Mindawati-peranginangin’s Weblog

Sharing ideas and media for exchanging information

3 Transkrip wawancara: 2 harian Perjuangan Medan dan 1 Ketua Humas GBKP dgn Kabid Personalia dan SDM GBKP, Pdt Mindawati Perangin angin

Sidang Kerja Sinode (SKS) 2008 yang pertama dalam
pelaksanaan Tata Gereja GBKP 2005-2010 dilaksanakan
16-19 April 2008, di Taman Jubelium Retreat Center
GBKP Sukamakmur.
Thema acara ini: Nggeluh Setia Man Dibata dan dengan
Sub Thema : Berita simeriah man kalak musil (Jes 61:
1, Luk 4 : 18). SKS dilaksanakan untuk mengevaluasi
kinerja pelayanan setengah periode serta memikirkan
hal-hal penting yang harus dilakukan dalam program
pelayanan setengah periode ke depan.
Salah satu poin yang menjadi harapan warga GBKP yakni
sumber daya manusia (SDM) di bidang pelayanan yang
disebut PKPW.Bidang tersebut menjadi pergumulan serius
“ komandan”nya Pdt Mindawati Br Perangin angin.Usai SKS
ini ia berkenan menerima redaktur HU Perjuangan Jenda
Bangun dan berbagi informasi seputar pembangunan SDM
tadi.Inilah petikan wawancaranya .(red)

Tanya : SKS baru usai , boleh ya dibocorkan beberapa
hal di bidang SDM ?

MP : ha-ha tidak perlu dibocorkan karena sms dan sikap manusia yang suka sensasi, bahkan sebelum sks ditutup berita tentang sks sudah tersiar, khususnya bagi orang-orang yang memang menganggap ini sebagai satu sensasi besar bukan sebagai pijakan proses belajar bersama untuk melangkah lebih baik ke depan. Saya menghargai Perjuangan karena langsung mewawancarai saya, jadi bukan berberita dari sumber kedua, ketiga atau bahkan bukan dari something from the air yang akhir-akhir ini menjadi trend di kalangan GBKP, yang membuat saya sebagai Kabid SDM semakin merenung, apakah nilai keintelektualan di GBKP sebegitu merosot ataukah karakter yang memang belum terreformasi? Sebagai seorang pemikir saya sangat merenung tentang penampakan yang muncul belakangan ini dengan mencoba mendialogkan hubungan antara dunia pemikir dan political praktis. Namun
sebagai seorang akademisian dan pendeta, saya masih susah menerima jika GBKP ditentukan oleh keputusan dan suara political praktis yang berorientasi kepada kuasa dan kepentingan perorangan atau kelompok, jadi bukan kepentingan GBKP ke depan.

Saya senang bahwa anda menekankan saya sebagai Kabid di bidang SDM daripada personalia saja. Hal ini acap dilupakan oleh para pendeta GBKP yang berpikir bahwa tanggung jawab saya adalah hanya mengurusin pendeta. Tidak banyak yang menyimak GBP GBKP, hubungan dan proses pembentukan Tata Gereja dan Sidang Sinode tahun 2005, hingga pertanyaan dan diskusi yang muncul di floor bahkan dikelompok SDM sendiri jadi tidak terlalu nyambung. Tidak banyak yang tahu latarbelakang dimunculkannya bidang SDM dan Personalia dan harapan-harapan untuk dilakukannya, serta kondisi administrasi dan aturan dan peraturan personalia dan SDM ketika saya memulainya. Sehingga banyak yang asal bicara saja. Yang jelas memang bicara kan gampang dan tidak bayar bukan? Ha-ha—jadi karena melihat situasi yang tidak nyambung, dan jika dipaksapun untuk disambung akan patah, maka mendiamkan diri adalah sikap yang lebih baik untuk dilakukan, apalagi atmosfer negative sangat terasa waktu itu.

Tanya : Pembicaraan seputar bidang ini apakah sudah
terfokus menbicarakan laporan bidang atau masih ada yang
mengidap tradisi lama senggol sana senggol sini ?

