let the church be the church diangkat sebagai dasar visi lima tahun kedepan kita? Jawabannya adalah Karena latarbelakang pernyataan yang dikeluarkan oleh konperensi misi dan penginjilan sedunia ini yang mau menegaskan kembali agar gereja kembali ke barak (back to basics), mengena ke konteks GBKP yang berada dalam kegamangan untuk mengeksis dalam tiga konteks yaitu lokal, nasional dan global. Kegamangan dalam berupaya untuk tetap eksis di dunia ini membuat GBKP sudah hampir menjadi sama dengan dunia padahal gereja bukanlah bagian dari dunia walau ia ada di dunia namun ia harus untuk dunia (the church is in the world but not of the world but for the world). Keberadaan gereja seperti ini memerlukan pelayan yang berintegritas yang harus selalu tinggal di dalam pemiliknya (Kristus), seperti ranting yang tidak akan bisa hidup jika lepas dari pohonnya. Jika tidak begini maka gereja sudah tidak menjadi gereja lagi, tapi institusi social, Serikat Tolong Menolong (STM); LSM atau bahkan organisasi politik. Hal inilah yang disoroti dan awal dari munculnya gereja-gereja evangelical versus gereja-gereja ekumenikal.

Keberadaan gereja di dunia bukan berarti kita kompromi atau menjadi sama dengan dunia. Salah besar!. Tapi bagaimana gereja harus menempatkan dirinya di dalam dan menjalin relasi dengan dunia. Disatu sisi pernyataan ini mengharuskan kita untuk selalu memperbaharui metode pendekatan (methode approach) kita agar keberadaan gereja berdampak (church for the world). Disini gereja harus berorientasi pada kebutuhan (the need) orang yang kita layani, sehingga Agenda gereja (program dan prioritas kerja) harus selalu berubah berdasarkan need konteksnya/jemaatnya karena misi gereja tidak pernah berubah. Pola pelayanan dan ibadah yang belum terlampau memperhitungkan perubahan dalam masyarakat memerlukan terobosan dan inovatif. Di era global dimana dunia adalah pasar (market) membuat kehidupan menjadi sangat keras dan kompetitif, individualisme dan koncoisme meroket. Manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan akan tersingkir. Di konteks begini manusia membutuhkan sentuhan personal dan ruang untuk bisa mengekspresikan rasa yang terkebiri selama ini. Sehingga pola ibadah dan pelayanan haruslah mengakomodasi kedua aspek ini, Juga jadwal kegiatan GBKP haruslah disesuaikan dengan kalender kerja masyarakat yang telah berubah. Pembinaan haruslah ditingkat dan pengadaan kurikulum yang berkesinambungan dari Ka-Kr hingga Moria-Mamre haruslah diadakan juga layak mulai dipikirkan untuk Metode pembinaan yang memperkuat basis di sektor-sektor sehingga peranan penatua dan diaken sangat penting.

Disisi lain pada saat yang bersamaan gereja harus mampu menjabarkan Tuhan yang tidak berubah di konteks dunia yang terus berubah. Ini berarti gereja bukan sekedar mengiyakan apa yang dunia katakan, malahan gereja harus mengatakan apa yang terbaik bagi dunia dalam terang apa yang direncanakan dan dikehendaki Allah bagi dunia ini. Dan ini sering kali berarti harus menentang dan menantang roh-roh zaman yang cenderung menghanyutkan dunia. Disinilah gereja harus mampu memberikan alternative lain kepada dunia melalui pelayanan,kesaksian dan persekutuannya. (sehingga tidak perlu memunculkan aliran fundamentalisme dalam gereja). Untuk ini gereja harus menguasai “bahasa” dunia, dalam arti sosal, politik, ekonomi dan budaya dll

Berdasarkan kedua sisi ini maka gereja haruslah multi purposes dalam arti harus menampilkan ibadah dan diakonia yang menjawab kebutuhan jemaatnya dan inilah marturianya; dan koinonianya hendaklah menjadikan setiap jemaat menjadi being as a church sehingga mampu mewujudkan dalam tingkah laku, tutur kaya, sepak terjang yang menyatakan kasih Allah kepada dunia ini, dan berani memberitakan injil yang menuntut dan harga pasti bukan membuai (etika yang either or, istilah kami, bukan both and). Disinilah maka kita tampilkan GBKP sebagai church of the poor not for the poor dan menempatkan Meningkatkan Penegakan Kebenaran, Keadilan, Kejujuran dan Kasih tetap dalam misi GBP lima tahun ke depan.

Ingatlah bahwa gereja adalah alat bukan tujuan. Gereja adalah alat Allah untuk mewujudkan misinya menghadirkan kerajaanNya di atas dunia ini (bandingkan: Sehingga tercipta langit dan bumi yang baru wahyu 21). Sehingga gereja hanya menyampaikan maunya Allah, bukan maunya kita. Sebagai alat, gereja hanya menjadi penting jika ia menjalankan fugsinya yaitu menyampaikan misi Allah, pembawa kabar baik (euanggelion). Sehingga jika gereja tidak berfungsi seperti ini ia menjadi insignifkan. Gereja bukanlah bertujuan untuk dirinya sendiri; memperbesar dan memperkuat dirinya sendiri. Sikap seperti ini berlawanan dengan sikap solidaritas yang ditunjukkan Allah dalam memberikan anakNya tunggal (Yoh 3:16) dan Golgotha. Tapi Gereja sesuai dengan pengertian ek-kalio, dipanggil keluar maka setiap jemaat as being a church dipanggil untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia melalui tiap pribadi anggota jemaat yang mengakui dirinya sebagai pengikut Kristus haruslah hidup berdasarkan injil (hakekat manusia baru yang hidup dalam roh- being as a church).

Jika tiap jemaat berpola tindak seperti ini maka akan terwujud persekutuan gereja yang hidup di dalam dan dengan Kristus, dimana iman harus diekspresikan; Seseorang tidak dapat mengclaim mendengar suara Tuhan tanpa mampu mendengar ratapan seluruh ciptaan; Seseorang tidak dapat mengatakan telah menerima terang tanpa memancarkan terang itu. Disnilah Gereja sebagai tubuh Kristus mewujudkan ulang kuasa kristus, sehingga pelayanan gereja menjadi kesaksian.

Berdasarkan pemaparan di atas maka GBKP lima tahun ke depan haruslah menjadi bukan yang eksklusif dan ekspansif tapi inklusif, inspiratif dan rekosiliatif, disinilah ia berperan dengan gaya yang menghamba siap mengabdi kepada semua dan haruslah ia:

1. Berkesadaran identitas yang kokoh (teologia kontekstual dalam hubungan let the church be the church).

2. Memiliki visi yang jelas (agar mampu mempertahankan identitasnya sebagai gereja)

3. Peka dan tanggap dalam perubahan situasi (church for the world)

4. Oikumenis (gereja sebagai milik Kristus, church of Christ)

5. Kepedulian sosial dan berwawasan kebangsaan yang tinggi (solidaritas yang kontekstual)

6. Kepemimpinan yang efektif, aspiratif, partisipatif dan kolektif (management kepemimpinan)

7. Partisipasi warga jemaat yang luas (being as a church)

8. Spiritualitas yang bersolidaritas (berketaatan penuh kepada Allah dan kasih kepada manusia)

Selamat bersidang sinode. Wujudkanlah being as a church , BERLAKU SEBAGAI TUBUH KRISTUS selama mengikuti persidangan ini, sehingga segala sesuatu yang terjadi selama sidang sinode GBKP yang ke XXXIV ini adalah dari dan untuk kemuliaan nama sipemilik gereja saja, yaitu Kristus Tuhan kita. Amin.

Maret 13, 2010 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Kerajaan Allah vs Kerajaan dunia? Antagonis Atau Dialektikalkah?

Kerajaan Allah vs Kerajaan dunia? Antagonis Atau Dialektikalkah?

Perwujudan Kerajaan Allah yg dicitakan Yesus bisa dimengerti seperti konsep invisible church, dan kita yg berada dalam kerajaan dunia, dalam pengertian Calvin haruslah lebih menekankan konteks visible church. However pola pikir, ucap dan tindak dlm konteks visible church harus dalam terang dan arah invisible church ini.

Maka, jika kita setuju bahwa kerajaan Allah bukan antagonis kerajaan dunia, tapi berdialektika, nah ini!! Gereja harus berperan sekali di dalam menerangi arah kerajaan dunia agar perlahan tapi nyata tertransform menjadi kerjaan Allah, kan ini misi pengikut Kristus seluruh dunia, yaitu mewujudkan visi itu, yaitu mewujudkan kerajaan Allah di atas dunia ini.

Nah persoalannya jika berperan menerangi dan menentukan arah maka gereja harus

1. mampu berdialog dengan pemerintah juga semua badan trias politikanya (lihat konfesi GBKP), gereja menguasai bahasa sosial, politik, budaya dan ekonomi selain teologia tentu.

2. Mampu membimbing/mengarahkan agar kesemua badan bekerja untuk people (rakyat) atau bahkan kini untuk keseimbangan semua ciptaan. Inilah arti Golgota, untuk manusia. Kuasa yg dimiliki Yesus yg diberi oleh BapaNya untuk memulihkan kemanusiaan. Itu juga tugas eksekutif, legislatif dan judikatif kita.

Persoalannya adalah orang-orang yang terpilih di ketiga tempat ini kebanyakan bukan pilihan Allah, tapi terpilih karena kekuatan uang, dll- lihatlah apa yg dimuat SIB tgl 5 february sy cuplik:

dari sejumlah anggota DPRD Karo menyebut, Parpol tertentu telah memasang tawaran tarif kepada balon-balon bupati ke depan berkisar Rp300 juta sampai Rp500 juta/kursi kalau kandidat tertentu ingin maju dari jalur politik. Menurut oknum para anggota dewan dari berbagai Parpol yang meminta tidak menyebutkan identitas ini, menambahkan bahwa, tingginya tarif tersebut tidak terlepas dari besarnya biaya tertentu yang harus dikeluarkan oknum tersebut selama masa-masa kampanye sampai berakhirnya Pemilu Legislatif, 9 April 2009 silam.

Sehingga tujuan mereka di dalam masa bakti mereka yg utama adalah balik modal. Rakyat nanti dulu. jika sekarang orang karo ribut soal harga jeruk, dll, salah siapa? ini adalah dosa komunal, dosa kita semua. Kita menerima uang mereka, dalam wujud apapun juga. Siapa yg tdk merasa berdosa, silahkan yg pertama lempar batu ke perempuan itu kata Yesus. Yg paling gampang adalah menuding kesalahan orang lain, salah anda dan saya (kita) bagaimana? La lit sibujur, sada pe lang. Kerina enggo nilah.

Terus terang GBKP gagal dalam membina spiritualitas jemaatnya. Bukankah banyak anggota GBKP yang subjek dalam ketiga lembaga itu dan yang juga sebagai pemilih (voters) kemaren? Kita selalu lupa bahwa Yesus tidak “asbun” ketika Ia mengatakan di kayu salib, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Aristoteles juga mengatakan itu. Kita? diampunikah? karena kita tahu apa yang kita perbuat. Bahkan kita memakai kesempatan ini sebagai aji mumpung- sehingga terjadilah perputaran uang yg bermotifasi ketidakbenaran- bila kebenaran sebagai out put dari ketidakbenaran? Never!

Lalu bagaimana? jika kita masih berani mengclaim bahwa kita adalah pengikut Kristus maka kembalikan Kerajaan Allah sbgai penerang dan arah kerajaan dunia ini. Kita sdh diberi kemampuan untuk tampil beda, krna Kristus telah mmberi contoh Golgota yg bukanlah anugerah murahan (cheap grace, Dietrich Bonhoeffer). Hentikan semua permainan uang yg hanya mmbawa kita pada maut! Kesenangan yg kita dapatkan dgn uang dari sini hanyalah sesaat, krna uang itu bukan dari dan buah ketulusan. Kekuasaan/jabatan yg kita dapatkan dari hasil uang tadi juga tidak akan mmbawa kebahagiaan pada siapapun, Malah tekanan. Kembalikan semuanya pada aspek panggilan dan pilihan Allah serta jabatan itu adalah mandat Allah untuk melayani. Semakin tinggi jabatan kita semakin melayani kita. Jika kita mengembalikan aspek ini ketempatnya kembali, maka hal-hal lainnya akan ditambahkan padamu, kata Yesus.

Tunjukkan bahwa orang karo adalah orang yg hidup tapi hidup. Krn hanya yg hidup ada pertumbuhan. Yang lalu biarkan berlalu, hari ini n esok disongsong dgn optimis dan positif. Remember, today must be better than yesterday n tomorrow must be better than today. Lalit simetahat ibas Dibata.

Zaman internet, dualisme sudah gugur. Meminjam Pak Eka, paradigmanya “both… and… (bukan either… or…) Golden way (Jalan Kencana) adalah dialektika. Minda, bagi dong ceritamu dari Eropa sana! Masak sih kamu suruh aku mengorek-porek Calvin. Dasar dosen, hehee.. (Rainy MP Hutabarat).

Good analysis Mam. Jadi klo GBKP gagal dlm membina spiritualitas jemaatnya, dimanakah letak kesalahan dalam pembinaan tersebut? Apakah pada system yg kita punya, metode yg kita pakai, pengajaran yg belum membumi atau pada orang yang membinanya? Moga-moga saya salah tidak pada semua bagian dari proses pembinaan itu. Kalaupun begitu, ya harus segara … See moredi benahi, di rekonstruksi, di restrukturisasi agar tidak mengakar terlalu dalam, kasian jemaat kan Mam? Sebab mereka yg akan selalu menjadi korban dari semua ketidak beneran ini sehingga mereka tidak merasakan hadirnya syalom dan kerajaan Allah ditengah tengah mereka.
06 February at 22:24 · (Erdian Sembiring).

secara sederhana Kerajaan Allah mencakup seluruh dunia ciptaannya, oleh karena itu kerajaan dunia harus dikritisi sebagaimana mestinya yang dikehendaki Allah sang Kreator dan yang empunya jagad raya. Jadi dengan demikian tanggungjawab manusia adalah tetap menjaga dan memelihara ciptaan itu sendiri dengan konstruktif pemikiran dan aksi nyata.Tuhan Berkati Miss Minda dan Kita semua.. Amin..
07 February at 15:38 · (Edward Manalu)

Februari 19, 2010 Posted by | wawancara | 1 Komentar

Komentar atas Komentar

Tidak tau mengapa ketika menunggu telepon dari seorang yang berjanji menelpon malam ini, saya iseng membuka google dan mencek nama saya sendiri. lalu saya berhenti dibagian yang mengkomentari tentang artikel yang saya tulis yang berjudul Kemandirian Daya dan Teologia…di group itu diberi judul GBKP dan kekaroan Jemaatnya. Karena tertarik saya membuka bagian itu dan ternyata bagian itu adalah dan menjadi topik diskusi yang cukup panjang di GBKP yahoo group yang memang jarang saya baca. Saya baca komentar-komentar itu. Banyak yang bersifat praktis dan emosional yang acap saya katakan sikap seperti ini hanya membawa kita “no where.” Dwipa cukup mengerti arah artikel, namun di penghujung, jatuh kepada masalah pendekatan yang adalah metode bukan substansi. Untuk mengerti apa yang dimaksudkan seorang penulis, adalah sangat menolong jika membaca keseluruhan artikelnya, dan membaca semua tulisannya. Sehingga bisa menangkap intisari atau pokok pikiran yang ditawarkan. Tulisan saya biasanya mengajak orang untuk melihat dan mempersiapkan GBKP ke depan (church with the future). GBKP yang ada kini seharusnya sudah disiapkan oleh para pemikir GBKP yang bekerja 15-20 tahun yang lalu. Untuk mengkaji bagaimana GBKP nanti agar ada dan bermakna haruslah memadukan pemahaman ekklesiology dengan analisa konteks dari sudut anthropologi, sosiologi, psikologi, ekonomi dan politik. Met malam.

Well, senang membaca tulisan singkat ini Mam. Prof. Augustine and MP memberi saya banyak pemahaman ttg de-contextualizing dan re-contextualizing theology. Saya menyadari tugasndu dan teolog GBKP tidak ringan untuk merekonstruksi Teologia Karo bagi GBKP. Tuhan tetap sinampati.
10 December 2009 at 17:39 Erdian Sembiring Kembaren

Februari 19, 2010 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Peranan Ekklesiology Dalam Pembentukan Tata Gereja

Peranan Ekklesiology Dalam Pembentukan Tata Gereja

I. Ekklesiology haruslah berdialektika dengan tata gereja

Bagaimanapun Tata Gereja  harus berangkat dari dan menuju pada  pemenuhan pengertian  Gereja itu akan dirinya. Sehingga isi tata gereja haruslah berdialektika dengan pengertian gereja itu akan dirinya. Sehingga, jika hendak meninjau Tata Gereja  Calvin maka yang perlu disimak adalah pengertian Calvin akan apa itu Gereja. Begitu juga jika hendak meninjau isi tata gereja GBKP maka yang harus dilihat pertama sekali adalah apa pengertian GBKP akan dirinya sebagai gereja.

II. Ekklesiology haruslah alkitabiah dan kontekstual

Perlu diingat bahwa lepas dari upaya Calvin yang mengupayakan untuk sealkitabiah mungkin, namun sangat disadari bahwa pengertian Gereja yang diangkatnya adalah dari dan untuk kepentingan konteks saat itu, yaitu dimasa Reformasi yang berada pada ketertarikan antara dua kutub yaitu, ekklesiologi Katolik Roma yang mengamini bahwa Gereja Katolik adalah kesinambungan historic apostolic Petrus, hingga Paus bukan hanya penerus Petrus bahkan penerus Kristus, dan kelompok Protestan Radikal yang menyatakan bahwa Gereja yang benar (the real church) adalah Gereja yang tidak nampak (invisible) yaitu yang berada disurga (pengaruh pandangan Plato, dualisme) seperti yang dinyatakan oleh kelompok Anabaptis, dan prinsip Reformasi [1] yaitu:

  1. Keselamatan adalah anugerah[2] yang diamini berdasarkan iman (sola gracia, sola fidei/ justification by faith menjadi articulus stantis et cadentis ecclesiae /artikel yg membuat Gereja berdiri atau jatuh[3]).
  2. Sola Scriptura. Pengetahuan yang sejati mengenai Allah hanya diperoleh dari Alkitab yang adalah dasar Gereja sehingga tidak pernah Gereja lebih tinggi dari Alkitab[4].
  3. Imamat Am Semua Orang Percaya (1 Pet 2:5 dan tambahkan pengertian imam dalam surat Ibrani)[5]

Dampak dari poin 1 yaitu pernyatan bahwa keselamatan adalah anugerah yang diamini berdasarkan iman  sehingga manusia yang percaya pada Kristus seharusnyalah manusia baru (regeneration, rebirth)[6] memunculkan konsepnya atas:

  1. Gereja yang kelihatan (visible church).

Gereja yang kelihatan adalah gereja yang terdiri dari campuran orang munafik, yang mencari kehormatan, kekayaan, iri, memfitnah, orang-orang yang hidupnya tidak suci[7] (jelas pengertian ini dilandaskan atas pengertian Calvin akan apa itu manusia dan Allah), sehingga bagi Calvin gereja adalah sebagai seorang ibu[8] yang mengasuh serta mendidik anaknya sejak dari rahim[9] hingga mapan.

  1. Pengertiannya akan manusia yang berhubungan dengan pengertiannya akan anggota gereja yang walaupun sudah diselamatkan namun tetap merupakan manusia yang berdosa sehingga gereja perlu melakukan
  2. Penerapan disiplin dalam Gereja/Tata Gereja yang bertujuan untuk mengingatkan dan mengarahkan anggotanya untuk tetap hidup dalam status manusia baru sehingga:
  3. Pentingnya unsur pengakuan dosa dan hidup baru dalam liturgy ibadah dan pengingatan akan sepuluh perintah Tuhan ( dan dalam menjalankan kehidupannya sehari hari anggota jemaat sangat bergantung akan
  4. Peran Roh Kudus. Sehingga berdasarkan poin a, b, c, d dan e di atas Calvin menegaskan bahwa dalam gereja bukanlah factor disiplin yang prioritas tapi factor
  5. penyampain firman dan sakramen, karena gereja adalah alat utama Allah untuk mewujudkan persekutuan dengan Kristus (invisible church) sehingga berdasarkan hal ini maka:
  6. Allah memanggil orang-orang untuk ditugaskan untuk memberitakan firman, melayani sakramen, serta menuntun dan membina jemaat (Ordonnances Ecclesiastiques). Mulanya Calvin menetapkan hanya peran pendeta dan dibantu oleh para diaken di gereja Jenewa. Kemudian sekembalinya dari Starsburg ia menetapkan  empat jabatan dalam Gereja untuk melakukannya yaitu Pendeta (pembawa firman dan sakramen); Pengajar (unsur teologia), Penatua (penilik), serta diaken. Ketiganya saling melengkapi untuk mencapai tujuan pembinaan.[10] Dengan mengutip Efesus 4:10 Calvin menegaskan

…”Kita melihat bagaimana Allah yang dapat saja  membuat umatNya sempurna dalam sekejap mata, tidak menghendaki mereka mencapai kedewasaan kecuali melalui pendidikan dari Gereja.”  … “sebab gembala-gembala diberi tugas untuk memberitakan ajaran surgawi—  Ia tidak hanya menghendaki supaya kita membaca dengan tekun, tetapi ia juga mengangkat guru-guru yang dapat membantu kita dengan jasa mereka…”[11]

  1. Hal ini menyebabkan pengaplikasian pengertian akan “imamat am orang percaya” yang menjadi landasan para reformator sebagai upaya menentang keabsolutan peran manusia dan hirarki gereja yang nampak dalam gereja Katolik Roma dibatasi oleh Calvin.[12]

Dampak dari poin dua (2) Sola Scriptura nampak dalam upaya Calvin yang semaksimal mungkin mengalaskan semua konsepnya (Gereja, Peraturan Gereja, Pemerintahan Gereja, Manusia, Allah dll, lihat Institutio, Katekismus dan Tata Gereja Genewa dan Prancis) berdasarkan Alkitab. Sehingga tradisi tidak akan pernah lebih tinggi dari Alkitab. Alkitab haruslah dipelajari (lihat proposalnya akan jabatan pengajar), dan Alkitab haruslah diwartakan (kotbah minggu) secara benar[13], begitu juga Perjamuan Kudus[14].  Kotbah menjadi sentral di gereja serta tafsiran atas alkitab tidak bisa diabaikan. Mata pelajaran Biblika menjadi focus sekolah teologia Calvinis dan khusus di gereja Presbyterian, untuk semua calon pendeta harus lulus ujian bahasa Ibrani dan Yunani sebagai bahasa asli Alkitab.

Dampak dari Poin tiga (3), Imamat Am Semua Orang Percaya menghasilkan sistem musyawarah atau arih-arih dalam sistem Gereja yang dirancang Calvin yang nampak di Tata Gereja Jenewa dan Tata Gereja Calvinis untuk seterusnya. Juga dalam hal anggota gereja berhak memilih para presbyter dan ikut dalam mengambil keputusan. Sehingga sistem ini menempatkan keputusan yang tertinggi adalah sidang Sinode,  bukan perkataan Paus. Perlu menjadi catatan bagi kita saya pikir bahwa walaupun ada upaya Calvin untuk menghilangkan jabatan dalam Gereja (semua jemaat sama, namun dengan pembagian jabatan yang dibuatnya yang diawali dengan jabatan Pendeta dan Diaken, lalu mucul jabatan Penatua dan Pengajar (lihat sistem konsistori/ BP Runggun dan Tata Gereja Perancis, pasal xxvii.29) toch juga tidak bisa mencapai pengertian Imamat Am Rajawi yang Murni.[15] Dalam arti disistem Calvin toch terjadi juga perbedaan antara anggota jemaat (awam, lay) dengan presbiter. [16]

III. Tata Gereja Calvin

Bagaimanapun diperlukan alat untuk mewujudkan pengertian gereja akan dirinya, itulah Tata Gereja. Tata gereja pertama yang dirancang oleh Calvin adalah Tata Gereja Jenewa yang bertujuan untuk menciptakan jenis manusia yang memuliakan Allah yang dipesan oleh pemerintah Geneva setelah pemerintah itu mengadopsi ajaran Reformasi. Adapun isi Tata Gereja  Jenewa adalah:

A:  empat jenis jabatan yaitu:

  1. Pendeta. Fungsinya sebagai gembala: pelayanan sakramen dan pengawasan hidup (Ef 4:11)

Dalam Tata Gereja Jenewa tentang Pendeta dimuat dalam:

  1. Siapa yang berwenang meneguhkan Pendeta
  2. cara memperkenalkan calon pendeta
  3. cara bentuk sumpah dan janji dari para pelayan evangelis
  4. aturan jabatan kesalahan yang dapat dan tidak dapat diterima
  5. peraturan perkunjungan (visitation)
  6. cara perkunjungan.
  1. Doktor (pengajar, Ef 4:11)). Fungsinya sebagai penafsir Alkitab
  2. Penatua.[17] (Roma 12, orang-orang yang lanjut usianya yang dipilih dari anggota jemaat sebagai pemimpin[18]).  Dalam bagian ini juga termuat sumpah konsistori

4.   Diaken (1 Kor 12) untuk mengurus kaum miskin.

B:  Tambahan isi Tata Gereja Jenewa adalah tentang:

  1. Sakramen
  2. Perjamuan
  3. Nyanyian Gereja
  4. Perkawinan
  5. Hal-hal tambahan
  6. Pemakaman
  7. Kunjungan orang sakit; di penjara; anak-anak kecil; orang dewasa
  8. Pemilihan Penatua dan
  9. Pengucilan Gereja.

Tata Gereja  Prancis (Discipline ecclesistique) yang ditulis Calvin setelah Tata Gereja Jenewa adalah dasar dari Tata Gereja  Presbyterial Sinodal[19] yang diadopsi banyak Gereja Calvinis ditetapkan di sidang sinode di Paris tahun 1559. Tata Gereja ini lebih pendek dari Tata Gereja Jenewa terdiri dari:

  1. Tentang Sinode
  2. Pelayan
  3. Penatua dan Diaken. Disini Diaken masuk dalam tatanan Presbyteros seperti yang diwarisi GBKP.
  4. Ajaran Bidat/ Teologia dan
  5. Perkawinan.

Di Tata Gereja yang dihasilkan Dalam Sinode Emden (Jerman) pada tahun 1571 mulailah peranan Klasis dipertajam.[20]

Hal yang penting dalam Tata Gereja  Calvinis adalah:

  1. Tugas Gereja tidak dilaksanakan oleh satu orang saja (Katolik Roma)
  2. Bagaimana orang dipilih dan diangkat dalam masing-masing jabatan. Terjamin bahwa yg diangkat mempunyai kemampuan, tingkah laku dan kehidupan rohani[21]
  3. Ada perundingan antar Pendeta dan antar Pendeta dengan Penatua.

Walaupun demikian jangan dikatakan bahwa system pemerintahan yang disukai Calvin adalah demokrasi. Bukan, tapi Aristokrasi (pemerintahan yang dipimpin oleh orang yang terbaik- aristoi- terkemuka). Kritiknya terhadap demokrasi adalah dapat merosot menjadi kekacauan.[22]

IV: Tata Gereja GBKP

Sistem pemerintahan GBKP mayoritas dipengaruhi tata gerja Belanda Emden 1571 dan Dordrecht, 1619. Namun seperti yang telah disebutkan di atas bagaimanapun tata gereja suatu gereja haruslah berdasarkan pengertian gereja itu akan dirinya, maka merefleksikan pemaparan di atas ke Tata Gereja GBKP, bisa dikatakan bahwa dasar teologis GBKP tentang Gereja diadopsi dari dokumen-dokumen Calvinis namun nampak kurang dikaji secara mendalam dan menyeluruh sehingga belum menampakkan suatu keutuhan teologis. Padahal diketahui bahwa setiap pernyataan teologia dihasilkan berdasarkan konteks dan untuk kebutuhan konteksnya, sehingga itu nampak dalam perwujudan tata laksana.

Hubungan pernyataan teologis tentang apa itu Gereja, jemaat dll, dengan Konfesi GBKP yang baru dan pemaparan-pemaparan teologis lainnya yang terdapat di Tata Gereja, secara keseluruhan belum kena mengena, seharusnya dalam pembukaan Tata gereja dimunculkan pengertian gereja akan dirinya sesuai yang tertulis dalam Konfesinya.

Coba kita cuplik satu poin teologis yang terdapat dalam Tata Gereja GBKP :

Dasar teologis anggota jemaat dituliskan:

Anggota sidi wajib :

  1. a. Menjalankan fungsi dan peran sebagai Nabi, Imam dan Raja (imamat am orang percaya) untuk menyebarluaskan Kerajaan Allah (Keluaran 19 : 5 – 6;  I Petrus   2 : 9 – 10).

Pertanyaan kami jika anggota sidi sudah wajib menjalankan fungsi dan peran sebagai nabi, imam dan raja, maka bagaimana peran para presbyter? Dalam menyimak tata gereja GKI dan GKJW dan HKBP hanya HKBP yang menuliskan hal ini itupun dalam fungsi dan peran para presbyter, bukan anggota sidi jemaat. Karena berdasarkan defini inilah maka dijabarkan tata laksana dari tugas, hak dan kewajiban yang bersangkutan. Namun jika pengertian ini yang mau dipertahankan terus, maka pembinaan terhadap warga jemaat haruslah menjadi prioritas agar mampu menciptakan anggota baptis menjadi mampu untuk Menjalankan fungsi dan peran sebagai Nabi, Imam dan Raja setelah menjadi anggota sidi.

Saya pikir Calvin juga tidak mengartikan anggota sidi jemaatnya seperti hal di atas mengingat Calvin mencantumkan itu sebagai fungsi para pendeta dan presbyteros.

Definisi Pendeta, Penatua dan Diaken dalam Tata Gereja  GBKP sangat menampakkan warna Calvin (bandingkan dengan Tata Gereja  Jenewa) Cuma dalam pemilihan (lihat banyaknya kemelut pemilihan Pertua, Diaken- BP Runggun – BP Klasis dan Moderamen; syarat- syarat pemilihan yang tidak diwujudkan secara tegas; sistem penilaian Sekolah Teologia yang berorientasi dominan pada aspek kognitif) dan penggodokan para presbyteros (kursus pengembangan dan penyegaran Pertua, Diaken dan Pendeta) sangat diperlukan pembenahan yang serius. Definisi yang diberikan Calvin menggodok Pendeta menjadi Pastor dan Theolog. Sehingga kurikulum Sekolah Teologianya diarahkan untuk menghasilkan Pendeta dengan kwalitas ini.

Strategi pembinaan yang merupakan inti dari tugas Gereja harus dilakoni serius, seperti:

    1. Pengadaan Pengajar yang handal
    2. Sermon
    3. PWG harus diaktifkan ,
    4. Bahan dan pengelolaan pengajaran Katekisasi
    5. Bahan-bahan PJJ, Bimbingan dll
    6. Sekolah Teologia tempat penggodokan calon Pendeta GBKP
    7. Konven.

Sistem  organisasi yang diberlakukan di GBKP, seperti: Runggun- Klasis- Moderamen,  sidang-sidang yang pengambilan keputusan dimusyawarahkan, yang ada dalam Tata Gereja GBKP berwarna Calvin, selain SKS (Sidang Kerja Sinode), karena peserta SKS tidak ada perwakilan Runggun (lihat Tata Gereja  Sinode Emden). Cuma walaupun sistem GBKP Calvinis, namun dalam prakteknya sering terbentur kepentingan-kepentingan (ketertarikan kepentingan antar Runggun, Klasis dan Moderamen; juga ketertarikan antara peran Penatua dan Pendeta.[23] Perlu dipikirkan serius akan aspek dan kepentingan Runggun, Klasis dan Moderamen, dasar pemikiran haruslah  kepentingan bersama sehingga aspek Gereja sebagai tubuh Kristus yang saling melengkapi dan solidaritas harus kembali dihidupkan

Satu hal yang kurang nampak dalam Tata Gereja  kita adalah peraturan ibadah yang sebenarnya adalah faktor penting dalam Tata Gereja Calvin dan Calvinis dan ini harus disikapi atas dasar perpaduan antara pandangan ekklesiology dan konteks.

—————————————————————————————–


[1] Calvin disebut sebagai Reformator generasi kedua yang berdiri dipundak Luther.

[2] Pengertian ini sebenarnya dengan tegas dimuat Paulus dalam teologianya yang nampak di suratnya ke jemaat Roma, lalu diteruskan oleh Agustinus (354-430—yang juga menghadapi Donatisme). Ketegasan teologia ini tidak berlaku mutlak di Gereja Katolik saat itu yang mengamini usaha manusia melalui pelayanan Gereja, khususnya dalam sakramen-sakramen, untuk melawan dosa dan berbuat apa yang berkenan pada Allah. Kasih karunia diperhitungkan sebagai unsur pelengkap.

[3] Gereja wajib memberitakan berita pengampunan dosa tapi hak mengampuni hanya pada Allah.

[4] Institutio I vii — pada banyak orang terdapat kekeliruan yang teramat merusak, yaitu bahwa besarnya wibawa yang diberikan kepada kitab suci tergantung dari persetujuan Gereja. Hal 18.

[5] Imam menjadi bukan lagi jabatan khusus untuk orang tertentu (sebagai perantara manusia dan Allah, dalam pengertian PL) tapi fungsi pelayanan. Tentu perlu ada pembagian tugas dan jabatan serta pelayanan, namun hakikatnya adalah sederajat. Diantara para pejabat dan warga gereja tidak ada perbedaan derajat, yang ada hanyalah pengkhususan fungsi pelayanan.

[6] Inilah yang memisahkan Lutheran dan Reformed hingga kini. Perbedaannya sebenarnya adalah dalam penekanan Luther yang lebih berat atas justification, sedang Calvin atas sanctification. Kami sebagai anggota dialog Reformed sedunia dan Lutheran sedunia berupaya bagaimana segera akan terjadi merger diantara dua kutub ini menjadi uniert yang sudah dilakukan beberapa gereja di beberapa Negara.

[7] Lihat Institutio, hal 187-8; lihat juga pengakuan Iman Perancis pasal xxv.27 yang adalah buah tangan Calvin.