MP : ya, tentu dengan jawaban saya di atas anda sudah bisa menebak kemana arah floor. Saya sendiri sebagai new comer, kan baru pertama kali ikut sidang sinode tahun 2005 dan berkecimpung langsung di GBKP utuh penuh kan tahun 2005, jadi masih “bau kencur” banget. Cuma ya itu kekentalan akademik saya, membuat saya masih susah untuk bisa menerima cara yang menurut saya uneducated dan tidak kristiani. Padahal yang hadir mayoritas sedikitnya bergelar sarjana, tapi kepentingan praktis sesaat mampu merubah orang menjadi tidak menjadi dirinya, kan menunjukkan kurangnya integritas diri. Dalam bahasa teologis saya, inilah tindakan orang-orang yang percaya tapi tidak percaya. Saya sendiri baru tahu dari floor bahwa sebelum sidang dimulai sudah banyak beredar surat-surat dan bahkan seorang peserta sidang menanyakan untuk apa surat-surat ini, dan mengapa dibiarkan diedarkan oleh moderamen (atau panitia) karena ada kesan pembunuhan karakter dll. Mendengar itu saya bengong dan bertanya kediri saya ada apa, dan mulai menebak-nebak, dan baru mulai melihat cahaya jawaban itu ketika kami disidang kelompok. Aha! Sehingga keterangan tentang laporan, pekerjaan dll, sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi. Melihat keadaan ini saya terpukul sekali, apalagi saya tadiya berharap ada lima (5) proposal aturan/peraturan dan regulasi yang saya hendak propose di SKS ini biar sebelum 2010 semua pondasi di bidang Personalia dan SDM selesai dan mulai tahun 2010 siapa nanti yang menjadi kabidnya tinggal menjalankan konsep yang sudah ada, ketakutan saya adalah proposal itu hanya penambah dokumen saja, karena yang diributkan adalah IP 2.75 dan mutasi yang dimana peserta sendiri tidak terlalu mengerti perbedaan system presbiterial sinodal dengan congregational- dan apa dampaknya bagi para pendeta!- menurut saya pola pikir yang
Bertebar semrawut. Kalau anda bertanya pernahkah saya patah hati dalam hidup saya, yes, kali inilah. IP. 2.75 diputuskan sidang sinode 2.75 jadi ada dikeputusan sinode 2005. yang diperdebatkan dan mau digugat bahwa pernyataan itu tidak ada di Tata Gereja. Ya jelas saja, karena Tata Gereja yang berlaku kini juga diputuskan di sidang sinode itu. lalu peserta mengajukan argument untuk bisa jika tidak merubah ya mengamandemen keputusan sidang sinode. Wah apakah SKS yang pesertanya saya pikir tidak layak sebagai representative semua GBKP (lihat siapa-siapa saja peserta sidang sinode dalam Tata Gereja kita) layak sedikitnya mengamandemen keputusan sidang Sinode. Saya juga berpikir mau kemana GBKP ini melihat kesenjangan pola pikir para pendeta dan para pertua. Kenapa saya berpikir demikian, karena mayoritas para pendetalah yang meminta IP itu dihapuskan, padahal mayoritas peserta sidang sinode adalah pertua yang memutuskan tentang IP 2.75 di tahun 2005. dan ketika membicarakan mutasi para pendeta malah condong mengarahkan agar Moderamen mengikuti pola congregational, para pendeta tidak menyadari konsekwensi apa yang dikatakannya. Maka melihat SDM yang terlalu berpikir praktis dan kepentingan sesaat ini, saya acap kehabisan kamus. Padahal kita sudah melihat bahkan mengantisipasi
semuanya ini, dan berpikir mau diapakan GBKP ini.
Juga Crash program yang sudah ada di Tata Gereja. Namanya saja program, malah yang disibukkan soal gelar. Lalu soal mutu. Seperti mengada-ada. Soal ada surat yang mempertanyakan akreditasi sekolah itu, yang dipertanyakan harusnya pembuat surat bukan? Namanya saja program Moderamen kok terakreditasi dan sumbernya juga dari sumber kedua mengapa dijadikan sebagai sesuatu yang absolute? Lalu ini pula yang dipakai klasis-klasis sebagai dasar pijakan penilaian mereka terhadap Crash Program, kan semakin kacau-
Ha-ha- sehingga kembali saya tekankan sebagai kabid Personalia dan SDM bahwa akibat dari politik kepentingan sesaat ini bahaya sekali, karena terjadi proses pembodohan. Kita bukan hanya jalan ditempat tapi mundur!!
jika kita membaca alkitab adakah kita baca para nabi bahkan Yesus sendiri yang tidak memiliki kemampuan yang comprehensive? Semua para nabi memiliki kemampuan melihat ke depan, mempunyai visi dan misi, mampu melakukan analisa ekonomi dan politik. Tidakkah Yesus malah sejak kecil sudah melibatkan dirinya dengan dunia pendidikan. Ketika orangtuanya kehilangan dia, mereka mendapatkannya sedang berbincang di bait allah. Zaman itu bait allah adalah bukan hanya pusat religious tapi juga pendidikan. Orang sekarang tidak tahu bahwa awal dari universitas adalah sekolah teologi!

Tanya : Tata tertib sidang kelompok atau sidang lain
sudah ditetapkan , kenapa demikian ?

MP : saya pikir sebagai penyelenggara ya harus membuat tata tertib persidangan untuk menjaga ketertiban dan kelancaran sidang. SKS ini kan baru pertama kali dilakukan di GBKP konsekwensi dari penerimaan Tata Gereja 2005-15 di sidang sinode 2005, jadi dibuatlah tata tertibnya berdasarkan pengertian tentang sks itu sendiri yang tertulis di Tata
Gereja. Kelucuan dan tragis adalah ketika pengertian sks itu sendiri dipertanyakan floor bahkan ada usulan untuk melakukannya lagi tahun depan. Mengerikan sekali dampak dari memperjuangkan kepentingan sesaat ini! Jelas saya dan kita tahu bahwa Tata Gereja yang kita pakai belum sempurna. Tapi kita harus hargai panitia yang sudah bersusah payah melakukannya selama tiga tahun dan diyakini sebagai hasil kerja dari semua. Karena isinya adalah usulan dari runggun, klasis dan ketiga unsur menggodok bersama hingga jadilah Tata Gereja ini. Dan di SKS itu yang nota bene adalah perwakilan klasis malah mempertanyakan ketidaksempurnaan Tata Gereja. Malah ada usulan sidang sinode istimewa. Ada
apa ini? SKS jelas dimengerti sebagai sidang paruh waktu antar-sinode, karena dipikirkan BPL yang sebelumnya diberlakukan setiap tahun sangat menyita waktu, tenaga dan uang, lantas usulan untuk sks lagi tahun depan, ada apa ini?

Tanya : Saya yakin kam wait and see karena memang bidang
ini hal baru kepada floor ?

MP : Bisa yes bisa no. Yes, karena saya memang bersemangat untuk meletakkan landasan yang solid di GBKP, makanya saya acap diskusi dengan Pdt. Em A. Ginting Suka sebagai peletak landasan pertama, bahkan saya sudah diskusi dengan beliau dan Pdt. Em. Slamat Barus tentang latarbelakang adanya GBKP diluar Sumatera-utara. Saya memikirkan mau diapakan GBKP yang diluar P. Sumatera ini, apa yang GBKP mau capai dan peran apa yang bisa dilakukan GBKP. Sehingga jika berpikir seperti inikan otomatis harus memikirkan dan mempersiapkan SDM nya. Sebelum menjalankan pembenahan ini kan harus diletakkan landasan-landasan yang kokoh, dan bagian awal dari landasan itulah yang hendak kami propose di SKS kemaren yang saya lihat kurang dibaca, dan inilah jawaban untuk no nya. No, karena sebelum sks saya sudah mendengar rumor bahwa sks akan dipakai sebagai ajang pembantaian pribadi jadi bukan sebagai ajang pembelajaran dan evaluasi bersama untuk melangkah ke depan.

Tanya : Dengan demikian kam sudah bisa mengukur kualitas SDM personalia ?

MP : ha-ha-ha—tapi masih ada harapan, karena masih banyak yang saya lihat berorientasi pelayanan. Yang hadir di SKS kan BP Klasis, yang patut dipertanyakan adalah bagaimana ini pemilihan klasis. Dari pengalaman saya sebagai kabid Personalia dan SDM dalam menangani mutasi ketika berhubungan dengan klasis memang saya lihat dinamika di klasis yang bisa saya hubungkan dengan latarbelakang jawaban no saya di atas.

Tanya : Saya juga percaya program dan sosialisasi yang
kam lakukan semata – mata demi masa depan manajemen
personel di GBKP, kira – kira berapa persen yang sudah
akrab dengan program bidang ini ?