[8] Lihat Emidio Campi, “Calvin’s understanding of the church,” dalam John Calvin. What is his legacy?  Reformed World vol.57. December 2007, 291-4. Lihat pernyataan Calvin di Institutio:

Bagi orang orang yang menganggap Allah adalah Bapa, Gereja juga akan menjadi ibu mereka (so that, for those to whom he is Father the church may also be Mother)

[9] Gereja yang kelihatan sebagai ibu orang orang percaya THE VISIBLE CHURCH AS MOTHER OF BELIEVERS

— tetapi karena maksud kami sekarang ini ialah membicarakan Gereja yang kelihatan, maka marilah kita belajar dari nama “ibu” itu saja. Betapa besar manfaatnya, bahkan betapa perlunya pengetahuan mengenai Gereja itu bagi kita. Sebab bagi kita tidak ada jalan masuk ke dalam kehidupan kalau kita tidak dikandung di dalam rahimnya, dilahirkan olehnya, disusuinya, dan akhirnya dilindungi dan dimbimbingnya, sampai kita menanggalkan daging yang mesti mati ini dan menjadi sama dengan malaikat. Lagipula di luar pangkuannya tidak dapat diharapkan pengampunan dosa, ataupun keselamatan.

…I shall start, then, with the church, into whose bosom God is pleased to gather his sons, not only that they may be nourished by her help and ministry as long as they are infants and children, but also that they may be guided by her motherly care until they mature and at last reach the goal of faith. “For what God has joined together, it is not lawful to put asunder” [<411009>Mark 10:9 p.], Lihat juga pandangan De Jonge bahwa Gereja adalah sarana yg diberikan Allah kepada orang-orang percaya yang lemah untuk membina dan memelihara mereka dalam iman. Apa Itu Calvinisme, 99.

[10] Now we must speak of the order by which the Lord willed his church to be governed. He alone should rule and reign in the church as well as have authority or pre-eminence in it, and this authority should be exercised and administered by his Word alone. Nevertheless, because he does not dwell among us in visible presence [<402611>Matthew 26:11], we have said that he uses the ministry of men to declare openly his will to us by mouth, as a sort of delegated work, not by transferring to them his right and honor, but only that through their mouths he may do his own work—just as a workman uses a tool to do his work.

[11] Institutio, 186, lihat juga:

EDUCATION THROUGH THE CHURCH, ITS VALUE AND ITS OBLIGATION

But let us proceed to set forth what pertains to this topic. Paul writes that Christ, “that he might fill all things,” appointed some to be “apostles, some prophets, some evangelists, some pastors and teachers, for the equipment of the saints, for the work of the ministry, for the building up of the body of Christ, until we all reach the unity of the faith and of the knowledge of the Son of God, to perfect manhood, to the measure of the fully mature age of Christ” [<490410>Ephesians 4:10-13li, Comm., but cf. also Vg.].

We see how God, who could in a moment perfect his own, nevertheless desires them to grow up into manhood solely under the education of the church. We see the way set for it: the preaching of the heavenly doctrine has been enjoined upon the pastors. We see that all are brought under the same regulation, that with a gentle and teachable spirit they may allow themselves to be governed by teachers appointed to this function.

Isaiah had long before distinguished Christ’s Kingdom by this mark: “My spirit which is upon you, and my words which I have put in your mouth, shall never depart out of your mouth, or out of the mouth of your children, or… of your children’s children” [<235921>Isaiah 59:21]. From this it follows that all those who spurn the spiritual food, divinely extended to them through the hand of the church, deserve to perish in famine and hunger. God breathes faith into us only by the instrument of  his gospel, as Paul points out that “faith comes from hearing” [<451017>Romans 10:17]. Likewise, the power to save rests with God [<450116>Romans 1:16]; but (as Paul again testifies) He displays and unfolds it in the preaching of the gospel [ibid.].

[12] Lihat penjabaran poin 3 di bawah ini dan catatan kaki no 39.

[13] And in order that the preaching of the gospel might flourish, he deposited this treasure in the church. He instituted “pastors and teachers” [<490411>Ephesians 4:11] through whose lips he might teach his own; he furnished them with authority; finally, he omitted nothing that might make for holy agreement  of faith and for right order. First of all, he instituted sacraments, which we who have experienced them feel to be highly useful aids to foster and strengthen faith.

[14] Disini Calvin meneruskan pemahaman Luther bahwa Gereja yang kelihatan dibentuk oleh pemberitaan firman Allah. Tidak ada perkumpulan manusia yang boleh mengklaim menjadi “Gereja Tuhan” kecuali jika dia dilandaskan di atas Injil ini. Disini Luther menyangkal pengertian Katolik akan kesinambungan histories Gereja dari apostolic- tapi teologis bersifat fungsional-

[15] Lihat pikiran Calvin akan Gereja dan pejabatnya di De Jonge, Calvinisme, 48-50.

[16] De Jonge menuliskan …Akan tetapi ternyata Calvin merasa keberatan untuk menerapkan ajaran mengenai imamat am orang orang percaya dengan segala konsekuensi. Itulah sebabnya gereja yang digariskan dalam Ordonnances Ecclesiatiques dalam banyak segi dapat disebut gereja pendeta. walaupun Calvin segan untuk memakai istilah “klerus” sebutan dalam gereja abad pertengahan untuk menunjukkan status istimewa pejabat pejabat gereja, namun dalam praktek gereja dibaginya atas pejabat-pejabat dan “rakyat, dengan para pejabat sebagai kelompok istimewa tertutup yang menentukan sendiri siapa layak menjadi anggotanya dan mengadakan sendiri pengawasan terhadap para anggotanya, Calvinisme, 111-112, lihat juga catatan kaki # 22.

[17] Jabatan penatua adalah unsur tambahan kemudian yang diperoleh Calvin dari Starsburg dimana Bucer mengangkat untuk setiap bagian kota seorang pemelihara gereja yang diberi tugas mengawasi kehidupan iman di bagian kota yang dipercayakan kepadanya.

[18] Tugas memimpin tidak dimaksudkan mengatur hal-hal organisatoris, melainkan bersama dengan para penilik (yaitu pendeta) memberi teguran dan melakukan hukum disiplin.

[19] Gereja pertama di luar Jenewa yang mengatur diri menurut tata gereja yang disusun oleh Calvin adalah Gereja Perancis. Tata Gereja ini disebut Tata Gereja Presbyterial Sinodal karena semua keputusan jemaat diambil pada tingkat Presbyterium (para Penatua, Pendeta dan Diaken). Perkara-perkara yang menyangkut kepentingan seluruh gereja diputuskan di tingkat Sinode yang dalam hal ini diikuti oleh wakil-wakil Presbyterium dari setiap jemaat. Cuma harus diingat bahwa Anglican menganut episkopal yang sentralistis, dan kelompok Puritan congregational yang sangat menekankan otonomi jemaat serta hak dan kedaulatan warga jemaat yang tidak lebih kecil dari pejabat gereja sesuai dengan semboyan imamat semua oarng percaya.

[20] Semua jemaat dan jabatan mempunyai status yang sama. – jemaat satu wilayah dikumpulkan dalam 1 sidang, kemudian disebut klasis – jemaat dalam 1 propinsi bergabung dalam satu sinode propinsi- kalau memungkinkan setahun sekali sinodal yg mengatur hal-hal umum seperti Tata Gereja  dan pengakuan Gereja – Tata Gereja  ini mencoba mencari jalan tengah antar kesatuan yg mengutamakan keseragaman antara semua jemaat dalam semua hal, menurut apa yang ditetapkan oleh pimpinan tertinggi dalam Gereja (Paus ataupun Sinode) dan Gereja yang merupakan federasi jemaat-jemaat otonom, yang masing-masing mengatur diri sendiri secara bebas (seperti dalam congregational) . demi keseragaman dalam hal-hal dasariah seperti Pengakuan Iman dan Tata Gereja . Jemaat-jemaat setempat menyerahkan sebagian kebebasan kepada sidang-sidang yang terdiri atas wakil-wakil jemaat dan mengambil keputusan mengenai hal-hal yang menyangkut semua yang diwakili. Demikianlah terjamin bahwa jemaat-jemaat dapat saling mengakui ajaran dan saling menerima anggotanya.

[21] Lihat Pengakuan Iman Gereja Perancis pasal xxvii.31, 32 yang menyatakan bahwa orang-orang yang dalam pemerintahan Gereja haruslah dipiih (31) dan  semua Pendeta, Penilik dan Diaken harus memiliki bukti bahwa mereka telah dipanggil dalam jabatan mereka. Dan mereka ini semua haruslah berunding bersama-sama mengenai cara yang harus ditempuh dalam hal pemerintahan seluruh tubuh. ..tidak boleh menyimpang sedikitpun dari apa yang diperintahkan Kristus. Hal ini tidak mencegah adanya beberapa ketentuan khusus di tiap tempat, sesuai dengan kebutuhan dalam praktek

[22] De jonge, Calvinisme, 102. Patut digaris bawahi bahwa Tata Gereja  Jenewa bukan Tata Gereja  yang demokratis. Walaupun ada unsur di dalamnya yang bercorak demokratis atau yang berkembang kearah itu- namun jelas bahwa ia tidak melihat mereka yang memegang jabatan sebagai wakil anggota jemaat.  Institutio 4 iii 10-16- jabatan bukanlah ciptaan manusia, melainkan pemberian Allah, De jonge, Calvinisme 114.

[23] Saya setuju dengan pendapat Aritonang yang menyatakan bahwa …melihat pentingnya jabatan Penatua, baik di jemaat Jenewa pada masa Calvin maupun di gereja gereja Calvinis dikemudian hari ada anggapan bahwa di lingkungan gereja gereja Calvinis yang paling besar  wewenangnya adalah para Penatua. Tetapi sebenarnya tidak demikian, terutama bagi Calvin.  Sebab justru Calvin memberikan wewenang terbesar  pada Pendeta sesuai dengan tugasnya sebagai pengemban perkara utama di dalam kehidupan gereja. Peraturan yang disusun Calvin justru mengarahkan gereja itu menjadi gereja-Pendeta, dan itu membuat pemerintah kota Jenewa kuatir kalau-kalau gereja menajdi semacam Negara dalam Negara. Kemudian dijelaskannya bagaimana pemerintah Jenewa hendak mengintervensi pemilihan dan pengujian Pendeta, ini tidak disetujui Calvin. Lihat Jan Aritonang. Berbagai Aliran di Dalam dan Disekitar Gereja. Jakarta: BPK, 2009, 70.

Oktober 12, 2009 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Inkulturasi atau Kontekstualisasi

Inkulturasi atau Kontekstualisasi

             Berbicara tentang mandiri dalam teologi kami ajak kita untuk menelaah tentang apakah GBKP dan gereja-gereja di Indonesia berinkulturasi atau kontekstualisasi. Juga sadarkah kita bahwa sebenarnya kedua upaya ini adalah upaya pencarian identitas yang tidak berkesudahan?

  Inkulturasi.

 Inkulturasi adalah tindakan atau gerakan mengkulturasikan kembali (merekonstruksi) kebudayaan asli/pribumi atau lebih sering disebut indigenization yang asal katanya adalah indigenous (asli/pribumi). GerejaKatolik bertitik tolak dari lampu hijau konsili Vatican II cenderung menggunakan  istilah indigenization ini, Lihat Franz Magnis Suseno, Beriman Dalam Masyarakat: Butir-Butir Teologia Kontekstual, 193-206, Yogyakarta: Kanisius, 1993; Hub J.W.M. Boelaars, Indonesianisasi; dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 2005, 390-3.  lihat juga Anicetus B. Sinaga, Dendang Bakti: Inkulturasi Teologia Dalam Budaya Batak, Medan: Media perintis, 2004. Perdebatan antara gerakan Evangelikal dan Ekumene di David J. Hesselgrave dan Edward Rommen dalam Kontekstualisasi: Makna, Metode dan Model,  (terjm), Jakarta: BPK, 1996, 47-55).

 Gerakan ini semarak dilakukan oleh Gereja-Gerejadi Asia, Afrika dan Amerika Latin (Selatan), sejalan dengan proses pencarian identitas diri nasional maupun  lokal setelah beratus tahun dibawah penjajahan “Barat”. Penjajahan yang di dalamnya Mission (Zending) mengambil kesempatan untuk memperluas misinya, umumnya “membunuh” identitas lokal, tidak hanya dengan mengklaimnya sebagai sesuatu yang “kafir” tapi juga memakai faktor ini sebagi dasar politik Devide et Imperanya, memecah belah dan menguasai.

 “Pembunuhan” ini dilakukan dengan sengaja, karena tidak hanya penjajah tapi juga zending sangat sadar akan arti dari kekuatan identitas lokal. Di dalam identitas lokal, adat menyatu dengan religi, sehingga pola tindak dan pikir adalah hasil dari pola belief (kepercayaan). Keterpaduan pola tindak, pikir dan belief, bisa terjadi jika ketiganya diangkat dari dan untuk situasi lokal. Kalaupun ada unsur dari luar kelokalan yang bisa menjadi bagian dari lokal, hal ini bisa terjadi karena faktor waktu, metode atau power (kuasa), seperti yang nampak atas pengaruh Hinduisme dalam kepercayaan lokal Batak (Toba,Karo dll).

 Sehingga ketika penjajah dan zending (tidak dapat disangkal bahwa ada mutual relationship antara penjajah dan missionaris/lembaga zending) “membunuh” identitas lokal, itu berarti bahwa penjajah membunuh kekuatan politik dan kepercayaan lokal yang jelas akan berdampak ke aspek ekonomi lokal. Mungkin para zending dulu melakukan ini secara tidak sadar. Dalam arti metode ini harus dilakukan untuk memisahkan aspek religi dari adat. Kami pikir juga bahwa para zending tidak menyadari bahwa dampak dari apa yang mereka lakukan dulu, menciptakan orang orang Karo Kristen kini yang split personality. Lebih jauh lagi yang mungkin sama sekali tidak mereka sadari adalah bahwa dampak dari metode yang mereka gunakan  dulu, berdampak pada pemisahan yang tajam antara konfesi (pengakuan iman) dan etika kini. Pola tindak dan pola pikir tidak sesuai dengan pola ucap. Penampakan ini juga terdapat  di jemaat Gereja-gereja di benua Afrika, lihat Eunice Karanja Kamaara, From  Anthropocentricsm to Community Mission in Caring For God’s dan Jean-Blaise Kenmogne and Ka Mana, An African Experience on Ecology And Sustainable Development.

 2.      Kontekstualisasi.

 Untuk konteks Indonesia,  pencarian identitas lokal tidak bisa tidak, sejalan dengan pencarian identitas nasional. Karena jika tidak sejalan, maka identitas yang tercipta, apakah itu identitas lokal saja, atau nasional saja, tidak menghadirkan identitas yang utuh. Lokal adalah bagian dari Nasional. Tidak ada satu identitas lokalpun yang diangkat untuk menjadi identitas nasional. Sehingga yang harus dilakukan adalah bagaimana menempatkan identitas lokal dalam konteks identitas nasional. Hal seperti ini juga dilakukan oleh Negara yang penduduknya plural dalam arti terdiri dari banyak suku seperti Indonesia, India, Afrika, atau yang memiliki suku asli, seperti di Amerika Latin dan New Zealand. Sedang di Korea ataupun negara yang tidak bersuku lagi, konteks teologia mereka jauh lebih bersifat fight for sosial justice.

 3.   Sejarah perkembangan inkulturasi dan kontekstualisasi.

             Seperti diketahui bahwa gerakan ekumene sebelum perang dunia ke II hingga tahun 70-an masih sejalan sekali dengan gerekan kemerdekaan, fight for justice for every nation. Sehinga agenda mereka banyak terlibat dalam political practice (praxis), yang bagiannya di Dewan Gereja se-Dunia (DGD) adalah bagian Church and Society (Gereja dan Masyarakat). Cukup lama bahkan hingga kini, kami pikir, terjadi jarak yang cukup jauh antara bagian Faith and Order (Iman dan Peraturan) yang begitu Biblika dan Dogmatik oriented dengan Church and Society yang begitu konteks oriented (sosiologi, politik dan ekonomi).

 Tetapi kemudian setelah makin banyaknya gereja-Gerejadi Asia dan Afrika yang telah merdeka, terlibat aktif dalam program DGD, maka peran konteks yang berorientasi praktis mewarnai program dan juga konsep-konsep teologia di DGD. Nama-nama seperti: M.M Thomas, D.T Niles, Koyama, CS Song,  Mbiti dll mengedepankan bahwa konteks adalah bagian dari identitas. Pernyataan ini pertama diproklamasikan di pertemuan pertama East Asia Christian Conference yang kemudian menjadi CCA, Christian Conference of Asia/ Dewan Gereja Asia pada tahun 1949. . :

 …”Pesan kekristenan akan semakin menantang jika dihadirkan dalam hubungan yang dekat dengan kebutuhan khusus manusia pada tempat dan waktu nya (konteksnya), dan juga ia mengadopsi dan menggunakan beberapa nilai-nilai kebudayaan di tempat tsb,” Lihat Ans J. Van der Bent, Vital Ecumenical Concerns, Geneva: WCC, 1986, 1.

 Semangat ini juga dimiliki oleh gereja-Gereja Afrika yang mendeklarasikan keinginan ini dengan lebih hati-hati pada tahun 1963 di Kampala di Africa Conference of Churches:

 …”Gereja-gereja harus mempelajari kepercayaan-kepercayaan tradisional Afrika. Kebudayaan Afrika tradisional tidak semuanya jelek, tapi juga tidak semuanya bagus. Sebagaimana di semua kebudayaan,ada selalu faktor yang positif  yang menyatukan kesemua kebudayaannya, dan ada juga faktor yang jelek yang melecehkan kemanusiaan.Gereja-gereja seharusnya terlibat dalam dialog yang serius antara pandangan dunia yang tradisional dan kesinambungan pernyatan Kristus Yesus melalui Alkitab.”. lihat,  Van der Bent, 2.

 Jika melihat kedua pernyataan di atas, nampak sekali bahwa Gereja-Gereja di Asia jauh lebih demanding di dalam reclaiming their own identities. Lepas dari apakah ini dampak dari karismatik Sukarno, Nehru dan Naser dll, dan Konperensi Asia Afrika (KAA), yang jelas kami tahu bahwa semangat dan jiwa Sukarno sangat mempengaruhi teolog Asia saat itu.

  Seperti laporan Van der Bent dalam bukunya bahwa semangat ini ditampung dan dikembangkan di Church and Society division dalam pertemuan New Delhi, 1961 dimana kombinasi dari religion, nationalism dan secular ideologies didiskusikan. Tapi hal ini tidak digodok di bagian Faith and Order secara serius, walau sejak tahun 1971 di Louvain, seksi V menangani thema The Unity of the Church and the Differences in Culture. Akibatnya, perjalanan kedua bagian ini timpang sekali. Dan hal ini nampak di dalam kegamangan Gereja-Gereja di Asia dan Afrika di dalam merevisi konsep teologisnya, seperti konsep Gereja, Trinitas yang seharusnya nampak dalam konfesi mereka. Juga kegamangan Gereja-gereja di “Barat” (khususnya Eropah dan Orthodox) untuk masuk dalam praxis tapi sibuk dengan Konfesi, Doktrin dan Tradisi.

 Karena tidak ada konsep teologis yang absolut, maka perevisian memang wajib dilakukan. Mengenai The Truth kami mengutip pendapat Terry

 , ….“When we try to describe the truth about God, we can only go part-way in our descriptions. We can say that God is like a king, God is good and not evil,and God wants to help us. But we must admit that, in the end, there are some things about God we can not describe, because God (or the transcendent), by definition, lies outside the normal sphere of things that can be seen, heard, tasted, and felt. God eludes final description,” lihat Terry, How To Study Religion, 98.

 Dan mengenai perevisian itu baik juga jika disimak apa yang Julius katakan, …

 … for so long that even when some of these  structures are dismantled the momentum of traditional Christian theologizing tends to continue. An example of  this is Christianity’s still poor records in the area of interreligious and cross-cultural dialogue. Too many Christian theologians still tend to discourse in naïve supremacist and exclusivist terms, not only soteriology (e.g., by sticking to some unnuanced account of Jesus as saviour of the world),but also epistemologically (e.g., by maintaining some forms of exclusive cognitive access to God’s plan of salvation , or divine revelation) as well as methaphysically (through a form of theism that is grossly dualistic).”  Lihat Julius Lipner dalam artikelnya, “Religion and Religious Thinking in the New Millennium,“ di Plurarity, Power and Mission. London: The Council for World Mission, 2000, 87-8.

       4.    Inkulturasi adalah proses yang tiada henti

 Mengakui keberadaan budaya lokal yang mempunyai kekuatan untuk merevisi ajaran dan arah gereja, serta keterbukaan di dalam mengakui keberadaan iman di luar iman kekristenan, sangat mengkawatirkan Gereja-gereja dari kalangan Ortodox dan Evangelical, karena mengancam peran sola scriptura (Apalagi pernyataan keabsolutan Alkitab sebagai firman Allah) dan doktrin kristologi dan soteriologi..

 Richard Niebuhr dengan bukunya Christ and Culture dari kelima pendekatan yang dikemukakannya tetap menempatkan Kristus di atas kebudayaan. Wajar saja, karena di zamannya adalah masa keemasan Karl Barth dan Hendrik Kraemer. Sedang gerakan Evangelical walau mendukung proses kontekstualisasi tapi untuk tujuannya sendiri yaitu digunakan sebagai jalan masuk (metodologi) Kristenisasi. Tapi kini, dimasa post-kolonial, Christ and culture, keduanya duduk sama rendah berdiri sama tinggi, keduanya saling mempengaruhi dan melengkapi, equally, bergantung pada kepentingan konteks, band. Gerit Singgih, “Membangun Sebuah Teologia Budaya Pasca Niebuhr di Dalam Era Reformasi, 59-75, Iman dan Politik Dalam Era Reformasi. Jakarta: BPK, 2000.Lihat juga Masalah-masalah di sekitar definisi kontekstualisasi, dalam Berteologia Dalam Konteks, Jakarta: BPK dan Kanisius, 2000, 17-33.  Inilah metode hibriditas, yaitu percampuran berbagai elemen kultural yang berbeda sehingga tercipta makna dan identitas identitas baru. Hibrida mengguncang stabilitas dan mengaburkan batas-batas kultural yang mapan lewat proses pengabungan.

  Pendekatan hibriditas ini memudahkan kita untuk hidup di dalam konteks Pancasila yang memberi tempat pada segala sesuatu dan semboyan kita Bhineka Tunggal Ika. Dan tujuan kita melakukan inkulturasi bukan untuk kristenisasi tapi untuk pencapaian untuk menjadi diri kita sendiri. Bagaimana melakukannya? Tidak gampang. Huub yang meneliti upaya inkulturasi Gereja Katolik di Indonesia menuliskan:

 …“khususnya refleksi teologis tentang kaitan antara injil dan inkulturasi, hal ini memang disebut “salib” para misiolog dan missionaries.“ (392).  …“hubungan antara injil dan kebudayaan serta pengaruh timbal balik antara keduanya itu adalah perkara yang sukar dan masalah yang abadi.“ (430).  Namun demikian, bukan berarti GBKP dan gereja lainnya di Indonesia harus berhenti dalam upayanya. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan kemampuan SDMnya untuk meneruskan pekerjaan yang sudah dirintis untuk diteruskan.

Agustus 4, 2009 Posted by | wawancara | 2 Komentar

KEMANDIRIAN DAYA DAN TEOLOGIA SEBAGAI DASAR GBKP KE DEPAN

KEMANDIRIAN DAYA DAN TEOLOGIA SEBAGAI DASAR GBKP KE DEPAN

                                         

            1. Latar belakang pemilihan Topik.

 

Topik ini sengaja dikemukakan sebagai masukan dan latar belakang bagi tulisan bersambung kami, untuk kita gumuli bersama.

 

  1. 2.      Konperensi Pendeta (Kon-Pen),  Biro Teologia dan Litbang (Teo-Lit) dan Kabid Personalia dan SDM haruslah bekerja sama dalam mencapai kemandirian daya dan teologia.

 

Umumnya di Gereja- Gereja keputusan yang bersifat teologis digumulkan di forum yang disebut Konperensi Pendeta (Kon-Pen), dengan asumsi bahwa pembagian tugas dalam kepengurusan pelayanan jemaat diantara para Penatua, Diaken dan Pendeta, porsi teologia masih diembani ke Pendeta. Dan ini nampak jelas dalam pendefinisian tentang Pendeta dalam Tata Gereja GBKP Bab III Pasal 11 poin 1, yang walapun jika dikaji seterusnya nampak ketidaksinambungan antara definisi dan fungsi Pendeta dalam Tata Gereja ini. Sehingga wajarlah jika diasumsikan bahwa jawaban dan informasi teologis mampu didapatkan jemaat dari Pendetanya. Walaupun asumsi ini telah digeser oleh penampakan yang ada kini yaitu berjamurnya para Penatua dan Diaken yang mengambil pendidikan /kursus teologia baik secara formil maupun tidak formil. Yang jelas, penampakan ini belum merubah struktur kita yaitu bahwa percakapan dan debat teologis di Gereja forum resminya adalah Kon-Pen, walaupun lapangan menunjukkan bahwa para Pertua dan Diaken sudah mampu berdiskusi tentang Teologia.

 

Dari pengalaman kehadiran kami yang minim baik di Kon-Pen pusat maupun wilayah, nampak bahwa para Pendeta GBKP masih belum terlatih untuk berdialog/berdiskusi teologis. Hal ini disebabkan mungkin karena kemampuan untuk berpikir secara teologis yang kurang atau jarangnya melatih berbicara ataupun menulis secara teologis, atau juga dikarenakan kurikulum Strata Satu (S1) di semua Sekolah Teologia belum mengarahkan siswa untuk berpikir secara interdisiplinari. Kemampuan berbicara teologia harus menguasai hubungan Sejarah Gereja dengan perkembangan sistematik teologia A ataupun B dan Biblika. Juga sangat disayangkan bahwa kurikulum Master Teologia (M.Th) di Indonesia juga menjuruskan siswa pada disiplin daripada inter-disiplinari, sehingga siswa kurang mampu melihat dan menganalisa konteks secara komprehensif.

 

Penjelasan di atas berdampak pada kemampuan Kon-Pen yang jatuh pada tindakan menghasilkan keputusan-keputusan praktis yang bersifat fragmentaris dan pragmatis, tanpa landasan teologis yang alkitabiah (ini adalah syarat mutlak tradisi Reformasi yang paling ditekankan oleh Calvinis, sola scriptura). Kekurangdalaman pengkajian teologis juga nampak di Tata Gereja kita yang ada kini, buku-buku bimbingan PJJ, pekan-Pekan, Kotbah dan Penelahan Alkitab (PA) kategorial kita.

 

Sumber masalah adalah SDM kita.

Sehingga hal-hal di bawah haruslah ditangani secara serius oleh GBKP yaitu:

 

  1. Penseleksian para Sarjana Teologia yang melamar menjadi Personalia GBKP.

 

Sistem yang berlaku sejak tahun 2005 adalah jika Sarjana Teologia yang ber IP sedikitnya 2.75 yang mendapat rekomendasi terikat dari GBKP, langsung divikariskan oleh GBKP. Diluar dari kategori ini, para Sarjana Teologia yang memiliki IP sedikitnya 2.75 dari sekolah yang diakui oleh GBKP yang tertulis di keputusan sinode, direkrut berdasarkan kebutuhan dan dana yang tersedia melalui test yang diadakan oleh Moderamen. Hingga tahun ini (2009) GBKP memberikan rekomendasi terikat bagi orang-orang yang lulus testing menjadi calon mahasiswa Teologia yang dilakukan oleh GBKP. 

 

Di sidang sinode tahun 2010 akan diusulkan untuk memberhentikan cara ini dengan memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk memasuki Sekolah Teologia yang direkomendasi oleh GBKP. Setelah mendapat gelar Sarjana Teologia dengan IP minimal 2.75 mereka boleh melamar untuk menjadi calon vikaris selama setahun. Setelah lulus masa calon vikarisnya, kemudian yang bersangkutan menjalani masa vikariat selama 2 tahun. Setelah mendapat rekomendasi – berdasarkan laporan ybs, runggun dan klasisnya – dari Moderamen, lalu berhak untuk diPendetakan.

 

Dengan system ini GBKP bisa mengontrol dan memetakan jumlah Pendeta dan memilih yang terbaik dari banyak pilihan yang ada. Sedangkan system yang berlaku kini membuat GBKP tidak dapat lagi menyaring para Sarjana Teologia yang memilki IP 2.75 dengan rekomendasi terikat oleh GBKP. Mereka sudah merupakan tanggung jawab GBKP untuk langsung divikariskan. Hingga kini memang tanggung jawab ini belum berubah menjadi beban karena masih banyak runggun yang belum memiliki  Pendeta, Cuma untuk ke depan akan menjadi masalah besar.

 

  1. Pemilihan Sekolah Teologia yang direkomendasi GBKP untuk menggodok calon

      Pendetanya haruslah selalu ditinjau ulang oleh GBKP.  

 

Sangatlah penting diadakan dialog/pertemuan antara GBKP dengan sekolah teologia yang didukungnya, sedikitnya setahun sekali

 

3. Hendaklah mulai dari Runggun, Klasis hingga Moderamen melakukan pembinaan bagi

    para Pendetanya, sehingga anggaran untuk ini memang harus dengan sengaja   

    diadakan.

 

 Hal –hal yang tersebut di atas hendaklah dilakukan dengan sengaja untuk menibakan GBKP mandiri dalam daya dan teologia.

 

 

3. Kemandirian Teologia dan Daya.

 

Cita ini sudah lama didengungkan oleh PGI, sejak di-era 70-an. Inkulturasi yang concernnya bersifat lokal haruslah ditempatkan dalam kerangka kontekstual yang utuh, yaitu Nasional dan global.

 

Beberapa gereja menyatakan sudah melakukan teologia kontekstual yang maksudnya adalah inkulturasi, dalam arti membahasakan kerugma pengajaran dengan menggunakan istilah dan simbol lokal. Menurut saya, hal ini belum selesai. Mengapa? Karena teologia lokal harus bisa didudukkan dalam konteks nasional yang berlandaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

 

Teologia lokal dan kontekstual kita sebenarnya adalah kunyahan Konpen dan Biro Teologia yang dibantu oleh Litbang. Dan itu harus nampak dan seragam dalam bahan pengajaran Sekolah Minggu, Ka-Kr, Permata, Mamre, Moria, PJJ, Pekan-Pekan,  Katekisasi, Liturgi dan Nyanyian dan Tata Gereja. Teologia lokal haruslah tidak bertolak belakang dari teologia Nasional, malah harus saling berkaitan. Teologia Nasional kita telah nampak dalam konfesi GBKP.

 

4. Penentuan Identitas diri adalah langkah awal penciptaan teologia kontekstual.

 

Untuk tiba dikemandirian teologia, GBKP haruslah sepakat lebih dahulu akan identitas dirinya. Cukup lama kita didengungkan bahwa yang mengikat kita untuk setia berada didalam negara kesatuan Indonesia adalah memori penjajahan Belanda, dan kepada GBKP adalah ke-karo-annya. Pertanyaan kami adalah sampai kapan tali pengikat ini kuat mengikat kita?

5. Nasionalisme yang hampir tergeserkan oleh Agamaisme

 

Penampakan yang muncul akhir-akhir ini di tanah air adalah perasaan se-agama lebih kuat sebagai pengikat rasa persaudaraan, dari pada perasaan sebangsa. Ini nampak dari Peristiwa pertikaian Poso, Ambon dan pengumpulan dana untuk Palestina, munculnya Perda yang berdasarkan Syariat Islam, UU Pornografi dan aksi serta Per-Ber no 9 dan 8 Menteri Agama dan Dalam negeri.    

 

Nasionalisme telah ditindih oleh Agamaisme. Lepas dari semakin berkurangnya jumlah kursi yang didapat Partai Politik yang berlandaskan agama di DPR Pusat – namun masih kuat di DPR TK I dan II- tapi tidak bisa disangkal bahwa PKS dari mulai munculnya hingga kini masih mempunyai peran yang signifikan. Belum lagi jika kita melihat PPP dan PKB (apakah kita mau memasukkan PAN disini, silahkan). Demokrat, Gerindra dan Hanura kini, seperti Golkar di pemerintah masa Orde Baru yang mengklaim Nasionalisme, berperan juga untuk mengecilkan peran partai politik yang berlandaskan agama (Islam maupun Kristen). Golkar dulu berhasil melakukan ini tidak bisa tidak, kredit harus diberikan kepada kemapanan Suharto yang puluhan tahun berkuasa didampingi kekuatan militer. Penggabungan (koalisi) partai-partai yang berlandaskan keagamaan, khususnya yang disebut di atas ke partai yang mampu mencalonkan Presiden (yang memenuhi ataupun berkoalisi untuk mencapai electoral Threshold, sedikitnya 20 %) janganlah dianggap angin lalu saja.

 

Jika pemerintah tidak kuat, dan “sense of belonging“ bangsa Indonesia akan Negara kesatuan Indonesia tidak kuat, maka kemungkinan besar faktor pengikat bangsa Indonesia yang ada selama ini akan memudar. Hal ini sudah diantisipasi oleh para pendiri bangsa dulu bahkan sebelum tahun 1945. Kita tidak sadar atau mungkin pura pura tidak tahu bahwa jika “perekat“ itu hilang maka konsekwensinya bentuk serta isi negara Indonesia juga akan berubah. Sehingga sudah seharusnyalah jemaat GBKP berpartisipasi secara kritis di dalam pemilihan Umum ini juga dalam menyikapi program-program dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintahan dari tingkat Desa hingga Pusat. Inilah peran warga dan Gereja sebagai bagian dari Civil Society (masyarakat Sipil).     

 

Tali pengikat GBKP bagaimana dan siapa yang bertanggung jawab atas keadaan jemaat atau GBKP?

 

6. Faktor Kekaroan atau Faktor Pelayanan yang seutuhnya kah? dan apakah

   ditumpukan hanya pada Pendeta atau pada semua Serayan?

 

Kalau kita mau jujur, sudah banyak warga GBKP khususnya yang di kota, kebaktian pagi di GBKP, setelah itu berkebaktian di gereja lain yang bukan bagian dari main-line churches (Gereja-gereja arus utama: Lutheran, Reformed, Anglikan dll). Yang muda atau Permata sudah banyak yang tidak berkebaktian di GBKP. Alasan, kurang tahu bahasa karo dan kebaktian monoton tidak “greget“. Yang lebih tua, lebih sopan sedikit, ada rasa malu atau “guilty“ (merasa bersalah).