MP : wah karena baru sebenarnya ini masih dalam tahap memperkenalkan. Dalam arti sekarang saya harusnya sedang menjual atau mengiklankan. Cuma ya itu saya tidak pintar jual kecap, saya ini paradoks ya, padahal
saya suka tertawa dan bernyanyi, tapi dalam banyak hal saya menampilkan diri dengan kaku barangkali ya. Mungkin karena saya selalu berorientasi kepada pola pikir. Saya terlatih sekali dalam berpikir dan bekerja mungkin karena sudah dibina sejak kecil, dan coba lihat tulisan-tulisan saya khususnya tentang SDM, saya sangat prihatin akan cara berpikir dan kerja masyarakat kita. Saya mau share pengalaman saya dengan suami kemaren. Setelah memberangkatkan anak-anak ke Jakarta, berdua kami kesalon potong rambut dan pijat refleksi. Dua pegawai ketika memijat kami saling berbicara, ketawa cekikikan. Saya uneasy sekali, karena menurut saya mereka harus konsentrasi kerja, diam dan membiarkan kami istirahat, customer kan mau relax makanya kepijat refleksi. Saya prihatin sekali harusnya hal-hal seperti ini harus diajarkan oleh manager salon kepada pegawainya. Bisa bayangkan yang tadinya saya mau relax karena kelelahan SKS malah tetap bergumul dengan SDM Indonesia. Dan hal ini terobati ketika malamnya kami berdua makan di nasi uduk jalan setiabudi. Semua pegawai melayani dengan cepat, bahkan banyak yang berlari untuk mengejar kecepatan waktu melayani. Saya gembira sekali, lalu berkata pada suami, baru pertama kali pengalaman saya di Indonesia melihat cara kerja seperti ini. Tempat nasi uduk Jakarta ini tidak mewah, tapi etika pekerjanya, sudah seperti etika kerja yang dianut oleh pekerja dibeberapa tempat di Penang dan Kuala Lumpur yang telah dilakoni pekerja Asia yang warganya mayoritas keturunan Cina, yaitu Hong Kong, Taiwan, Jepang dan Korea. Bukankah etika kerja ini yang membuat Negara mereka maju, bukan kekayaan alamnya, tapi mutu SDMnya! Silahkan anda-anda yang sudah pesimis dengan cara kerja SDM kita untuk makan di nasi uduk Jakarta jl Setia budi untuk melihat apa yang saya katakan. Dan apakah hal ini maka membuat pendeta GBKP katanya takut untuk berjumpa dengan saya (seperti yang dilaporkan salah satu ketua klasis dalam kelompok SDm di SKS) wah! Apakah saya yang harus disalahkan, atau pendidikan mereka di STT dan keluarga yang kurang mengajarkan mereka untuk PD dan berpola pikir dan sikap terbuka? Cuma jika saya berhenti dengan sikap bertanya begini, kan masalah tidak terpecahkan. Saya pikir semua pihak harus bersikap terbuka untuk berdialog dan bersama melangkah untuk lebih mendampakkan keberadaan GBKP di mana saja.

Tanya : Di Buletin Maranatha lalu kam memberikan poin
tertentu soal SDM sekarang , pasca SKS apakah ada SDM,
yang meresponnya ?

MP : ketika di SKS di dalam dinamika percakapan baik di floor dan diluar persidangan, baik berbicara secara langsung maupun lewat SMS, pendeta dan pertua masih banyak yang merespons positif dan berkata maju terus. Bahkan ada yang menuliskan “perubahan itu terkadang harus dibayar mahal…” ada ketua klasis yang mengatakan, apa yang kam lakukan adalah yang dilakukan SAE Nababan dulu di HKBP, dst. Poin nya maka saya ungkapkan ini adalah 1. wajar dalam suatu perubahan ada pro dan kontra. Asal tetap mewujudkkannya dalam format yang konstruktif, dialogis dan tetap untuk mengarah ke depan. 2. supaya perubahan itu ditempatkan dalam konteks dan kepentingan institusi jadi bukan pribadi. Poin kedua ini yang belum dilihat banyak orang. Orang berpikir bahwa yang celaka jika gagal perubahan itu adalah sayanya. Lho kok? Sehingga banyak di SKS kemaren bahkan hingga kini yang saya lihat adalah upaya “membunuh” pribadi tadi. Memang jika kita tidak kuat berdiri dalam keyakinan kita akan panggilan gampang sekali membaurkan kepentingan institusi dan pribadi.

Tanya : Jelasnya makin terang benderang bagi kam
kondisi SDM ?

MP : ha-ha—malah saya lihat dari pertanyaan anda bahwa anda yang semakin pesimis akan SDM GBKP ha!—ha-ha. Anda tahu saya orang yang optimis, walau diselang-selingi airmata. sebenarnya saya cengeng, Cuma kenapa orang lihat saya tegar sekali ya- yang tegar itu hanya Rosa!—ha-ha. Salah satu ketua klasis di SKS kemaren pun ada yang berkata,” kam itu sepertinya sudah tidak punya perasaan.” Wah-wah— apakah
dasar pernyataan ini berdasarkan klasifikasi gender patriachal society! Mungkin yang paling mengenal saya adalah pemilik saya yaitu yang memanggil saya, Allah sendiri, keluarga dan ibu saya. Tidak ada yang tahu ketika suami saya sampai kerumah mahasiswa crash program untuk mencari saya sepulang sks kemaren, karena ketika keluarga mengkontak saya ke hp, tidak ada jawaban. Padahal karena baterei hp habis. Tapi sms saya terakhir kepada anak saya yang berisi tolong suruh Billy telepon saya, saya kelelahan dengan SKS ini, sudah memberi signal kepada keluarga. Tapi saya menampilkan diri anteng saja di sidang. Ibu saya acap mengingatkan jangan sakit nakku. Kepercayaan saya akan panggilan dan sering saya kotbahkan khusus ke siswa crash program, mengarahkan saya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari proses pembentukan. Peristiwa yang sakit sekali, semisal penikaman dari belakang yang dilakukan oleh orang yang kita perhitungkan teman juga saya ajarkan pada siswa sebagai bagian dari rancangan Allah. Tidak ada peristiwa-peristiwa dalam hidup kita yang diluar control Allah. Semuanya diijinkan Allah terjadi dalam upaya proses pembentukan kita. Lihat peristiwa Ayub, Yesus dengan yudas. Jadi ketika saya lemah dan menangis meratap, keluarga dan siswa mengingatkan saya akan semua wejangan saya, dan saya kuat kembali. Ya, anda sendiri tahu bahwa kadang saya merasa lemah tak berdaya kan?

Tanya : Lalu dalam paparan pertanggungjawaban bidang SDM
, tentu sikap Ketua Moderamen positif toh ?

MP : berdasarkan semua penjelasan di atas bisa dimengerti jika sikap Ketum positif, kan dia ketua umum. Saya kan anak buahnya. Ini kan periode kedua beliau, sehingga ia bukan hanya tahu tapi yang terlibat dalam penyusunan GBP dan Tata Gereja GBKP. Bahkan ketika menyusun struktur Moderamen seperti yang ada sekarang kini, juga pergantian BPL menjadi SKS jika kita masih ingat, bukankah kami yaitu saya, Prof. sukaria dan Pdt. Em A Gintig Suka yang menyikapinya, lihat Beras piher edisi sebelum sidang sinode, bahkan kami mempropose requirement dan job description setiap ketua bidang. Jadi pikiran-pikiran SDM sebenarnya tidak asing bagi ketum. Dan banyak hal juga masukan-masukan baru dari Moderamen lainnya untuk SDM.

Tanya : Apakah mendesak dilakukan bongkar pasang
semacam kode etik atau tata tertib di bidang SDM ?

MP : Saya pikir yang mendesak adalah follow-up dari keputusan SKS untuk membentuk team yang membahas tentang 5 proposal yang diajukan oleh Kabid Personalia dan SDM ke SKS. Karena ini adalah titik beranjak dari pembaharuan tadi. Didalamnya itu ada pengaturan tata tertib SDM, soal kode etik sudah ada di Tata Gereja

Tanya : Kam yakin program yang dibuat itu lebih
menyehatkan ?

MP : Yakin sekali, karena proposal yang ditawarkan menggiahkan SDM GBKP untuk berorientasi pada karya bukan lobbi, saling menjatuhkan ataupun menjilat!