 

Sebenarnya dalam masa transisi generasi dan  budaya yang sangat dipengaruhi oleh M.TV, GBKP bisa dengan cepat menyikapi kesenjangan yang ada antara Permata dan Runggun, dengan menambahkan kebaktian dalam bahasa Indonesia dan mengkemas isinya hingga mengena untuk mereka. Berdasarkan penampakan dalam wawancara testing calon mahasiswa teologia yang diadakan bulan Juni 2009, bukan hanya siswa dari kabupaten Binjai Langkat saja yang bahasa karonya berpasir-pasir atau bahkan kaku sekali, tapi juga siswa dari Kabanjahe.

Bersamaan dengan ini hendaklah Penatua ataupun Pdt yang menangani kategorial khususnya Permata, menguasai “bahasa“ Permata hingga mereka bisa berdialog dalam satu “bahasa“, sehingga terjalin komunikasi.

 

Bagi para kalangan yang lebih tua yang berkebaktian pagi atau sore di GBKP karena masih merasa “at home“ dengan bahasa Karo, sudah “gerah“ dengan isi kebaktian Minggu, PJJ, PA serta pelayanan para Serayan. Mereka inilah yang umumnya “shopping“ di Gereja lain untuk memuaskan “batin.“ Yang lebih ekstrim mereka menjadi warga di dua gereja. Yang sangat ekstrim bahkan meninggalkan GBKP, dan kembali jika sudah menuju masa memerlukan jasa Diakonia GBKP. Jelas hal ini harus disikapi secara serius bukan dengan menggunakan disiplin Tata Gereja. Tapi dengan meningkatkan mutu Ibadah Minggu, PJJ, PA, Pekan-Pekan serta pelayanan, baik Perkunjungan Rumah Tangga, Pastoral Counseling, Diakonia Karitatif.  

 

Kolekte mereka juga umumnya lebih besar diberikan kegereja kedua. Apakah mungkin karena mereka berpikir sudah banyak memberikan “amplop-amlop keharusan“ yang wajib dikenakan bagi anggota GBKP? Entahlah. Jelas tidak bisa disangkal hubungan timbal balik (dialektik) antara mutu persembahan dengan mutu iman jemaat, namun jangan diabaikan juga hubungan persembahan dengan rasa kepemilikan. Jadi jangan dianggap bahwa warga kita yang berpikir dulu untuk memberi ke GBKP adalah jemaat yang mutu imannya patut dipertanyakan, karena siapa tahu yang bersangkutan memberi banyak persembahan ke gereja lain.

 

Berdasarkan data Moderamen, persembahan persepuluhan sudah mulai berdampak di hampir setiap Klasis. Hal ini memberikan pengharapan yang cukup cerah untuk GBKP kedepan. Penelitian Garis Besar Pelayanan (GBP) GBKP yang diadakan tahun ini (2009) akan melihat presentasi semua jenis persembahan secara sinodal untuk memampukan kita melihat situasi ini lebih jelas lagi dan hubungannya dengan mutu pelayanan dan para pelayan kita.  

 

Berdasarkan pemaparan di atas bisa kami katakan bahwa faktor kekaroan sudah tidak terlalu memainkan peran sebagai faktor untuk menciptakan sense of belonging (rasa kepemilikan) kepada GBKP khususnya bagi masyarakat metropolitan, kota bahkan semi kota, dan lebih khusus lagi bagi anak mudanya. Apakah jalan memberikan les bahasa Karo akan menjadi jalan keluar yang jitu, bisa saja, jika cara ini lebih “tokcer“ dari globalisasi yang dipromosikan oleh M.TV,  station TV dan Radio, mall, bahkan oleh sistem Pasar Bebas (Free Trade).   

 

Bagi jemaat GBKP di wilayah Desa dan Desa Tertinggal, masuknya mereka ke GBKP bukan karena kekaroannya, tapi lebih faktor “gambling“, untung-rugi. Ketika kami praktek di Mardinding Dairi nampak sekali bahwa alasan mayoritas anggota gereja menjadi Kristen karena adanya kuasa “plus“ yang “instan“ dari doa orang Kristen, apakah itu untuk orang sakit, panen, dll. Apakah faktor ini masih ada hingga kini? sepertinya iya. Sehingga jika ada gereja lain yang mempunyai faktor “plus“ yang lebih, serta dapat memberikan sesuatu yang lebih berguna bagi mereka, maka tidak heran jika mereka akan pindah kegereja tsb. Tidak heran di hampir semua semi kota di tanah Karo banyak sekali bermunculan gereja yang bukan GBKP yang berbahasa Indonesia, tapi yang di desa dan desa tertinggal khususnya Gereja Pentakosta bahasa Karo masih digunakan.  

 

Berdasarkan pemaparan di atas seharusnyalah GBKP meningkatkan mutu pelayanan tidak hanya untuk Pendeta tapi juga Penatua dan Diaken. Mutu Pelayanan yang juga tercermin di dalam keseriusan menata ibadah Minggu, PJJ, PA, haruslah menjadi pembicaraan serius di dalam Sidang Ngawan dan Runggun. Hanya dengan cara inilah yang bisa mempertahankan jumlah anggota yang ada atau jika berkeinginan untuk meningkatkan kwantitas dan kwalitas jemaat kita. Sehingga memang penting sekali di dalam kursus Pertua-Diaken untuk periode 2009-14 unsur panggilan ditekankan agar  aspek pelayanan dominan menguasai aspek ke-status-an yang berorientasi pada kuasa dan jabatan.

 

Dalam upaya merayakan ulang tahun Calvin yang ke 500 tahun di bulan July  2009 ini, yang dilakukan oleh hampir semua Gereja Reformed di dunia,  GBKP juga akan memadukan perayaan ini dengan Seminar Teologia untuk para Pendeta dan perwakilan serayan yang baru terpilih, dua dari tiap Runggun, yang dimulai di akhir bulan July sampai Oktober 2009. Biarlah disini kita melatih dan berlatih berbicara, berpikir dan bertindak teologis agar keberadaan GBKP semakin berdampak.  Biarlah semua Serayan berpadu menyanyikan: Melayani, Mengasihi, Mengampuni  lebih sungguh, karena Tuhan lebih dulu Melayani, Mengasihi dan Mengampuni kita. Selamat Melayani.

Juni 12, 2009 Posted by | wawancara | 3 Komentar

Curriculum Vitae

                                               Curriculum Vitae

Name                                                    :     Mindawati Perangin-angin

Place and date of Birth                      :     Medan, October 3, 1963

Email address                  :   peranginminda@yahoo.com; mindaperanginangin@gmail.com

 

Job and Service Experiences:

1983-6  Board member of Youth Division of United Churches of Indonesia (PGI)

1983-7  Board member of Indonesian Young Christian Movement (GAMKI)

1984-86 Student Senate member of Jakarta Seminary, Indonesia (STT Jakarta)

1992-4 President of International Students Drew University, Madison, NJ, USA

1995-96 Associate Sales at Gucci America in New Jersey, USA

1997-1999 Lecturer at Satya Wacana Graduate School and Seminary in Salatiga, Central                   Java

1998-2005 Member of Advisory Committee of Inter-Faith Dialogue of the World Council of Churches (WCC)

1999-2000 Treasurer of Asian Theologians Conference

2000 Chair person of ATESEA Accreditation Team to Seminaries in Malaysia

2000 Organizer for Asian Theological Students Conference

2000-2002 Director of the Graduate Studies Program at Abdi Sabda Seminary, Medan, North Sumatra, Indonesia

2000- 05 Head of Ecumenical/International Bureau of the Karo Batak Protestant Church Indonesia

2000- Now- Member of Dialogue between the World Alliance Reformed
Churches (WARC) and the Lutheran World Federation (LWF)

2005-10 Moderator of Faith, Mission and Unity of the Churches
Conference of Asia (CCA)

2005-10 Chairperson of Personnel, Human Resources Development and
Ecumenical/International Relations of the Karo Batak Protestant Church (GBKP)

2006-13 Member of Central Committee of the World Council of Churches
 

Educations:

1987 Sarjana Theologia/BD Equivalent- Jakarta Seminary, Jakarta, Indonesia

1990 Sacred Theological Master (STM), Union Theological Seminary, NYC, USA

1994 M.Phil, Drew University, Madison, NJ, USA

1997 PhD, Drew University, Madison, NJ, USA
Dissertation: The Interrelationships of Human, Plant and Animal As Presented in the Hebrew Bible.

 

Meetings, Conferences and Assemblies:

Switzerland, Bossey, 3 months in 1987, to participate in the Bible Study Course.
2 weeks in 2000, to participate in the conference on the Future of Ecumenical Leadership.

The Netherlands, the Hendrik Kramer Institute, 1997. A month meeting on
The Dialogue between Christian and Jews.

New York, Union Theological Seminary, 1999. To participate in a
Conference on African American and the Bible.

Bangalore, India, 1999. A gathering of Asian Theologians, were organized by CCA, ATESEA and the Catholic Institutions in Asia.

Switzerland, Monte Verita, 2000. To participate in the conference on Feminist and the Bible.

Chiang-Mai, Thailand, 2000. One of the Presenters for A meeting on Globalization was organized by Churches Conference of Asia (CCA).

Manila, The Philippines, 2000, one of the Presenters for Atesea and Amity Foundation’s meeting on The People of God.

South Korea, 2000, World Council of Churches (WCC) and Churches Conference of Asia (CCA) on Asian Women Theologians Conference.

Kuala Lumpur, Malaysia, 2000. As an organizer to gather Asian Theological Students.

Malaysia, Kinibalu, Seremban, 2000. Doing an accreditation for all ATESEA’s
Seminaries, was organized by ATESEA.

Jerusalem, Israel, 2001. A meeting on Inter- Faith was organized by Elijah Institute, Israel.

Ohio, USA, 2001. As Asian representative for WARC (World Alliance Reformed Churches), to participate in the conversation on Justification by Faith. It was organized by the Lutheran World Federation (LWF) and Vatican (The Catholic Church)

Bielefeld, Germany, 2002. Attending Church with A Future Conference was organized by The Westphalian Synod, Germany.

Buenos Aires, April 2003, a meeting on Economics and Ecology organized by
World Alliance Reformed Churches (WARC)

South Korea, 2003, As one of the presenters for the International Institute on Peace Education (IIPE) meeting, organized by UNESCO

Claremont, USA, 2004, as one of the presenters for the Theorizing Scriptures Conference organized by the Claremont Graduate School, USA

Accra, Ghana, 2004, Attending the General Assembly of the World Alliance Reformed Churches (WARC)

Melbourne, Australia, 2004, as one of the presenter for the Australian and Pacific Women Theologians Meeting.

Claremont, USA, 2005, as a visiting scholar at the Claremont Graduate University’s Institute for Signifying Scriptures.

Chiangmai, Thailand, 2005, Attending the General Assembly of the Churches Conference of Asia (CCA)

Hong Kong, Hong Kong, December, 2005, Attending a meeting on the World Trade Organization, organized by the Churches Conference of Asia (CCA)

Geneva, Switzerland, December, 2005, Preparation for HIV-Aids material for the Lutheran World Federation.

Porto Alegre, Brazil, 2006, Attending the General Assembly of the World Council of Churches

Taipeh, Taiwan, Maret 2006,  The CCA Meeting

Hong Kong, Hongkong, July 2006, Conference on Asian Theologians.

 

Hong  Kong, Hong Kong, July 2006, Pembentukan Asian Biblical Society.

 

Geneva, Switzerland, 2006, a Meeting on Creation and Mission Conference. organized by The John Knox Centre Geneva and the WARC.

Utrecht, The Netherlands, 1-11 July 2006, Meeting on the Dialogue between The World Alliance of Reformed Churches and the Lutheran World Federation.

Geneva, Switzerland, 1-11 September 2006, the Central Committee meeting of the World Council of Churches

Windhoek, Namibia, Agustus 2007, The Dialogue between the Reformed and the Lutheran.

 

Bielefeld, Germany, November 2007, Sebagai wakil dari  Westphalian Church’s partners Churches, menghadiri Westphalian Synod Meeting.

 

Bangladesh, 30 Agustus-6 September,  2008, Revitalisasi Gerakan Ekumene di Asia dan Dunia, organized by The WCC (Dewan Gereja Dunia) and the CCA (Dewan Gereja Asia).

 

Buenos Aires, Argentina,  Oktober 1-6 2008      Dialog antara Reformed Sedunia dan Lutheran sedunia

 

Cambridge, United Kingdom, Oktober 11-16, 2008, A Meeting on  The Common Words- organized by the Archbishop of Canterbury and the Cambridge University

Jewish Theological Seminary, New York, USA, November 2008, Colloqium Biblicum Biblical Scholars Princeton, Harvard, Boston, Andovernewton, Union Theological Seminary, Columbia University, Jewish Theological seminary.

 

New York, USA, 17-21 November, 2008, United Nations Advocacy Week, organized by the WCC (Dewan Gereja Sedunia) and The United Nation (PBB).

 

Augsburg, Germany,  25 Maret- 1 April 2009,   Pertemuan Theolog Lutheran Se Dunia.

 

bonar mengatakan…

ckckck… kiranya menggugah generasi berikut kita utk tidak berhenti belajar

2008 Juni 19 00:51

Anonim mengatakan…

Jangan pernah lelah melayani di GBKP. Soli Deo Gloria

2008 Juni 20 09:36

Edi Tarigan (aka Mosokul) mengatakan…

Senang melihat blog ini. Senang juga membaca CV-nya. Selamat bekerja di ladang Tuhan. Semua untuk kemuliaan-Nya… Salam dari Yunani.

2008 Juni 25 09:52

rongsokan mengatakan…

Hmmmm , good work , good job ..
senang membaca isi blog ini , kiranya bisa juga membawa GBKP ke arah yg tidak exlusive yang hanya untuk orang karo , kiranya GBKP terbuka untuk semua orang …..karena ini dasarnya sebuah gereja …. dan gereja Tuhan terbuka buat semua orang.

Selamat Berkarya di ladang Tuhan.
Salam dari Jakarta,
Ferry Tarigan.

2008 Juni 25 20:38

Anonim mengatakan…

Maju terus Pendeta. Kami mendokan Pendeta agar banyak kemajuan di GBKP.

2008 Juni 27 06:38

Anonim mengatakan…

Bu Pendeta bagus nih blognya, bisa nambah wawasan bagi saya yang awam ini. Seandainya, ini seandainya… Kalo usul saya, ibu jadi calonkan Ketua Moderamen periode yad, gimana Bu? Bukan KKN lho…

2008 Juni 30 10:19

Anonim mengatakan…

ada beberapa komentar nikh buk buat cv ibu, ada pulak yang nyerempet soal 2010, awas buk, jangan direspons! ibuk diam saja udah babak belur.

2008 Juli 6 08:03

Anonim mengatakan…

Syaloom Pendeta.
I see the blog, maybe pendeta bisa jadi “ketum” mod yad, but you must pray to the God,i will to do it. Thx . IbreNa.

Mei 16, 2009 Posted by | wawancara | 2 Komentar

Yes We Need Change, However What Kind of Change: GBKP dan Ekklesiology (III)

Yes We Need Change, However What Kind of Change: GBKP dan Ekklesiology (III)

 

            Setelah memaparkan upaya pembaharuan yang diupayakan oleh Gereja-Gereja di dunia serta institusi ekumene nasional, regional dan dunia dalam upaya untuk mampu tetap bermakna sebagai garam dan terang dalam tulisan sebelum ini, maka biarlah kita menyimak lebih dahulu pandangan GBKP dan ekklesiologynya yang nampak di Konfesi GBKP.

            GBKP dan ekklesiologynya adalah penegasan tentang GBKP dan konsepnya tentang Gereja atau keberadaannya. Ekklesiology adalah ilmu (studies/knowledge) tentang Gereja. Atau dengan kata lain, konsep Gereja yang bagaimana yang seharusnya dianut GBKP. Untuk mendapatkan jawabannya, pertama yang harus dilakukan adalah pemilihan dasar teologis Alkitabiah yang tepat.  

 

Pemilihan dasar teologis Alkitabiah yang tepat maksudnya adalah bahwa karena konsep tentang Gereja dalam Alkitab (PB) beragam, maka kita harus memilih satu atau beberapa pengertian untuk digabung menjadi satu, sebagai dasar pengertian GBKP akan dirinya. Jelas ketika memilih konsep yang tepat itu kita harus mendasarkannya pada Konteks dimana GBKP berada. Konteks dalam arti situasi kondisi warganya dari sudut social (termasuk psikologis), ekonomi dan politik. (Band. Paul Tillich, Systematic Theology I, 3, 4: disini ia menuliskan bahwa theologia bergerak antara dua kutub yaitu, “the eternal truth of its foundation, and the temporal situation in which the eternal truth must be received.”). 

 

            Keberagaman pengertian Gereja dalam Perjanjian Baru didasarkan karena perbedaan konteks. Perbedaan konteks itu disebabkan oleh dan menyebabkan perbedaan motifasi dan tujuan penulisan. Mengapa motifasi dan tujuan ditempatkan sebagai faktor yang penting dalam pemilihan dasar teologis? karena keduanya membantu satu institusi atau organisasi untuk mencapai tujuan, yaitu menjawab sedikitnya, kebutuhan dasar anggotanya. Organisasi apapun atau persekutuan apapun atau perkumpulan apapun, jika diperhitungkan sudah tidak menjawab kebutuhan anggotanya, akan ditinggalkan oleh mereka. Hal ini tidak hanya berlaku kepada organisasi politik ataupun sosial, seperti serikat tolong menolong, merga silima atau Persatuan Ginting Mergana dll, tapi juga Gereja.

            Eka Darmaputra menuliskan,: “Gereja yang bertheologia adalah Gereja yang dengan bersungguh-sunguh secara terus menerus dan sadar menggumuli makna kehadirannya (Lihat “Pergumulan dan Pembaharuan Theologia di Indonesia” dalam Tabah Melangkah, 115).

            Hal inilah yang menyebabkan GBKP sejak tahun 2003 melakukan seminar teologia untuk selain  memperkenalkan teologia dan strukturnya seperti yang ada kini – yang juga masih belum diketahui oleh banyak tidak hanya warga tapi juga pertua dan diakennya – tapi juga sekaligus untuk mencari bentuk yang “pas/cocok/tepat” untuk GBKP agar keberadaannya berdampak, sedikitnya bagi warganya.

            Di seminar teologia sudah dikatakan bahwa dalam mencari ekklesiologi GBKP maka kita harus mendasarkannya pada 1. Alkitab, 2. Tradisi (calvinisme) dan 3. konteks (lokal-nasional-internasional).  Pemilihan bagian-bagian dari poin 1 (Alkitab) dan 2 (Tradisi) haruslah berdialektik dengan konteks. Dalam ketegangan triple konteks: lokal, nasional dan internasional, kita harus berani memilih karena pilihan kita berperan sekali dalam pengklaiman identitas. Sehingga bisa kami katakan bahwa pilihan yang kita lakukan haruslah tidak berdasarkan perasaan melankolis semata yang mampu membutakan  realitas masa depan generasi penerus angota dan kepemimpinan di GBKP.

Menurut kami GBKP hingga kini belum menjawab kebutuhan konteks lokal dan nasional sepenuhnya, hal inilah maka seminar teologia mengupayakan terus pencarian teologia kontekstual. Yang agak mengkawatirkan adalah mencari keindonesiaan GBKP dalam konteks wawasan kebangsaan. Jemaat berada diketertarikan antara identitas lokal dan nasional, dan acap lupa bahwa ini berdampak pada keutuhan bangsa. Rasa kepemilikan belakang ini sepertinya lebih besar ke aspek lokal dari pada nasional. Bukankah dengungan yang acap terdengar adalah, “namanya saja GBKP, ya Gereja karo”. Kami ingat komentar Prof. Sukaria Sinulingga. Beliau pernah berkata bahwa tidak ada Gereja suku, yang ada adalah pendekatan kesukuan. Jadi menurut kami beliau hendak mengatakan bahwa kesukuan itu adalah metode pendekatan bukan substansi.

Dr Binsar, Kadep Maturia HKBP mengatakan bahwa HKBP namanya saja Gereja Batak, namun sejak tahun 2002 ia telah dinyatakan sebagai  Gereja yang inklusif. Jadi pengertian HKBP sebagai Gereja Batak untuk orang Batak sudah usang. Buat GBKP kami pikir yang lebih tepat adalah GBKP adalah Gereja Kristus yang memakai pendekatan kekaroan untuk menjangkau orang karo, dan tetap Gereja itu bukan dan tidak pernah menjadi milik orang karo, sampai kapanpun Gereja itu pemiliknya tetap Kristus. Pemiliknya tidak pernah berubah tapi metode pendekatannya bisa berubah bergantung kepada konteksnya, dalam arti bergantung dari era dan manusia/ jemaat/angotanya (lihat pandangan Paul Tillich dan Eka Darmaputra di atas)

Karena anggota GBKP kini yang walau tinggal dalam era yang sama yaitu globalisasi, namun dalam konteksnya sangat beragam yaitu ada yang masih dalam 1. taraf lokal saja, 2. percampuran antara lokal dan nasional, 3. nasional saja, 4. lokal, nasional dan internasional, 5.  nasional dan internasional yang disebut metropolitan, maka yang patut digumulkan adalah metode pendekatan yang bagaimana yang tepat untuk dilakukan agar memampukan anggotanya bersaksi sebagai saksi Kristus hingga menampakkan bahwa Gereja adalah milik Kristus.

Dalam hal Tradisi, acap muncul pertanyaan apakah keCalvinisan GBKP harus dipertahankan? Terserah pada kita! Walau Moderamen dan Konperensi Pendeta yang menggumulinya tapi Sidang Sinode yang memutuskannya. Namun kami berpikir haruslah keputusan-keputusan teologis yang diputuskan di Sidang Sinode dan yang didiskusikan di Konperensi Pendeta dianalisa secara cermat dengan analisa sosial, politik, budaya dan ekonomi. Perlu diingat bahwa ajaran Calvin selalu berkembang dan tidak pernah berhenti pada satu zaman sehingga tidak perlu menjadikan sebagai sesuatu yang absolute. Makanya kami setuju dengan pandangan World Alliance of Reformed Churches (WARC) yaitu bahwa tidaklah diperlukan keseragaman konfesi (pengakuan iman)untuk menjadi anggotanya.
           

                Dari kepelbagaian pendapat tentang apa itu Gereja,  seperti

 1. People of God (umat Allah), Lihat Yer 31:33; Yeh 37:27 (bergaung di 2 Kor 6:16; Ibr 8:10) Gal 6:16; Rm 11:11-36; Ef 2:14; 1 Ptr 2:9-10; Ibr 9:15; Ibr 4:9-11;

2.  Body of Christ (Tubuh Kristus) Lihat Yer 31:33; Yeh 37:27 ( bergaung di 2 Kor 6:16; Ibr 8:10); Gal 6:16; Rm 11:11-36; Ef 2:14; 1 Ptr 2:9-10; Ibr 9:15; Ibr 4:9-11;  

3. Temple of the Holy Spirit (rumah Roh Kudus) Lihat Kis 2:1-4; Rm. 8:22-23; Wahyu. 21:1; Ef 2:21-22; 1 Ptr 2:5; Kis 1:8; Ef 4:1-3;

4.  Koinonia/community (Persekutan) Lihat Kej 1-2; Kel 19:4-6; Hos 2:18-23; Kej 3-4; Rm 1:18-3:20; wahyu 21; 1 kor 10:16; Gal 2:9; Rm 15:26; 2 kor 8:3-4; Kis 2:42-45; 1 Yoh 1:3 dan

5. simbol-simbol yang digunakan untuknya seperti, Kawanan Domba, the Flock (Yun 10:16), Pokok Anggur, the Vine (Yes 5; Yun 15), Pengantin Perempuan Kristus, the bride of Christ (Wah 21:2; Ep 5:25-32), Rumah Allah, God’s house (Ibr 3:1-6), Perjanjian Baru, a New Covenant (Ibr 8:8-13) dan Kota yang Kudus, Jerusalem yang baru, the Holy City, the New Jerusalem (Wah 21:2),

maka GBKP menganalisa, memilih berdasarkan konteksnya bahwa pandangannya tentang Gereja adalah seperti yang tertulis dalam konfesi GBKP yang disahkan di sidang sinode 2005 yaitu:

A. Gereja adalah persekutuan manusia baru yang harus terus menerus diperbarui oleh Roh Kudus, agar mampu dan bertahan menjadi garam dan terang di konteks dimana ia berada.  Sehingga Gereja haruslah menyaksikan pola hidup Yesus, agar Kerajaan Allah terwujud di dunia ini. Inilah arti Gereja sebagai tubuh Kristus dan Kristus sebagai kepalanya. (Mat. 5:13- 16; Ef. 4:12-16)

B. Gereja tidak mengadopsi nilai-nilai dunia, tapi memproklamasikan nilai-nilai Allah yang nampak dari kehidupan Yesus yaitu cinta kasih, keberpihakan pada yang miskin, tidak berdaya, dan yang tersingkirkan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan (Diakonia). Inilah panggilan Gereja, menyelamatkan dunia; mengubah dan mentransformasinya.
C. Gereja harus mampu melakukan dialog dengan pemerintahan dimana ia berada.

D. Semua anggota persekutuan yang adalah manusia baru berperan dan mendapat bagian dalam kesaksian (Marturia), persekutuan (Koinonia) dan pelayanan (Diakonia) Gereja, sebagai wujud dari jemaat yang missioner dibawah koordinasi dan arahan dari para pelayan khusus: Pendeta, Penatua dan Diaken.

Butir A mengartikan bahwa:

1. Manusia baru berarti orang yang telah dipanggil keluar (ek-kalio) jadi tidak boleh menjadi sama dengan dunia.

 2. Terus menerus diperbaharui berarti walaupun anggotanya adalah manusia baru yang seharusnya hidup dalam Roh, tapi pengampunan dan pertobatan dan hidup baru terus berlangsung dalam persekutuan ini (lihat Institutio 192: ”jadi pengampunan dosa bagi kita merupakan langkah masuk yang pertama ke dalam Gereja dan kerajaan Allah. Karena kalau itu tidak ada, kita tidak mempunyai perjanjian atau persekutuan dengan Allah. Tetapi dengan pengampunan dosa itu Allah tidak hanya menerima kita di dalam GerejaNya dan memasukkan kita ke dalamnya, tetapi melalui pengampunan itu juga, kita dipelihara Nya dan dilindungiNya di dalamnya.”)

3. Diperbarui oleh Roh Kudus berarti manusia dengan dirinya semata tidak mampu bertahan tinggal di dalam ketaatan pada Tuhan

4. Agar mampu dan bertahan menjadi garam dan terang, menjadi saksi adalah suatu proses yang pasti menuju kekesempurnaan (atas bantuan Roh Kudus).

5. Di konteks dimana ia berada, tidak memisahkan antara dunia Gereja, dunia rumah tangga, pergaulan dan kerja.

6. Gereja harus menyaksikan pola hidup Yesus: berpihak pada orang-orang yang tersingkirkan (Singgih menuliskan ini sebagai ekklesiologi Asia-Pasific yang harus memperhatikan rakyat, perempuan, pemuda dan anak-anak, serta orang miskin, lihat Berteologia Dalam Konteks, Jakarta dan Yogja: BPK dan Kanisius, 2000, 198-233.)- hal ini berkaitan dengan butir B di atas, tentang Gereja—nampak dalam kehidupan Yesus—

7. Agar kerajaan Allah terwujud di dalam dunia ini- melalui sikap Gereja yang berpihak pada yang tersingkirkan kita menjalankan Koinonia, Marturia dan Diakonia kita.

8. Gereja adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah kepalanya, supaya Gereja mengingat bahwa arah dan kesinambungannya bukan bergantung dari siapa, system/lembaga, atau metode pendekatannya, tapi Kristus sendiri; Gereja tubuh Kristus berkonsekwensi bagaimana kita menjaganya agar tidak tercemar dengan nilai keduniawian dan mempertahankan keKudusan (lihat butir B).

Butir C mengartikan bahwa:

Gereja tidak di atas ataupun dibawah pemerintah, sehingga hubungan dengan pemerintah dilakukan dalam bentuk dialog. Sebagai tubuh dan milik Kristus Gereja harus menjadi moral support dan konsultan, penasehat, mengarahkan, jika pemerintah tidak mengindahkan hak-hak warga Negara dan ciptaan lainnya. Walaupun Gereja bukan dari dunia tapi Gereja harus mengetahui system keduniawian untuk mampu melakukan dialog dengan pemerintah

Butir D mengartikan bahwa:

Semua warga yang adalah manusia baru harus berperan dalam melaksanakan Marturia, Diakonia dan Koinonia. Peran kita bergantung dari kemampuan dan talenta kita. tidak ada talenta dan kemampuan yang satu lebih penting, atau lebih tinggi dari yang lain, semuanya dihargai sama, saling melengkapi. Kesemua talenta ini yang disalurkan melalui jalur Diakonia, Marturia dan Koinonia diarahkan oleh para presbiter yaitu Pendeta, Penatua dan Diaken (bersambung).

Mei 15, 2009 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Yes, We Need Change, However What Kind of Change (Bagian II)

Yes, We Need Change, However What Kind of Change (Bagian II)

Ecclesia Semper Reformanda

Ecclesia semper reformanda, adalah prinsip dasar keberadaan gereja reformasi yang diawali oleh Luther. Dan semboyan ini harus acap diwujudkan agar tetap gereja menjadi gereja yang selalu bermakna bagi warga dan dunia, sehingga ecclesiology harus selalu up to date.

The Westphalian Church, Church With The Future.

Tujuh tahun yang lalu, tahun 2002, Sinode Gereja Westphalia (Westphalian Synod) di Jerman melakukan pertemuan Internasional dengan mengundang semua gereja yang mempunyai hubungan kerja sama dengannya untuk melakukan penelitian bersama tentang “Church With the Future” (Gereja dengan Masa Depannya). Tujuannya adalah untuk mengaktualkan kehadiran gereja Westphalia bagi semua anggotanya. Better late than never, walau pengunjung gereja di Jerman khususnya, dan hampir di seluruh Eropa umumnya, saat itu sudah sangat minim. Mayoritas pengunjung gereja adalah yang sudah lanjut usia (lansia). Yang jelas, upaya yang dilakukan oleh Synode Gereja Westphalia ini adalah untuk dalam rangka mengaktualisasikan diri, atau bisa juga dikatakan bahkan upaya merevitalisasi diri yang bertujuan bukan hanya untuk sekedar layak jual, tapi juga berdampak dan mampu berfungsi sebagai “kompas.”

Efisiensi dan Revitalisasi Gereja dan Institusi Ekumene

Inisiatif yang dilakukan oleh Synode Westphalia juga dilakukan oleh banyak gereja di seluruh dunia, bahkan juga oleh institusi Ekumene, seperti Dewan Gereja Asia (CCA), Dewan Gereja seDunia (WCC) , Reformed seDunia (WARC), Lutheran seDunia (LWF) dlsbnya. Di institusi Ekumene, sama seperti di Westphalian Synod, perubahan difokuskan pada program dan arah institusi, bukan teologi. Mengapa? Karena Westphalian synod seperti umumnya gereja di Eropah adalah sudah merupakan hasil dari proses peleburan beberapa teologi dalam upaya pencarian identitas mereka, dan bentuk itu sudah hampir final, apalagi setelah hampir semua gereja di Eropah, Lutheran Refromed dan Uniting Churches mengadopsi Leunberg Agreemnt pada tahun 1973. Sedangkan institusi ekumene jelas harus mengakomodasi pandangan teologis anggotanya. Peleburan gereja yang mutahir yang condong mengekumene nampak dalam peleburan gereja Belanda menjadi Uniting Churches of the Netherlands. Yang lebih kecil aspek perbedaan teologianya adalah penyatuan World Alliance of Reformed Churches (WARC) dimana GBKP adalah anggotanya, dengan Reformed Ecumenical Council (REC).

Waktu dan Tempat menjadi “obsolete” di era globalisasi

Sepertinya untuk bisa berdampak, semua institusi harus mengkaji dirinya apakah masih relevan atau tidak. Reconstruct berlaku kesemua kalangan tidak eksklusif di kalangan keagamaan saja. Era globalisasi yang dikenal sebagai era informatika membuat aspek waktu dan tempat tidak berlaku. Semua jarak menjadi dekat, tiada pagi atau malam. Pecahnya situ di Banten langsung diketahui di Amerika dan seluruh dunia melalui CNN, BBC, juga jaringan TV nasional setiap Negara di dunia. Kami melihat berita ini hampir di semua station TV yang ada di St Ulrich Augsburg, Jerman. Gaya hidup kosmopolitan tidak mengenal perbedaan waktu lagi, apakah pagi atau malam. Karena pagi di Indonesia, malam di Amerika, subuh di Eropa. Kita hidup dalam waktu global (dunia).

Era Complicated, semua interrelated, sehingga memerlukan inter-disiplinari.

Pergeseran ini memberi kuasa kepada technologi komunikasi dan informatika. Semuanya ada dan melalui internet. Semuanya bisa dikomunikasikan dalam perhitungan detik melalui sms dan email. Kantor pos, telepon rumah, komputer meja sudah ketinggalan zaman. Telepon genggam yang kecil, yang harganya terjangkau oleh umumnya masyarakat, mampu berfungsi untuk mengirim, menerima, melihat dan mendengar berita. Dampaknya? Era kini disebut post sekular, post konfesional, post kolonial dan post patriakhal.

Lalu era apa ini? Era complicated yang semuanya interraled, sehingga harus dianalisa, diprediksi secara inter-disiplinari. Di era informatika, aspek lokal dan nasional menjadi diantara ada dan tiada, tertindih oleh aspek global yang diback-up oleh multi korporasi. Semua untuk dijual, semua untuk kepentingan global, global market. Uang menjadi mammon, hingga aspek ekonomi dibayangi oleh kekuasaan politik. Keduanya terikat menjadi satu mempengaruhi kebijaksanaan politik luar negeri yang berimbas pada kebijaksanaan departemen pertahanan dan perdagangan. Sehingga tidak heran jika dasawarsa kini mengclaim bahwa Amerika adalah empire. Julukan yang ingin dipertipis oleh Omaba kini yang nampak dalam pernyataan pernyataannya dalam pertemuan G20 kemaren di London dan NATO di Prancis.

Dalam situasi seperti ini agama tidak bisa lagi sekedar sebagai “candu (penghibur/pelarian sesaat),” atau sebagai pernyataan-pernyataan dogmatik yang menakutkan dengan memperhitungkan psikologis jemaat yang masih dalam taraf anak-anak; tempat untuk mendapat pengakuan (kelas, gender dan kewarganegaraan; dll); atau bahkan spekulasi atau polemik teologia, karena zaman telah membuktikan bahwa di zaman post-post modern ini orang menganut free spirit dan free of expression. Di dalam menghadapi situasi ini, dimana dimana teori dan praxis sudah menyatu, kami menganjurkan kita memadukan pola pikir eksistensial dan pragmatis, atau bisa juga dikatakan menggunakan analisa filsafat dalam tatanan ilmu social, yang mampu dengan manis dilakukan oleh para theolog Amerika, daripada Eropah yang dominan berkacamata dan berbahasa filsafat, sedang teolog Afrika dan Asia katanya cenderung berbicara dalam bahasa ilmu social.

Pemisahan yang tajam antara analisa dan bahasa filsafat dan social.

Cukup lama kedua bahasa ini terpisah dengan tajam di Dewan Gereja seDunia dimana ilmu sosial menggantikan filsafat (lihat juga paper kami “Inkulturasi dan Kontekstualisasi” dalam Beras Piher yang menjleskan pemisahan yang tegas komisi Faith and Order dalam DGD dengan komisi Church and Society). Sedangkan Gereja Katolik walaupun setelah Vatikan II berorientasi pada konteks tapi tidak pernah meninggalkan tradisi argumentasi filsafat khususnya dalam hal natural law. Di poin inilah kami hendak mengajak kita untuk membahasakan teologia kontekstual kita dengan pemikiran filsafat. Hal ini juga membantu kita melakukan deconstruct untuk mendapat akar masalah. Pemikiran-pemikiran teologis kita yang harusnya nampak dalam konfesi dan katekisasi haruslah bisa dipakai sebagai landasan dan menjabarkan program.

The Augsburg Meeting Maret 25-April 1, 2009

Pertemuan yang kami hadiri sebagai the only Reformed among the Lutherans akan menjelaskan apa yang kami tuliskan di atas dan memaparkan bahwa upaya yang sama juga dilakukan oleh gereja main line churches di Afrika.

Lutheran yang diekspor dari Jerman ke semua kontinen beradaptasi dengan tradisi setempat, menghibrid dan menghasilkan bentuk Lutheran yang kontekstual yang bermakna bagi kepentingan lokal, namun tetap mengupayakan ruang singgung sesempit apapun dengan gereja Lutheran lainnya di konteks yang berbeda. Ruang singgung itulah yang dibicarakan dalam pertemuan Teolog Lutheran sedunia yang diadakan di Augsburg Maret 25- April 1 2009. Lokasi pertemuan sendiri sebenarnya secara tidak langsung hendak menegaskan penyegaran titik singgung diantara gereja Lutheran yaitu Konfesi Augsburg. Perlu diketahui bahwa Lutheran lebih mengikat gereja anggotanya untuk mengadopsi konfesi yang seragam dari pada Calvinis, HKBP dalam hal ini mendapat pengecualian. Di dalam pertemuan ini barulah kami sadari bahwa pergumulan, upaya dan bahasa gereja gereja di Asia dan Afrika, lepas daripada mereka tergabung dalam Lutheran Sedunia atapun Reformed Sedunia hampir sama, yaitu penekanan atas konteks dan bahasa ilmu social yang digunakan. Cukup lama kami bergumul sebagai yang mewakili Asia di Reformed sedunia dalam berdialog dengan Lutheran Sedunia untuk mencari titik temu bahasa. Hingga pertemuan yang hampir terakhir tahun lalu di Argentina, kesamaan bahasa masih jauh panggang dari api. Hal itu sirna dengan mendengarkan pemaparan-pemaparan gereja-gereja dari Afrika dan Asia lainnya. Kedominanan pola pikir dan konteks continental dari Lutheran Sedunia dalam dialog ini rupanya memberikan kontribusi besar dalam menghasilkan kesamaan bahasa. Ingatan yang tidak pernah sirna adalah di tahun 2001 ketika hendak memutuskan Justification by Faith (factor yang diangkat oleh Luther yang memunculkan Reformasi) yang telah disepakati lebih dahulu oleh Lutheran Sedunia dan Vatikan, keduanya mengundang Reformed Sedunia dan Methodist sedunia, disinilah perwakilan Lutheran memojokkan kami sebagai yang mewakili Asia tapi pernah belajar di Amerika untuk mencoba mengerti bahasa mereka dan kemudian membujuk Reformed Sedunia untuk ikut dalam agreement ini. Kami menolak. Hingga kini Reformed sedunia belum ikut dalam kesepakatan itu, tapi Methodist sedunia pada saat itu langsung bergabung dengan mereka. Bahasa mampu mengekspresikan pola pikir, tapi belum tentu bisa mengekspresikan pola sikap. Bahasa memiliki dimensi dan struktur dan mampu hanya berdampak baginya saja tanpa perlu diurai dan direalisasikan dalam konteks dan sikap (bersambung di Bagian III)

April 28, 2009 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Yes, We Need Change, However What Kind of Change (Bagian I)

Yes, We Need Change, However What Kind of Change (Bagian I)


1. Melakukan perubahan memerlukan analisa sebagai pendahuluan

Dalam tulisan yang berjudul GBKP Quo Vadis kami menawarkan bahwa kita membutuhkan perubahan yang akan berdampak maksimal jika dilakoni secara bersama, dalam arti seluruh anggota GBKP. Tawaran ini diamini oleh Diaken Em. Sinuhaji di Maranatha edisi lalu dengan memaparkan dua perubahan yang perlu dipertimbangkan yaitu metode ibadah dan sistem mutasi.
Namun perlu disimak bahwa perubahan tidak bisa dilakukan hanya untuk perubahan an sich, tanpa didahului oleh analisa secara interdisiplinari atas konteks kini dan nanti yang beragam dan dengan tetap memiliki identitas yang jelas. Perubahan yang dilakukan sekedar untuk tetap digemari akan jatuh ke dalam pola pikir pragmatis dan pola sikap yang instan, yang sekarang kita rasakan sebagai sebab dari financial krisis. Jika disimak, tulisan kami sejak awal telah mengingatkan bahwa kita harus mampu menghibridkan pola pikir kontinental yang eksistensial dan Amerika yang pragmatis, dalam arti mampu memadukan berpola pikir jangka panjang yang mendasar dan jangka pendek yang acap berubah yang bersifat kasuistik.

2. Pemisahan yang tajam antara rasio dan rasa serta keberadaan manusia.

Di Amerika, sama seperti di Asia, Afrika dan Amerika Selatan, gereja-gereja yang mengakomodasi dan mengekspresikan rasa, adalah yang diminati, tapi tidak di Eropah. Di Eropah yang berkembang adalah Migrant churches, gereja-gereja imigran yang umumnya dari Asia dan Afrika.
Mainline churches di Eropah sudah berfungsi hanya sebagai public utility yang hanya dikunjungi jika perlu: seperti kelahiran, perkawinan/perceraian dan kematian. Tempat-tempat meditasi dan perenungan masih dinikmati.
Hingga kini saya masih berkeyakinan, lepas dari munculnya penampakan kelompok atheis di Eropah dan Amerika- bahwa manusia dengan keterbatasannya akan selalu mencari sesuatu yang “beyond” dari keberadaannya sebagai manusia. Apa dan bagaimana bentuk yang “beyond” itu, bergantung pada roh zamannya (konteks).
Dalam beberapa hal cara pandang Eropah sejajar dengan filsafat Jawa. Perasaan harus bisa dikendalikan. Sedih, gembira, lucu, marah tidak perlu terlalu diekspresikan, sewajarnya saja, atau adalah bersikap dewasa jika mampu tidak mengekspresikannya, menandakan mampu menahan diri. Perasaan yang dieskpresikan menunjukkan manusianya belum dewasa. Disinilah secara tajam pemisahan rasio dan rasa yang berdampak pada pengclaiman bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah karena perasa ditambah lagi dengan bentuk jasmani, dan lelaki adalah makhluk yang kuat, perpaduan penekanan jasmani dan rasio.

3. Pergeseran sistem dan fungsi gereja berhubungan dengan pergeseran
pandangan ilmu sosial yang saling berkaitan.

Amerika berbeda. Ilmu psikologis sangat berkembang disini. Amerika memproklamasikan lelaki boleh menangis, juga di depan umum. Tindakan yang menyehatkan mental. Tidak hanya rasio yang patut dikembangkan tapi juga rasa. Keduanya harus berkembang sejajar untuk mencapai kedewaan yang utuh. Amerikalah yang menjual teori emotional inteligence. Statement ini jelas mulai menggeser pola pikir kebudayan patriarkhi dimana lelaki tidak lagi super human, kesejajaran antara lelaki dan perempuan berkembang (sosial politik/gender studies, hukum/ketegangan dengan hukum adat; HAM; anthropologi dan sosiologi). Kebudayaan patriarkhi menganut ideologi “aku berpikir maka aku ada” dan ini adalah kebudayaan yang diakomodasi dunia.

4. Teologia dan cara/sistem gereja adalah penampakan identitas.

Jadi ketika gereja muncul dengan tata ibadah yang tertib, teratur (in order) dan meredam rasa ini adalah sejajar dengan pola budaya Eropah. Paket inilah yang diekspor ke semua benua, Amerika, Asia, Afrika dan Australia sejalan dengan ekspansi kolonialis dulu . Ketika muncul ibadah yang tidak teratur: dimana-mana ada suara bukan dari pemimpin liturgi saja; tepuk tangan serta menangis, bagi budaya Eropah, ini bukan ibadah, tapi pasar malam. Chaos, kacau, ketidak teraturan. Eropah dan beberapa di Amerika menganut pola pikir everything has to be in order (semuanya harus teratur sesuai dengan tempatnya).

Amerika yang mengclaim dirinya sebagai melting pot, negara imigran, jelas harus mengakomodasi semua latarbelakang warganya – sikap inilah yang memajukan negara ini – tradisi Eropah tidak bisa dipertahankan lebih lama. Tiba dikesimpulan seperti ini memerlukan waktu ratusan tahun dengan puncaknya diperjuangan kaum kulit hitam, dibarengi dengan womens liberation movements ditahun enampuluhan. Orang Amerika berbeda dengan Eropah, mereka lebih jujur dan terbuka pada rasa. Sehingga mereka lebih hangat, berbicara terbuka, everything has to be put on the table, tidak ada pembicaraan di belakang punggung atau meja. Kita boleh berdebat sampai pukul meja, namun setelah itu kita tetap makan siang atau ngopi bersama. Hal-hal seperti ini dianggap orang Eropah adalah “tabu.” Dari sini bisa kita lihat bagaimana “gereja gerakan haleluyah” berkembang bahkan beberapa lahir disini. Ingat bahwa musik jazz yang lahir di Amerika adalah ekspresi rasa orang kulit hitam Amerika yang kini bahkan perlahan tapi nyata di akomodasi di Eropah bahkan di gereja Eropah (musik ini dimainkan ketika kami menghadiri acara pembukan sidang sinode Westphalian di Jerman 2007). Namun metode gerakan haleluyah belum bisa terakomodasi di Mainline churches di Eropah. Sehingga jika gaya ini dengan cepat terakomodasi di Amerika Latin dan Afrika, wajar saja, karena kedua kontinen ini dikenal sebagai penduduk yang hangat dan pengekspresi rasa. Asia kita kaji dulu dan Australia sepertinya perkembangan gereja mirip dengan Eropah.

Asia beragam. Namun umumnya pola sikap kita adalah meditatif, keheningan. Bukankah agama Budha dan Hindu lahir disini dan keduanya menekankan meditasi dan kedua agama ini adalah strata selapis diatas agama sipemena oleh semua suku di Indonesia? Lihat pola tari kita. India yang klasik, bukan Bollywood yang sekarang, gerakannya meditatif, hening, hanya sesekali gerakan cepat, lihat juga Thailand, Korea dan Jepang. Begitu juga tari Bali, Jawa, Karo, agak lambat geraknya. Amat sangat jarang tari klasik suku di Indonesia memiliki gerakan cepat yang banyak. Karena tari, lagu dan puisi mulanya adalah ekspresi dari perenungan dan bersifat religius, pemujaan.
Yang mau saya katakan disini adalah metode ibadah haruslah disesuaikan dengan budayanya, sehingga tidak terjadi krisis identitas. Identits kita berada diantara ketertarikan pengaruh konteks lokal, nasional dan internasional. Pengaruh global yang dimotori mega industri sangat kuat, sehingga nasional dan lokal haruslah disengajakan untuk dikuatkan. Apakah kita mau memperkuat identitas lokal, atau menghibridnya dengan global, terserah kita. Keputusan kita semua yang menentukan warna GBKP ini. Cuma, jika kita mengadopsi apa saja yang ditawarkan, lalu apa identitas kita? Apa bedanya beribadah di GBKP dengan di gereja lain? Keseragaman identitas inilah sebenarnya yang diinginkan oleh globalisasi (lih. The World is Flat. Thomas L. Friedman. New York:Farrar, 2006). Kemarakan gereja gerakan haleluyah adalah buah globalisasi sehingga gereja bahkan sudah menjadi bagian dari mega industri.
Berdasarkan inilah maka kami katakan bahwa sebelum melakukan perubahan perlu didahului oleh analisa yang mendalam terhadap keberadaan gereja kini dan nanti. Bukankah sudah terlalu banyak hal-hal dari luar yang telah kita adopsi tanpa didahului analisa? lihat Permata dan beberapa cara dan program gereja tetangga lokal yang diadopsi GBKP.
Pemilihan atas Calvinis dan sistem presbyterial sinodal juga berdasarkan kecocokan dengan sistem budaya lokal, jadi ada upaya penyatuan keutuhan identitas agama yang notabene adalah produk import dengan penganutnya, walau masih sebatas sistem, karena teologia hingga kini masih banyak dalam bentuk pemisahan seperti minyak dengan air dengan tradisi kita. Selain konteks, pengertian akan apa itu agama dan mengapa manusia beragama juga harus dimengerti untuk memampukan kita merancang metode untuk menjawab kebutuhan umat selain pertimbangan akan peran alkitab dan warisan teologis (calvinis)

Sebelum kita memaparkan lebih lanjut tentang perubahan yang bagaimana yang bisa dipikirkan dan dilakukan, kita simak dulu komentar kami akan hal mutasi.

5. Mutasi.

Begitu juga sistem mutasi, metode yang digunakan harus berdasarkan realita yang ada dan menuju kedepan. Jika kita pakai sistem militer pengkaderan dari desa lalu ke kota, maka yang terjadi di desa adalah dominan vikaris ditambah dengan para presbiter yang sebenarnya juga masih “enggan” untuk melayani. Semarak pemilihan Pertua dan Diaken nampak di kota tidak di desa. Dengan pergeseran dari sentralisasi menuju otonomi daerah, dan pulangnya banyak sarjana ke daerah, serta pergeseran konteks orang karo, metode mutasi harus dipikir ulang. Pemerataan tenaga sudah waktunya. Apalagi sistem kita presbyterial sinodal maka yang diupayakan adalah pengecilan gap antara klasis kota yang berdaya dan klasis desa yang disubsidi. Pengecilan gap haruslah dengan pola pemberdayaan, bukan pola charity. Jelas pemberdayaan itu di SDM dan dana (peningkatan ekonomi jemaat). Penampakan kini adalah sangat sedikit pendeta kita yang bersedia ditempatkan di desa, khususnya desa yang berada di klasis tersubsidi. Bisa saja kita memberlakukan pendislipinan seperti yang termuat di Tata Gereja, namun menurut kami, sudahlah waktunya untuk dijalankan pemberian subsidi bagi pendeta yang cukup senior yang mampu memimpin dan mengayomi untuk ditempatkan di klasis tersubsidi agar klasis ini berkembang. Beberapa peraturan personalia telah dikeluarkan, dan segera akan ada peraturan kenaikan jabatan, vikaris dll. Semua ini dilakukan dalam upaya pembenahan untuk memampukan GBKP berdampak di zamannya (bersambung)

April 28, 2009 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

GBKP QUO VADIS?

                                                GBKP QUO VADIS?

 

            Pertanyaan ini ditujukan kepada kita semua warga GBKP. GBKP yang bersistem presbyterial sinodal, memandatkan para presbyter sebagai pengemudi. Para presbiter yang adalah gabungan dari pilihan Allah berdasarkan pangilan (para pendeta) dan pilihan jemaat per-sektor (para pertua dan diaken) yang diberkati Alah. Sama seperti Allah sipencipta dan siempunya dunia serta isinya, dan manusia diberi mandat sebagai pemelihara, sehingga manusia diciptakan dalam image of God. Begitu juga dalam sistem presbyterial sinodal para presbyter diberi mandat oleh Kristus untuk meng-arti-kan gereja di konteksnya. Kesemuanya itu berarti bahwa peran sipemegang mandat adalah temporal dan harus mempertanggung jawabkannya kepada pemiliknya. Siempunya berhak kapan saja mengambil ke-mandat-an yang diberikanNya, bergantung dari analisa, pilihan dan hak kebebasanNya. Sipenerima mandat haruslah bersyukur dan melaksanakan mandat dengan sukacita tanpa terikat akan status dan jangka kemandatan.

 

            GBKP quo vadis? Mau kemanakah engkau GBKP? Pertanyaan yang harus secara serius kita cermati, dengan menganalisa apa yang telah dilakukan selama tahun 2008 dan apa yang akan dilakukan di tahun 2009. Analisa dan rancangan ke depan haruslah melibatkan data hasil sejak tahun 2005, karena pola kerja kita adalah dalam siklus lima tahunan dengan acuan GBP serta kemampuan dalam menjawab dan mengisi kebutuhan konteks kita. Jadi acuan kita adalah GBP yang sudah dirancang untuk lima tahun dan bagaimana kita menjawab roh zaman dalam konteks lokal, nasional dan internasional.

 

            Berdasarkan itu, jika menoleh kebelakang, kalau kita mau jujur, bukankah repentance yang harus dilakukan, agar di tahun 2009 ini, kita bisa melangkah dengan kesegaran baru dan pasti ? Manusia baru tidak akan pernah terwujud jika tidak didahului oleh penyesalan dan pertobatan (syub- bahasa ibrani). Bukankah kita belum memaksimalkan kemampuan dan waktu kita dalam menyikapi pekerjaan kita? Sehingga bisa dikatakan bahwa kinerja kerja belumlah maksimal.Bukankah waktu secara umum lebih banyak habis untuk mencari cari kesalahan orang lain, kelelahan menghadapi energy negatif yang tersebar karena iri dan kurangnya penampakan pola pikir yang positif dan membangun? Pembunuhan karakter dilakukan secara cekuraki bahkan institusi. Kinerja kerja, konsep-konsep pemikiran tentang pembenahan dan pembenahan itu sendiri, diskusi-diskusi teologia dianggap hal yang sia-sia, membuang waktu dan dana, bahkan dianggap mengancam kemapanan ideologi dan kuasa yang ada, bagepe terakap. Perhatian difokuskan kepada berapa dan apa yang didapat orang lain, bukan mensyukuri berapa dan apa yang didapat sendiri. Yang muda yang baru tahu sedikit dengan pengalaman lokal, berbicara dan menulis tanpa arti dengan tidak mengindahkan kaidah dan etika. Yang telah berusia tidak mampu menjadi anutan, sibuk dengan diri sendiri, mencuci tangan, bahkan menjadi dalang dalam permainan. GBKP quo vadis? Let the church be the church. Biarlah gereja tetap menjadi gereja. Gereja bukan partai politik juga bukan LSM.

 

            Siapa yang meratap melihat penurunan angka pengunjung kebaktian minggu, PJJ, Pekan-Pekan dan PA, PA? Apa dan sudah sampai dimana program kerja Runggun, Klasis dan Moderamen untuk mempersiapkan warganya mandiri dalam

  1. menyikapi  gelombang kepelbagaian ajaran dan cara gereja dan agama lain sehingga tidak ada lagi dual keanggotaan gereja, atau bahkan dual keagamaan (Kristen dan sipemena)
  2. krisis ekonomi yang mendampakkan penambahan pengangguran dan langkanya lahan pekerjaan bagi kaum muda
  3. pergeseran lahan pertanian menjadi perumahan disaat kita belum siap hidup dalam era industri yang mengglobal (hancurnya tekstur tanah, ketergantungan pada pupuk yang langka, perubahan iklim global, kecanggihan bio-technology dinegara maju menghasilkan produk yang lebih besar, lebih bagus dan lebih murah dari produk pertanian kita)
  4. pergeseran pemukiman orang karo yang berdampak kepada peta dan pola pelayanan GBKP?
  5. Berdasarkan poin b,c dan d di atas maka akan ada pergeseran system ekonomi yang tidak bisa dilepas pisahkan dari politik   

 

Poin b,c dan d bukan hanya menjadi masalah GBKP tapi masalah semua gereja di Selatan (South/Negara berkembang), poin a dan e adalah masalah gereja di seluruh dunia. Diseluruh dunia, Gereja utama (mainline churches) seperti GBKP sudah sepi pengunjung, yang semarak adalah yang di Amerika disebut mega church, dan gereja-gereja bernuansa karismatik dan pentakosta. Mengapa begini? Ini adalah dampak dari globalisasi yang merupakan factor ekonomi yang berdampak dan berasal dari keberadaan politik G7 yang mulai mempertimbangkan keberadaan G20, dan diharapkan dengan krisis ekonomi yang melanda Amerika kini mampu menobatkan Amerika dengan presidennya yang baru, kita doakan. Kini faktor psikologis sangat mempengaruhi spiritualitas. Sehingga seharusnyalah mainline churches mampu membuat agar konsep teologis yang dikatakan di-imani bisa tertulis dihati, sehingga terjadi kesatuan yang utuh antara teologis, psikologis dan spiritual, yang dimunculkan dalam etika. Sebenarnya ini adalah inti mandat GBP pada kita.  

 

            Pembenahan penghasilan dan fasilitas dalam gereja haruslah didahulukan oleh pembenahan pelayanan. Apakah para presbiter telah memberikan yang terbaik yang dimilikinya dalam mewujudkan mandatnya? Apakah para presbiter masih mengimani bahwa jika melayani lebih sungguh tidak akan kekurangan? Kriteria apa yang diadopsi para presbiter dalam menjalani kehidupannya, dunia atau Kristus? Bisakah manusia yang hidup dalam roh dikuasai oleh kedagingannya? Etika Yesus tidak kompromi, ini atau itu (either/or). Kristus siempunya gereja lulus dalam ketertarikan gemerlap dunia (Mat 4:1-11; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13), sehingga jika Kristus satu dengan Bapa bukankah para prebiter satu dengan Kristus? “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia, dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran (Yoh 17:18-19)”. Bukankah tidak selayaknya para presbiter mengantagoniskan lahan pelayanan basah/kering; desa/kota dan penuh/paruh waktu? Melayani adalah untuk melayani itu sendiri. Sebagai bentuk kesukacitaan atas pemberian mandat tadi. Arti dan dampak melayani di gereja adalah paradoks dengan pengertian fungsi sebagai hamba status sebagai pemimpin, suatu integrasi yang manis yang hanya mampu dilakukan jika mandat diamini berdasarkan panggilanNya, sehingga ke-aku-an melebur dalam essence Kristus yang lahir di palungan, datang dalam status hamba yang tiada pernah tergiur akan kuasa (power) dunia. Kegagalan pelayanan oleh para presbiter adalah karena kurangnya atau tiadanya aspek panggilan, sehingga pekerjaan dilakukan hanya sekedarnya, tanpa menyadari visi Yesus dan perannya sebagai teman sekerja yang kini adalah pewujud dari kerajaan Allah di dunia ini.

 

Karena bentuk GBKP adalah presbyterial sinodal dan bukan congregational maka hendaklah pemilihan dan penangkuhan dilakukan dengan lebih seksama dan memberdayakan roh kudus yang telah diberikan pada kita. Disinilah peran pembaca sebagai anggota jemaat. Kemampuan dan roh kudus telah diberikan Allah pada kita, tinggal bagaimana kita memberdayakan itu dalam kehidupan kita sebagai pribadi, anggota keluarga, gereja dan masyarakat. Yang lalu biarlah berlalu, tidak perlu kita panggul bahkan mewarisinya, Beranilah kita memulai sesuatu yang baru, dengan sikap yang baru, cara kerja yang baru. Bagaimanapun perubahan pola tindak dan ucap harus didasarkan oleh perubahan pola pikir. Beranilah untuk memulai berpikir, merenung, menganalisa, mengkonsep, bervisi, dan kemudian diwujudkan dalam program-program pribadi, runggun, klasis dan moderamen. Sesakit apapun hasil analisa kita akan yang lalu, tapi itu sudah menyadarkan kita untuk memulai sesutau yang baru. Inilah yang disebut proses men-deconstruct- agar mampu untuk me-reconstruct. Jika kita tidak mau sakit, tidak mau malu, tidak mau konflik, tidak mau menyakiti hati, tidak mau dibenci, tidak berani menambil keputusan yang tidak popular, ini artinya kita tidur. Yang ada adalah rutinisasi, itupun tanpa analisa dan arah yang jelas. Roh zaman yang berkembang tanpa bisa dihengkang, membuat kita harus mampu berubah dan menjawabnya dengan tetap sebagai gereja.       

 

            Change, we need, Yes, you can, slogan Barack Obama dalam pertarungannya dalam pemilihan presiden Amerika selama tahun lalu. Ia berhasil dalam memenangi pemilihan itu. Bukan hanya karena kemampuannya sebagai ahli hukum tamatan Harvard, tapi juga karena pemilihnya menginginkan perubahan. Perubahan akan maksimal jika dilakukan secara bersama. Tidak hanya oleh presiden, kongres dan senat, tapi juga seluruh rakyat. Rakyat walau telah menyuarakan suaranya dalam pemilihan umum, tapi juga tetap berperan terus dalam kehidupan Negara, sebagai bagian dari civil society. Begitu juga anggota jemaat GBKP. Walau telah menyuarakan suaranya dalam pemilihan para pertua dan diaken, tapi suaranya haruslah bergema terus melalui: sidang ngawan, persekutuan kategorial, PJJ, PA-PA, persekutuan professional. Biarlah suara ini tidak hanya menembus dinding gereja tapi juga pemerintah, karena anggota GBKP juga bagian dari civil society. Mulailah dengan menggunakan hak anda sebagai anggota jemaat dan sebagai warga Negara. Salah satu faktor kemenangan Obama ialah mulainya tumbuh kesadaran politik dari orang orang yang selama ini apatis terhadap pemerintah dari segala golongan umur. Mereka sadar bahwa hak pilih mereka memberikan kontribusi bagi arah Negara. Begitu juga warga GBKP hak kita sebagai anggota jemaat dan warga Negara, memberikan kontribusi bagi arah GBKP dan pemerintah. Jadi jika ada pertanyaan GBKP quo vadis? Maka jawabannya adalah dari kita semua, angota jemaat dan para presbiter. Biarlah tahun 2009 ini kita mulai dengan semangat baru, yaitu semangat perubahan, yang diawali dari perubahan pola pikir yang terwujud dalam pola ucap,tindak dan program, secara pribadi, runggun, klasis dan moderamen. Selamat Tahun baru 2009.

 

           

Desember 26, 2008 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

A Common Word for A Common Good, Pertemuan para Pemimpin Agama dan Intelektual Kristen dan Islam, Cambridge dan London, Oktober 11-15, 2008

A Common Word for A Common Good, Pertemuan para Pemimpin Agama dan Intelektual Kristen dan Islam, Cambridge dan London, Oktober 11-15, 2008

Dampak peristiwa 11 September 2001 mengucilkan umat Islam khususnya dinegara-negara “kulit putih-Kristen (Barat).” Mendapat visa untuk memasuki Negara mereka bagi para lelaki usia aktif dari negara yang berbau Islam, amat susah. Negara “kulit putih” di seluruh dunia memperketat peraturan keimigrasian mereka serta mulai menangkapi orang-orang yang statusnya tidak jelas untuk dipulangkan kenegaranya. Warga Indonesia termasuk sebagai “korban” di sini. Image Islam menjadi “teroris” dan dipakai sebagai pelegitimasian dengan mengatas namakan “national security” yang diperluas menjadi politik global, “global security”. Kuasa dan penindasan berdialektikal. Yang powerless menjadi korban: anak-anak, perempuan, hewan dan tumbuhan. Pernyataan akulah yang paling benar, selalu berujungkan kalamiti.

Untuk tidak memperpanjang bencana yang bermuara kekehancuran dunia yang kita diami, maka 138 pemimpin agama dan intelektual Islam berkumpul untuk mencari jalan keluar, hasilnya adalah surat terbuka (An Open Letter and Call from Muslim Religious Leaders) tertanggal 13 Oktober 2007, yang ditujukan untuk para pemimpin kristen di dunia, antara lain

His Holiness Pope Benedict XVI,

His All-Holiness Bartholomew I, Patriarch of Constantinople, New Rome,

His Beatitude Theodoros II, Pope and Patriarch of Alexandria and All Africa,

His Beatitude Ignatius IV, Patriarch of Antioch and All the East,

His Beatitude Theophilos III, Patriarch of the Holy City of Jerusalem,

His Beatitude Alexy II, Patriarch of Moscow and All Russia,

His Beatitude Pavle, Patriarch of Belgrade and Serbia,

His Beatitude Daniel, Patriarch of Romania,

His Beatitude Maxim, Patriarch of Bulgaria,

His Beatitude Ilia II, Archbishop of Mtskheta-Tbilisi, Catholicos-Patriarch of All Georgia,

His Beatitude Chrisostomos, Archbishop of Cyprus,

His Beatitude Christodoulos, Archbishop of Athens and All Greece,

His Beatitude Sawa, Metropolitan of Warsaw and All Poland,

His Beatitude Anastasios, Archbishop of Tirana, Duerres and All Albania,

His Beatitude Christoforos, Metropolitan of the Czech and Slovak Republics,

His Holiness Pope Shenouda III, Pope of Alexandria and Patriarch of All Africa on the

Apostolic Throne of St. Mark,

His Beatitude Karekin II, Supreme Patriarch and Catholicos of All Armenians,

His Beatitude Ignatius Zakka I, Patriarch of Antioch and All the East, Supreme Head of the

Universal Syrian Orthodox Church,

His Holiness Mar Thoma Didymos I, Catholicos of the East on the Apostolic Throne of St.

Thomas and the Malankara Metropolitan,

His Holiness Abune Paulos, Fifth Patriarch and Catholicos of Ethiopia, Echege of the See of

St. Tekle Haymanot, Archbishop of Axium,
His Beatitude Mar Dinkha IV, Patriarch of the Holy Apostolic Catholic Assyrian Church of

the East,

The Most Rev. Rowan Williams, Archbishop of Canterbury,

Rev. Mark S. Hanson, Presiding Bishop of the Evangelical Lutheran Church in America, and

President of the Lutheran World Federation,

Rev. George H. Freeman, General Secretary, World Methodist Council,

Rev. David Coffey, President of the Baptist World Alliance,

Rev. Setri Nyomi, General Secretary of the World Alliance of Reformed Churches,

Rev. Dr. Samuel Kobia, General Secretary, World Council of Churches,

And Leaders of Christian Churches, everywhere…

Garis besar surat terbuka ini adalah ajakan kepada umat Kristen dan lembaga ekumene secara bersama dengan kalangan Islam untuk menjajaki lebih jauh pengertian dan implikasi anjuran untuk mencintai Allah (the love of God ) dan mencintai sesama (the love of neighbour) di konteks masing-masing. Ajakan ini didasarkan oleh pengertian bahwa ajaran Kristan dan Islam mempunyai dasar pijak yang sama dan dipakai sebagai judul surat terbuka ini yaitu A Common Word between Us and You dengan mengutip ayat-ayat dari Alkitab, AlQuran dan Hadits. Ditegaskan juga bahwa pernyataan ini tidak bertujuan untuk meminimaliskan perbedaan yang ada diantara keduanya, namun berdasarkan kenyatan bahwa 55 % komposisi penduudk dunia adalah gabunagn Kristen dan islam maka menciptakan hubungan diantara kedua komunitas ini kontribusi yang penting untuk menciptakan damai di dunia. Secara eksplisit dituliskan: “ If Muslims and Christians are not at peace, the world cannot be at peace.”

Surat terbuka ini mendapat reaksi yang positif dari para intelektual Kristen Amerika dalam pertemuan mereka di Yale University pada tanggal 18 November 2007, disusul oleh Vatikan. Maret 6, 2008, komentar terbuka oleh Sekjen Dewan Gereja Sedunia, kemudian oleh Kepala gereja Inggeris, the Archbishop of Canterbury pada tanggal 4 Juli 2008, dan para pemimpin gereja serta intelektual Kristen dunia lainnya. Pertemuan tanggal 11-15 Oktober di Cambridge University dan London adalah perpaduan perayaan satu tahun akan usia surat terbuka itu serta tindakan penjajakan selanjutnya. Pertemuan yang diorganisir oleh Cambridge University dan Gereja Inggeris dilakukan di dua tempat di Cambridge University di Cambrige dan Di lambeth Palace, pusat Anglikan sedunia di London. Pertemuan dihadiri oleh 32 lelaki dan 4 perempuan (3 dari kalangan Kristen, German, Inggeris dan Indonesia) pemimpin agama dan intelektual dari kedua kalangan, .

Pertemuan dibuka dengan Opening Lectures yang dibawakan oleh Archbishop Rowan Williams and Grand Mufti Ali Gomaa dan respons dari Gregorios III and H.E. Shaykh Prof Dr Mustafa Ceric. Kemudian Prof. Dr Allamah ‘Mohammad Said’ Malla Al-Buti membawakan tentang dampak setahunnya A Common Word. Tentang The Significance of A Common Word dibawakan oleh Prof. Miroslav Volf; Dr Ibrahim Kalin. ‘A Common Word for the Common Good’ yang diproposkan oleh Archbishop of Canterbury dalam responnya kepada surat terbuka ini dibawakan oleh Rt Revd Dr Josiah Idowu-Fearon; Ayatollah Prof. Dr Seyyed Mostafa Damad; Rt Revd Michael Nazir-Ali dan Prof. Dr Ingrid Mattson. Mengenai Qur’an and Bible in Muslim-Christian Engagement dibawakan oleh Shaykh Al-Habib Omar Ban Hafedh. Qur’an and Hadith Scriptural Interpretations dibawakan oleh Professor Frances Young; Shaykh Abdal Hakim Murad; Dr Nicholas Adams. Kemudian tentang Future Muslim-Christian Engagement dibawakan oleh Prof. Dr Allamah Abdallahi Ould Boye; Revd Prof. Christian Troll, SJ; Revd Dr Mindawati Perangin-angin dan H.E. Dr Abd Al-Aziz Al-Tweijri. Sesi terakhir yang bertemakan Responding to the Conference and Looking Ahead dibawakan oleh Prof. Dr Abderrahmane Taha, Professor Oddbjorn Leirvik; Revd Dr Daniel Madigan, SJ dan Prof. Dr Aref Ali Nayed.

Nampak dari tema-tema yang dibawakan dalam pertemuan ini hendak memuarakan kerja sama yang lebih intens tidak hanya dalam mencari dan mengeksplorasi kesamaan kedua kitab tapi juga kerja sama dalam bentuk action dan pensosilaisasian dalam bentuk kurikulum pengajaran, sehingga a common word diperluas menjadi a common word for the common good dan ini nampak dari deklarasi yang dihasilkan oleh pertemuan ini yang sudah dipublikasikan di media diseluruh dunia.

November 28, 2008 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

TRAGEDI PALUNGAN

TRAGEDI PALUNGAN

 

Alkisah tertera di New York Times, “Palungan tempat Yesus dilahirkan ditawar dengan harga pembukaan sebesar 2 Milyar di lelang Christie di New York.”

Berita ini menggerakkan senyum Yesus dengan harapan mendapat tawaran maksimal untuk digunakan meneruskan kehidupan anak yatim, janda dan orang-orang yang tersisihkan. Tiada terbersit menyumbangkan uang lelang untuk perayaan ulang tahunNya, atau untuk acara-acara gereja yang notabene adalah milikNya.

Ironis.

Palungan dulu, kumal tak berharga, balok kayu bersegi empat, di kandang domba, berbau kotoran dan penuh bulu. Palungan kini, kotak berlapis emas murni, di hotel, berbau harum, berlebur santap, hirup dan tawa, masuk dalam bursa dunia.

Ironis.

Palungan yang hina dan dina, kini simbol status dan kuasa. Palungan dan Golgota sasaran empuk manipulasi orang-orang berdaya.

Subjek telah menjadi objek.

Yesus kesepian kini.

Makna kehidupan dan ajaranNya jauh panggang dari api. Tafsiran bermuara kekesenangan diri atau kelompok, status, kuasa dan harta. Isi pencobaan yang telah dilaluiNya sebelum memulai masa pelayanan (Luk 4:1-13; Mat 4:1-13; Mar 1:12-13). Kini, Gereja dan petugasnya tidak lagi berdialektikal. Seperti minyak dan air. Gereja milik Kristus, petugas milik dunia (band. Yoh 8:23).

Jangan salahkan politikus. Kepentingan adalah ideologinya. Jika Yesus politikus, Golgota tidak pernah ada. Politikus bermain diantara bidak gereja yang penuh dengan Judas dan Pilatus. Semua kompromi. Either/Or (ini atau itu!), etika Yesus. Etika kini: ini atau itu, jawabannya atau.

Gereja kehilangan warna, antara ada dan tiada. Tidak hitam, tidak putih, abu-abu. Yang dipertahankan bukan teladanNya: melayani, berpihak pada yang tertindas, tapi: kedudukan, fasilitas dan penampilan.

Politikus dan bidak gereja memporandakan batas antara agama dan negara. Ketika Negara menganggarkan agama, kuasa dan control dipegangnya. Tak lelah Abdurahman Wahid menyela siksaan pada Ahmadiyah, politikus Kristen dan bidak gereja mematahkan upaya yang sudah begitu lama. Murka tampil, ketika negara menyentuh gereja dan warga, namun, senyum dan tawa terlepas ketika gereja dan bidaknya mendapat jatah fasilitas negara. Kilau dunia membuat semua buta, tuli dan bodoh (band. R. Niebuhr, The Moral Man and Immortal Society).

“jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yoh 2:16b)

Berpuluh tahun yang lalu, PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) sudah memandatkan agar gereja-gereja di Indonesia untuk mandiri dalam dana (lih. Lima Dokumen Keesaan Gereja). Kini, tergiur oleh peralihan kebijaksanaan pemerintah- melihat tetangga memanfaatkan semua yang ada dengan berbagai cara, “ sehingga: mengapa tidak cerdik seperti ular?” katanya, “tapi apakah tulus seperti merpati”? Atau malah seperti burung pemakan bangkai, saling mematuk berebut mayat?

Siapa dan apa sebenarnya yang diuntungkan ketika Natal dan acara-acara gereja disubsidi pemerintah, orang kaya atau berpangkat? None! Tak ada! Ketika religiositas dimanipulasi, setiap orang semakin kehilangan diri. Manusia dan gereja semakin kehilangan essence-nya. Mengenal Allah dan sesama manusia melalui cinta, menjadi utopia, polesan bibir sebagai propaganda.

Ibadah menjadi permainan topeng monyet.. Konser gegap gempita, kotbah merindingkan bulu roma, gedung penuh cahaya, gincu, minyak rambut dan baju pesta, “Najis!”

TUHAN berkata, “Aku benci dan muak melihat perayaan-perayaan agamamu! Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Kalau kamu membawa kurban bakaran dan kurban gandum, Aku tidak akan menerimanya. Aku tak mau menerima binatang-binatangmu yang gemuk-gemuk itu yang kamu persembahkan kepada-Ku sebagai kurban perdamaian. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Hentikan nyanyian-nyanyianmu yang membisingkan itu; Aku tak mau mendengarkan permainan kecapimu. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” Lebih baik, berusahalah supaya keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah kering. (Amos 5: 21-24)

Desember sebagai bulan Natal telah menjelang. Gereja, pasar dan keluarga menyikapinya. Rutinitas, kapitalis atau religiositas, pilihan ada pada anda. Sederhana adalah ciri palungan dan tuntutan dunia. Krisis ekonomi dan lingkungan menuntut manusia minimalis. Palungan menawarkan kesederhanaan, harapan dan kasih tanpa harus kehilangan muka. Palungan jauh dari adu kuasa dan mencari suara.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Hanya orang yang percaya yang tidak binasa. Tidak binasa bukan berarti tidak mati, tapi hidup dalam kehidupan, bukan hidup tapi mati. Bukan melek tapi buta. Bukan bertelinga tapi tuli. Orang yang tidak binasa adalah yang menikmati hidup. Bersyukur akan segala sesuatu. Bersyukur dengan dirinya, pekerjaannya, keluarganya, rumahnya.

Percaya nampak dalam tindakan. Percaya pada pencipta dan diri sendiri. Melangkah dengan pasti, Optimis dan berpengharapan. Hari ini harus lebih baik dari kemaren, dan esok semakin lebih baik dari hari ini.

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” …”dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:31-2).

Palungan menampung tangis, duka, sesal, murka, keputus asaan, kegagalan, kehinaan, dan menawarkan kelegaan dan asa, karena pencipta mengasihi kita. Palungan mengisyaratkan: there is always a way out!

Selamat Menyambut Bulan Natal,

Mindawati Perangin angin

New York 14/11/08

November 28, 2008 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Are you ready for CHANGE?

Walaupun Dalam pidato kemenangannya Obama telah mengaklamasikan:

“If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible; who still wonders if the dream of our founders is alive in our time; who still questions the power of our democracy, tonight is your answer,”

Dan Thomas L. Friedman menafsirkan kemenangan ini dengan pernyataan:

“Let every child and every citizen an every new immigrant know that from this day forward everything really is possible in America.” (NYT, 5/11/08, A.35)

namun lihatlah email yang saya terima hari ini, 11/11/08, “Re: Obama, I am still almost in shock.”

Pernyataan ini masih didengungkan setelah seminggu Obama dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Amerika yang ke 44. Pernyataan ini datang dari seorang professor berkulit hitam yang mengajar di Claremont Graduate University. Email ini saya balas dengan menuliskan “concerning on Obama, we are in the same boat.” Pengalamannya sebagai seorang warga Negara kulit hitam Amerika yang walaupun mendapatkan Ph.D dari Harvard University – tapi kulit hitam tetap tinggal kulit hitam – bisa dimengerti oleh internasional students yang pernah lama belajar di Amerika.

Sastrawati hitam Tony Morrison dari Princeton University yang diwawancarai oleh station TV ABC sehari setelah kemenangan itu menyatakan tidak usah terlalu meromantiskan masalah rasial atas kemenangan ini, karena masalah yang real yang harus disikapi dengan segera adalah ekonomi, dan semua orang Amerika harus bersatu dalam menghadapi dan menanggulanginya. Ada benarnya pernyataan ini, namun, tetap kemenangan Obama merupakan satu lompatan positif bagi kehidupan “melting potnya” Amerika.

Hidup dalam konteks kepelbagaian, Amerika masih “the best among the worse,” diantara negara-negara kulit putih kaya lainnya di dunia. Amerika terbuka terhadap segala hal, walau belum tentu diterima secara mayoritas. Mimpinya Pdt Dr Martin Luther King Jr (I have a dream) terealisasi, tepat sekitar empat-puluhan tahun yang lalu (1964-2008), ia juga menyatakan,” I may not get there with you. But I want you to know tonight that we, as a people will get to the promised land. Selama waktu yang dibutuhkan Israel untuk tiba di Kanaan dari Mesir.

Pdt Jessy Jackson melelehkan airmata menyaksikan pidato kemenangan Obama yang disaksikan dan dirayakan di Harlem dan Time square New York, dan dipusat-pusat kota orang hitam lainnya. Bukankah kemenangan ini sebenarnya bisa mencabut kuk penindasan atas perbedaan warna kulit, agama, suku dan gender? Lepas dari pada ketakutan kita untuk dikuasai oleh ideology Amerika, namun bukankah sangat positif jika kemenangan ini dirayakan sebagai hari kebangkitan: kemenangan atas penaklukkan akan kesombongan warna kulit, agama, suku dan gender yang kesemuanya hanya menuntun kita pada maut.

Simaklah pernyataan seorang kulit putih yang diwawancarai oleh New York Times (NYT 9/11/08, section: The Nation, 3): “ For a long time, I couldn’t ignore the fact that he was black, if you know what I mean,” Mr. Sinitski, the heating and air conditioning technician told me. “I am not proud of that, but I was raised to think that there aren’t good black people out there. I could see that he was highly intelligent, and that matters to me, but my instinct was still to go with the white guy.” Namun akhirnya tuan Sinitski toch memilih Obama karena pilihan atas Palin sangat tidak tepat dalam kondisi Amerika yang seperti ini.

Satu lagi saya kutip wawancara NYT dengan Tina Davis diartikel yang sama agar pembaca mengerti bagaimana masih kentalnya rasisme di Amerika. Dituliskan: she (Tina) said she had endless conversation with constituents who said they would not vote for Obama. “Most of them couldn’t give me a real answer why,” she said. “I had some of them reciting those stupid emails saying he was a Muslim. I’m pretty blunt. I would just say to them, “you’re against him because he’s black.”

Selain situasi ekonomi yang memang parah, pemilih muda baik dari kalangan hitam, Spanish, Asia, Jahudi dan putih lebih memilih Obama. Berdasarkan data dari New York Times (NYT, 9/11/08/ The Nation, 5) dituliskan bahwa Mc Cain dipilih oleh kulit putih yang berusia sekita 60 tahun dan ke atas, usia 30 tahun ke bawah memilih Obama. Umumnya kulit putih yang tinggal di tengah dan selatan Amerika memilih Mc Cain. Kalangan independen umumnya memilih Obama. Yang menyatakan keuangannya bagus 4 tahun belakangan ini memilih Mc. Cain, yang keuangannya merosot memilih Obama. Masyarakat berpenghasilan kecil memilih Obama; 60% dari yang berpenghasilan 50.000 US $/tahun memilih Obama. Satu hal yang sangat baru bagi partai Demokrat kali ini adalah dukungan yang cukup signifikan pada Obama dari kalangan yang berpenghasilan 200.000 US $/tahun. Orang kota condong memilih Obama, dan orang yang tinggal jauh dari kota umumnya memilih Mc. Cain. Perlu diketahui bahwa di Amerika tinggal jauh dari kota bukan berarti kalangan miskin. Sebaliknya, kalangan menengah ke atas tidak suka tinggal dikota besar seperti Washington DC, Philadelphia, Chicago dll. Mereka memilih tinggal jauh dari kota, tapi bekerja di kota, dan membiarkan kota-kota didiami oleh kulit hitam dan imigran lainnya. Daerah selatan (south) satu-satunya yang bertahan terus didominasi oleh kemenagan partai Republik. Daerah inilah yang terkenal perbedaan rasial yang nyata sejak dulu, sebelum “civil war” yang kemudian memunculkan President Lincoln. Dari kalangan agama, Obama mendapat banyak dukungan dari Katolik, tapi Katolik kulit putih lebih memilih Mc. Cain, begitu juga Protestan kulit putih. Kalangan agama Yahudi tetap memilih Demokrat. Lisa Miller dalam Newsweek web exclusive 6/11/08 menuliskan bahwa tidak hanya ras yang mendapatkan arti baru dengan kemenangan Obama tapi juga faith (iman/kepercayaan). The white evangelicals (kalangan evangelis kulit putih) yang selama ini menancapkan gigi yang tajam dalam menentukan keputusan politis di gedung putih, perannya sangat kurang kini. Lisa menyatakan kemenangan Obama mendeklarasikan “A post Evangelical America.” Haleluyah bukan?

Apa yang patut disimak dari kemenangan Obama ini? Hal yang mendasar adalah kalangan muda, sekitar 40 tahun ke bawah tidak terlalu berpegang pada prinsip primordial yang berbau ras, agama, gender dan suku. Kalangan ini lebih terbuka, realistis, berani mengambil resiko, dan penuh gairah pengharapan ke depan. Isu ekonomi dan pengganguran, asuransi kesehatan, pendidikan, perang Irak adalah isu yang real bagi mereka dari pada masalah aborsi, gay dan lesbian.

Obama cukup realistis melihat kalangan ini, sehingga dikatakannya dalam pidato kemenangannya, “ I know you didn’t do this just to win an election and I know you didn’t do it for me.  You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead.”

Kenyataan ini patut dipelajari oleh partai partai dan orang-orang yang akan maju bertarung dalam pemilihan di Indonesia. Apakah ini berarti bahwa:

- Kita menuju pada ketidaktertarikan pada partai politik yang memprioritaskan isu seperti yang didengungkan Sarah Palin? (bagaimana dengan UU Pornografi yang baru diputuskan yang mengatur warga negara seperti anak kecil dan tidak tahu berpikir/ don’t know how to think?).

- Partai politik yang berlandaskan keagamaan harus mulai mengangkat masalah social, ekonomi dan lingkungan.

- Partai politik harus mulai berani memajukan calon-calon yang berlawanan atas persyaratan primordial (tidak berdarah biru, tidak jawa, tidak jendral, tidak di atas 55 tahun, tidak anak mantan presiden, dlsb).

Lihatlah bagaimana demokrat berani memunculkan calon perwakilan minoritas: Obama hitam dan muda, Hillary seorang perempuan. Namun keduanya cerdas, berpendidikan, mempunyai visi dan misi dan yang paling penting memiliki fighting spirit yang positif.

Menggunakan hak pilih juga perlu diingatkan pada masyarakat Indonesia karena ini adalah hak dan tanggung jawab sebagai warga Negara. Lihatlah ketika banyak orang Amerika menggunakan hak pilihnya, mereka berperan dan menentukan.

So, sekarang Obama telah menjadi presiden yang terpilih, Thomas Friedman menuliskan:

“Obama will always be our first black president, but can he be one of our few great presidents (NYT 5/11/08/A35)?” Jawabannya, wait and see!

Mindawati Perangin angin

New York, 11/11/08

November 11, 2008 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Demam Pemilihan Presiden Amerika

Seluruh dunia berdebar menunggu pemenang kontes pemilihan presiden Amerika tanggal 4 November ini. Tulisan ini sedikit mengangkat pandangan umum yang dimunculkan oleh orang-orang yang saya temui dan kunjungi selama perjalanan saya dari Washington DC -Buenos Aires- London- Washington DC- Philadelphia dan New Jersey.

Enough is Enough (sudah cukuplah!), komentar itu banyak yang menjadi jawaban dari orang-orang yang saya tanya komentarnya atas pemilihan presiden yang memang telah memakan waktu yang cukup lama dan jelas juga pasti membutuhkan uang yang banyak. Kedua kubu, Demokrat dan Republik berupaya mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk mensponsori kampanyenya, dari iklan di TV sampai pembelian baju Palin yang menghabiskan 150 ribu Dolar yang menjadi sorotan media beberapa hari yang lalu.

Tanggal 2 Oktober saya transit di Dulles airport, Washington DC menuju Buenos Aires. Malam itu akan disiarkan perdebatan antara calon wakil presiden, Palin (Republikan) dan Biden (Demokrat). Karena harus terbang, debate tidak bisa diikuti. Dari Newsweek October 6, 08 melaporkan bahwa dalam wawancara yang dilakukan station TV, khususnya ABC dan NBC terhadap Palin, nampak bahwa ia kurang menguasai ranah politik luar negeri, masalah ekonomi yang sekarang sedang dihadapi dan banyak hal lainnya.

Di Buenos Aires, Kathrin, warga Amerika yang anggota team dialog kami (Lutheran dan Reformed sedunia), yang juga membidangi hubungan ekumene LWF lebih memilih Obama dari pada Hillary karena perbedaan pernyataan mereka akan perang Irak. Dampak psikologis kekalahan Hillary ditampung Republikan dengan menampilkan Palin yang diawal kemuculannya sangat dielukan. Namun kini tiap malam menjadi ajang lelucon di Saturday Night Live yang disiarkan oleh NBC (salah satu station TV terbesar di Amerika).

Selama di Eropah, nampak bahwa Obama mendapat dukungan yang besar. Masih ingat ketika Jerman dan beberapa negara lain di Eropah, kecuali Inggeris, memboikot Amerika dengan tidak membeli Cocacola dan produk Amerika lainnya beberapa waktu yang lalu? Nampak bahwa Negara-negara di Eropah sudah tidak tertarik dengan Kebijaksanaan Bush. Wartawan Die Welt yang berpusat di Berlin yang duduk disebelah saya dalam pesawat dari London ke Washintong DC mengatakan bahwa Obama sangat dielukan ketika ia datang di Jerman, bahkan pidatonya dimuat secara penuh dikoran halaman pertama. Hampir seluruh dunia mendukung Obama daripada Mc. Cain, ini nampak dalam polls yang disebar baru-baru ini. Namun pemilihan kali ini tidak segampang yang diduga, mengapa?

  1. Calon presiden dari partai Demokrat kali ini sangat special, datang dari kalangan kulit hitam, walau ibunya Amerika kulit putih, dan muda.
  2. Calon dari Demokrat yang dikalahkannya adalah perempuan. Kedua calon dari democrat sebenarnya adalah perwakilan minoritas.
  3. Kebijaksanaan Bush akan Irak dan financial krisis yang ada membuat republican terpecah antara yang moderat dan konservatif.

Ada beberapa factor yang patut diperhatikan:

  1. Persamaan hak yang diperjuangkan kaum perempuan di Amerika sejak tahun 70, tadinya dipikirkan akan mencapai puncaknya di kemenangan Hillary. Ternyata gagal. Mayoritas perempuan pendukung Hillary berusia 40 ke atas, kaum muda mayoritas memihak ke Obama. Dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati siapa tau. Kita tidak tahu apakah kelompok ini akan memakai prinsip, “apapun partainya, asal perempuan”
  2. Rasisme masih kental di Amerika. Apakah orang Amerika sudah siap dipimpin seorang muda kulit hitam? Seberapa besar populasi moderat dan liberal di Amerika? Media besar, seperti New York Times, Washington Post adalah Left wings, dan berita mereka banyak dikutip oleh the Guardian, Inggeris dan lainnya, tapi lain pikiran media lain pilihan orang banyak.
  3. Krisis ekonomi yang melanda Amerika sekarang sangat merugikan kubu republican karena presiden kini adalah Bush dari Republikan. Kesempatan ini digunakan Obama untuk mencecar Mccain yang pasti akan melanjutkan kebijaksanan ekonomi Bush.

Mendukung poin di atas dibawah ini akan dipaparkan komentar dua orang republican dan dua democrat yang saya jumpai dan keempatnya Kristen, kulit putih dan berpendidikan sedikitnya Sarjana.

Yang pertama republican, kulit putih, keturunan Inggeris, Laki-laki, 65 tahun tinggal di Virginia. Ia dengan tegas mengatakan bahwa ada kesamaan antara Obama dan Palin yaitu keduanya belum berpengalaman, thus they are at the same boat. Jika Obama jadi Presiden Amerika, mau dibawa kemana Negara ini?

Yang kedua, Demokrat, kulit putih, laki-laki, 70 tahun tinggal di Philadelphia, “Obamalah yang bisa membawa perubahan dinegara ini dengan pernyataannya tentang Perang, Pendidikan, Asuransi Kesehatan dan tax.”

Yang ketiga, Democrat, perempuan, kulit putih, 75 tahun, tinggal di Philadelphia. Ia melihat bahwa Obama adalah symbol dari persatuan Amerika, di dalam dirinya ada hitam, ada putih, ada kelas bawah dan menengah. Dia adalah symbol of unity.

Yang keempat, Republican, laki-laki, kulit putih, 60 tahun, New Jersey. “Saya republican, tapi yang moderat, saya marah pada partai saya yang membiarkan dirinya dikuasai orang-orang kaya yang konservatif yang mendalangi semua keputusan Bush dan partai, lihat sekarang keterpurukan ekonomi. Saya tidak akan mendukung Mc. Cain, tapi Obama (nah lho!).

Ini yang hendak mau saya katakan akan terjadi banyak swing voters yaitu orang-orang yang tidak memilih berdasarkan kepartaiannya, tetapi berdasarkan berbagai factor yang telah kami tunjukkan diatas, sehingga sangat memungkinkan akan muncul banyak swing state, factor ini dimunculkan oleh harian USA Today hari ini (28 Oct) juga New York Times.

Lalu bagaimana?

Hingga hari ini, 28 Oktober menjelang tengah malam, waktu Amerika bagian Timur, dalam poll yang kami lihat, Obama menang tipis sekitar 9-10 persen dari Mc. Cain. Ada yang mengatakan bahwa pemilihan nanti akan neck to neck untuk Obama, ada yang mengatakan menang besar untuk Obama. Melihat masih rasisnya Amerika saya masih ragu Obama akan menang jauh, tapi melihat keterpurukan ekonomi yang ada kini, bisa saja jadi, tapi juga dengan menghembuskan bahwa Obama akan mensosialiskan Ekonomi Amerika, apakah kalangan menengah ke-atas Amerika mau meningkatkan taxnya (the idea of sharing?) So? Wait and see!

Mindawati Perangin angin

28 Oktober 08, Woodstown, NJ, USA.

Oktober 29, 2008 Posted by | wawancara | Tinggalkan komentar

Wawancara Tentang Perjalanan Sidang Kerja Sinode (SKS) oleh Hrian Perjuangan dgn Pdt Mindawati Peranginangin

Wawancara Harian Perjuangan dgn Pdt Mindawati Peranginangin ttg Perjalanan SKS GBKP, April 2008.

Sidang Kerja Sinode (SKS) 2008 yang pertama dalampelaksanaan Tata Gereja GBKP 2005-2010 dilaksanakan16-19 April 2008, di Taman Jubelium Retreat CenterGBKP Sukamakmur.Thema acara ini: Nggeluh Setia Man Dibata dan denganSub Thema : Berita simeriah man kalak musil (Jes 61:1, Luk 4 : 18). SKS dilaksanakan untuk mengevaluasikinerja pelayanan setengah periode serta memikirkanhal-hal penting yang harus dilakukan dalam programpelayanan setengah periode ke depan. Salah satu poin yang menjadi harapan warga GBKP yaknisumber daya manusia (SDM) di bidang pelayanan yangdisebut PKPW.Bidang tersebut menjadi pergumulan serius“ komandan”nya Pdt Mindawati Br Perangin angin.Usai SKSini ia berkenan menerima redaktur HU Perjuangan JendaBangun dan berbagi informasi seputar pembangunan SDMtadi.Inilah petikan wawancaranya .(red)

Tanya : SKS baru usai , boleh ya dibocorkan beberapahal di bidang SDM ?

MP : ha-ha tidak perlu dibocorkan karena sms dan sikap manusia yang suka sensasi, bahkan sebelum sks ditutup berita tentang sks sudah tersiar, khususnya bagi orang-orang yang memang menganggap ini sebagai satu sensasi besar bukan sebagai pijakan proses belajar bersama untuk melangkah lebih baik ke depan. Saya menghargai Perjuangan karena langsung mewawancarai saya, jadi bukan berberita dari sumber kedua, ketiga atau bahkan bukan dari something from the air yang akhir-akhir ini menjadi trend di kalangan GBKP, yang membuat saya sebagai Kabid SDM semakin merenung, apakah nilai keintelektualan di GBKP sebegitu merosot ataukah karakter yang memang belum terreformasi? Sebagai seorang pemikir saya sangat merenung tentang penampakan yang muncul belakangan ini dengan mencoba mendialogkan hubungan antara dunia pemikir dan political praktis. Namunsebagai seorang akademisian dan pendeta, saya masih susah menerima jika GBKP ditentukan oleh keputusan dan suara political praktis yang berorientasi kepada kuasa dan kepentingan perorangan atau kelompok, jadi bukan kepentingan GBKP ke depan. Saya senang bahwa anda menekankan saya sebagai Kabid di bidang SDM daripada personalia saja. Hal ini acap dilupakan oleh para pendeta GBKP yang berpikir bahwa tanggung jawab saya adalah hanya mengurusin pendeta. Tidak banyak yang menyimak GBP GBKP, hubungan dan proses pembentukan Tata Gereja dan Sidang Sinode tahun 2005, hingga pertanyaan dan diskusi yang muncul di floor bahkan dikelompok SDM sendiri jadi tidak terlalu nyambung. Tidak banyak yang tahu latarbelakang dimunculkannya bidang SDM dan Personalia dan harapan-harapan untuk dilakukannya, serta kondisi administrasi dan aturan dan peraturan personalia dan SDM ketika saya memulainya. Sehingga banyak yang asal bicara saja. Yang jelas memang bicara kan gampang dan tidak bayar bukan? Ha-ha—jadi karena melihat situasi yang tidak nyambung, dan jika dipaksapun untuk disambung akan patah, maka mendiamkan diri adalah sikap yang lebih baik untuk dilakukan, apalagi atmosfer negative sangat terasa waktu itu.

Tanya : Pembicaraan seputar bidang ini apakah sudahterfokus menbicarakan laporan bidang atau masih ada yangmengidap tradisi lama senggol sana senggol sini ?

MP : ya, tentu dengan jawaban saya di atas anda sudah bisa menebak kemana arah floor. Saya sendiri sebagai new comer, kan baru pertama kali ikut sidang sinode tahun 2005 dan berkecimpung langsung di GBKP utuh penuh kan tahun 2005, jadi masih “bau kencur” banget. Cuma ya itu kekentalan akademik saya, membuat saya masih susah untuk bisa menerima cara yang menurut saya uneducated dan tidak kristiani. Padahal yang hadir mayoritas sedikitnya bergelar sarjana, tapi kepentingan praktis sesaat mampu merubah orang menjadi tidak menjadi dirinya, kan menunjukkan kurangnya integritas diri. Dalam bahasa teologis saya, inilah tindakan orang-orang yang percaya tapi tidak percaya. Saya sendiri baru tahu dari floor bahwa sebelum sidang dimulai sudah banyak beredar surat-surat dan bahkan seorang peserta sidang menanyakan untuk apa surat-surat ini, dan mengapa dibiarkan diedarkan oleh moderamen (atau panitia) karena ada kesan pembunuhan karakter dll. Mendengar itu saya bengong dan bertanya kediri saya ada apa, dan mulai menebak-nebak, dan baru mulai melihat cahaya jawaban itu ketika kami disidang kelompok. Aha! Sehingga keterangan tentang laporan, pekerjaan dll, sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi. Melihat keadaan ini saya terpukul sekali, apalagi saya tadiya berharap ada lima (5) proposal aturan/peraturan dan regulasi yang saya hendak propose di SKS ini biar sebelum 2010 semua pondasi di bidang Personalia dan SDM selesai dan mulai tahun 2010 siapa nanti yang menjadi kabidnya tinggal menjalankan konsep yang sudah ada, ketakutan saya adalah proposal itu hanya penambah dokumen saja, karena yang diributkan adalah IP 2.75 dan mutasi yang dimana peserta sendiri tidak terlalu mengerti perbedaan system presbiterial sinodal dengan congregational- dan apa dampaknya bagi para pendeta!- menurut saya pola pikir yang Bertebar semrawut. Kalau anda bertanya pernahkah saya patah hati dalam hidup saya, yes, kali inilah. IP. 2.75 diputuskan sidang sinode 2.75 jadi ada dikeputusan sinode 2005. yang diperdebatkan dan mau digugat bahwa pernyataan itu tidak ada di Tata Gereja. Ya jelas saja, karena Tata Gereja yang berlaku kini juga diputuskan di sidang sinode itu. lalu peserta mengajukan argument untuk bisa jika tidak merubah ya mengamandemen keputusan sidang sinode. Wah apakah SKS yang pesertanya saya pikir tidak layak sebagai representative semua GBKP (lihat siapa-siapa saja peserta sidang sinode dalam Tata Gereja kita) layak sedikitnya mengamandemen keputusan sidang Sinode. Saya juga berpikir mau kemana GBKP ini melihat kesenjangan pola pikir para pendeta dan para pertua. Kenapa saya berpikir demikian, karena mayoritas para pendetalah yang meminta IP itu dihapuskan, padahal mayoritas peserta sidang sinode adalah pertua yang memutuskan tentang IP 2.75 di tahun 2005. dan ketika membicarakan mutasi para pendeta malah condong mengarahkan agar Moderamen mengikuti pola congregational, para pendeta tidak menyadari konsekwensi apa yang dikatakannya. Maka melihat SDM yang terlalu berpikir praktis dan kepentingan sesaat ini, saya acap kehabisan kamus. Padahal kita sudah melihat bahkan mengantisipasisemuanya ini, dan berpikir mau diapakan GBKP ini.Juga Crash program yang sudah ada di Tata Gereja. Namanya saja program, malah yang disibukkan soal gelar. Lalu soal mutu. Seperti mengada-ada. Soal ada surat yang mempertanyakan akreditasi sekolah itu, yang dipertanyakan harusnya pembuat surat bukan? Namanya saja program Moderamen kok terakreditasi dan sumbernya juga dari sumber kedua mengapa dijadikan sebagai sesuatu yang absolute? Lalu ini pula yang dipakai klasis-klasis sebagai dasar pijakan penilaian mereka terhadap Crash Program, kan semakin kacau-Ha-ha- sehingga kembali saya tekankan sebagai kabid Personalia dan SDM bahwa akibat dari politik kepentingan sesaat ini bahaya sekali, karena terjadi proses pembodohan. Kita bukan hanya jalan ditempat tapi mundur!! jika kita membaca alkitab adakah kita baca para nabi bahkan Yesus sendiri yang tidak memiliki kemampuan yang comprehensive? Semua para nabi memiliki kemampuan melihat ke depan, mempunyai visi dan misi, mampu melakukan analisa ekonomi dan politik. Tidakkah Yesus malah sejak kecil sudah melibatkan dirinya dengan dunia pendidikan. Ketika orangtuanya kehilangan dia, mereka mendapatkannya sedang berbincang di bait allah. Zaman itu bait allah adalah bukan hanya pusat religious tapi juga pendidikan. Orang sekarang tidak tahu bahwa awal dari universitas adalah sekolah teologi!

Tanya : Tata tertib sidang kelompok atau sidang lainsudah ditetapkan , kenapa demikian ?

MP : saya pikir sebagai penyelenggara ya harus membuat tata tertib persidangan untuk menjaga ketertiban dan kelancaran sidang. SKS ini kan baru pertama kali dilakukan di GBKP konsekwensi dari penerimaan Tata Gereja 2005-15 di sidang sinode 2005, jadi dibuatlah tata tertibnya berdasarkan pengertian tentang sks itu sendiri yang tertulis di TataGereja. Kelucuan dan tragis adalah ketika pengertian sks itu sendiri dipertanyakan floor bahkan ada usulan untuk melakukannya lagi tahun depan. Mengerikan sekali dampak dari memperjuangkan kepentingan sesaat ini! Jelas saya dan kita tahu bahwa Tata Gereja yang kita pakai belum sempurna. Tapi kita harus hargai panitia yang sudah bersusah payah melakukannya selama tiga tahun dan diyakini sebagai hasil kerja dari semua. Karena isinya adalah usulan dari runggun, klasis dan ketiga unsur menggodok bersama hingga jadilah Tata Gereja ini. Dan di SKS itu yang nota bene adalah perwakilan klasis malah mempertanyakan ketidaksempurnaan Tata Gereja. Malah ada usulan sidang sinode istimewa. Adaapa ini? SKS jelas dimengerti sebagai sidang paruh waktu antar-sinode, karena dipikirkan BPL yang sebelumnya diberlakukan setiap tahun sangat menyita waktu, tenaga dan uang, lantas usulan untuk sks lagi tahun depan, ada apa ini?

Tanya : Saya yakin kam wait and see karena memang bidangini hal baru kepada floor ?

MP : Bisa yes bisa no. Yes, karena saya memang bersemangat untuk meletakkan landasan yang solid di GBKP, makanya saya acap diskusi dengan Pdt. Em A. Ginting Suka sebagai peletak landasan pertama, bahkan saya sudah diskusi dengan beliau dan Pdt. Em. Slamat Barus tentang latarbelakang adanya GBKP diluar Sumatera-utara. Saya memikirkan mau diapakan GBKP yang diluar P. Sumatera ini, apa yang GBKP mau capai dan peran apa yang bisa dilakukan GBKP. Sehingga jika berpikir seperti inikan otomatis harus memikirkan dan mempersiapkan SDM nya. Sebelum menjalankan pembenahan ini kan harus diletakkan landasan-landasan yang kokoh, dan bagian awal dari landasan itulah yang hendak kami propose di SKS kemaren yang saya lihat kurang dibaca, dan inilah jawaban untuk no nya. No, karena sebelum sks saya sudah mendengar rumor bahwa sks akan dipakai sebagai ajang pembantaian pribadi jadi bukan sebagai ajang pembelajaran dan evaluasi bersama untuk melangkah ke depan.

Tanya : Dengan demikian kam sudah bisa mengukur kualitas SDM personalia ?

MP : ha-ha-ha—tapi masih ada harapan, karena masih banyak yang saya lihat berorientasi pelayanan. Yang hadir di SKS kan BP Klasis, yang patut dipertanyakan adalah bagaimana ini pemilihan klasis. Dari pengalaman saya sebagai kabid Personalia dan SDM dalam menangani mutasi ketika berhubungan dengan klasis memang saya lihat dinamika di klasis yang bisa saya hubungkan dengan latarbelakang jawaban no saya di atas.

Tanya : Saya juga percaya program dan sosialisasi yangkam lakukan semata – mata demi masa depan manajemenpersonel di GBKP, kira – kira berapa persen yang sudahakrab dengan program bidang ini ?

MP : wah karena baru sebenarnya ini masih dalam tahap memperkenalkan. Dalam arti sekarang saya harusnya sedang menjual atau mengiklankan. Cuma ya itu saya tidak pintar jual kecap, saya ini paradoks ya, padahalsaya suka tertawa dan bernyanyi, tapi dalam banyak hal saya menampilkan diri dengan kaku barangkali ya. Mungkin karena saya selalu berorientasi kepada pola pikir. Saya terlatih sekali dalam berpikir dan bekerja mungkin karena sudah dibina sejak kecil, dan coba lihat tulisan-tulisan saya khususnya tentang SDM, saya sangat prihatin akan cara berpikir dan kerja masyarakat kita. Saya mau share pengalaman saya dengan suami kemaren. Setelah memberangkatkan anak-anak ke Jakarta, berdua kami kesalon potong rambut dan pijat refleksi. Dua pegawai ketika memijat kami saling berbicara, ketawa cekikikan. Saya uneasy sekali, karena menurut saya mereka harus konsentrasi kerja, diam dan membiarkan kami istirahat, customer kan mau relax makanya kepijat refleksi. Saya prihatin sekali harusnya hal-hal seperti ini harus diajarkan oleh manager salon kepada pegawainya. Bisa bayangkan yang tadinya saya mau relax karena kelelahan SKS malah tetap bergumul dengan SDM Indonesia. Dan hal ini terobati ketika malamnya kami berdua makan di nasi uduk jalan setiabudi. Semua pegawai melayani dengan cepat, bahkan banyak yang berlari untuk mengejar kecepatan waktu melayani. Saya gembira sekali, lalu berkata pada suami, baru pertama kali pengalaman saya di Indonesia melihat cara kerja seperti ini. Tempat nasi uduk Jakarta ini tidak mewah, tapi etika pekerjanya, sudah seperti etika kerja yang dianut oleh pekerja dibeberapa tempat di Penang dan Kuala Lumpur yang telah dilakoni pekerja Asia yang warganya mayoritas keturunan Cina, yaitu Hong Kong, Taiwan, Jepang dan Korea. Bukankah etika kerja ini yang membuat Negara mereka maju, bukan kekayaan alamnya, tapi mutu SDMnya! Silahkan anda-anda yang sudah pesimis dengan cara kerja SDM kita untuk makan di nasi uduk Jakarta jl Setia budi untuk melihat apa yang saya katakan. Dan apakah hal ini maka membuat pendeta GBKP katanya takut untuk berjumpa dengan saya (seperti yang dilaporkan salah satu ketua klasis dalam kelompok SDm di SKS) wah! Apakah saya yang harus disalahkan, atau pendidikan mereka di STT dan keluarga yang kurang mengajarkan mereka untuk PD dan berpola pikir dan sikap terbuka? Cuma jika saya berhenti dengan sikap bertanya begini, kan masalah tidak terpecahkan. Saya pikir semua pihak harus bersikap terbuka untuk berdialog dan bersama melangkah untuk lebih mendampakkan keberadaan GBKP di mana saja.

Tanya : Di Buletin Maranatha lalu kam memberikan pointertentu soal SDM sekarang , pasca SKS apakah ada SDM, yang meresponnya ?

MP : ketika di SKS di dalam dinamika percakapan baik di floor dan diluar persidangan, baik berbicara secara langsung maupun lewat SMS, pendeta dan pertua masih banyak yang merespons positif dan berkata maju terus. Bahkan ada yang menuliskan “perubahan itu terkadang harus dibayar mahal…” ada ketua klasis yang mengatakan, apa yang kam lakukan adalah yang dilakukan SAE Nababan dulu di HKBP, dst. Poin nya maka saya ungkapkan ini adalah 1. wajar dalam suatu perubahan ada pro dan kontra. Asal tetap mewujudkkannya dalam format yang konstruktif, dialogis dan tetap untuk mengarah ke depan. 2. supaya perubahan itu ditempatkan dalam konteks dan kepentingan institusi jadi bukan pribadi. Poin kedua ini yang belum dilihat banyak orang. Orang berpikir bahwa yang celaka jika gagal perubahan itu adalah sayanya. Lho kok? Sehingga banyak di SKS kemaren bahkan hingga kini yang saya lihat adalah upaya “membunuh” pribadi tadi. Memang jika kita tidak kuat berdiri dalam keyakinan kita akan panggilan gampang sekali membaurkan kepentingan institusi dan pribadi.

Tanya : Jelasnya makin terang benderang bagi kam kondisi SDM ?

MP : ha-ha—malah saya lihat dari pertanyaan anda bahwa anda yang semakin pesimis akan SDM GBKP ha!—ha-ha. Anda tahu saya orang yang optimis, walau diselang-selingi airmata. sebenarnya saya cengeng, Cuma kenapa orang lihat saya tegar sekali ya- yang tegar itu hanya Rosa!—ha-ha. Salah satu ketua klasis di SKS kemaren pun ada yang berkata,” kam itu sepertinya sudah tidak punya perasaan.” Wah-wah— apakahdasar pernyataan ini berdasarkan klasifikasi gender patriachal society! Mungkin yang paling mengenal saya adalah pemilik saya yaitu yang memanggil saya, Allah sendiri, keluarga dan ibu saya. Tidak ada yang tahu ketika suami saya sampai kerumah mahasiswa crash program untuk mencari saya sepulang sks kemaren, karena ketika keluarga mengkontak saya ke hp, tidak ada jawaban. Padahal karena baterei hp habis. Tapi sms saya terakhir kepada anak saya yang berisi tolong suruh Billy telepon saya, saya kelelahan dengan SKS ini, sudah memberi signal kepada keluarga. Tapi saya menampilkan diri anteng saja di sidang. Ibu saya acap mengingatkan jangan sakit nakku. Kepercayaan saya akan panggilan dan sering saya kotbahkan khusus ke siswa crash program, mengarahkan saya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari proses pembentukan. Peristiwa yang sakit sekali, semisal penikaman dari belakang yang dilakukan oleh orang yang kita perhitungkan teman juga saya ajarkan pada siswa sebagai bagian dari rancangan Allah. Tidak ada peristiwa-peristiwa dalam hidup kita yang diluar control Allah. Semuanya diijinkan Allah terjadi dalam upaya proses pembentukan kita. Lihat peristiwa Ayub, Yesus dengan yudas. Jadi ketika saya lemah dan menangis meratap, keluarga dan siswa mengingatkan saya akan semua wejangan saya, dan saya kuat kembali. Ya, anda sendiri tahu bahwa kadang saya merasa lemah tak berdaya kan?

Tanya : Lalu dalam paparan pertanggungjawaban bidang SDM, tentu sikap Ketua Moderamen positif toh ?

MP : berdasarkan semua penjelasan di atas bisa dimengerti jika sikap Ketum positif, kan dia ketua umum. Saya kan anak buahnya. Ini kan periode kedua beliau, sehingga ia bukan hanya tahu tapi yang terlibat dalam penyusunan GBP dan Tata Gereja GBKP. Bahkan ketika menyusun struktur Moderamen seperti yang ada sekarang kini, juga pergantian BPL menjadi SKS jika kita masih ingat, bukankah kami yaitu saya, Prof. sukaria dan Pdt. Em A Gintig Suka yang menyikapinya, lihat Beras piher edisi sebelum sidang sinode, bahkan kami mempropose requirement dan job description setiap ketua bidang. Jadi pikiran-pikiran SDM sebenarnya tidak asing bagi ketum. Dan banyak hal juga masukan-masukan baru dari Moderamen lainnya untuk SDM.

Tanya : Apakah mendesak dilakukan bongkar pasangsemacam kode etik atau tata tertib di bidang SDM ?

MP : Saya pikir yang mendesak adalah follow-up dari keputusan SKS untuk membentuk team yang membahas tentang 5 proposal yang diajukan oleh Kabid Personalia dan SDM ke SKS. Karena ini adalah titik beranjak dari pembaharuan tadi. Didalamnya itu ada pengaturan tata tertib SDM, soal kode etik sudah ada di Tata Gereja

Tanya : Kam yakin program yang dibuat itu lebih menyehatkan ?

MP : Yakin sekali, karena proposal yang ditawarkan menggiahkan SDM GBKP untuk berorientasi pada karya bukan lobbi, saling menjatuhkan ataupun menjilat!

Tanya : Nah , bagaimana kalau atas nama presbiterialsinodal yang mengatasnamakan suara terbanyak program –program itu ditolak ?

MP : presbiter itu terdiri dari pertua, diaken dan pendeta. Lihat kembali pemaparan saya tentang penjelasan IP di atas, sehingga tidak perlu saya ulangi lagi. Dan kembali lagi saya mau kita untuk melihat bahwa program itu diformat dari dan untuk institusi sehingga tidak Pribadi. Jadi diterima atau tidak, dampaknya ke institusi itu bukan ke saya.

Tanya : Tegasnya tidak dengan meninggalkan GBKP ini kan ?

MP : ha-ha—anda trauma dengan surat pengunduran diri saya tahun lalu ya? Saya belum pernah buka tentang hal ini. Yang tahu persis tentang ini saya pikir team SDM yaitu Prof. Sukaria Sinulingga dan Pdt Em. A Ginting Suka. Cuma perlu saya beritahukan bahwa tidak lama setelah surat pengunduran diri saya masuk, lalu saya cabut kembali, setelah berdiskusi cukup panjang dengan team SDM saya di atas. Mereka berdua inilah yang mengerti kelelahan dan kebingungan saya. Tidak ada yang tahu bahwa suami saya sebenarnya tidak setuju dengan surat pengunduran diri saya itu, karena dia tahu betapa kuatnya keinginan saya dulu di Amerika untuk pulang ke GBKP. Saya pikir hal ini pernah saya tulis di Maranatha dulu sekali. Bahkan ia juga selalu yang menegur saya jika saya lebih banyak melayani di gereja yang bukan GBKP daripada GBKP. Saya pikir setiap anda mewawancarai saya, saya selalu mengatakan bahwa dukungan keluarga yang sangat besar yang membantu saya bertahan, dan saya yakini ini adalah bagian dari rancangan Allah itu. Saya selalu jatuh bangun dalam menuju garis finish. Saya berterima kasih bagi semua yang mendoakan saya dan bantulah terus dengan doa. Itu sangat menguatkan.

Tanya : Ada pesan lain ?

MP : wah ini wawancara cukup panjang, tapi saya senang bisa menshare pikiran dan perasaan saya. Jarang saya berbicara khususnya tentang perasaan dan kondisi saya pada orang. Mungkin dengan sering begini, orang lebih melihat saya as human. Memang waktu saya mayoritas kepekerjaan, makanya saya hanya minum kopi, ya supaya bisa melek terus, baca terus, mikir terus. Dari SKS juga saya tangkap ada tuntutan bahwa saya harus melakukan perkunjungan ke daerah. Mungkin juga tuntutan ini karena saya sering keluar negeri. Jadi orang pikir saya lebih senang ke luar negeri daripada kedaerah. Ha-ha… tidak benar itu. saya ini city girl, lahir dan dibesarkan di dan gaya kota, Medan, di tengah kota Medan. 5 tahun di Jakarta untuk S1 dan 9 tahun di Amerika untuk S2 dan S3. saya bosan dengan kota. Sebelum masuk dijajaran moderamen saya sudah keluar negeri karena saya sudah aktif di Dewan Gereja sedunia, Asia, Lutheran dan reformed. Jadi tidak benar bahwa saya keluar negeri setelah saya di Moderamen. Saya tidak mau banyak menceritakan hal ini karena takut dibilang sombong. Wong dengan berbahasa yang campur-campur seperti ini saja sudah dianggap seperti “mahluk luar angkasa.”Kalau ada kesempatan saya berusaha untuk melakukan perkunjungan. Saya bahkan senang sekali jika diberi kesempatan untuk berkotbah di desa-desa, selama memang mau menerima keberadaan saya seperti ini. Terakhir sebelum kita menutup wawancara ini saya akan sangat prihatin jika direction GBKP ditentukan oleh suara dan keputusan politis yang amat sangat pragmatis dan untuk kepentingan sesaat. Bagus juga jika wawancara ketua humas kepada saya yang tertuang di WGM dulu disimak lagi. Siswa saya di crash program selalu berseru kepada saya, dan seruan itu saya serukan kepada pembaca semua Cahyo! Semangat! Dan hiduplah dalam pengharapan, amin!

Juli 12, 2008 Posted by | wawancara | | Tinggalkan komentar

Sekilas About Myself

Bagaimanapun pembaca harus mengenal siapa pemilik blog ini. untuk memperkenalkan diri adalah baik jika kami memuat tulisan kami yang merupakan kumpulan beberapa penulis (atau tokoh) yang diminta penerbit Gramedia untuk menceritakan hubungannya dengan buku dalam rangka merayakan HUT Gramedia yang ke 34, jika berminat silahkan anda ketoko buku Gramedia dan membeli buku dengan judul BUKUKU KAKIKU. Inilah tentang pemilik blog ini-

Berdialog dengan BUKU

Pengantar

Namaku Minda. Umurku 40 tahun. Hampir tiga-perempat bagian dari hidupku dihabiskan di bangku sekolah. Dalam arti lebih kurang 30 tahun dari 40 tahun masa hidupku, dihabiskan di sekolah. Sekolah bagiku sama dengan buku, walau setelah tidak berada di sekolah lagi, buku tetap menjadi isi tasku. Tas tanpa buku seperti sarapan tanpa kopi. Sehingga tasku selalu besar. Orang pikir aku bekerja sebagai sales-woman atau dokter. Kebiasaan ini bukan meng-ada setelah aku dapat S3, tapi di mulai sejak aku masih di Taman Kanak-kanak.

Sekolah Identik Dengan Buku

Jelas aku mempunyai alasan untuk menyatakan itu. Pertama, aku bisa mendapat uang lebih dari orang tuaku disebabkan keberadaanku di bangku sekolah. Uang lebih itu aku pakai untuk membeli buku. Hak istimewa ini tidak akan kudapat kalau aku berada di luar sekolah. Kedua, Sebagai siswa yang uangnya bergantung dari belas-kasihan orang-tua, maka kemampuan membeliku juga terbatas. Sehingga perpustakaan sekolah sangat membantu dalam mensuplai buku-buku. Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah. Pelajar tanpa buku bagiku adalah bukan pelajar. Pusat dari sekolah adalah perpustakaan bukan guru. Guru hanya berperan mengarahkan saja.

Masa Kecil

Kesukaaan membaca bisa terbentuk oleh faktor lingkungan

Tidak heran aku harus kerja ekstra keras untuk membiasakan anakku -yang tinggal denganku setelah ia duduk di SMP – untuk suka membaca, karena kesukaan itu bisa muncul dari faktor lingkungan. Sejak bayi hingga SMP, ia diasuh neneknya yang kurang mengerti akan pentingnya membaca. Waktu hanya dihabiskan untuk menonton TV- faktor terbesar penghambat anak-anak bahkan orang dewasa untuk belajar menyukai membaca- bermain dan menyelesaikan Pekerjaan Rumah dari sekolahnya.

Orang-tuaku suka membaca. Koran, majalah, buku cerita selalu ada di rumah. Mayoritas kami anaknya juga suka membaca. Cuma itu bukan berarti bahwa faktor bawaan (talent) tidak menentukan rasa suka ini. Satu kakakku kurang suka membaca dan ia juga kurang berminat untuk berlama diri di sekolah. SMA saja sudah cukup baginya. Sepertinya ada hubungan antara kesukaan membaca dan kesukaan bersekolah atau belajar.
Balai Pustaka penerbit yang kukenal di masa kecilku

Balai Pustaka adalah terbitan yang paling kugemari sejak aku di SD hingga SMA di tahun 1978-82. Penerbit ini mengeluarkan dan menterjemahkan buku-buku yang bernilai satra, menurut penilaianku. Siapa tidak ingat akan Layar Terkembang, Salah Asuhan, Datuk Maringgih dalam Siti Nurbaya, Winnetou dan suku Apache, Old Saterhand dll? Memperhatikan ulang novel-novel asli keluaran Balai Pustaka aku bertanya kenapa mayoritas penulisnya dari Sumatera? Apakah hal ini bisa diangkat sebagai salah satu alasan yang menyebabkan dasar bahasa Indonesia diambil dari bahasa Melayu bukan bahasa Jawa walaupun sumpah pemuda dideklarasikan di Jawa?

Authobiography dan Biography adalah jenis bacaan yang kusuka

Aku sebenarya paling suka membaca authobiography dan biography, karena aku ingin belajar dari kehidupan orang lain. Mungkin karena sifatku yang kurang suka bertanya kepada orang lain, tentang apapun, jadi aku begitu bergantung dengan buku untuk mencari tahu akan segala sesuatu. Selain jenis bacaan di atas, selama SD-SMA aku juga membaca H.C.Andersen; Sikuncung, kawanku, Bobo, Teddy Beruang, Gadis, Femina, Aktuil dan Intisari. Ada beberapa yang aku sudah lupa namanya. Jelas Kho Ping Hoo juga sudah masuk dalam daftarku. Aku kurang suka membaca novel pop. Entahlah kalau NH Dini dimasukkan dalam kategori ini. Karena aku suka gaya tulisannya. Cuma, aku membaca majalah apa saja, baik itu pop maupun sastra.

Kebudayaan Pop Yang Mendominasi Kini Sangat Mempengaruhi Isi Majalah, Buku dan TV dan Dampaknya Dalam Mencerdaskan Bangsa

Walau dulu aku membaca semuanya, tapi sekarang aku tidak memberikan majalah populer ke anakku. Cukuplah TV sudah mencekokinya dengan kebudayaan dan pola pikir pop yang mengglobal yang tidak eksistensial dan berpola jangka panjang.

Walaupun aku lama sekolah di Amerika, tapi aku tidak melihat kebagusan dari pola pikir pragmatis dan serba instant yang dipopulerkannya keseluruh jagad raya. Amerika jatuh kepada pemujaan materi. Manusia didikte oleh industri. Gaya hidup mendikte gaya pikir. Pilihan yang kita ambil hanya tersedia dari tawaran yang diajukan oleh para industri, jelas industri kelas kakap. Siapa yang berani melakukan pembelotan dari yang ditawarkan, dikategorikan sebagai yang “tidak gaul” atau “tidak modern”. Buku dan semua media, majalah, koran, TV, juga terperangkap di sini. Sedih memang ketika keintelektualan, nilai-nilai dan taste harus ditentukan oleh mega-industri yang berorientasi ke pasar yang daya jangkaunya dangkal dan pendek. Sehingga saya pikir tidak usah terlalu terpakulah pada 10 best seller of the New York Times.

Kerinduanku Untuk Menciptakan Rasa Cinta Buku Pada Anakku

Melihat keberadaan anakku, aku tahu bahwa kekurang-pengetahuannya dikarenakan ia kurang membaca. Lalu aku memberikan bacaaan yang kubaca padanya. Selain untuk melatih dia berpikir, juga pada waktu yang bersamaan untuk merubah pola pikirnya. Bacaan isengnya kuberikan Donald Bebek dan paman Gober yang aku juga suka. Aku juga memberikan novel sastra lama dan authobiography dan biography para pejuang kemerdekaan dan juga tokoh dunia yang terkenal, seperti Di Bawah Bendera Revolusi, Emil Salim, Muhamad hatta, Tan Malaka, Gandhi, Kartini, dll. Aku sempat kaget ketika anakku mengenal Siti Nurbaya bukan sebagai tokoh dalam karya sastra, tapi sebagai tokoh sinetron di TV. Kekagetan ini dibarengi dengan kemarahan dan keprihatinan akan apa yang diberikan sekolah kita kini. Ketika sastra, etiket dan budi pekerti diperkecil porsinya, dan mata pelajaran agama sekedar hapalan semata, bentuk karakter apa yang kita bina ke anak kita?

Buku Melatih Daya Fantasi dan Pikir.

Aku masih ingat ketika kecil dulu aku suka berfantasi akan isi cerita yang aku baca. Old Saterhand dengan Indian suku Apachenya. Padang gurun. Kuda. Tombak. Waktu itu aku mensejajarkan mereka dengan orang Dayak di Kalimantan,walaupun pengetahuanku mengenai orang Dayak juga melalui buku. Walaupun aku suka sekali membaca buku Winnetou ini, tapi aku tidak sampai berkeinginan untuk ke Amerika hanya untuk memujudkan fantasiku. Sejak kecil aku malah ingin ke China dan Jepang. Mengapa? karena selain cerita terjemahan dari Barat, Kho Ping Hoo adalah santapan harian keluarga. Buku cerita yang berjilid sampai melebihi dua-puluh dan dilanjutkan keseri yang berikut tapi masih dalam satu jalur cerita, sangat menarik hatiku. Bukan silatnya, tapi lebih ke ajaran filsafat Budha dan Lao Tzenya. Aku membayangkan bahwa kehidupan sehari-hari mereka yang melahirkan point-point filsafat seperti itu, dan filsafat itu terwujudkan dalam pola tindak sehari-hari. Hingga kini filsafat adalah subjek kegemaranku. Dan hingga kini keinginan untuk menghabiskan beberapa waktu di Cina atau Jepang masih ada. Berapa tahun yang lalu aku ditawari untuk tinggal di desa di Cina selama sebulan oleh Dewan Gereja Asia, tapi karena pada waktu yang bersamaan aku harus menghadiri konsultasi di Amerika, tertundalah keinginan ini.

Buku Mengikat Rasa Kekeluargaan dan Menghindari Anak Dari Kegiatan Yang Tidak Terarah.

Tradisi membaca Kho Ping Hoo secara bergiliran dalam keluargaku dahulu sangat menyenangkan. Ayahku yang harus selalu menjadi pembaca pertama, lalu disusul oleh kakak-kakakku. Sebagai anak nomor enam dari delapan, jelas aku mendapat giliran terakhir, walau ternyata sering juga aku mendahului kakak-kakakku. Tradisi ini mengikat keakraban di dalam keluarga. Kesukaan membaca dikeluargaku membuat kami menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sehingga lebih teratur dan terarah.

Situasi Yang Tidak Disengaja Juga Dapat Membentuk Kecintaan Pada Buku.

Diantara semua anak orang-tuaku teryata aku yang paling kutu buku. Dari kecil hingga sekarang uangku hanya habis buat membeli buku. Kini, hartaku selain keluargaku, hanyalah buku.

Ketika kecil karena buku baru mahal, maka aku suka pergi ke Titi Gantung dan jalan Salak di kota Medan, kota kelahiranku, yang mempunyai kompleks penjualan buku bekas yang luas. Selain buku cerita aku juga membeli buku pelajaran sekolah. Kesukaanku membaca, rupanya menjalar ke kesukaanku belajar.

Buku-buku pelajaranku selalu selesai kulahap sebelum waktunya, sehingga aku membutuhkan buku-buku yang setingkat atau dua tingkat di atas yang seharusnya kupelajari. Sedang ibuku waktu itu selalu hanya membelikan buku pelajaran yang dipakai untuk kelasku. Maka untuk memenuhi keinginanku aku harus membeli buku-buku pelajaran yang di atas tingkatanku di pasar loak.

Aku ingat, aku selalu mendialogkan buku yang aku baca dengan mata pelajaran sekolahku. Sedikitnya sejak kecil aku sudah melatih diri untuk melakukan dan melihat secara inter-disiplinari. Hal ini membuat aku selalu berada di depan teman sekelasku. Yang aneh tapi nyata, sampai beberapa guruku kadang menyerahkan tanggung jawab padaku untuk menerangkan pelajaran di papan tulis. Ini berlaku sejak aku di bangku SD sampai SMP.

Ketika SMA menyanyi lebih kutekuni dari pada membaca. Ini bukan suatu pembelokan tapi sekedar hanya memilih prioritas, karena aku tidak mampu untuk melakukan dua hal secara serius dalam waktu yang bersamaan.

Profesorku di STT Jakarta pernah mengatakan bahwa motifasi awal menekuni pelajaran baginya adalah karena pelarian, tapi kemudiaan menjadi satu kebiasaan. Apa aku seperti itu? Mungkin saja.
Menjadi anak nomor enam dari delapan bersaudara, aku acap tidak tahu menempatkan diri di mana. Apalagi ayahku sakit-sakitan sehingga ibuku menghabiskan waktunya untuk merawat beliau. Kakak-kakakku jelas tidak bisa menggantikan peran orang-tuaku. Mereka juga kurang cakap dalam membantu menyelesaikan pekerjaan sekolahku. Hal ini yang membuatku begitu bergantung pada penjelasan dari buku.

Berdasarkan hal ini aku tidak terlalu kecewa dengan anakku. Kedua faktor yang membentukku hingga mencintai buku, tidak dimiliknya. Dia lebih banyak memiliki pilihan-pilihan lain dibandingkan denganku, ketika ia belum tinggal denganku.

Buku Mencerahkan Akal dan Pikiranku.

Otodidak dan pengalaman kuakui sebagai yang sejajar atau bahkan lebih dari gelar yang diberikan oleh institusi pendidikan yang ada sekarang ini.

Otodidak adalah sesuatu yang kuamini. Hal ini terbawa hingga aku duduk dibangku kuliah. Aku jarang mau duduk di kelas, karena semua yang dikatakan dosenku bisa kudapatkan dari buku, bahkan lebih lengkap dan mendalam. Kalau terpaksa aku harus masuk kelas, biasanya aku membaca majalah Tempo di tempat dudukku. Peraturan di perpustakaan di STT Jakarta waktu itu adalah majalah tidak bisa dipinjam untuk dibawa pulang. Sehingga kesempatan untuk membaca hanya di dalam kelas dan waktu istirahat. Aku memakai kedua waktu ini. Ketika Dosenku melihat keasyikanku lebih kepada majalah Tempo dari pada mendengarkan kuliahnya, ditegurlah aku. Walau demikian dosenku ini juga yang kemudian menjadi salah satu dari dosenku yang memberikan rekomendasi untuk meneruskan studyku di Amerika.

Hingga kini aku memberikan mahasiswaku kebebasan untuk mau masuk kelas atau tidak, walau peraturan administrasi di kampus cukup ketat tentang kehadiran. Aku pikir Mengingat methode pengajaran di Indonesia dari jenjang SD-Univeritas bahkan sampai S2 hanya one way traffic, tidak ada dialog, aku pikir peraturan ini hanya untuk menipu diri sendiri saja. Umumnya metode pengajaran hanya mengarahkan siswa kesatu arah, yaitu ke arah pendapat guru/dosen dan pendapat inilah yang terbaik. Teacher knows the best. Sehingga siswa tidak terbiasa dengan keragaman pemikiran.

Aku selalu bertindak kepada anak dan muridku berdasarkan pengalaman yang telah kulalui. Biasanya aku tidak mengulangi pola guruku, walau memang tidak banyak guru yang begitu membentuk karakter dan pola pikirku. Tapi semua yang kudapat dari sumber apapun aku kumpulkan menjadi satu dan kurefleksikan secara kronologis, dan kembali aku selalu mendialogkan ketiga komponen ini, pengetahuanku, hasil reflesiku dan situasi. Sehingga yang kuajarkan pada anak dan muridku adalah hasil refleksi ini. Buku juga yang mengajarku untuk berefleksi diri yaitu buku-buku psikoanalisa.

Buku Psiko analisa yang sebenarnya bukan bagian dari mata pelajaranku menjadi bacaan rutin ketika aku melanjutkan studiku di Amerika. Social sciences yang bersifat terapan bagus sekali untuk didalami di Amerika. Psikologi, pastoral-counseling berkembang di sini. Ini bukan bidangku. Aku tidak terlalu tertarik ilmu yang bersifat praktikal. Aku suka ilmu dasar. Dulu ketika aku SD-SMP aku suka matematika. Ketika aku SMA aku suka Aljabar dan Kimia. Aku pikir ilmu dasar harus diajarkan kepada setiap siswa karena ini adalah pembentukan cara berpikir yang sistematis dan terarah. Berdasarkan pengalamanku aku pikir orang yang berlatar belakang sciences akan melahap dengan enak semua pelajaran sosial.

Mengapa Psikoanalisa ?

Perlunya waktu diri untuk berkontemplasi atas semua yang diterima oleh rasio

Umumnya seseorang ketika baru mendapatkan kesarjanaannya ia belum bisa melihat semua yang ditimbanya selama kuliah secara keseluruhan. Semua data yang disimpan per-semester dan tingkat masih tersusun seperti apa adanya. Sehingga ada baiknya kalau setelah mendapat gelar kesarjanaan, seseorang itu jangan langsung cari kerja atau mengambil kuliah kejenjang yang lebih tinggi lagi (S2). Tapi waktu digunakan untuk merefleksikan apa yang dipelajari selama lima atau enam tahun yang telah lewat dan menghubungkannya kekehidupan nyata, supaya teori itu mendapat pembuktian di lapangan atau supaya diaminkan juga bahwa teori yang dipelajari adalah yang didapatkan dari praktek lapangan, khususnya untuk kuliah ilmu sosial. Cuma kalau kuliahnya sekedar mau lulus saja maka datapun tidak ada, sehingga apa yang mau direfleksikan?

Aku masih ingat, ketika aku tingkat empat di STT Jakarta aku juga membantu dosenku untuk mengajar di tingkat satu. Pada waktu itu juga aku harus mengambil intensive English dan German. Hal ini diprogramkan padaku karena aku dipersiapkan untuk menjadi pengajar masa depan, dan untuk mencapai cita itu, aku harus membekali diri dengan beberapa hal supaya bisa langsung melanjutkan ke Tingkat strata dua.

Aku masih ingat juga, di saat penggodokan ini, membaca sudah tidak menjadi fun lagi tapi keharusan. Ada target, aku harus menyelesaikan beberapa buku untuk seminggu. Lelah sekali. Aku tidur siang di bus dalam perjalanan ke LIA. Makan siang juga di sini. Segala sesuatu sudah tidak ternikmati lagi. Aku memang tidak terlalu tahu bagaimana berteman, karena sedari kecil lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca. Tapi kali ini, waktu untuk berteman juga tidak ada.

Ketegangan seperti ini terus aku alami sampai aku kuliah Strata dua di Amerika. Ada tiga jurusan di Amerika yang mensyaratkan pelamarnya sedikitnya harus tamatan Strata satu, yaitu Kedokteran (Medical School), Hukum (Law) dan Theologia (Seminary). Dalam hal ini aku setuju dengan sistem Amerika (kita memakai sistem Eropah/ Belanda), karena ketiga bidang ini membutuhkan kedewasaan secara mental, bukan cognitif saja. Atau lebih tepatnya kedewasaan yang holistik. Sehingga dengan ini jelas saja aku belum memenuhi persyaratan untuk duduk di program Masternya Karena di Indonesia semua jurusan mensyaratkan tamatan SMA. Apalagi aku memilih untuk melanjutkan apa yang sudah kutekuni di STT Jakarta yaitu bidang Perjanjian Lama yang di seminari Amerika dianggap paling bergengsi, jadi hanya layak untuk orang kulit putih, kemudian Asia, karena orang Asia diakui kedisiplinan cara belajarnya. Untung mereka tidak tahu bahwa Asia yang kulitnya sawo matang adalah kekecualian.

Tapi karena Dosen dari Universitas di Amerika yang memilihku untuk belajar di tempatnya, maka semuanya diamini. Ini dilakukan dalam rangka peningkatan sumber daya perempuan, sekaligus penyiapan pengajar perempuan di sekolah Teologia. Konsekwensinya, aku harus tiba di Amerika 3 bulan sebelum semester dimulai untuk dipersiapkan agar siap untuk duduk di kelas bersama siswa lainnya. Waktu kuhabiskan untuk mencapai target. Jangankan 3 bulan, tahun pertamaku kuhabiskan untuk mencapai kesejajaran dengan siswa lainnya. Lelah? Ya. Tapi aku sudah terlatih jibaku. kemampuanku yang tahu berpikir memudahkanku untuk mengejar dan melahap semuanya.

Ketika pembimbing program Masterku mendiktekan kemauannya padaku, aku tidak bisa menerimanya. Di tempatku belajar, keberhasilan mahasiswa program master dan Doktor bergantung sekali dari pembimbingnya. Jadi ketika hubunganku dengan pembimbingku tidak enak lagi, aku minta pembimbing baru. Tapi ternyata pembimbingku tidak mau melepaskan aku sebagai bimbingannya. Rupanya pembimbingku mengenal sifatku yang tidak suka didikte. Setelah dilihatnya kemampuanku berjalan sendiri dari thesis bab satuku, maka aku dibiarkan berjalan sendiri dengan pasti. Kebiasaanku dari kecil yang lebih bergantung pada buku dari pada guru ternyata terus terbawa ke Amerika dan melekat hingga kini. Sehingga aku kurang merasa aman tidak tinggal dalam lingkungan kampus, karena kampus pasti mempunyai perpustakaan. Walaupun koleksi bukuku sendiri yang bukan hanya theology adalah lebih dari tiga ribuan.

Tragedi adalah kata yang tepat ketika pikir menjadi mahkota diri dan kehidupan

Aku berkesempatan merenung diri di tahun kedua program Doktorku. Perenungan yang kulakukan karena kelelahan. Untuk apa aku berlelah seperti ini? Umurku waktu itu 28 tahun. Aku merasa semakin asing dengan perasaanku. Cara berpikirku terlatih sekali, tapi aku tidak tahu mengolah rasa.

Di Amerika setiap kampus yang baik mutunya, mempunyai perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap (hal ini yang membuatku selalu rindu untuk pulang ke sana); mempunyai poliklinik; mempunyai tempat counseling; mempunyai kolam renang dan fasilitas fitness.

Ketika aku merasa lelah sekali, aku pergi ke pusat counselingnya. Disini masalah muncul kembali. Aku melihat bahwa counselorku tidak terlalu menguasai masalah, sehingga tujuanku tidak tercapai. Lalu aku balik kepada kebiasaanku, books know the best. Mulailah aku menghabiskan waktu di perpustakaan dan membacai semua buku yang berhubungan dengan apa yang sedang kurasakan. Pilihanku jatuh ke psikoanalisa dan buku-buku itu ternyata menolongku untuk melihat diriku lebih dalam lagi.

Semua ada waktunya: ada waktu bermain, belajar, makan dan tidur. Ada masa kanak-kanak- remaja, menuju dewasa dan dewasa
.
No wonder aku kelelahan, aku memang tidak pernah istirahat atau jedah dalam masa persekolahanku sejak aku berumur lima tahun. No wonder diriku berontak karena terlalu banyak aspek lain di dalam diriku yang seharusnya ada dan berkembang kulalaikan dan malah kadang kumatikan, yaitu rasa, bermain, bergaul dan istirahat. Freud (Id, Ego,Super-ego; The Interpretation of Dreams), Jung (dialog antara Jung dan Freud tentang mimpi, khususnya confrontation with the Unconscious) dan Erich Fromm (Art of loving, Escape From Freedom, Man for Himself; The Revolution of Hope and Psychoanalysis and Religion) , kudialogkan dengan diriku. Diantara ketiganya, Jung, khususnya perhatiannya pada the Unconscious dan tulisan Erich Fromm yang terdapat dalam bukunya: Art of loving, Escape From Freedom dan Man for Himself yang sangat membantuku. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena dalam penulisan Jung sedikitnya, dan Erich Fromm umumnya dipengaruhi oleh religiositas Yahudi, yang tidak asing bagiku yang mendalami bidang Perjanjian Lama dan menggemari filsafat sejak kecil. Bukankah sebenarnya filsafat interrelated dengan ethics yang merupakan manifestasi dari religiositas? Hitung-hitung ini eksperimen yang tidak mengeluarkan biaya dan privasiku juga terjamin. Kutemukan bahwa otak dan rasaku tidak berjalan seiring. Aku terlalu cepat mandiri dalam berpikir dan menentukan hidupku. Ketika anak lainnya masih bermanja dengan orang-tua dan membiarkan orang tua mengambil keputusan atas dirinya, aku tidak. Waktu itu buku Emotional Intelligence belum muncul. Cuma hal ini sudah kutemukan dalam pencarianku. Jelas aku setuju tentang isi buku ini. Apalagi aku melihat sisi bahaya dari kesenjangan keduanya. Aku berusaha untuk membikin mereka agar sebisa mungkin beriringan dengan membayar semua utang-utangku pada tahap perkembangan diri dan kedua selalu meluangkan waktu untuk berefleksi.

Pada tahap ini aku mulai bereflesi diri kebelakang bukan dengan penyesalan. Tidak ada yang perlu disesalkan, karena pencapaian yang ada kini adalah berkat masa-masa pelatihan pola pikir dan ketahanan kedisiplinan. Aku beruntung melihat masalah ini sebelum aku mendapatkan Doktorku. Kenapa? Karena aku tahu setelah aku mendapatkannya aku akan menjadi pengajar. Bagaimana aku bisa menjadi pengajar yang baik kalau aku sendiri tidak mengenal perasaanku, apalagi mengenal keberadaan muridku? Lalu apakah aku harus mengulang kesalahanku dan guruku yang hanya mengolah pikir dan mengabaikan rasa? Bukankah setelah pikir menjadi mahkota dari segalanya yang membuat kehancuran diri, hubungan antar sesama dan dengan ciptaan lainnya?

Hampir dua tahun aku berkenalan dengan diriku, dan waktu ini juga kupakai untuk mempersiapkan diriku untuk ujian dua bahasa modern yang harus kutempuh sebelum memasuki tahap comprehensive exam.

Study Strata tiga di bidang theology di Amerika mempunyai ciri khasnya sendiri. Ada dua gelar yang ditawarkan yaitu DR dan Ph.D. Kalau program DR anda tidak perlu mengambil ujian bahasa-bahasa modern yang dipilih berdasarkan major kita. Jadi setelah menghabiskan dua tahun di dalam kelas dengan 36 credits, anda bisa langsung masuk ke tahap ujian comprehensive, lalu menulis proposal disertasi, disusul dengan penulisan. Tapi kalau anda memilih program Ph.D,ujian dua bahasa modern harus dilakukan sebelum masuk ke tahap ujian comprehensive. Di Indonesia semuanya menjadi sama saja. Tapi aku sendiri tidak gelar oriented dan percaya sekali akan otodidak, so, what is the title anyway?

Pengenalan akan diri berdampak pada pengenalan akan sesama dan ciptaan lainnya

Pengdialogan antara buku dan upaya pencarian diriku, bukan hanya membantu untuk mengenal diriku dan orang lain saja, tapi juga phenomena yang ada di sekitarku. Ternyata banyak sekali orang-orang yang mengidap penyakit sepertiku yaitu penyakit dimana pikir dan rasa tidak sejajar dan tidak mampu berdialog secara equal. Umumnya orang pintar mengidap penyakit ini. Aku masih ingat ketika temanku sesama mahasiswa Program Strata tiga waktu itu berkata padaku bahwa lebih dari sembilan puluh persen mahasiswa program Doktor yang statusnya kawin di bidang Theology dan Religion bercerai. Apakah mayoritas orang pintar mulanya memilih menghabiskan waktu untuk olah pikir dikarenakan kompensasi atau pelarian seperti yang dikatakan dosenku dulu? Kemungkinan ya. Menurutku sepositif apapun bentuk pelarian itu yang jelas itu adalah pelarian. Kesalahanku adalah aku tidak menyadari dan mengerti ketika pelarian berubah menjadi kebiasaan tanpa didahului oleh pemecahan atau rekonsialisasi dari upaya pelarian itu. Sehingga masalah-masalah yang ada yang belum terpecahkan terus bertumpuk melebihi kapasitas penampungan yang ada. Tidak ada jalan keluar selain membuang/delete atau melakukan rekonsiliasi (recycle bin yang satu waktu bisa direcall kembali). Aku juga melihat banyaknya orang tua yang sebenarnya belum mengenal dirinya harus menjadi orang tua. Dan kelompok ini mayoritas adanya. Sehingga penyakit ini bersifat berantai dan susah untuk memutuskannya. Apalagi kalau penyakit ini dimengerti sebagai bagian dari keberadaan orang Modern?

Peran Buku Yang Namanya Alkitab Dalam Upaya Menjadi Manusia Seutuhnya

Pensejajaran dan pendialogan antara pikir dan rasa sangat menolong sebagai dasar dan juga sebagai bahan dialog dengan meditasiku atas bagian-bagian dari alkitab. Keberadaanku di dalam keluarga (suami dan kedua anakku), serta interaksi dengan para intelektual dan murid adalah setting yang sangat membantu upaya pencapaian ini. Hal ini semakin dibantu kini setelah Alkitab dan profesiku sebagai pendeta masuk sebagai bagian dari hidupku. Kali ini aku bukan hanya mengupayakan proses pensejajaran itu tapi pada waktu yang bersamaan aku mengupayakan proses pembentukan diri sebagai manusia yang seutuhnya. Dalam hal ini yang disebut iman dan internalisasi berperan..

Ketika Psiko-analisa membantuku kembali kepada tahap-tahap perkembangan diri yang normal, maka alkitab membantuku mensejalankan antara pola pikir, ucap dan tindak. Pelatihan ini sangat berat, lebih berat dari upaya peraihan gelar Ph.D. Untuk melakukan ini diperlukan ketegasan dan kerendahan hati. Pelatihan ini kulakukan karena memang itulah inti dari meditasiku atas alkitab. Kalau dulu alkitab aku bahas sebagai salah satu dari textbookku, tapi setelah aku menjadi vikaris calon pendeta, alkitab menjadi buku perenungan diri. Cerita alkitab kuwujudkan kembali di dalam kehidupan sehari hari.

Sama seperti ketika aku melakukan penggalian penemuan diri dengan bantuan buku psikoanalisa,ketika dialog dilakukan antara buku dengan keberadaan diri, aku semakin mengerti tentang psikoanalisa dan diriku sendiri. Dampaknya? aku menjadi semakin mengerti akan keberadaan orang lain.

Hal ini juga terjadi ketika aku mendialogkan alkitab dengan kehidupanku sehari-hari. Pengertianku akan pernyataan-pernyataan di alkitab dan proses pembentukanku menjadi semakin dalam dan beriringan. Semakin aku mengenal diriku pada saat itu juga aku semakin mengerti pernyataan-pernyataan yang tertulis di situ. Sehingga bisa dikatakan bahwa kedalaman pengertian akan alkitab diukur oleh kedalaman pengertianku akan kemanusiaanku. Semakin aku mengerti akan keberadaanku seutuhnya, semakin aku memahami keberadan orang lain.

Inilah yang terjadi pada Paulus – yang refleksi dari pergumulannya dipakai oleh para reformasi dalam upaya menentang praktek-praktek yang terjadi di dalam gereja Katolik – di dalam ia merefleksikan pengertiannya akan Yesus. Pengakuan iman yang dituliskannya di dalam surat-suratnya bukanlah pengakuan iman hasil indoktrinasi, tapi hasil dari pergumulan pribadi.

Tidak heran Paulus menyatakan bahwa tidak ada yang benar, seoranpun tidak. Sehingga keselamatan adalah sesuatu yang dianugerahkan kepada kita. Pernyataan ini bukan mucul begitu saja, tapi karena dengan jujur Paulus menyatakan bahwa ia juga bergumul untuk mensejajarkan antara pola pikir-ucap dan tindak. Dan ia menyadari sepenuhnya bahwa itu tidak gampang. Dituliskannya Aku ingin melakukan yang ini tapi yang terjadi adalah yang itu.

Pengenalan diri seperti ini menibakannya pada pengertian ketergantungan mutlak pada Allah dan bepengertian sepenuhnya kepada sesama manusia. Sehingga tidak perlu ada penghakiman antar-sesama, melainkan wajiblah antar sesama saling mengingatkan, karena semua manusia pada dasarnya adalah lemah. Tapi itu bukan berarti kita tinggal diam di dalam kelemahan kita. Karena kita sebenarnya sudah diberikan kemampuan untuk bersikap seperti Yesus. Untuk tiba di tahap ini selain meminta bantuan roh, juga diperlukan adanya proses dan disiplin diri.

Sehingga aku tidak mengenal kata tidak bisa. Bagiku semua bisa kalau kita mempunyai kemauan dan displin untuk itu. Di atas segalanya, dan yang tidak akan saya pungkiri, tentu saja kalau memang Allah berkenan untuk mewujudkannya. Dialogku dengan alkitab dan kehidupan selain menuntunku untuk mensejajarkan pola pikir-ucap dan tindak, juga mengajarkan ku untuk rendah hati dan menjalani kehidupan ini seperti air mengalir. Seperti hasil pergumulan Paulus, aku juga menjadi begitu memutlakkan Allah, dalam arti di satu pihak aku begitu optimis akan kehidupan, kerja keras serta disiplin, di pihak lain aku begitu mengantungkan kehidupan pada Allah. Aku memahami bahwa Allah mempunyai rancangan atas tiap orang sehingga tidak perlu ada kecemburuan, saling menjegal, sogok-menyogok untuk mendapat kerja dan jabatan. Bagiku semuanya sudah ditentukan dan tidak ada penilaian tinggi rendah, tapi semaunya saling melengkapi. Begitu juga dengan anak kita,bagiku orang tua yang begitu menentukan kemauannya pada anaknya serta selalu melengkapinya, dan acap kawatir untuknya adalah orang-orang tua yang tidak berTuhan.

Semua refeleksi yang kudapatkan didalam mendialogkan buku-buku yang kubaca dengan diri dan kehidupanku muncul di dalam ajaranku baik di depan kelas, di mimbar gereja, di tempat-tempat aku ceramah dan juga di rumah tanggaku. Sehingga ajaran, khotbah dan ceramah-ceramahku merefleksikan diriku.

Aku merasa bersalah sekali ketika aku menyadari bahwa ada perkataanku atau khotbahku atau isi ceramahku yang tidak sejalan dengan atau belum bisa kulaksanakan dalam diriku. Hingga kini aku tetap menjalankan kehidupanku dalam perspektif ini. Bagiku semakin berumur seseorang, semakin bijaksana di dalam bertindak. Bagiku semakin berpendidikan seseorang semakin rendah hatinya dan bijaksanalah ia. Karena pengalaman (empiris- faktor waktu), buku dan pendidikan (walau bagiku buku dan pendidikan adalah interrelated) adalah faktor yang sangat kuat di dalam membentuk kita. Sehingga kegagalan pendidikan kita nampak dimana para sarjana, master dan doktor kita tidak mewujudkan pengetahuan yang sejajar dengan gelarnya- di dalam tindakannya sehari-hari. Sudah waktunya kita menerapkan pendekatan yang holistik dan memberi kesempatan untuk merenung atau merefleksikan apa yang kita dapatkan di dalam kehidupan sehari-hari, dari buku yang kita baca, dari pelajaran yang kita terima. Sehingga adalah sangat memalukan ketika membaca besarnya korupsi yang terjadi di departemen agama, atau dilembaga hukum Indonesia.

Penutup

Buku adalah diri dan hartaku
Hingga kini aku tidak pernah berhenti membaca. Cuma karena waktu yang sangat terbatas sehingga aku harus sangat selektif dalam memilih apa yang mau kubaca. Biasanya aku menjatuhkan prioritas kepada bacaan yang topiknya belum terlalu kukenal. Proses seleksi kulakukan pertama dengan mencari tahu latar belakang penulis dan penerbit. Kenapa? karena keduanya mempengaruhi isi (ideologi) dari buku. Dengan menggunakan methode ini, aku bisa dengan cepat melakukan pilihan jika dalam satu topik ada lima penulis dengan lima penerbit yang berbeda.

Kecintaanku pada Amerika dikarenakan buku sangat gampang didapat di sana. Second-hand book store biasanya ada disetiap desa, apalagi di kota. Harganya sangat murah. Setiap desa mempunyai perpustakaan, dan disitu kita bebas meminjam buku, kaset video, vcd, majalah, juga menggunakan komputer dan internet. Akses seperti ini adalah hak umum. Sehingga tidak heran jika hanya buku-buku yang menjadi isi koperku ketika aku pulang dari negeri ini. Sekarang sedikitnya dua puluh buku kubawa itupun karena harus bersaing tempat dengan mainan anakku. Sebelumnya aku bisa membawa buku sampai ratusan. Kalau ditanya dari mana uangnya aku mau cerita. Temanku yang juga pernah belajar di Amerika bertanya padaku belum lama ini, “kemana saja kamu belanjakan uangmu yang kamu dapatkan selama kamu di Amerika?” aku tersenyum, dan berkata “buku!”

Perlunya Pengadaan yang disengaja untuk buku yang bermutu di Indonesia

Selain aksesku yang sering ke Amerika, aku juga masih sering dikirimi buku oleh profesor dan temanku yang di Amerika. Sehingga di dalam hal ini aku masih beruntung dibandingkan bukan hanya dengan orang lain,tapi juga dengan banyak pengajar atau Doktor-Doktor yang lain yang ada di Indonesia. Aku juga masih beruntung karena memiliki teman di beberapa penerbitan di Indonesia sehingga acap dikirimi buku oleh mereka.

Perlu juga disimak bahwa di India dan Korea buku juga tidak terlalu mahal. Di negara ini bahkan mereka sangat gencar menterjemahkan buku-buku yang berkwalitas dan yang dari “Barat” dengan harga murah. Sudah waktunya kita melakukan “restorasi Meiji.”

Bagaimana dengan kita? Karena kesukaanku membaca disebabkan kehausanku untuk mencari tahu, sehingga wajar kalau aku frustasi melihat tidak adanya toko buku yang memadai di Medan tempatku. Gramedia adalah toko buku utama di sini, tapi buku yang ditampilkan belum memenuhi kebutuhanku. Juga harga yang mereka patokkan cukup mahal dibandingkan dengan pendapatan masyarakat umum. Walau menurut pengamatanku faktor ini bukanlah penyebab utama belum adanya tradisi membaca disemua kalangan di Indonesia umumnya dan di Medan khususnya. Aku merindukan toko buku yang mampu menyediakan banyak buku yang bermutu dan dengan harga yang terjangkau. Aku juga merindukan penerbit-penerbit yang mau menerbitkan karya karya intelektual dalam semua bidang dalam bentuk terjemahan dan menjualnya dengan harga yang terjangkau. Aku sedih melihat buku-buku sekarang yang tercetak cantik dan dari kertas yang luks tapi isinya tidak sesuai dengan pengorbanan beberapa pohon yang telah dimusnahkan untuk itu. Peran penerbit dan toko buku sangat besar di dalam memajukan bangsa dan negara.

Orang tua, guru dan buku adalah faktor penentu dalam menentukan arah satu bangsa

Bagaimana dengan anak kita? Faktor kesengajaan bisa diciptakan di rumah dan di sekolah untuk menggiring generasi muda untuk cinta membaca. Dan inilah yang kulakukan di rumah tidak saja dengan anakku yang besar tapi juga dengan anakku yang belum genap berumur dua tahun. Sejak bayi dia sudah melihatku dikelilingi oleh buku, membaca buku, menulis dan mengetik di komputer. Dia suka meniruku membaca buku atau koran dan dia juga sudah mulai mencoret-coret buku tulis, lantai dan dinding dengan pinsilnya. Sehingga bisa kukatakan bahwa peran orang tua dan guru sangat besar dalam menentukan bentuk generasi muda yang bagaimana yang akan kita dapatkan. Ingatlah, apa yang kita tanam itulah yang kita tuai.

Mindawati Perangin-angin

Juli 12, 2008 Posted by | wawancara | | 3 Komentar

BERTEOLOGIA SEUTUHNYA

BERTEOLOGIA SEUTUHNYA

1. Apa itu teologi.

Pertama tentu saja kita harus mengklarifikasikan apa itu teologi. Teologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theos-logia, jadi teologia diartikan sebagai perkataan tentang Allah atau bisa dimengerti sebagai pernyatan (statement) mengenai Allah.

2. Siapa yang berteologi

Definisi di atas menempatkan Allah sebagai objek pemahaman dan manusia sebagai subjek dan objek pernyataan. Sehingga bisa dikatakan bahwa yang berteologia adalah manusia dan untuk manusia/sesama (Band. Daniel Adams, Teologia Lintas Budaya. Refleksi Barat di Asia. Jakarta: BPK, 1996, 3-5; Juga lihat P. Latuihamallo, “Sekitar Persoalan Kontekstualisasi,” , Theodoron. Jakarta: BPK, 1979, 5-16. Eka menyatakan bahwa bertheologia tidak pernah selesai, selalu dalam proses yang dinamis, lihat, Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia. Jakarta: BPK, 2001,
4-5).

3. Sumber berteologi dan perannya di dalam berteologi seutuhnya.

Jika teologi adalah pernyataan mengenai Allah, maka bisa dikatakan bahwa jika seorang berteologi itu berarti ia menyatakan tentang Allah. Yang patut dipernyatakan adalah apakah pernyataan tentang Allah itu didapatkannya dari:
a. Allah yang menyatakan dirinya lalu manusia memahaminya? (ini yang disebut pendekatan dari atas, Paulus, Karl Barth dll),
b. Manusia yang mencoba memahami Allah melalui pengalamannya (ini yang disebut pendekatan dari bawah yang sangat dipengaruh pendekatan ilmu-ilmu sosial).
c. Manusia mendapat pengetahuan tentang Allah dari luar dirinya (mayoritas umat yang mengaku dirinya beragama ada dikategori ini. Ketika agama sudah identik menjadi dogma, maka faktor pengalaman religius sudah langka.) atau
d. Gabungan poin b dan c.

Perlu diingat bahwa Allah tidak bermateri sehingga tidak dapat diinderakan. Ia hanya diamini oleh iman. Sehingga seharusnya berbicara tentang Allah haruslah dari dan untuk kalangan sendiri/seiman. (Pendekatan fenomenologis bisa membantu kita dalam hal mencoba mengerti iman orang lain). Kalau tidak akan terjadi kepincangan atau pengungkapan yang tidak utuh. (Tom Jacob menuliskan bahwa paham Allah (atau teologi) bukanlah pemahaman atau pengetahuan tentang Allah, tetapi pemahaman diri manusia dalam relasinya dengan Allah. Jelas bagaimanapun pemahaman Jacob disini adalah pemahaman dari bawah. Sehingga penekanan unsur “pengalaman/pribadi-komunitas” sangat dipentingkan dalam pembentukan satu teologi, dan unsur ini yang saya sebut sebagai dialog yang tidak berkeputusan antara internalisasi dan praxis sehari-hari, Lihat Tom Jacob, Paham Allah. Yogjakarta: Kanisius, 2002, 211,217,231.)

Sehingga adalah konyol ketika pemahaman tentang Allah yang kita pahami hanya bersumber dari dogmatik atau ajaran gereja yang diajarkan oleh Alkitab, Tradisi, Misionaris, Pendeta, Penginjil, Penatua atau/dan Diaken, sedangkan kita sendiri tidak mempunyai pengalaman dalam berhubungan dengan Allah. Pemahaman yang bersifat fragmentaris seperti inilah yang menyebabkan semakin menjauhnya hubungan antara agama dan etika.

Maka adalah keharusan bagi subjek pelaku teologia mempunyai pengalaman berhubungan dengan Allah, dan pengalaman itu bisa memperkuat pernyataan-pernyataan-pernyataan tentang Allah yang telah dimilikinya selama ini. Pengalaman berhubungan dengan Allah ini menghasilkan pendalaman yang sejalan antara pengenalan diri akan manusia itu sendiri dan Allah (Adam mengatakan ini sebagai unsur spiritualitas, lihat Adams, Teologia Lintas, xiii. Dalam hal ini Tom Jacobs masuk kedalam diskusi antara iman dan agama, Paham Allah, 211-13. Atau dengan kata lain, ia mempertanyakan apakah pemahaman manusia tentang Allah dimulai dari pengalaman atau pernyataan dogma (agama)? Jelas pertanyaan ini sejajar dengan perdebatan yang ada antara kubu Emperisme dan rasionalisme. Namun tidak bisa disangkal bahwa mayoritas pemeluk Kristen di Indonesia menjadi Kristen dikarenakan warisan. Bandingkan dengan pengertian Calvin yang menuliskan judul untuk bab I dari Institutes of the Christian Religion, “The Knowledge of God and that of ourselves are connected, how they are interrelated,” lihat John Dillenberger. John Calvin. Montana:Scholar Press, 1975, 320-3; Yohanes Calvin, Institutio, Jakarta:BPK,1983,5-9.). Sumber dari pemahaman pelaku teologia tentang Allah sangat penting di dalam upaya berteologia seutuhnya.

4. Berteologia seutuhnya.

Berteologia seutuhnya ialah dimana pola pikir, tindak dan ucap subjek (pelaku) sejalan, sehingga menghasilkan pengakuan iman yang dibahasakan sesuai dengan konteks penyampaian.

Kata memahami/mengenal/mengetahui mempunyai pengertian yang dalam di Perjanjian Lama (PL). Pengertian ketiga kata ini dalam PL ditemukan dalam pengertian kata iman. Sehingga ketika seseorang disebut sebagai yang memahami Allah, itu berarti ia mengetahui kehendak Allah dan pengetahuannya tentang Allah itu terbukti dari ucapan dan tindakannya sehari-hari. Di sini pola pikir, tindak dan ucap sejalan. Orang seperti inilah yang disebut orang yang beriman. Seorang yang dikatakan beriman bukan dari pengakuan bibirnya, tapi dari penilain manusia diluar dirinya. Sehingga berteologia seutuhnya adalah dimana pola pikir, ucap dan tindak pelaku adalah sejalan.

5. Perbedaan antara berbicara teologia/talking about theology dan berteologia/doing theology (Band. Gerit Singgih tentang periode pra-akademis; akademis dan periode akademis kontekstual di Berteologia Dalam Konteks, Jakarta: BPK, 2000132-146.)

Ketika sumber pemahaman tentang Allah hanya di dapat dari luar diri, maka pelaku teologi masih ditaraf talking about theology. Di taraf ini hanya unsur kognitif yang berperan, dan subjek hanya memindahkan teologi dari luar dirinya ke sesama manusia, tanpa menghiraukan apakah objek penerimaan mengamininya. Indoktrinasi yang menekankan metode pengulangan (hapalan) adalah metode yang ampuh untuk tujuan ini. Semakin banyak teori yang diketahui, semakin aman kita, walau hanya dibatas kepala, tidak ada pergumulan akan pernyataan itu, atau teori itu tidak pernah didialogkan kerealitas kehidupan.

Berteologi/doing theology, pelaku, selain mendialogkan unsur pengetahuan kognitif tentang Allah dengan realitas kehidupan, ia juga mengindahkan keberadaan tidak hanya objek penerimaan pernyataan, tapi juga keberadaan dari sumber diluar dirinya yang mengenalkannya tentang Allah itu. Atau yang hendak ditekankan adalah ia memperhatikan factor konteks dari objek penerimaan pernyataan dan sumber pernyataan. Sehingga bagaimanapun deconstruct dan reconstruct adalah metode yang harus dilakukan di dalam upaya penemuan dan penyampaian kerygma di dalam konteks masing-masing (teks-konteks).

6. Alkitab dan Tradisi sebagai sumber diluar diri yang mendominasi pemahaman pelaku teologi.

Mayoritas gereja di Indonesia, Alkitab dan tradisi Calvinislah yang mendominasi pemahaman kita tentang Allah.

7. Pelaku teologi harus menguasai konteks sumber diluar diri dan konteks objek sipenerima pernyataan (Gerit Singgih mengertikan ini sebagai konteks alkitab, konteks tradisi sistematis dan konteks kita masa kini, E.G Singgih, Berteologia Dalam Konteks,19.)

Seperti ditulis di atas bahwa dalam upaya berteologia seutuhnya maka kedua sumber ini, sumber dari luar diri pelaku dan pengalaman religius pribadi dengan Allah haruslah dideconstruct sebagai upaya pencarian kerygma dan penyadaran akan factor konteks dalam pembentukan teologi.

Kerygma inilah yang diinternalisasikan dan dibahasakan/diwujudkan dalam konteks dimana pernyatan ini disampaikan [Paul Tillich menyebutkan ini sebagai metode korelasi antara iman dan konteks. Dikarenakan budaya, social dan keagamaan adalah bagian dari konteks, maka ketika terjadi pertemuan antara iman dengan konteks maka haruslah ada transformasi social, (Banawiratma) budaya (lihat proposal Richard Niebuhr dalam Christ and Culture yang dikomentari oleh Singgih dalam Iman dan Politik dalam Era Reformasi di Indonesia. Jakarta: BPK, 2000, 59-75, juga dalam Berteologia Dalam Konteks, 36-40. Sehingga Kobong menyatakan bahwa kebudayaan adalah masalah missiologis, lihat TH Kobong, “Kebudayaan Sebagai masalah Misiologis,” dalam Berakar Didalam Dia dan Membangun Di atas Dia. Jakarta: BPK, 1998, 162-175) dan agama (Viktor Tanya, Aloysius Pieris. S.J. Bandingkan dengan Danile Lukito, “The Unending Dialogue of Gospel and Culture,” Struggling in Hope. Jakarta: BPK, 1999, 233-237)]. Sehingga bisa dikatakan bahwa di dalam berteologia seutuhnya pelaku tidak hanya mampu mendialogkan pemahaman dari luar dirinya tentang Allah dengan realitas kehidupan, tapi juga mengenal konteks sumber dari luar dirinya dan konteks dari objek sipenerima pernyataan tadi yang mencakup budaya situasi sosial dan keagamaan. Dan mengcounterkan hasil dialognya kekonteks sipenerima pernyatan.

Jadi dalam berteologia seutuhnya metode deconstruct dan reconstruct harus dilakukan sehingga teologia ini menjadi teologia yang fungsional (bdngkan, Eka Darmaputera, “Menuju Teologia Kontekstual,” dan Banawiratma SJ, “Teologia Fungsional Teologi Kontekstual,” keduanya dalam buku Konteks Berteologi di Indonesia. Jakarta: BPK, 1988, 3-19, 47-64.)

Selamat Berteologi!

Juli 12, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | 1 Komentar

Is the Ideology of the Male a Source Which Distorts the Harmony of the Whole of Creation and the Relationship Between Human Beings and The Creator?

Is the Ideology of the Male a Source Which Distorts the Harmony of the Whole of Creation and the Relationship Between Human Beings and The Creator?

Actually I was asked to write a paper on justice and woman in the Bible. Certainly the appearance of injustice will be found in many places explicitly and implicitly if the position and experience of woman is explored in the Bible. It is natural. For the Bible is a product of the Male way of thinking and life. Unfortunately it seems to be universalized and becomes almost an established ideology.

Moreover, the Bible is understood as a book of instruction/guide for life, or even as a holy book. Thus it helps to transform the male ideology into universal faith. Whoever and wherever people only know and are familiar with the male faith experience with God. There is a tendency to assume that all people are supposed to receive this as part of their experience as well, though women are the majority of the faithful members of the church and themselves do not know about men and their ways.

Unfortunately there was a command to canonize the Bible, so that there was no chance to have the women’s view in what we call the Bible. The canonical system, in many places, also lifts up the authority of the bible to be absolute. Of course this status contributes much in the spreading of the male ideology all over the world. Regrettably, not many men who know that this is the case are willing to do take action. Why? Because if the Bible is to be deconstructed and reconstructed, this will Impact not only the Bible and church institutions but also all established structures and relationships in the world. Surely men would not like this to happen for they have been used to the privilege of the male ideology’s domination. Therefore there is no other way except for women as individuals or as a group/community to proclaim the Bible’s identity and to find a way to articulate, understand and explain the authority of the Bible.

Men’s Understanding of the Image of Women as Seen in The Bible

After exploring men’s conception of women in the Hebrew Bible, Phyllis Bird concludes that in general woman is placed inferior to men. Her function is more to produce children and act as men’s complement. A wife is considered a man’s possession, like others, such as children, animals, house, land, etc. In the Hebrew Bible’s laws, women are not recognized, though in Proverbs and in the Historical Writings there are images that woman is intelligent, and can either break or make a man.[i]

However still the criteria is based on the male point of view. Therefore it is very difficult to draw some conclusions about the image of woman in the Hebrew Bible. Perhaps there were many brave, intelligent, independent and wise women out there, but they had no power nor chance to be seen. This can be seen in the strong effort by men to reduce or even to banish the role of women in the beginning of Exodus story. Could Israel ever have existed without the role of Miriam, her mother and Pharaoh’s daughter? [ii] Would there be Christianity in Karo land Indonesia if Jesus had not appeared on the resurrection day to women?[iii]

Domination is a Root to Destroy the Harmony and Interrelatedness of Creation, and to Damage the Relationship Between Humans and God.

Domination[iv] is part of the male character. Thus, it is not surprising if other parts of creation outside of men himself have to be inferior and less and if there is a strong tendency to posses. Men need to proclaim themselves, therefore power and status is important for him to be himself. Possession is one way to show his power and authority, and woman is one of his possessions. Domination usually is interrelated with possessiveness in man, and its nature is to ruin the wholeness of creation and the relationship between humans and God.
Genesis 2:4b-3:15 J, the writer of Gen 2:4b-3:15 expresses male domination in putting Adam to naming the animals and the woman.[v] Adam also is the one who decides to chose the woman to be his match,[vi] his equal helper,[vii] in helping him to produce future generations. Moreover, male domination strongly is stressed in the implementation of Yahweh’s punishment for human disobedience in Gen 3:1-15. In this case, snake and the earth are cursed, woman has always to be in pain while doing her role to produce children, and she will be always under male authority.[viii] While men have to suffer to put the bread on the table. Apparently, male ideology is a form of Yahweh’s punishment.[ix] In this case I agree with the radical feminist suggestion
which is stated by Ynesta King.
“… the subordination of women in society is the root of oppression, closely related to the association of women with nature…. Men identify women with nature and seek to enlist both in the service of male “projects” designed to make men safe from feared nature and mortality.”[x]

This can be seen in the way J designs the form of punishment to the woman and man in
Gen 3: . Therefore talking and exploring injustice with regard to women in the Bible cannot be separated from talking about the injustices suffered by other parts of creation. And it turns out that we all still live in the form of Yahweh’s punishment. The creator knows that humans can not live without food. Therefore when humans disobey Yahweh, Yahweh destroys the earth. In this case the land is cursed (Gen 3:17, see also Gen 4:11; 5:29). So every living being’s food is taken from the earth. The same phenomenon is found in the flood story in Gen 8:21. Yahweh has to destroy the earth and everything in it for man’s great wickedness (Gen 6:5-7). Therefore no one part of creation bear its own punishment/blessing from its creator for its own disobedience. Because of one part’s disobedience, all creation becomes shaky. No one part of creation is able to live by and for itself. All creation is supposed to operate interrelatedly. Usually other parts of creation are in solidarity with the human condition. Even sometimes they become victims of the human attitude. Therefore humans can not live without other parts of creation. More on this phenomenon will be explained below.[xi]

The words radah[xii] and kabasy[xiii] in Gen 1:26,28 are understood by Lynn White as having a colonialistic understanding. Thus he blames these two words as providing a ground for the present ecological crisis.[xiv] I think there is no need to blame the words, instead, it is the male ideology. It is proper to blame the male ideology for the present ecological crisis and the damaged relationship between humans and God. Thus I think to restore and maintain the wholeness of creation and the relationship of humans and God, we need to deconstruct and reconstruct the whole established structure in the world. Is this a Utopian way? I don’t think so. However even longer time is required and courage for people who are able to proclaim something different is needed to achieve the goal above. Different voices apparently echo in the Bible, such as in Gen 1:1-2:4a; and the two eschatological texts in Hos 2:20-24 and Isa 11:6-9.

P’s creation story in Gen 1:1-2:4a

P divides the creation story into six days of activity concluding with a day of divine rest. After creating some of the divisions of time and space, on the third day Elohim creates two categories of vegetation: plants yielding seeds, and trees bearing fruit with seed in it, each according to its kinds. In this process the earth has the role of bringing forth the vegetation.
After creating the lights of the sky, on the fifth day Elohim commanded the water to bring forth living creatures in the water (the great sea creatures and everything that swarms in the sea), along with the appearance of the creatures in the sky (every winged bird), each according to its kind. Then Elohim blessed them and pronounced them good. On day six, Elohim created the land animals and humans. As with the vegetation, the earth still has a function in bringing forth the land animals, which are categorized as cattle, everything that creeps on the ground, and beasts of the earth. The sequence seems to be based on the character of encounter with the animals in ordinary life.

Then as the climax, P specifically emphasizes the different character of the creation of humans in Gen 1:26-28. Here P states that humans are created in accordance with Elohim’s image and likeness. Moreover, humans are given a role, i.e., the responsibility of ruling over the animals and subduing the earth. Again a blessing is given, this time to people, together with the command to be fruitful, multiply, and fill the earth. In addition, humans have an additional command, to “subdue” the earth. Then Elohim points out that both humans and animals are to consume the plants as their diet. In the above sequences, P distinguished the creation of plants, animals, and humans.

For the creation of plants in Gen 1:11-12, and of land animals in Gen 1:24-5, Elohim assigned the earth to be intermediary. Meanwhile for the water animals in Gen 1:20, Elohim delegates their generation to the sea. Only with the creation of humans, does Elohim create directly, indeed in Elohim’s image and likeness. Though P indicates that plants and animals were not created directly by Elohim, P considers them to be parts of creation which have their own identity. This can be seen in how P divides the plants and animals based on their place and kind, and how P uses the repetition of “each according to its kind”. Besides emphasizing the existence of each part of creation, P also stresses the interrelationship among them. P states that on the first day Elohim created the light and the dark, which is day and night. On the second day, Elohim creates the sky and water. On the third day water is divided into two spaces: the dry land which is called the earth, and the sea. On the same day, after creating the dry land, the vegetation was created. As we know, plants need land, water and light to live. Therefore the basic needs of plants were created first, then Elohim created the plants. Later Elohim created the individual lights, sun, the moon and the stars. These joining the light and the dark from the first day, are the sources for the determination of time. The sky, water and earth are the source for defining space. Plants, animals and human are limited by space and time. On the fifth and sixth day Elohim created water animals and birds, the land animals, and human beings. P explicitly states that the vegetation, created on the third day, and the land animals created on the sixth day, have a relationship with the dry land or the earth which was also established on the third day. The water animals which were created on the fifth day have a relationship with the water which was limited and named on the third day.

Meanwhile only humans are described as having a direct relationship with Elohim. Though P marks the existence of animals and plants and also the interrelationship among the parts of creation, P purposely expresses the special status of humans who are created in the image of Elohim. There is no explicit statement that the plants and animals are created for the sake of humans. Instead, the content and structure of Gen 1:1-2:4, clearly shows that every part of creation comes about in a seemingly logical sequence.

The status as “created in Elohim’s image” can not be separated from the role of humans in ruling over the animals and subduing the earth. These two are one. Most scholars recognize that P does not fully explain the meaning of “image of Elohim.” However based on the structure and content of Gen 1:26-28, it is understood that P emphasizes more the consequences of being in the image of Elohim, that is to rule (radah) over animals and subdue (kabasy) the earth.
Though scholars[xv] have some differences of understanding about it, all agree that the ultimate power/subject in this case is Elohim as creator. P is concerned that “something” has to manage/maintain the goodness of the earth and everything in it. Thus P combines the concept of status (created in Elohim’s image) and function of humans to rule over the animals and subdue the earth. These two understandings can not be separated.

The way I see the structure and content of P, the creation is not based on a strictly hierarchical system nor on authority without responsibility, but on sustaining the mutual relationships within creation. Within the structure of creation, the physical world, P focuses on the plants, animals and human structures, based on the need of every creature to be in a relationship of harmony. Note that the humans and animals eat only vegetation. The emphasis that only humans are crated directly by Elohim, and in Elohim’s image, has to do with P’s understanding that there has to be one who can serve as the “local” manager of the earth and everything in it. P frequently emphasizes that every part of creation is good, even very good, thus P needs a “representative” or someone in the right “relationship” who has to be related to Elohim as a creator, so as to take care of the whole creation. Of course the goal is to maintain the situation as it is, i.e., very good. So we know in this case woman and man work together as caretakers of the earth,[xvi] and they have a peaceful relationship with animals, for all of them are vegetarian.

However this stage has vanished. After the flood that was caused by kal basar (humans and animals) who created hamas (oppression; injustice and unrighteousness),[xvii] Elohim, the creator, revises criteria for the parts of creation, in Gen 9. To hold the original criteria in Gen 1-2:4a where the whole creation is very good is impossible. No more peace. Hamas every where. Therefore since the post-flood era, humans are eligible to eat meat (Gen 9:3), as long there is no blood in it, for life is in the blood, and life belongs to God.

In the Hebrew Bible, humans and animals are considered as living beings, plants not included. And there is no license for living beings to take the life of another living being. Consequently there is a tension always between humans and animals (Gen 9:2,5), and among humans themselves (Gen 9:5). In the post-flood era the status of animals is under human oppression for they have permission to kill them as food, therefore there is always a tension between them. However still Elohim owns the creation. The animals’ blood can not be eaten, for life is in it, and its life belongs to the creator. However no one can take a human life except the creator, for the status of humans created in Elohim’s image is preserved. Therefore, there is still hope whether humans want to do the right thing or not! But Elohim has anticipated already that, if humans cannot perform according to their status, Elohim will never destroy the earth anymore, for it is a promise in Elohim’s covenant with the living beings (Gen 9: 8-17.)

Hosea 2:20-24 (ET 2:18-22)[xviii]

In the book of Hosea, Yahweh is not the one who destroys (cf. Hos 11:9). Even though Yahweh had been angered by Israel’s attitude, and announces punishment to the people (Hos 2:11-15; ET 2:9-13), all these plans and feelings are melted by the compassionate love which Yahweh has for Israel. Laken hineh in 2:16 (ET 2:14) is used by Hosea to mark the changing attitude of Yahweh. Instead of making Israel’s life miserable with punishment, the compassionate Yahweh tries to persuade Israel to remain in their “marriage” relationship. (Hos 2:16-19; ET 2:14-17). As a result of this expected reconciliation, Yahweh will do two things: Yahweh will make a covenant , for the people with 1/ the wild animals, the birds, and creeping things (cf Hos 2:14/ET 2:12; 5:14; 13:7-8) and 2/ the bow, the sword and warfare will be abolished (“broken”) from the earth.

The text does not state what kind of covenant this is nor does it describe how the covenant will be made; only that this covenant will be made for the benefit of the people of Israel (though the animals would also benefit somewhat from the cessation of warfare). The purpose of the covenant is to make Israel able to lie down securely. The using of hiphil form for syakav and the adverbial labetah emphasizes that the security the Israelites will have comes from Yahweh
who will act according to the promise.[xix]

Scholars assume that the effect of the covenant between Yahweh and animals ensures the animals and human beings have a good relationship.[xx]
It is clear in Hosea 1-2 that the relationship between Yahweh and Israel is in serious trouble. The analogy of marriage points to “a mutual commitment;” they belong to each other. In this case, Israel is the unfaithful partner, Israel does not know her husband, Yahweh (Hos 4:1,6; 5:4; 6:3,6). Knowing Yahweh here refers to acknowledging the sovereignty of Yahweh who is the almighty and is the source of everything (Hos 2:10/ET 2:8). Yahweh responds to Israel’s betrayal with understanding, compassionate love. Yahweh’s love for Israel will initiate a transformed relationship, in which Israel will “know” Yahweh (Hos 2:21-22/ET 19-20). At that time Israel will “know” Yahweh and a true relationship between them will come about.
Thus by using the terrace pattern, Hosea proclaims that Yahweh will “answer/respond to” the heavens and the heavens will answer the earth, and the earth will answer the grain, the new wine, and the fresh oil, and they all will answer Jezreel. As a result there will be enough food for Israel, a gift from Yahweh (cf. Hos 2:10,11,14,17). Hos 2:20-24 indicates, therefore that when Yhwh brings about the transformed relationship between Yhwh and Israel, Israel will not need to fear the animals (cf. Hos 2:11b; 5:14;13:7-8)[xxi], war (2:20), or the lack of food (2:23-24).

This is a remarkable declaration of the interdependence among all parts of creation which can not be separated from the interrelationship between the creature and the creator (Yahweh-animals-humans-in Hos 2:20, and Humans-plants-humans in Hos 2:24). The well-being of the interrelationships among the parts of creation cannot be separated from the well-being of the relationship between Humans and YAHWE; these two aspects are interrelated.[xxii] This interrelationship also can be seen in Hosea’s statement of the consequences if Israel does not know Humans: there will be chaos on earth (Hos 4:3).

Isa 11:6-9[xxiii]

V. 6 indicates the idea of togetherness among the animals. The subject in both lines one and two is the wild and powerful animals, while the object of the preposition is the weak domestic animals which are usually prey for the wild animals. However, here they are pictured as living together. Even more they are not living together but also their young feed themselves together. The climax of this stanza indicates that a young child shall lead them. The harmonious relationship among animals expands to humans, since a young child shall shepherd them. Again, a human- indeed even a child-is portrayed as a leader of the animals (Cf. Gen 1:26,28).

The central idea in v.7 is still the harmonious relationship between the animals such as the cow and the bear. And this peace situation is transmitted to their offspring. The vegetarian idea appears as inclusion (Cf. Gen 1:31, humans and animals are vegetarian). So there will be no conflict for no one part of creation preys on another.[xxiv] v.8 indicated that the enmity which Yhwh Elohim put between the snake and the humans no longer exists (cf. Gen 3:14-15)

Therefore, Isa 11:6-8 points to a harmonious relationship among animals and also between animals and human beings.[xxv] This concept is supported and declared in the last stanza of this section of the poetry (v.9): They shall not hurt or destroy in my holy mountain For the earth shall be full of the knowledge of Humans As the waters cover the sea.

Like Hosea, Isaiah also understands that peace among living beings (humans and animals) cannot be separated from the well-being of the relationship between the creation and the Creator, “for the earth shall be full of knowledge of Yahweh. This statement implies a drastic change for Isaiah, who had claimed that Israelites do not know Yahweh (Isa 1:3; 6:9). Thus, at that time, there is a harmony of interrelationship among the living beings and also between humans and Yahweh.

Though the picture of harmony in the whole of creation and with the Creator is more detailed in the P creation story than in the eschatological texts in Hosea 2:20-24 and Isa 11:6-9, the three texts indicate together the interrelatedness of all creation.

Claiming kal basar (humans and animals) as a source of hamas in Gen 6 by P, is supported by these two eschatological texts which indicates that there is violence among the animals.
The three texts agree that food is an important factor. Plant, land, rain and some animals will be used by Yhwh to punish living beings for their disobedience. One creation disobey Yhwh, all creation will suffer for it. Food also as a factor of violence when living beings consume meat.
The three of them agree that the most important factor is humans know God, so their relationship will be good, and it will expand to the whole of creation. Therefore to be created in the image of God, is so important for humans. Thus though Yhwh revised some of Yhwh’s criteria for Yhwh’s creations in Gen 9, Yhwh did not revise the status of humans as being created in the image of God.

End Note

[i]See: Phyllis Bird,” Image of Women in the Old Testament,” in Religion And Sexism. Ed. By: Rosemary Radford Ruether, New York: Simon Schuster, 1974, 41-88

[ii] See: Phyllis Trible, “Subversive Justice: Tracing the Miriamic traditions,” in Justice and The Hoy, 99-109.

[iii] It is no coincidence that Jesus’ first appreance after his resurrection is to the women (Matt 28:1-10). If Jesus’ context was in Karo land and he showed himself to Karo men, I can say that the story of Jesus’ resurrection would have been kept in the coffee shop where Chess and cards are more important. However Jesus’ first appearance is to women who are active in every segment of society, so the resurrection story is spoken in the market, in the field, at the river, at the well, in the kitchen, at school, every where!

[iv] Cf. Ynesta King who took Murray Bookdun’s idea in The Ecology Of Freedom (Palo:Alto, Ca: Cheshire Books, 1982) in her article “Healing The Wounds: Feminism, Ecology and the Nature/Culture Dualism in Reweaving The World, 107.
[v] Cf. Gordon Wenham, Genesis 1-15. WBC. Texas: Word Book Publisher, 1987, 70; David Clines, What Does Eve Do to Help? Sheffield: SOT Press, 1990, 39; Nahum Sarna, Genesis, The JPS Commentary, 21-23.
[vi] The use of hafaam followed by the statement of the man, “bone of my bones, and flesh of my flesh,” indicates his emotional happiness and excitement (like: “eureka”) . Now finally the man finds his match, cf. Westermann, Genesis 1-11, 229-232.
[vii] Ezer kenegdo is used to highlight the superiority of women by Phyllis Trible for most often ezer is applied to Yhwh, either as a helper or with reference to the help that comes from Yhwh, see Trible’s view in God and the . However in this case I follow Clines who says that help in this matter, ezer means to help men to produce future generations, see. David Clines, 35-37.
[viii] Masal is a verb which is used with a special subject, who has the power to lead/guide and to take care of. This verb is applied to God in Pss 22:29; 59:14;89:10; 103:19; judg 8:3; Isa 63:19; 2 Chr 20:6; Job 25:2) to the king in Isa 19:4; Jer 22:30; to the expectation of Messiah in Mic 5:2; to sin in Gen 4:7 and to the heavenly bodies in Gen 1:18.
[ix] Cf. Nahum Sarna, 28.

[x] See: Ynesta King, 109-110.

[xi] Ruether considers this as Ecofeminism which she understands as bringing together ecology and feminism in their full form, and she explores how male domination of woman and of nature are interconnected, both in cultural ideology and in social structure, see: Rosemary R. Ruether, Gaia and God. (New York: Harper Collins, 1992), 3.

[xii] The word radah is used in Ezek 29:15; 34:4; Lev 25:34,46,53; 26:17; Isa 14:2; 1 Kings 5:4; 9:23; 2 chr 8:10; Num 28:19; Pss 49:15;72:8;110:2; Jer 5:31 and Neh 9:28. Using the sematics approach, I found that this verb is used in sentence in which the subject has more power than the object . The verb itself does not determine whether the subject of the verb uses power in negative or positive way. The verb is a neutral one, just indicating that the object of the verb is under the power of the subject. Cf. Barr, Man And Nature, 62-66.

[xiii] The same as radah, kabasy here is also neutral verb.

[xiv] See Lynn White, “The historical roots of our ecological crisis,” in Ecology and Religion in History, Ed. David and Eileen Spring (New York: Harper and Row, 1974)15-31, see also response to his article by James Barr in “Man in Nature,” Ecology and Religion in History; B. W. Anderson, From Creation to New Creation: An Old Testament Perspective, OBT (Minneapolis: Fortress Press, 1994); Steck, World and Environment, 198.

[xv] Scholars understand the meaning of “created in the image of God based on “analogical” and “consequential” relationships. Some point to humans as Elohim’s representatives (Von Rad, Jacob, Schmidt ) or point to the “relationship between Elohim and humans (Vriezen, Barr, Westermann and Sarna); or point to humans and Elohim having a dialogue and a knowledgeable-relationship (Eichrodt).
[xvi] Cf the idea of all humankind is entitled to glory and honor from and honor from God in Ps 8:6.
[xvii] See Cassuto, Genesis 2, 52; B. Jacob, Genesis, 48 and Sarna, Genesis, 51.
[xviii] Who wrote the text is still debated among scholars. Mays thinks it is possibly from Hosea, see James Luther Mays, Hosea, OTL (Philadelphia:Westminster Press, 1969) 47; while others consider it was composed later by a redactor, see Gale Yee, Composition and Tradition in the Book of Hosea: A Redaction Critical Investigation (Atlanta Scholar Press, 1987) 86,88, 142-43, 316-17; Martin Buss, The Prophetic Word of Hosea (Berlin: Verlag Alfred Topelmann, 1969) 33,72, 109; Andersen and Freedman, Hosea, 57-58; Jacob Myers, The Book of Hosea (Richmond: John Knox Press, 1959) 7. Based on the fact that the idea and language in v.20 are old, I think it was composed by Hosea.
[xix] Lev 25:18,19; 26:5;Ezek 28:26; 34:25,28; 38:8,11,14; 39:6,26; Job 11:18; Isa 47:8; Jer 32:37; 49:31.

[xx] See Vriezen, An Outline, 223; S.A Cook, The Old Testament A Reinterpretation (London: Cambridge W. Heffer&sons, 1963) 107, 163.

[xxi] See also Isa 30:23-25; Jer 29:17-8; 31:12; 32:24;38:2; 42:22; 44:12; Amos 9:13-15; Joel 2:19,24,26.

[xxii] Cf. Wolff, Hosea, 69.

[xxiii] Scholars have had differing views about the content of Isa 11:6-9. Some say that the change pictured in the passage is only a symbolic one, see Edward Kissane, The Book of Isaiah, 136; Others think that it can be understood in a literal way, but that it does not come from the original prophets, see George B. Gray, The Book of Isaiah 1-39, 214; Still others view it as composed by Isaiah of Jerusalem and to be understood in its literal meaning, see George A. Smith, The Book of Isaiah 1-31, 136,183; Skinner, Isaiah 1-39, 104;Wildberger, Isaiah 1-12, 462-69.
[xxiv] Cf. Solomon B. Freehof, Book of Isaiah, 77.
[xxv] Therefore most scholars take Isa 11:6-8 as portraying a situation in which peace exists. This situation is called paradise by some scholars, see Franz Delitzsch, The Prophecies of Isaiah, 282,85; Georg Fohrer, Das Buch Jesaja, 154-55; Johan Fischer, Das Buch Isaias, 103-4; August Dilmann, Jesaja, 118-19;Kaiser, Isaiah 1-12; R.E. Clement, Isaiah 1-39,14.

This paper is presented at the CCA Meeting in Chiang Mai 2002.

Juli 5, 2008 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

Pemberdayaan Perempuan Dalam Pelayanan Gereja Dewasa Ini

Pemberdayaan Perempuan Dalam Pelayanan Gereja Dewasa Ini
Pdt. Mindawati Perangin-angin, PhD.

Judul di atas adalah yang diberikan oleh panitia penerbitan buku Jubileum 50
tahun CCA kepada saya. Pilihan judul,mungkin karena gabungan bahwa saya perempuan dan yang sekarang mengemban sebagai Kepala Bidang Personalia dan sumber Daya Manusia (SDM) GBKP. Ruang lingkup perempuan dalam judul, acap akan saya persempit menjadi pendeta perempuan. Berbicara tentang pendeta perempuan, haruslah juga berbicara tentang pendeta lelaki, seperti ketika berbicara tentang perempuan dalam pengertian umum, haruslah juga membicarakan laki-laki. Karena keduanya adalah satu keutuhan yang saling melengkapi.

Pemberdayaan pendeta perempuan (dan lelaki) dalam pelayanan gereja dewasa ini diawali dari penggodokan di sekolah teologi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu dan yang paling ampuh untuk memberdayakan manusia adalah melalui pendidikan. Sehingga pemberdayaan pendeta baik perempuan ataupun lelaki dalam pelayanan gereja dewasa ini dimulai dari pendidikan di sekolah Teologia. Sayang bahwa sekolah teologia, tidak hanya di Amerika tapi juga di Indonesia, kurikulum dan aktivitas di luar sekolah tidak terlalu berhubungan dengan kebutuhan gereja kini dan nanti.[i][ii]

Sebenarnya saya pikir gereja dan sekolah teologia di Indonesia belum menyadari sepenuhnya akan dimana dan mau kemana ia. Sehingga bentuk dan isinya masih didominasi warisan lama, padahal zaman sudah berubah.[iii]

Dalam berteologia kontekstual, dimana mayoritas gereja di Indonesia adalah gereja suku, gereja masih sangat gamang dalam menempatkan inkulturasi[iv] di dalam konteks Pancasila sebagai civil religion.[v] Penekanan muatan lokal sangat dominan, sehingga warna dan rasa nasional menjadi samar, padahal yang ditawarkan dalam kehidupan sehari-hari sarat dengan pengaruh global (hybrid complexity). Mendialogkan ketiga konteks sehingga menghasilkan ciri kas Indonesia, gereja dan sekolah teologia masih terbata. Bisa dikatakan bahwa kemampuan menganalisa konteks kini dan memprediksi konteks nanti, untuk mempersiapkan masa transisi kepemimpinan ataupun/dan generasi, belum membudaya.

Ketika gereja dan sekolah teologia belum menyadari sepenuhnya akan siapa, dimana dan mau kemana ia, bagaimana ia bisa diharapkan untuk menciptakan pengkaderan dengan sengaja? apalagi untuk melakukan pemberdayaan khusus pendeta perempuan untuk trampil melayani di konteks kini dan nanti?

Konsep gereja, struktur dan teologianya yang sudah mem-patriakhal.[vi]

Gereja dalam keadaan seperti ini cenderung tidak memihak ke program pemberdayaan perempuan/pendeta perempuan. Jelas apa dan bagaimana struktur gereja adalah didasarkan dari teologianya, atau bisa saya katakan adalah dari konfesinya.[vii] Jadi adalah tidak mendasar jika pemberdayaan perempuan dan pendeta perempuan di gereja hanya melalui lokakarya,diskusi dan seminar, tanpa merubah dalil-dalil teologia yang mendominasi sesama ciptaan (theological will), dan tindakan nyata dalam meningkatkan pendidikan, ketrampilan dan peran mereka dalam kepemimpinan di semua level (political will).[viii]

Begitu juga dengan pendidikan di sekolah teologia, jika pemberdayaan perempuan (siswi) tidak dilakukan dengan sengaja dan comprehensive (kurikulum, beasiswa, komposisi kepemimpinan senat dll), maka ia akan menjadi tindakan yang politically correct, atau sebagai bahan yang layak jual dalam mencari bantuan.

Realita pemberdayaan perempuan (pendeta perempuan) dalam pelayanan gereja dewasa ini.

Seperti yang saya ungkapkan di catatan kaki no.7 bahwa diantara gereja-gereja di [ix]Sumatera Utara baru GBKP-lah yang memiliki dua (2) perempuan dari lima ketua Moderamen dan satu ketua-umum. Sehingga kita sendiri bisa menjawab apakah kini pemberdayaan perempuan (pendeta perempuan) telah maksimal dilakukan (political will). Dalam kepemimpinan sinode GMIM yang memiliki pendeta perempuan terbanyak di Indonesia, perempuan ada tapi diposisi wakil sekretaris umum; GPM di posisi wakil ketua sinode; GKSS diposisi ketua sinode; PGI setelah almarhumah Ibu Tina Lumentut, perempuan belum tampil kembali. Bagaimana di gereja lainnya seperti GKJ, GKJW, GKI-Papua, GKPB, GMIH, GPIB, Gereja Toraja, GMIT, KGPM dll? Sehingga setelah hampir sepuluh (10) tahun kita melalui Dasawarsa solidaritas gereja dengan perempuan DGD (1988-1998) dalam hal ini bisa saya garis bawahi bahwa di gereja-gereja Indonesia secara keseluruhan, ternyata theological will sudah mendahului political will.[x] Progress pemberdayaan perempuan di gereja-gereja dan PGI di Indonesia tidak jauh beda saya pikir dengan gereja-gereja anggota CCA. CCA sendiri belum pernah memiliki general secretary perempuan, kecuali associate general secretary yang adalah dari Indonesia, Dr. Ery Lebang. General secretary National Council of Churches di Filipina kini adalah perempuan dan dinilai sangat berhasil dalam kepemimpinannya.

Berdasarkan penampakan yang ada di atas baiklah kita menyimak apa yang dituliskan oleh Elisabeth
“Authority within the church as the discipleship community of equals must not be realized as “power over” as domination and submission, but as the enabling, energizing, creative authority of orthopraxis that not only preaches the gospel of salvation but also has the power to liberate the oppressed and to make people whole and happy. Jesus commissioned his disciples not only to preach but also to heal and to set free those dominated and dehumanized by evil powers.”[xi]

5. Sehingga untuk mewujudkan pemberdayaan perempuan (pendeta perempuan) dalam pelayanan dewasa ini maka adalah keharusan:
a. Gereja tidak perlu membatasi (apalagi berdasarkan gender) dan juga melakukan test-sinodal bagi orang yang hendak masuk sekolah teologia, biarlah proses penyaringan awal dilakukan oleh sekolah teologia
b. Sekolah teologia harus mengajarkan ajaran yang berintikan integration of creation, di dalam kurikulumnya, kesamaan lelaki dan perempuan termasuk disini (lihat catatan kaki no.1), dan menyediakan beasiswa yang cukup untuk para siswi yang berbakat dan menetapkan dengan sengaja balance gender dalam setiap kepemimpinan, pelatihan dll.
c. Pengajaran gereja (kategorial, kotbah, kebaktian rumah tangga, dll) hendaklah menekankan ajaran yang berintikan integration of creation -kesamaan lelaki dan perempuan termasuk disini (theological will)
d. Gereja haruslah dengan sengaja menekankan balance gender dalam semua level kepemimpinannya (political will).
e. Gereja haruslah dengan sengaja memberikan porsi beasiswa yang lebih/ atau sedikitnya seimbang- kepada siswi teologia /atau pendeta perempuan untuk S1,S2 dan S3. Juga kesempatan untuk menghadiri dan berperan dalam pertemuan tingkat lokal, nasional dan internasional (political will).
f. Gereja harus mampu mentransformsikan pola pikir dan tindak warganya yang tidak menunjang pemberdayaan perempuan yang sudah membudaya (faktor sosial-budaya).

6. Bagi para perempuan dan pendeta perempuan,
“Female friendship reminds feminists that our political activity consists in more than just conflict and struggle with men and male supremacy. Its end is to bring women together with our Selves and with each other.”[xii]
Let’s do it!

[ii] Saya setuju dengan pikirian Judo Purwowidagdo yang menekankan bahwa pendidikan teologia di abad ke 21 haruslah mengarah kepada kepentingan umat, gereja dan masyarakat pada umumnya, lihat Judo Purwowidagdo, Towards the 21st Century, Challenges and Opportunities for Theological Education. Geneva: WCC, 1994. Disitu ia memperlihatkan pergeseran 13 paradigma:
old paradigms new paradigms
1. Education for ordinate ministers Education for leaders-empower in Christian ministry, both ordinate and non-ordinate
2. Dominated by men Inclusive, men-women balance
3. Standard and fixed curriculum flexible curriculum, module system
4. Based in campus and classroom Based in campus, local community and society
5. Up-Bottom learning process Group learning process
6. Academic, intellectual and scholarly Academic excellence covered dynamic praxis of doing
orientation theology
7. Content, knowledge approach Methodological and skills approach
8. Dominated by compulsory subjects Dominated by elective subjects
9. Dogmatic confessionals orientation. Ecumenical, inter-denominational orientation
10. Motivated to submit and loyal to Motivated to critical, reflective and creative innovation
church doctrines and traditions to church doctrines
11. Biblical-historical orientation Biblical-contextual orientation
12. Metaphysical-ontological orientation existential-phenomenological orientation
13. Biblical-analysis, texts critic Social-anthropological analysis

[iii] Saya tidak mengatakan bahwa gereja dan sekolah teologia kita ada dalam kondisi krisis identitas, tapi apa yang saya sarankan adalah we have to find our own identity, dengan menggunakan metode dekonstruksi dan rekonstruksi.

[iv] Pengertian inkulturasi dengan sangat manis ditempatkan James Haire sebagai acuan untuk mengamini ekumenikal katolik teologi (yang saya bisa mengerti sejajar dengan pengertian Bhinneka Tunggal Ika, semboyan negara kita). —,“It is perhaps because the Christ event can never be exclusively identified either with one culture or one type of culture that Paul employs the ambiguous term he akoe to describe the action by which the Christ event enters a person’s or a community’s life that is, the crucial step that leads to faith…..the authentic gospel or Christ-event-for us is not prepackaged by cultural particularity but is living. The church in the acceptance of the Christ event within its particular culture in each place and yet in the wrestling with that which stands against its own particular acceptance in each place is called to be both catholic and ecumenical, reformed and yet reforming.” Lihat James Haire, Trends of the Ecumenical Movement in the Era of Globalization,” in CTC Bulletin vol. XXI, no.3, 2005, 40.

[v] Melihat penampakan yang ada akhir-akhir ini di Indonesia dimana semangat kebangsaan mulai memudar ditindih oleh semangat ke”agamaan” saya mempertanyakan kekuatan “tali pengikat” senasib sepenangungan yang ada pada bangsa in. Kekuatan tali pengikat ini juga yang saya pertanyakan pada gereja-gereja suku di Indonesia. Sampai berapa lama kita bisa mempertahankan sense kesukuan sebagai kekuatan, jika yang nampak kini adalah banyaknya warga gereja kita yang memegang double citizenships. Saya tidak menyalahkan mereka,apalagi di era perdagangan bebas seperti ini, Cuma yang saya mau ajak kita untuk berpikir adalah 1. apakah trend seperti itu menjawab kehidupan bergereja warga kita? Atau malah cara bergereja seperti ini menunjukkan bahwa tidak hanya warga tapi gereja juga belum tiba dipengenalan akan siapa dia. Deconstruct dan reconstruct harus dilakukan. Disinilah saya tawarkan gereja suku untuk menempatkan inkulturasi dalam konteks pancasila sebagai civil religion. Dalam hal ini tiga konteks kita dialogkan, lokal, nasional dan global. Kekuatan mempertahankan faktor kesukuan saja sebagai tali pengikat sudah mulai tergeser perlahan tapi pasti oleh globalisasi. Juga bukankah faktor ekonomi dan politik sangat berperan dalam mempertahankan keeksistensiannya selain kekuatan sosial dan emosional? Selain itu saya juga berpikir bahwa gereja harus mulai mengkaji teologinya yang nampak jelas dalam konfesinya. Saya tidak mau mengajak kita untuk menutup mata atas warisan teologia kita yang mewarnai ciri kita, tapi bagaimanapun dengan perkembangan yang ada kita harus melakukan perevisian khususnya penekanan atas integrasi ciptaan (perevisian atas konsep, manusia/ laki-laki dan perempuan, serta ciptaan lainnya); pengakuan akan keberadaan kepelbagaian, a.l: keimanan (perevisian atas konsep kristologi dan keselamatan), ras dan suku (konsep manusia); inklusif (perevisian atas konsep gereja, Allah, masyarakat dan pemerintah) dlsb. Banyak yang sudah tercakup di PBIK, namun saya berpikir adalah perlu untuk mengkaji PBIK kembali. Dengan banyaknya gereja yang ada kini dan para anggotanya yang mempunyai double bahkan triple citizenships, saya bertanya apakah penampakan ini dibiarkan saja sebagai dampak dari globalisasi sekaligus mengamini bahkan mencherish ini sebagai karya roh kudus atau meratapinya sebagai kegagalan gereja dalam memperbaharui dirinya, dan itu nampak dari situasi kehidupan bangsa ini yang semakin amburadul? (bandingkan Eddy Paimun, “Eksistensi Gereja dalam Masyarakat Pluralis,“ dalam Memelihara Harta Yang Indah, 279-82.)

[vi] Lihat bagaimana Elisabeth menuliskan bahwa patriarchal self-understanding and structure dan penekanan egalitarian character sudah ada sejak awal mula christian missionary movement, dan apakah kedua berada didalam ketegangan ataupun saling melengkapi yang jelas kata Elisabeth …”This argument, however telescopes distinct organizational forms and ends up with a dualistic understanding of church and ministry. It presupposes that equality and egalitarian organizational structures exclude authority and leadership. It overlooks the fact that equality or egalitarian structures are characterized by what sociologist call role-interchangeability, lihat Elisabeth Schuussler Fiorenza, In Memory of Her. New York: Crossroad, 285-6.

[vii] Bandingkan O.E. Ch Wuwungan, “Pemahaman Iman Sebagai Landasan Warga Gereja,“ dalam Memelihara Harta Yang Indah, Medan: PGIW-Sumut, 2006, 111-12.

[viii] Peran dan kepemimpinan adalah power. Power adalah bagian atau malah keseluruhan identitas lelaki dalam patriarchal ideology. Dampaknya peran dan kepemimpinan berbentuk hirarki, karena berparadigma power atau rule over. Sehingga perempuan adalah subordinate (the second sex). Maka tidak heran jika dalam kepemimpinan gereja di seluruh Indonesia, kita masih bisa menggunakan jari tangan untuk menghitung kehadiran pemimpin gereja perempuan. Perasaan minoritas tegas terasa ketika saya harus mewakili GBKP untuk menghadiri sidang MPL PGI. Di Sumut, dengan bangga saya deklarasikan bahwa baru Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang menghadirkan dua (2) perempuan dalam jajaran Ketua di Moderamen. Juga peran komisi perempuan GBKP (Moria) di dalam perjalanan kehidupan GBKP sebagai gereja dan juga bagi masyarakat sekitar tidak bisa dipungkiri. Sehingga untuk hal ini patut kita simak apa yang disarankan oleh Margaretha …”the need for the church to shift its power paradigm from ”power over” to the “power to serve and to empower” paradigm. This shift is really needed in reformulating the church vision of power. The church needs to affirm that power comes from God. This is why it is not meant to manipulate and overcome others, but to serve and empower people, especially the powerless women. Lihat, Margaretha Hendriks-Ririmase, Theology and Violence Against Women,” in CTC Bulletin vol XXI,no. 3, 2005, 10-11.
[x] Kita juga harus mengkaji penampakan jumlah pendeta perempuan di gereja yang selama ini tidak terlalu menerima penahbisan perempuan, juga jumlah penatua, preses dan ketua klasis perempuan di setiap gereja.
[xi] Lihat, Elisabeth Schussler Fiorenza, The Ekklesia of Women and ecclesiastical Patriarchy, in Discipleship of Equals. New York: Crossroad, 1998, 247.
[xii] Lihat, Janice Raymond, “Female Friendship and Feminist Ethics,” 166.

Juli 4, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.