Tanya : Nah , bagaimana kalau atas nama presbiterial
sinodal yang mengatasnamakan suara terbanyak program –
program itu ditolak ?

MP : presbiter itu terdiri dari pertua, diaken dan pendeta. Lihat kembali pemaparan saya tentang penjelasan IP di atas, sehingga tidak perlu saya ulangi lagi. Dan kembali lagi saya mau kita untuk melihat bahwa program itu diformat dari dan untuk institusi sehingga tidak
Pribadi. Jadi diterima atau tidak, dampaknya ke institusi itu bukan ke saya.

Tanya : Tegasnya tidak dengan meninggalkan GBKP ini kan ?

MP : ha-ha—anda trauma dengan surat pengunduran diri saya tahun lalu ya? Saya belum pernah buka tentang hal ini. Yang tahu persis tentang ini saya pikir team SDM yaitu Prof. Sukaria Sinulingga dan Pdt Em. A Ginting Suka. Cuma perlu saya beritahukan bahwa tidak lama setelah surat pengunduran diri saya masuk, lalu saya cabut kembali, setelah berdiskusi cukup panjang dengan team SDM saya di atas. Mereka berdua inilah yang mengerti kelelahan dan kebingungan saya. Tidak ada yang tahu bahwa suami saya sebenarnya tidak setuju dengan surat pengunduran diri saya itu, karena dia tahu betapa kuatnya keinginan saya dulu di Amerika untuk pulang ke GBKP. Saya pikir hal ini pernah saya tulis di Maranatha dulu sekali. Bahkan ia juga selalu yang menegur saya jika saya lebih banyak melayani di gereja yang bukan GBKP daripada GBKP. Saya pikir setiap anda mewawancarai saya, saya selalu mengatakan bahwa dukungan keluarga yang sangat besar yang membantu saya bertahan, dan saya yakini ini adalah bagian dari rancangan Allah itu. Saya selalu jatuh bangun dalam menuju garis finish. Saya berterima kasih bagi semua yang mendoakan saya dan bantulah terus dengan doa. Itu sangat menguatkan.

Tanya : Ada pesan lain ?

MP : wah ini wawancara cukup panjang, tapi saya senang bisa menshare pikiran dan perasaan saya. Jarang saya berbicara khususnya tentang perasaan dan kondisi saya pada orang. Mungkin dengan sering begini, orang lebih melihat saya as human. Memang waktu saya mayoritas kepekerjaan, makanya saya hanya minum kopi, ya supaya bisa melek terus, baca terus, mikir terus. Dari SKS juga saya tangkap ada tuntutan bahwa saya harus melakukan perkunjungan ke daerah. Mungkin juga tuntutan ini karena saya sering keluar negeri. Jadi orang pikir saya lebih senang ke luar negeri daripada kedaerah. Ha-ha… tidak benar itu. saya ini city girl, lahir dan dibesarkan di dan gaya kota, Medan, di tengah kota Medan. 5 tahun di Jakarta untuk S1 dan 9 tahun di Amerika untuk S2 dan S3. saya bosan dengan kota. Sebelum masuk dijajaran moderamen saya sudah keluar negeri karena saya sudah aktif di Dewan Gereja sedunia, Asia, Lutheran dan reformed. Jadi tidak benar bahwa saya keluar negeri setelah saya di Moderamen. Saya tidak mau banyak menceritakan hal ini karena takut dibilang sombong. Wong dengan berbahasa yang campur-campur seperti ini saja sudah dianggap seperti “mahluk luar angkasa.”
Kalau ada kesempatan saya berusaha untuk melakukan perkunjungan. Saya bahkan senang sekali jika diberi kesempatan untuk berkotbah di desa-desa, selama memang mau menerima keberadaan saya seperti ini. Terakhir sebelum kita menutup wawancara ini saya akan sangat prihatin jika direction GBKP ditentukan oleh suara dan keputusan politis yang amat sangat pragmatis dan untuk kepentingan sesaat. Bagus juga jika wawancara ketua humas kepada saya yang tertuang di WGM dulu disimak lagi. Siswa saya di crash program selalu berseru kepada saya, dan seruan itu saya serukan kepada pembaca semua Cahyo! Semangat! Dan hiduplah dalam pengharapan, amin!

Juni 23, 2008 - Posted by | artikel teologia dan sdm

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: