Mindawati-peranginangin’s Weblog

Sharing ideas and media for exchanging information

Wawancara Tentang Perjalanan Sidang Kerja Sinode (SKS) oleh Hrian Perjuangan dgn Pdt Mindawati Peranginangin

Wawancara Harian Perjuangan dgn Pdt Mindawati Peranginangin ttg Perjalanan SKS GBKP, April 2008.

Sidang Kerja Sinode (SKS) 2008 yang pertama dalampelaksanaan Tata Gereja GBKP 2005-2010 dilaksanakan16-19 April 2008, di Taman Jubelium Retreat CenterGBKP Sukamakmur.Thema acara ini: Nggeluh Setia Man Dibata dan denganSub Thema : Berita simeriah man kalak musil (Jes 61:1, Luk 4 : 18). SKS dilaksanakan untuk mengevaluasikinerja pelayanan setengah periode serta memikirkanhal-hal penting yang harus dilakukan dalam programpelayanan setengah periode ke depan. Salah satu poin yang menjadi harapan warga GBKP yaknisumber daya manusia (SDM) di bidang pelayanan yangdisebut PKPW.Bidang tersebut menjadi pergumulan serius“ komandan”nya Pdt Mindawati Br Perangin angin.Usai SKSini ia berkenan menerima redaktur HU Perjuangan JendaBangun dan berbagi informasi seputar pembangunan SDMtadi.Inilah petikan wawancaranya .(red)

Tanya : SKS baru usai , boleh ya dibocorkan beberapahal di bidang SDM ?

MP : ha-ha tidak perlu dibocorkan karena sms dan sikap manusia yang suka sensasi, bahkan sebelum sks ditutup berita tentang sks sudah tersiar, khususnya bagi orang-orang yang memang menganggap ini sebagai satu sensasi besar bukan sebagai pijakan proses belajar bersama untuk melangkah lebih baik ke depan. Saya menghargai Perjuangan karena langsung mewawancarai saya, jadi bukan berberita dari sumber kedua, ketiga atau bahkan bukan dari something from the air yang akhir-akhir ini menjadi trend di kalangan GBKP, yang membuat saya sebagai Kabid SDM semakin merenung, apakah nilai keintelektualan di GBKP sebegitu merosot ataukah karakter yang memang belum terreformasi? Sebagai seorang pemikir saya sangat merenung tentang penampakan yang muncul belakangan ini dengan mencoba mendialogkan hubungan antara dunia pemikir dan political praktis. Namunsebagai seorang akademisian dan pendeta, saya masih susah menerima jika GBKP ditentukan oleh keputusan dan suara political praktis yang berorientasi kepada kuasa dan kepentingan perorangan atau kelompok, jadi bukan kepentingan GBKP ke depan. Saya senang bahwa anda menekankan saya sebagai Kabid di bidang SDM daripada personalia saja. Hal ini acap dilupakan oleh para pendeta GBKP yang berpikir bahwa tanggung jawab saya adalah hanya mengurusin pendeta. Tidak banyak yang menyimak GBP GBKP, hubungan dan proses pembentukan Tata Gereja dan Sidang Sinode tahun 2005, hingga pertanyaan dan diskusi yang muncul di floor bahkan dikelompok SDM sendiri jadi tidak terlalu nyambung. Tidak banyak yang tahu latarbelakang dimunculkannya bidang SDM dan Personalia dan harapan-harapan untuk dilakukannya, serta kondisi administrasi dan aturan dan peraturan personalia dan SDM ketika saya memulainya. Sehingga banyak yang asal bicara saja. Yang jelas memang bicara kan gampang dan tidak bayar bukan? Ha-ha—jadi karena melihat situasi yang tidak nyambung, dan jika dipaksapun untuk disambung akan patah, maka mendiamkan diri adalah sikap yang lebih baik untuk dilakukan, apalagi atmosfer negative sangat terasa waktu itu.

Tanya : Pembicaraan seputar bidang ini apakah sudahterfokus menbicarakan laporan bidang atau masih ada yangmengidap tradisi lama senggol sana senggol sini ?

MP : ya, tentu dengan jawaban saya di atas anda sudah bisa menebak kemana arah floor. Saya sendiri sebagai new comer, kan baru pertama kali ikut sidang sinode tahun 2005 dan berkecimpung langsung di GBKP utuh penuh kan tahun 2005, jadi masih “bau kencur” banget. Cuma ya itu kekentalan akademik saya, membuat saya masih susah untuk bisa menerima cara yang menurut saya uneducated dan tidak kristiani. Padahal yang hadir mayoritas sedikitnya bergelar sarjana, tapi kepentingan praktis sesaat mampu merubah orang menjadi tidak menjadi dirinya, kan menunjukkan kurangnya integritas diri. Dalam bahasa teologis saya, inilah tindakan orang-orang yang percaya tapi tidak percaya. Saya sendiri baru tahu dari floor bahwa sebelum sidang dimulai sudah banyak beredar surat-surat dan bahkan seorang peserta sidang menanyakan untuk apa surat-surat ini, dan mengapa dibiarkan diedarkan oleh moderamen (atau panitia) karena ada kesan pembunuhan karakter dll. Mendengar itu saya bengong dan bertanya kediri saya ada apa, dan mulai menebak-nebak, dan baru mulai melihat cahaya jawaban itu ketika kami disidang kelompok. Aha! Sehingga keterangan tentang laporan, pekerjaan dll, sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi. Melihat keadaan ini saya terpukul sekali, apalagi saya tadiya berharap ada lima (5) proposal aturan/peraturan dan regulasi yang saya hendak propose di SKS ini biar sebelum 2010 semua pondasi di bidang Personalia dan SDM selesai dan mulai tahun 2010 siapa nanti yang menjadi kabidnya tinggal menjalankan konsep yang sudah ada, ketakutan saya adalah proposal itu hanya penambah dokumen saja, karena yang diributkan adalah IP 2.75 dan mutasi yang dimana peserta sendiri tidak terlalu mengerti perbedaan system presbiterial sinodal dengan congregational- dan apa dampaknya bagi para pendeta!- menurut saya pola pikir yang Bertebar semrawut. Kalau anda bertanya pernahkah saya patah hati dalam hidup saya, yes, kali inilah. IP. 2.75 diputuskan sidang sinode 2.75 jadi ada dikeputusan sinode 2005. yang diperdebatkan dan mau digugat bahwa pernyataan itu tidak ada di Tata Gereja. Ya jelas saja, karena Tata Gereja yang berlaku kini juga diputuskan di sidang sinode itu. lalu peserta mengajukan argument untuk bisa jika tidak merubah ya mengamandemen keputusan sidang sinode. Wah apakah SKS yang pesertanya saya pikir tidak layak sebagai representative semua GBKP (lihat siapa-siapa saja peserta sidang sinode dalam Tata Gereja kita) layak sedikitnya mengamandemen keputusan sidang Sinode. Saya juga berpikir mau kemana GBKP ini melihat kesenjangan pola pikir para pendeta dan para pertua. Kenapa saya berpikir demikian, karena mayoritas para pendetalah yang meminta IP itu dihapuskan, padahal mayoritas peserta sidang sinode adalah pertua yang memutuskan tentang IP 2.75 di tahun 2005. dan ketika membicarakan mutasi para pendeta malah condong mengarahkan agar Moderamen mengikuti pola congregational, para pendeta tidak menyadari konsekwensi apa yang dikatakannya. Maka melihat SDM yang terlalu berpikir praktis dan kepentingan sesaat ini, saya acap kehabisan kamus. Padahal kita sudah melihat bahkan mengantisipasisemuanya ini, dan berpikir mau diapakan GBKP ini.Juga Crash program yang sudah ada di Tata Gereja. Namanya saja program, malah yang disibukkan soal gelar. Lalu soal mutu. Seperti mengada-ada. Soal ada surat yang mempertanyakan akreditasi sekolah itu, yang dipertanyakan harusnya pembuat surat bukan? Namanya saja program Moderamen kok terakreditasi dan sumbernya juga dari sumber kedua mengapa dijadikan sebagai sesuatu yang absolute? Lalu ini pula yang dipakai klasis-klasis sebagai dasar pijakan penilaian mereka terhadap Crash Program, kan semakin kacau-Ha-ha- sehingga kembali saya tekankan sebagai kabid Personalia dan SDM bahwa akibat dari politik kepentingan sesaat ini bahaya sekali, karena terjadi proses pembodohan. Kita bukan hanya jalan ditempat tapi mundur!! jika kita membaca alkitab adakah kita baca para nabi bahkan Yesus sendiri yang tidak memiliki kemampuan yang comprehensive? Semua para nabi memiliki kemampuan melihat ke depan, mempunyai visi dan misi, mampu melakukan analisa ekonomi dan politik. Tidakkah Yesus malah sejak kecil sudah melibatkan dirinya dengan dunia pendidikan. Ketika orangtuanya kehilangan dia, mereka mendapatkannya sedang berbincang di bait allah. Zaman itu bait allah adalah bukan hanya pusat religious tapi juga pendidikan. Orang sekarang tidak tahu bahwa awal dari universitas adalah sekolah teologi!

Tanya : Tata tertib sidang kelompok atau sidang lainsudah ditetapkan , kenapa demikian ?

MP : saya pikir sebagai penyelenggara ya harus membuat tata tertib persidangan untuk menjaga ketertiban dan kelancaran sidang. SKS ini kan baru pertama kali dilakukan di GBKP konsekwensi dari penerimaan Tata Gereja 2005-15 di sidang sinode 2005, jadi dibuatlah tata tertibnya berdasarkan pengertian tentang sks itu sendiri yang tertulis di TataGereja. Kelucuan dan tragis adalah ketika pengertian sks itu sendiri dipertanyakan floor bahkan ada usulan untuk melakukannya lagi tahun depan. Mengerikan sekali dampak dari memperjuangkan kepentingan sesaat ini! Jelas saya dan kita tahu bahwa Tata Gereja yang kita pakai belum sempurna. Tapi kita harus hargai panitia yang sudah bersusah payah melakukannya selama tiga tahun dan diyakini sebagai hasil kerja dari semua. Karena isinya adalah usulan dari runggun, klasis dan ketiga unsur menggodok bersama hingga jadilah Tata Gereja ini. Dan di SKS itu yang nota bene adalah perwakilan klasis malah mempertanyakan ketidaksempurnaan Tata Gereja. Malah ada usulan sidang sinode istimewa. Adaapa ini? SKS jelas dimengerti sebagai sidang paruh waktu antar-sinode, karena dipikirkan BPL yang sebelumnya diberlakukan setiap tahun sangat menyita waktu, tenaga dan uang, lantas usulan untuk sks lagi tahun depan, ada apa ini?

Tanya : Saya yakin kam wait and see karena memang bidangini hal baru kepada floor ?

MP : Bisa yes bisa no. Yes, karena saya memang bersemangat untuk meletakkan landasan yang solid di GBKP, makanya saya acap diskusi dengan Pdt. Em A. Ginting Suka sebagai peletak landasan pertama, bahkan saya sudah diskusi dengan beliau dan Pdt. Em. Slamat Barus tentang latarbelakang adanya GBKP diluar Sumatera-utara. Saya memikirkan mau diapakan GBKP yang diluar P. Sumatera ini, apa yang GBKP mau capai dan peran apa yang bisa dilakukan GBKP. Sehingga jika berpikir seperti inikan otomatis harus memikirkan dan mempersiapkan SDM nya. Sebelum menjalankan pembenahan ini kan harus diletakkan landasan-landasan yang kokoh, dan bagian awal dari landasan itulah yang hendak kami propose di SKS kemaren yang saya lihat kurang dibaca, dan inilah jawaban untuk no nya. No, karena sebelum sks saya sudah mendengar rumor bahwa sks akan dipakai sebagai ajang pembantaian pribadi jadi bukan sebagai ajang pembelajaran dan evaluasi bersama untuk melangkah ke depan.

Tanya : Dengan demikian kam sudah bisa mengukur kualitas SDM personalia ?

MP : ha-ha-ha—tapi masih ada harapan, karena masih banyak yang saya lihat berorientasi pelayanan. Yang hadir di SKS kan BP Klasis, yang patut dipertanyakan adalah bagaimana ini pemilihan klasis. Dari pengalaman saya sebagai kabid Personalia dan SDM dalam menangani mutasi ketika berhubungan dengan klasis memang saya lihat dinamika di klasis yang bisa saya hubungkan dengan latarbelakang jawaban no saya di atas.

Tanya : Saya juga percaya program dan sosialisasi yangkam lakukan semata – mata demi masa depan manajemenpersonel di GBKP, kira – kira berapa persen yang sudahakrab dengan program bidang ini ?

MP : wah karena baru sebenarnya ini masih dalam tahap memperkenalkan. Dalam arti sekarang saya harusnya sedang menjual atau mengiklankan. Cuma ya itu saya tidak pintar jual kecap, saya ini paradoks ya, padahalsaya suka tertawa dan bernyanyi, tapi dalam banyak hal saya menampilkan diri dengan kaku barangkali ya. Mungkin karena saya selalu berorientasi kepada pola pikir. Saya terlatih sekali dalam berpikir dan bekerja mungkin karena sudah dibina sejak kecil, dan coba lihat tulisan-tulisan saya khususnya tentang SDM, saya sangat prihatin akan cara berpikir dan kerja masyarakat kita. Saya mau share pengalaman saya dengan suami kemaren. Setelah memberangkatkan anak-anak ke Jakarta, berdua kami kesalon potong rambut dan pijat refleksi. Dua pegawai ketika memijat kami saling berbicara, ketawa cekikikan. Saya uneasy sekali, karena menurut saya mereka harus konsentrasi kerja, diam dan membiarkan kami istirahat, customer kan mau relax makanya kepijat refleksi. Saya prihatin sekali harusnya hal-hal seperti ini harus diajarkan oleh manager salon kepada pegawainya. Bisa bayangkan yang tadinya saya mau relax karena kelelahan SKS malah tetap bergumul dengan SDM Indonesia. Dan hal ini terobati ketika malamnya kami berdua makan di nasi uduk jalan setiabudi. Semua pegawai melayani dengan cepat, bahkan banyak yang berlari untuk mengejar kecepatan waktu melayani. Saya gembira sekali, lalu berkata pada suami, baru pertama kali pengalaman saya di Indonesia melihat cara kerja seperti ini. Tempat nasi uduk Jakarta ini tidak mewah, tapi etika pekerjanya, sudah seperti etika kerja yang dianut oleh pekerja dibeberapa tempat di Penang dan Kuala Lumpur yang telah dilakoni pekerja Asia yang warganya mayoritas keturunan Cina, yaitu Hong Kong, Taiwan, Jepang dan Korea. Bukankah etika kerja ini yang membuat Negara mereka maju, bukan kekayaan alamnya, tapi mutu SDMnya! Silahkan anda-anda yang sudah pesimis dengan cara kerja SDM kita untuk makan di nasi uduk Jakarta jl Setia budi untuk melihat apa yang saya katakan. Dan apakah hal ini maka membuat pendeta GBKP katanya takut untuk berjumpa dengan saya (seperti yang dilaporkan salah satu ketua klasis dalam kelompok SDm di SKS) wah! Apakah saya yang harus disalahkan, atau pendidikan mereka di STT dan keluarga yang kurang mengajarkan mereka untuk PD dan berpola pikir dan sikap terbuka? Cuma jika saya berhenti dengan sikap bertanya begini, kan masalah tidak terpecahkan. Saya pikir semua pihak harus bersikap terbuka untuk berdialog dan bersama melangkah untuk lebih mendampakkan keberadaan GBKP di mana saja.

Tanya : Di Buletin Maranatha lalu kam memberikan pointertentu soal SDM sekarang , pasca SKS apakah ada SDM, yang meresponnya ?

MP : ketika di SKS di dalam dinamika percakapan baik di floor dan diluar persidangan, baik berbicara secara langsung maupun lewat SMS, pendeta dan pertua masih banyak yang merespons positif dan berkata maju terus. Bahkan ada yang menuliskan “perubahan itu terkadang harus dibayar mahal…” ada ketua klasis yang mengatakan, apa yang kam lakukan adalah yang dilakukan SAE Nababan dulu di HKBP, dst. Poin nya maka saya ungkapkan ini adalah 1. wajar dalam suatu perubahan ada pro dan kontra. Asal tetap mewujudkkannya dalam format yang konstruktif, dialogis dan tetap untuk mengarah ke depan. 2. supaya perubahan itu ditempatkan dalam konteks dan kepentingan institusi jadi bukan pribadi. Poin kedua ini yang belum dilihat banyak orang. Orang berpikir bahwa yang celaka jika gagal perubahan itu adalah sayanya. Lho kok? Sehingga banyak di SKS kemaren bahkan hingga kini yang saya lihat adalah upaya “membunuh” pribadi tadi. Memang jika kita tidak kuat berdiri dalam keyakinan kita akan panggilan gampang sekali membaurkan kepentingan institusi dan pribadi.

Tanya : Jelasnya makin terang benderang bagi kam kondisi SDM ?

MP : ha-ha—malah saya lihat dari pertanyaan anda bahwa anda yang semakin pesimis akan SDM GBKP ha!—ha-ha. Anda tahu saya orang yang optimis, walau diselang-selingi airmata. sebenarnya saya cengeng, Cuma kenapa orang lihat saya tegar sekali ya- yang tegar itu hanya Rosa!—ha-ha. Salah satu ketua klasis di SKS kemaren pun ada yang berkata,” kam itu sepertinya sudah tidak punya perasaan.” Wah-wah— apakahdasar pernyataan ini berdasarkan klasifikasi gender patriachal society! Mungkin yang paling mengenal saya adalah pemilik saya yaitu yang memanggil saya, Allah sendiri, keluarga dan ibu saya. Tidak ada yang tahu ketika suami saya sampai kerumah mahasiswa crash program untuk mencari saya sepulang sks kemaren, karena ketika keluarga mengkontak saya ke hp, tidak ada jawaban. Padahal karena baterei hp habis. Tapi sms saya terakhir kepada anak saya yang berisi tolong suruh Billy telepon saya, saya kelelahan dengan SKS ini, sudah memberi signal kepada keluarga. Tapi saya menampilkan diri anteng saja di sidang. Ibu saya acap mengingatkan jangan sakit nakku. Kepercayaan saya akan panggilan dan sering saya kotbahkan khusus ke siswa crash program, mengarahkan saya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari proses pembentukan. Peristiwa yang sakit sekali, semisal penikaman dari belakang yang dilakukan oleh orang yang kita perhitungkan teman juga saya ajarkan pada siswa sebagai bagian dari rancangan Allah. Tidak ada peristiwa-peristiwa dalam hidup kita yang diluar control Allah. Semuanya diijinkan Allah terjadi dalam upaya proses pembentukan kita. Lihat peristiwa Ayub, Yesus dengan yudas. Jadi ketika saya lemah dan menangis meratap, keluarga dan siswa mengingatkan saya akan semua wejangan saya, dan saya kuat kembali. Ya, anda sendiri tahu bahwa kadang saya merasa lemah tak berdaya kan?

Tanya : Lalu dalam paparan pertanggungjawaban bidang SDM, tentu sikap Ketua Moderamen positif toh ?

MP : berdasarkan semua penjelasan di atas bisa dimengerti jika sikap Ketum positif, kan dia ketua umum. Saya kan anak buahnya. Ini kan periode kedua beliau, sehingga ia bukan hanya tahu tapi yang terlibat dalam penyusunan GBP dan Tata Gereja GBKP. Bahkan ketika menyusun struktur Moderamen seperti yang ada sekarang kini, juga pergantian BPL menjadi SKS jika kita masih ingat, bukankah kami yaitu saya, Prof. sukaria dan Pdt. Em A Gintig Suka yang menyikapinya, lihat Beras piher edisi sebelum sidang sinode, bahkan kami mempropose requirement dan job description setiap ketua bidang. Jadi pikiran-pikiran SDM sebenarnya tidak asing bagi ketum. Dan banyak hal juga masukan-masukan baru dari Moderamen lainnya untuk SDM.

Tanya : Apakah mendesak dilakukan bongkar pasangsemacam kode etik atau tata tertib di bidang SDM ?

MP : Saya pikir yang mendesak adalah follow-up dari keputusan SKS untuk membentuk team yang membahas tentang 5 proposal yang diajukan oleh Kabid Personalia dan SDM ke SKS. Karena ini adalah titik beranjak dari pembaharuan tadi. Didalamnya itu ada pengaturan tata tertib SDM, soal kode etik sudah ada di Tata Gereja

Tanya : Kam yakin program yang dibuat itu lebih menyehatkan ?

MP : Yakin sekali, karena proposal yang ditawarkan menggiahkan SDM GBKP untuk berorientasi pada karya bukan lobbi, saling menjatuhkan ataupun menjilat!

Tanya : Nah , bagaimana kalau atas nama presbiterialsinodal yang mengatasnamakan suara terbanyak program –program itu ditolak ?

MP : presbiter itu terdiri dari pertua, diaken dan pendeta. Lihat kembali pemaparan saya tentang penjelasan IP di atas, sehingga tidak perlu saya ulangi lagi. Dan kembali lagi saya mau kita untuk melihat bahwa program itu diformat dari dan untuk institusi sehingga tidak Pribadi. Jadi diterima atau tidak, dampaknya ke institusi itu bukan ke saya.

Tanya : Tegasnya tidak dengan meninggalkan GBKP ini kan ?

MP : ha-ha—anda trauma dengan surat pengunduran diri saya tahun lalu ya? Saya belum pernah buka tentang hal ini. Yang tahu persis tentang ini saya pikir team SDM yaitu Prof. Sukaria Sinulingga dan Pdt Em. A Ginting Suka. Cuma perlu saya beritahukan bahwa tidak lama setelah surat pengunduran diri saya masuk, lalu saya cabut kembali, setelah berdiskusi cukup panjang dengan team SDM saya di atas. Mereka berdua inilah yang mengerti kelelahan dan kebingungan saya. Tidak ada yang tahu bahwa suami saya sebenarnya tidak setuju dengan surat pengunduran diri saya itu, karena dia tahu betapa kuatnya keinginan saya dulu di Amerika untuk pulang ke GBKP. Saya pikir hal ini pernah saya tulis di Maranatha dulu sekali. Bahkan ia juga selalu yang menegur saya jika saya lebih banyak melayani di gereja yang bukan GBKP daripada GBKP. Saya pikir setiap anda mewawancarai saya, saya selalu mengatakan bahwa dukungan keluarga yang sangat besar yang membantu saya bertahan, dan saya yakini ini adalah bagian dari rancangan Allah itu. Saya selalu jatuh bangun dalam menuju garis finish. Saya berterima kasih bagi semua yang mendoakan saya dan bantulah terus dengan doa. Itu sangat menguatkan.

Tanya : Ada pesan lain ?

MP : wah ini wawancara cukup panjang, tapi saya senang bisa menshare pikiran dan perasaan saya. Jarang saya berbicara khususnya tentang perasaan dan kondisi saya pada orang. Mungkin dengan sering begini, orang lebih melihat saya as human. Memang waktu saya mayoritas kepekerjaan, makanya saya hanya minum kopi, ya supaya bisa melek terus, baca terus, mikir terus. Dari SKS juga saya tangkap ada tuntutan bahwa saya harus melakukan perkunjungan ke daerah. Mungkin juga tuntutan ini karena saya sering keluar negeri. Jadi orang pikir saya lebih senang ke luar negeri daripada kedaerah. Ha-ha… tidak benar itu. saya ini city girl, lahir dan dibesarkan di dan gaya kota, Medan, di tengah kota Medan. 5 tahun di Jakarta untuk S1 dan 9 tahun di Amerika untuk S2 dan S3. saya bosan dengan kota. Sebelum masuk dijajaran moderamen saya sudah keluar negeri karena saya sudah aktif di Dewan Gereja sedunia, Asia, Lutheran dan reformed. Jadi tidak benar bahwa saya keluar negeri setelah saya di Moderamen. Saya tidak mau banyak menceritakan hal ini karena takut dibilang sombong. Wong dengan berbahasa yang campur-campur seperti ini saja sudah dianggap seperti “mahluk luar angkasa.”Kalau ada kesempatan saya berusaha untuk melakukan perkunjungan. Saya bahkan senang sekali jika diberi kesempatan untuk berkotbah di desa-desa, selama memang mau menerima keberadaan saya seperti ini. Terakhir sebelum kita menutup wawancara ini saya akan sangat prihatin jika direction GBKP ditentukan oleh suara dan keputusan politis yang amat sangat pragmatis dan untuk kepentingan sesaat. Bagus juga jika wawancara ketua humas kepada saya yang tertuang di WGM dulu disimak lagi. Siswa saya di crash program selalu berseru kepada saya, dan seruan itu saya serukan kepada pembaca semua Cahyo! Semangat! Dan hiduplah dalam pengharapan, amin!

Juli 12, 2008 Posted by | wawancara | | Tinggalkan komentar

Sekilas About Myself

Bagaimanapun pembaca harus mengenal siapa pemilik blog ini. untuk memperkenalkan diri adalah baik jika kami memuat tulisan kami yang merupakan kumpulan beberapa penulis (atau tokoh) yang diminta penerbit Gramedia untuk menceritakan hubungannya dengan buku dalam rangka merayakan HUT Gramedia yang ke 34, jika berminat silahkan anda ketoko buku Gramedia dan membeli buku dengan judul BUKUKU KAKIKU. Inilah tentang pemilik blog ini-

Berdialog dengan BUKU

Pengantar

Namaku Minda. Umurku 40 tahun. Hampir tiga-perempat bagian dari hidupku dihabiskan di bangku sekolah. Dalam arti lebih kurang 30 tahun dari 40 tahun masa hidupku, dihabiskan di sekolah. Sekolah bagiku sama dengan buku, walau setelah tidak berada di sekolah lagi, buku tetap menjadi isi tasku. Tas tanpa buku seperti sarapan tanpa kopi. Sehingga tasku selalu besar. Orang pikir aku bekerja sebagai sales-woman atau dokter. Kebiasaan ini bukan meng-ada setelah aku dapat S3, tapi di mulai sejak aku masih di Taman Kanak-kanak.

Sekolah Identik Dengan Buku

Jelas aku mempunyai alasan untuk menyatakan itu. Pertama, aku bisa mendapat uang lebih dari orang tuaku disebabkan keberadaanku di bangku sekolah. Uang lebih itu aku pakai untuk membeli buku. Hak istimewa ini tidak akan kudapat kalau aku berada di luar sekolah. Kedua, Sebagai siswa yang uangnya bergantung dari belas-kasihan orang-tua, maka kemampuan membeliku juga terbatas. Sehingga perpustakaan sekolah sangat membantu dalam mensuplai buku-buku. Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah. Pelajar tanpa buku bagiku adalah bukan pelajar. Pusat dari sekolah adalah perpustakaan bukan guru. Guru hanya berperan mengarahkan saja.

Masa Kecil

Kesukaaan membaca bisa terbentuk oleh faktor lingkungan

Tidak heran aku harus kerja ekstra keras untuk membiasakan anakku -yang tinggal denganku setelah ia duduk di SMP – untuk suka membaca, karena kesukaan itu bisa muncul dari faktor lingkungan. Sejak bayi hingga SMP, ia diasuh neneknya yang kurang mengerti akan pentingnya membaca. Waktu hanya dihabiskan untuk menonton TV- faktor terbesar penghambat anak-anak bahkan orang dewasa untuk belajar menyukai membaca- bermain dan menyelesaikan Pekerjaan Rumah dari sekolahnya.

Orang-tuaku suka membaca. Koran, majalah, buku cerita selalu ada di rumah. Mayoritas kami anaknya juga suka membaca. Cuma itu bukan berarti bahwa faktor bawaan (talent) tidak menentukan rasa suka ini. Satu kakakku kurang suka membaca dan ia juga kurang berminat untuk berlama diri di sekolah. SMA saja sudah cukup baginya. Sepertinya ada hubungan antara kesukaan membaca dan kesukaan bersekolah atau belajar.
Balai Pustaka penerbit yang kukenal di masa kecilku

Balai Pustaka adalah terbitan yang paling kugemari sejak aku di SD hingga SMA di tahun 1978-82. Penerbit ini mengeluarkan dan menterjemahkan buku-buku yang bernilai satra, menurut penilaianku. Siapa tidak ingat akan Layar Terkembang, Salah Asuhan, Datuk Maringgih dalam Siti Nurbaya, Winnetou dan suku Apache, Old Saterhand dll? Memperhatikan ulang novel-novel asli keluaran Balai Pustaka aku bertanya kenapa mayoritas penulisnya dari Sumatera? Apakah hal ini bisa diangkat sebagai salah satu alasan yang menyebabkan dasar bahasa Indonesia diambil dari bahasa Melayu bukan bahasa Jawa walaupun sumpah pemuda dideklarasikan di Jawa?

Authobiography dan Biography adalah jenis bacaan yang kusuka

Aku sebenarya paling suka membaca authobiography dan biography, karena aku ingin belajar dari kehidupan orang lain. Mungkin karena sifatku yang kurang suka bertanya kepada orang lain, tentang apapun, jadi aku begitu bergantung dengan buku untuk mencari tahu akan segala sesuatu. Selain jenis bacaan di atas, selama SD-SMA aku juga membaca H.C.Andersen; Sikuncung, kawanku, Bobo, Teddy Beruang, Gadis, Femina, Aktuil dan Intisari. Ada beberapa yang aku sudah lupa namanya. Jelas Kho Ping Hoo juga sudah masuk dalam daftarku. Aku kurang suka membaca novel pop. Entahlah kalau NH Dini dimasukkan dalam kategori ini. Karena aku suka gaya tulisannya. Cuma, aku membaca majalah apa saja, baik itu pop maupun sastra.

Kebudayaan Pop Yang Mendominasi Kini Sangat Mempengaruhi Isi Majalah, Buku dan TV dan Dampaknya Dalam Mencerdaskan Bangsa

Walau dulu aku membaca semuanya, tapi sekarang aku tidak memberikan majalah populer ke anakku. Cukuplah TV sudah mencekokinya dengan kebudayaan dan pola pikir pop yang mengglobal yang tidak eksistensial dan berpola jangka panjang.

Walaupun aku lama sekolah di Amerika, tapi aku tidak melihat kebagusan dari pola pikir pragmatis dan serba instant yang dipopulerkannya keseluruh jagad raya. Amerika jatuh kepada pemujaan materi. Manusia didikte oleh industri. Gaya hidup mendikte gaya pikir. Pilihan yang kita ambil hanya tersedia dari tawaran yang diajukan oleh para industri, jelas industri kelas kakap. Siapa yang berani melakukan pembelotan dari yang ditawarkan, dikategorikan sebagai yang “tidak gaul” atau “tidak modern”. Buku dan semua media, majalah, koran, TV, juga terperangkap di sini. Sedih memang ketika keintelektualan, nilai-nilai dan taste harus ditentukan oleh mega-industri yang berorientasi ke pasar yang daya jangkaunya dangkal dan pendek. Sehingga saya pikir tidak usah terlalu terpakulah pada 10 best seller of the New York Times.

Kerinduanku Untuk Menciptakan Rasa Cinta Buku Pada Anakku

Melihat keberadaan anakku, aku tahu bahwa kekurang-pengetahuannya dikarenakan ia kurang membaca. Lalu aku memberikan bacaaan yang kubaca padanya. Selain untuk melatih dia berpikir, juga pada waktu yang bersamaan untuk merubah pola pikirnya. Bacaan isengnya kuberikan Donald Bebek dan paman Gober yang aku juga suka. Aku juga memberikan novel sastra lama dan authobiography dan biography para pejuang kemerdekaan dan juga tokoh dunia yang terkenal, seperti Di Bawah Bendera Revolusi, Emil Salim, Muhamad hatta, Tan Malaka, Gandhi, Kartini, dll. Aku sempat kaget ketika anakku mengenal Siti Nurbaya bukan sebagai tokoh dalam karya sastra, tapi sebagai tokoh sinetron di TV. Kekagetan ini dibarengi dengan kemarahan dan keprihatinan akan apa yang diberikan sekolah kita kini. Ketika sastra, etiket dan budi pekerti diperkecil porsinya, dan mata pelajaran agama sekedar hapalan semata, bentuk karakter apa yang kita bina ke anak kita?

Buku Melatih Daya Fantasi dan Pikir.

Aku masih ingat ketika kecil dulu aku suka berfantasi akan isi cerita yang aku baca. Old Saterhand dengan Indian suku Apachenya. Padang gurun. Kuda. Tombak. Waktu itu aku mensejajarkan mereka dengan orang Dayak di Kalimantan,walaupun pengetahuanku mengenai orang Dayak juga melalui buku. Walaupun aku suka sekali membaca buku Winnetou ini, tapi aku tidak sampai berkeinginan untuk ke Amerika hanya untuk memujudkan fantasiku. Sejak kecil aku malah ingin ke China dan Jepang. Mengapa? karena selain cerita terjemahan dari Barat, Kho Ping Hoo adalah santapan harian keluarga. Buku cerita yang berjilid sampai melebihi dua-puluh dan dilanjutkan keseri yang berikut tapi masih dalam satu jalur cerita, sangat menarik hatiku. Bukan silatnya, tapi lebih ke ajaran filsafat Budha dan Lao Tzenya. Aku membayangkan bahwa kehidupan sehari-hari mereka yang melahirkan point-point filsafat seperti itu, dan filsafat itu terwujudkan dalam pola tindak sehari-hari. Hingga kini filsafat adalah subjek kegemaranku. Dan hingga kini keinginan untuk menghabiskan beberapa waktu di Cina atau Jepang masih ada. Berapa tahun yang lalu aku ditawari untuk tinggal di desa di Cina selama sebulan oleh Dewan Gereja Asia, tapi karena pada waktu yang bersamaan aku harus menghadiri konsultasi di Amerika, tertundalah keinginan ini.

Buku Mengikat Rasa Kekeluargaan dan Menghindari Anak Dari Kegiatan Yang Tidak Terarah.

Tradisi membaca Kho Ping Hoo secara bergiliran dalam keluargaku dahulu sangat menyenangkan. Ayahku yang harus selalu menjadi pembaca pertama, lalu disusul oleh kakak-kakakku. Sebagai anak nomor enam dari delapan, jelas aku mendapat giliran terakhir, walau ternyata sering juga aku mendahului kakak-kakakku. Tradisi ini mengikat keakraban di dalam keluarga. Kesukaan membaca dikeluargaku membuat kami menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sehingga lebih teratur dan terarah.

Situasi Yang Tidak Disengaja Juga Dapat Membentuk Kecintaan Pada Buku.

Diantara semua anak orang-tuaku teryata aku yang paling kutu buku. Dari kecil hingga sekarang uangku hanya habis buat membeli buku. Kini, hartaku selain keluargaku, hanyalah buku.

Ketika kecil karena buku baru mahal, maka aku suka pergi ke Titi Gantung dan jalan Salak di kota Medan, kota kelahiranku, yang mempunyai kompleks penjualan buku bekas yang luas. Selain buku cerita aku juga membeli buku pelajaran sekolah. Kesukaanku membaca, rupanya menjalar ke kesukaanku belajar.

Buku-buku pelajaranku selalu selesai kulahap sebelum waktunya, sehingga aku membutuhkan buku-buku yang setingkat atau dua tingkat di atas yang seharusnya kupelajari. Sedang ibuku waktu itu selalu hanya membelikan buku pelajaran yang dipakai untuk kelasku. Maka untuk memenuhi keinginanku aku harus membeli buku-buku pelajaran yang di atas tingkatanku di pasar loak.

Aku ingat, aku selalu mendialogkan buku yang aku baca dengan mata pelajaran sekolahku. Sedikitnya sejak kecil aku sudah melatih diri untuk melakukan dan melihat secara inter-disiplinari. Hal ini membuat aku selalu berada di depan teman sekelasku. Yang aneh tapi nyata, sampai beberapa guruku kadang menyerahkan tanggung jawab padaku untuk menerangkan pelajaran di papan tulis. Ini berlaku sejak aku di bangku SD sampai SMP.

Ketika SMA menyanyi lebih kutekuni dari pada membaca. Ini bukan suatu pembelokan tapi sekedar hanya memilih prioritas, karena aku tidak mampu untuk melakukan dua hal secara serius dalam waktu yang bersamaan.

Profesorku di STT Jakarta pernah mengatakan bahwa motifasi awal menekuni pelajaran baginya adalah karena pelarian, tapi kemudiaan menjadi satu kebiasaan. Apa aku seperti itu? Mungkin saja.
Menjadi anak nomor enam dari delapan bersaudara, aku acap tidak tahu menempatkan diri di mana. Apalagi ayahku sakit-sakitan sehingga ibuku menghabiskan waktunya untuk merawat beliau. Kakak-kakakku jelas tidak bisa menggantikan peran orang-tuaku. Mereka juga kurang cakap dalam membantu menyelesaikan pekerjaan sekolahku. Hal ini yang membuatku begitu bergantung pada penjelasan dari buku.

Berdasarkan hal ini aku tidak terlalu kecewa dengan anakku. Kedua faktor yang membentukku hingga mencintai buku, tidak dimiliknya. Dia lebih banyak memiliki pilihan-pilihan lain dibandingkan denganku, ketika ia belum tinggal denganku.

Buku Mencerahkan Akal dan Pikiranku.

Otodidak dan pengalaman kuakui sebagai yang sejajar atau bahkan lebih dari gelar yang diberikan oleh institusi pendidikan yang ada sekarang ini.

Otodidak adalah sesuatu yang kuamini. Hal ini terbawa hingga aku duduk dibangku kuliah. Aku jarang mau duduk di kelas, karena semua yang dikatakan dosenku bisa kudapatkan dari buku, bahkan lebih lengkap dan mendalam. Kalau terpaksa aku harus masuk kelas, biasanya aku membaca majalah Tempo di tempat dudukku. Peraturan di perpustakaan di STT Jakarta waktu itu adalah majalah tidak bisa dipinjam untuk dibawa pulang. Sehingga kesempatan untuk membaca hanya di dalam kelas dan waktu istirahat. Aku memakai kedua waktu ini. Ketika Dosenku melihat keasyikanku lebih kepada majalah Tempo dari pada mendengarkan kuliahnya, ditegurlah aku. Walau demikian dosenku ini juga yang kemudian menjadi salah satu dari dosenku yang memberikan rekomendasi untuk meneruskan studyku di Amerika.

Hingga kini aku memberikan mahasiswaku kebebasan untuk mau masuk kelas atau tidak, walau peraturan administrasi di kampus cukup ketat tentang kehadiran. Aku pikir Mengingat methode pengajaran di Indonesia dari jenjang SD-Univeritas bahkan sampai S2 hanya one way traffic, tidak ada dialog, aku pikir peraturan ini hanya untuk menipu diri sendiri saja. Umumnya metode pengajaran hanya mengarahkan siswa kesatu arah, yaitu ke arah pendapat guru/dosen dan pendapat inilah yang terbaik. Teacher knows the best. Sehingga siswa tidak terbiasa dengan keragaman pemikiran.

Aku selalu bertindak kepada anak dan muridku berdasarkan pengalaman yang telah kulalui. Biasanya aku tidak mengulangi pola guruku, walau memang tidak banyak guru yang begitu membentuk karakter dan pola pikirku. Tapi semua yang kudapat dari sumber apapun aku kumpulkan menjadi satu dan kurefleksikan secara kronologis, dan kembali aku selalu mendialogkan ketiga komponen ini, pengetahuanku, hasil reflesiku dan situasi. Sehingga yang kuajarkan pada anak dan muridku adalah hasil refleksi ini. Buku juga yang mengajarku untuk berefleksi diri yaitu buku-buku psikoanalisa.

Buku Psiko analisa yang sebenarnya bukan bagian dari mata pelajaranku menjadi bacaan rutin ketika aku melanjutkan studiku di Amerika. Social sciences yang bersifat terapan bagus sekali untuk didalami di Amerika. Psikologi, pastoral-counseling berkembang di sini. Ini bukan bidangku. Aku tidak terlalu tertarik ilmu yang bersifat praktikal. Aku suka ilmu dasar. Dulu ketika aku SD-SMP aku suka matematika. Ketika aku SMA aku suka Aljabar dan Kimia. Aku pikir ilmu dasar harus diajarkan kepada setiap siswa karena ini adalah pembentukan cara berpikir yang sistematis dan terarah. Berdasarkan pengalamanku aku pikir orang yang berlatar belakang sciences akan melahap dengan enak semua pelajaran sosial.

Mengapa Psikoanalisa ?

Perlunya waktu diri untuk berkontemplasi atas semua yang diterima oleh rasio

Umumnya seseorang ketika baru mendapatkan kesarjanaannya ia belum bisa melihat semua yang ditimbanya selama kuliah secara keseluruhan. Semua data yang disimpan per-semester dan tingkat masih tersusun seperti apa adanya. Sehingga ada baiknya kalau setelah mendapat gelar kesarjanaan, seseorang itu jangan langsung cari kerja atau mengambil kuliah kejenjang yang lebih tinggi lagi (S2). Tapi waktu digunakan untuk merefleksikan apa yang dipelajari selama lima atau enam tahun yang telah lewat dan menghubungkannya kekehidupan nyata, supaya teori itu mendapat pembuktian di lapangan atau supaya diaminkan juga bahwa teori yang dipelajari adalah yang didapatkan dari praktek lapangan, khususnya untuk kuliah ilmu sosial. Cuma kalau kuliahnya sekedar mau lulus saja maka datapun tidak ada, sehingga apa yang mau direfleksikan?

Aku masih ingat, ketika aku tingkat empat di STT Jakarta aku juga membantu dosenku untuk mengajar di tingkat satu. Pada waktu itu juga aku harus mengambil intensive English dan German. Hal ini diprogramkan padaku karena aku dipersiapkan untuk menjadi pengajar masa depan, dan untuk mencapai cita itu, aku harus membekali diri dengan beberapa hal supaya bisa langsung melanjutkan ke Tingkat strata dua.

Aku masih ingat juga, di saat penggodokan ini, membaca sudah tidak menjadi fun lagi tapi keharusan. Ada target, aku harus menyelesaikan beberapa buku untuk seminggu. Lelah sekali. Aku tidur siang di bus dalam perjalanan ke LIA. Makan siang juga di sini. Segala sesuatu sudah tidak ternikmati lagi. Aku memang tidak terlalu tahu bagaimana berteman, karena sedari kecil lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca. Tapi kali ini, waktu untuk berteman juga tidak ada.

Ketegangan seperti ini terus aku alami sampai aku kuliah Strata dua di Amerika. Ada tiga jurusan di Amerika yang mensyaratkan pelamarnya sedikitnya harus tamatan Strata satu, yaitu Kedokteran (Medical School), Hukum (Law) dan Theologia (Seminary). Dalam hal ini aku setuju dengan sistem Amerika (kita memakai sistem Eropah/ Belanda), karena ketiga bidang ini membutuhkan kedewasaan secara mental, bukan cognitif saja. Atau lebih tepatnya kedewasaan yang holistik. Sehingga dengan ini jelas saja aku belum memenuhi persyaratan untuk duduk di program Masternya Karena di Indonesia semua jurusan mensyaratkan tamatan SMA. Apalagi aku memilih untuk melanjutkan apa yang sudah kutekuni di STT Jakarta yaitu bidang Perjanjian Lama yang di seminari Amerika dianggap paling bergengsi, jadi hanya layak untuk orang kulit putih, kemudian Asia, karena orang Asia diakui kedisiplinan cara belajarnya. Untung mereka tidak tahu bahwa Asia yang kulitnya sawo matang adalah kekecualian.

Tapi karena Dosen dari Universitas di Amerika yang memilihku untuk belajar di tempatnya, maka semuanya diamini. Ini dilakukan dalam rangka peningkatan sumber daya perempuan, sekaligus penyiapan pengajar perempuan di sekolah Teologia. Konsekwensinya, aku harus tiba di Amerika 3 bulan sebelum semester dimulai untuk dipersiapkan agar siap untuk duduk di kelas bersama siswa lainnya. Waktu kuhabiskan untuk mencapai target. Jangankan 3 bulan, tahun pertamaku kuhabiskan untuk mencapai kesejajaran dengan siswa lainnya. Lelah? Ya. Tapi aku sudah terlatih jibaku. kemampuanku yang tahu berpikir memudahkanku untuk mengejar dan melahap semuanya.

Ketika pembimbing program Masterku mendiktekan kemauannya padaku, aku tidak bisa menerimanya. Di tempatku belajar, keberhasilan mahasiswa program master dan Doktor bergantung sekali dari pembimbingnya. Jadi ketika hubunganku dengan pembimbingku tidak enak lagi, aku minta pembimbing baru. Tapi ternyata pembimbingku tidak mau melepaskan aku sebagai bimbingannya. Rupanya pembimbingku mengenal sifatku yang tidak suka didikte. Setelah dilihatnya kemampuanku berjalan sendiri dari thesis bab satuku, maka aku dibiarkan berjalan sendiri dengan pasti. Kebiasaanku dari kecil yang lebih bergantung pada buku dari pada guru ternyata terus terbawa ke Amerika dan melekat hingga kini. Sehingga aku kurang merasa aman tidak tinggal dalam lingkungan kampus, karena kampus pasti mempunyai perpustakaan. Walaupun koleksi bukuku sendiri yang bukan hanya theology adalah lebih dari tiga ribuan.

Tragedi adalah kata yang tepat ketika pikir menjadi mahkota diri dan kehidupan

Aku berkesempatan merenung diri di tahun kedua program Doktorku. Perenungan yang kulakukan karena kelelahan. Untuk apa aku berlelah seperti ini? Umurku waktu itu 28 tahun. Aku merasa semakin asing dengan perasaanku. Cara berpikirku terlatih sekali, tapi aku tidak tahu mengolah rasa.

Di Amerika setiap kampus yang baik mutunya, mempunyai perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap (hal ini yang membuatku selalu rindu untuk pulang ke sana); mempunyai poliklinik; mempunyai tempat counseling; mempunyai kolam renang dan fasilitas fitness.

Ketika aku merasa lelah sekali, aku pergi ke pusat counselingnya. Disini masalah muncul kembali. Aku melihat bahwa counselorku tidak terlalu menguasai masalah, sehingga tujuanku tidak tercapai. Lalu aku balik kepada kebiasaanku, books know the best. Mulailah aku menghabiskan waktu di perpustakaan dan membacai semua buku yang berhubungan dengan apa yang sedang kurasakan. Pilihanku jatuh ke psikoanalisa dan buku-buku itu ternyata menolongku untuk melihat diriku lebih dalam lagi.

Semua ada waktunya: ada waktu bermain, belajar, makan dan tidur. Ada masa kanak-kanak- remaja, menuju dewasa dan dewasa
.
No wonder aku kelelahan, aku memang tidak pernah istirahat atau jedah dalam masa persekolahanku sejak aku berumur lima tahun. No wonder diriku berontak karena terlalu banyak aspek lain di dalam diriku yang seharusnya ada dan berkembang kulalaikan dan malah kadang kumatikan, yaitu rasa, bermain, bergaul dan istirahat. Freud (Id, Ego,Super-ego; The Interpretation of Dreams), Jung (dialog antara Jung dan Freud tentang mimpi, khususnya confrontation with the Unconscious) dan Erich Fromm (Art of loving, Escape From Freedom, Man for Himself; The Revolution of Hope and Psychoanalysis and Religion) , kudialogkan dengan diriku. Diantara ketiganya, Jung, khususnya perhatiannya pada the Unconscious dan tulisan Erich Fromm yang terdapat dalam bukunya: Art of loving, Escape From Freedom dan Man for Himself yang sangat membantuku. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena dalam penulisan Jung sedikitnya, dan Erich Fromm umumnya dipengaruhi oleh religiositas Yahudi, yang tidak asing bagiku yang mendalami bidang Perjanjian Lama dan menggemari filsafat sejak kecil. Bukankah sebenarnya filsafat interrelated dengan ethics yang merupakan manifestasi dari religiositas? Hitung-hitung ini eksperimen yang tidak mengeluarkan biaya dan privasiku juga terjamin. Kutemukan bahwa otak dan rasaku tidak berjalan seiring. Aku terlalu cepat mandiri dalam berpikir dan menentukan hidupku. Ketika anak lainnya masih bermanja dengan orang-tua dan membiarkan orang tua mengambil keputusan atas dirinya, aku tidak. Waktu itu buku Emotional Intelligence belum muncul. Cuma hal ini sudah kutemukan dalam pencarianku. Jelas aku setuju tentang isi buku ini. Apalagi aku melihat sisi bahaya dari kesenjangan keduanya. Aku berusaha untuk membikin mereka agar sebisa mungkin beriringan dengan membayar semua utang-utangku pada tahap perkembangan diri dan kedua selalu meluangkan waktu untuk berefleksi.

Pada tahap ini aku mulai bereflesi diri kebelakang bukan dengan penyesalan. Tidak ada yang perlu disesalkan, karena pencapaian yang ada kini adalah berkat masa-masa pelatihan pola pikir dan ketahanan kedisiplinan. Aku beruntung melihat masalah ini sebelum aku mendapatkan Doktorku. Kenapa? Karena aku tahu setelah aku mendapatkannya aku akan menjadi pengajar. Bagaimana aku bisa menjadi pengajar yang baik kalau aku sendiri tidak mengenal perasaanku, apalagi mengenal keberadaan muridku? Lalu apakah aku harus mengulang kesalahanku dan guruku yang hanya mengolah pikir dan mengabaikan rasa? Bukankah setelah pikir menjadi mahkota dari segalanya yang membuat kehancuran diri, hubungan antar sesama dan dengan ciptaan lainnya?

Hampir dua tahun aku berkenalan dengan diriku, dan waktu ini juga kupakai untuk mempersiapkan diriku untuk ujian dua bahasa modern yang harus kutempuh sebelum memasuki tahap comprehensive exam.

Study Strata tiga di bidang theology di Amerika mempunyai ciri khasnya sendiri. Ada dua gelar yang ditawarkan yaitu DR dan Ph.D. Kalau program DR anda tidak perlu mengambil ujian bahasa-bahasa modern yang dipilih berdasarkan major kita. Jadi setelah menghabiskan dua tahun di dalam kelas dengan 36 credits, anda bisa langsung masuk ke tahap ujian comprehensive, lalu menulis proposal disertasi, disusul dengan penulisan. Tapi kalau anda memilih program Ph.D,ujian dua bahasa modern harus dilakukan sebelum masuk ke tahap ujian comprehensive. Di Indonesia semuanya menjadi sama saja. Tapi aku sendiri tidak gelar oriented dan percaya sekali akan otodidak, so, what is the title anyway?

Pengenalan akan diri berdampak pada pengenalan akan sesama dan ciptaan lainnya

Pengdialogan antara buku dan upaya pencarian diriku, bukan hanya membantu untuk mengenal diriku dan orang lain saja, tapi juga phenomena yang ada di sekitarku. Ternyata banyak sekali orang-orang yang mengidap penyakit sepertiku yaitu penyakit dimana pikir dan rasa tidak sejajar dan tidak mampu berdialog secara equal. Umumnya orang pintar mengidap penyakit ini. Aku masih ingat ketika temanku sesama mahasiswa Program Strata tiga waktu itu berkata padaku bahwa lebih dari sembilan puluh persen mahasiswa program Doktor yang statusnya kawin di bidang Theology dan Religion bercerai. Apakah mayoritas orang pintar mulanya memilih menghabiskan waktu untuk olah pikir dikarenakan kompensasi atau pelarian seperti yang dikatakan dosenku dulu? Kemungkinan ya. Menurutku sepositif apapun bentuk pelarian itu yang jelas itu adalah pelarian. Kesalahanku adalah aku tidak menyadari dan mengerti ketika pelarian berubah menjadi kebiasaan tanpa didahului oleh pemecahan atau rekonsialisasi dari upaya pelarian itu. Sehingga masalah-masalah yang ada yang belum terpecahkan terus bertumpuk melebihi kapasitas penampungan yang ada. Tidak ada jalan keluar selain membuang/delete atau melakukan rekonsiliasi (recycle bin yang satu waktu bisa direcall kembali). Aku juga melihat banyaknya orang tua yang sebenarnya belum mengenal dirinya harus menjadi orang tua. Dan kelompok ini mayoritas adanya. Sehingga penyakit ini bersifat berantai dan susah untuk memutuskannya. Apalagi kalau penyakit ini dimengerti sebagai bagian dari keberadaan orang Modern?

Peran Buku Yang Namanya Alkitab Dalam Upaya Menjadi Manusia Seutuhnya

Pensejajaran dan pendialogan antara pikir dan rasa sangat menolong sebagai dasar dan juga sebagai bahan dialog dengan meditasiku atas bagian-bagian dari alkitab. Keberadaanku di dalam keluarga (suami dan kedua anakku), serta interaksi dengan para intelektual dan murid adalah setting yang sangat membantu upaya pencapaian ini. Hal ini semakin dibantu kini setelah Alkitab dan profesiku sebagai pendeta masuk sebagai bagian dari hidupku. Kali ini aku bukan hanya mengupayakan proses pensejajaran itu tapi pada waktu yang bersamaan aku mengupayakan proses pembentukan diri sebagai manusia yang seutuhnya. Dalam hal ini yang disebut iman dan internalisasi berperan..

Ketika Psiko-analisa membantuku kembali kepada tahap-tahap perkembangan diri yang normal, maka alkitab membantuku mensejalankan antara pola pikir, ucap dan tindak. Pelatihan ini sangat berat, lebih berat dari upaya peraihan gelar Ph.D. Untuk melakukan ini diperlukan ketegasan dan kerendahan hati. Pelatihan ini kulakukan karena memang itulah inti dari meditasiku atas alkitab. Kalau dulu alkitab aku bahas sebagai salah satu dari textbookku, tapi setelah aku menjadi vikaris calon pendeta, alkitab menjadi buku perenungan diri. Cerita alkitab kuwujudkan kembali di dalam kehidupan sehari hari.

Sama seperti ketika aku melakukan penggalian penemuan diri dengan bantuan buku psikoanalisa,ketika dialog dilakukan antara buku dengan keberadaan diri, aku semakin mengerti tentang psikoanalisa dan diriku sendiri. Dampaknya? aku menjadi semakin mengerti akan keberadaan orang lain.

Hal ini juga terjadi ketika aku mendialogkan alkitab dengan kehidupanku sehari-hari. Pengertianku akan pernyataan-pernyataan di alkitab dan proses pembentukanku menjadi semakin dalam dan beriringan. Semakin aku mengenal diriku pada saat itu juga aku semakin mengerti pernyataan-pernyataan yang tertulis di situ. Sehingga bisa dikatakan bahwa kedalaman pengertian akan alkitab diukur oleh kedalaman pengertianku akan kemanusiaanku. Semakin aku mengerti akan keberadaanku seutuhnya, semakin aku memahami keberadan orang lain.

Inilah yang terjadi pada Paulus – yang refleksi dari pergumulannya dipakai oleh para reformasi dalam upaya menentang praktek-praktek yang terjadi di dalam gereja Katolik – di dalam ia merefleksikan pengertiannya akan Yesus. Pengakuan iman yang dituliskannya di dalam surat-suratnya bukanlah pengakuan iman hasil indoktrinasi, tapi hasil dari pergumulan pribadi.

Tidak heran Paulus menyatakan bahwa tidak ada yang benar, seoranpun tidak. Sehingga keselamatan adalah sesuatu yang dianugerahkan kepada kita. Pernyataan ini bukan mucul begitu saja, tapi karena dengan jujur Paulus menyatakan bahwa ia juga bergumul untuk mensejajarkan antara pola pikir-ucap dan tindak. Dan ia menyadari sepenuhnya bahwa itu tidak gampang. Dituliskannya Aku ingin melakukan yang ini tapi yang terjadi adalah yang itu.

Pengenalan diri seperti ini menibakannya pada pengertian ketergantungan mutlak pada Allah dan bepengertian sepenuhnya kepada sesama manusia. Sehingga tidak perlu ada penghakiman antar-sesama, melainkan wajiblah antar sesama saling mengingatkan, karena semua manusia pada dasarnya adalah lemah. Tapi itu bukan berarti kita tinggal diam di dalam kelemahan kita. Karena kita sebenarnya sudah diberikan kemampuan untuk bersikap seperti Yesus. Untuk tiba di tahap ini selain meminta bantuan roh, juga diperlukan adanya proses dan disiplin diri.

Sehingga aku tidak mengenal kata tidak bisa. Bagiku semua bisa kalau kita mempunyai kemauan dan displin untuk itu. Di atas segalanya, dan yang tidak akan saya pungkiri, tentu saja kalau memang Allah berkenan untuk mewujudkannya. Dialogku dengan alkitab dan kehidupan selain menuntunku untuk mensejajarkan pola pikir-ucap dan tindak, juga mengajarkan ku untuk rendah hati dan menjalani kehidupan ini seperti air mengalir. Seperti hasil pergumulan Paulus, aku juga menjadi begitu memutlakkan Allah, dalam arti di satu pihak aku begitu optimis akan kehidupan, kerja keras serta disiplin, di pihak lain aku begitu mengantungkan kehidupan pada Allah. Aku memahami bahwa Allah mempunyai rancangan atas tiap orang sehingga tidak perlu ada kecemburuan, saling menjegal, sogok-menyogok untuk mendapat kerja dan jabatan. Bagiku semuanya sudah ditentukan dan tidak ada penilaian tinggi rendah, tapi semaunya saling melengkapi. Begitu juga dengan anak kita,bagiku orang tua yang begitu menentukan kemauannya pada anaknya serta selalu melengkapinya, dan acap kawatir untuknya adalah orang-orang tua yang tidak berTuhan.

Semua refeleksi yang kudapatkan didalam mendialogkan buku-buku yang kubaca dengan diri dan kehidupanku muncul di dalam ajaranku baik di depan kelas, di mimbar gereja, di tempat-tempat aku ceramah dan juga di rumah tanggaku. Sehingga ajaran, khotbah dan ceramah-ceramahku merefleksikan diriku.

Aku merasa bersalah sekali ketika aku menyadari bahwa ada perkataanku atau khotbahku atau isi ceramahku yang tidak sejalan dengan atau belum bisa kulaksanakan dalam diriku. Hingga kini aku tetap menjalankan kehidupanku dalam perspektif ini. Bagiku semakin berumur seseorang, semakin bijaksana di dalam bertindak. Bagiku semakin berpendidikan seseorang semakin rendah hatinya dan bijaksanalah ia. Karena pengalaman (empiris- faktor waktu), buku dan pendidikan (walau bagiku buku dan pendidikan adalah interrelated) adalah faktor yang sangat kuat di dalam membentuk kita. Sehingga kegagalan pendidikan kita nampak dimana para sarjana, master dan doktor kita tidak mewujudkan pengetahuan yang sejajar dengan gelarnya- di dalam tindakannya sehari-hari. Sudah waktunya kita menerapkan pendekatan yang holistik dan memberi kesempatan untuk merenung atau merefleksikan apa yang kita dapatkan di dalam kehidupan sehari-hari, dari buku yang kita baca, dari pelajaran yang kita terima. Sehingga adalah sangat memalukan ketika membaca besarnya korupsi yang terjadi di departemen agama, atau dilembaga hukum Indonesia.

Penutup

Buku adalah diri dan hartaku
Hingga kini aku tidak pernah berhenti membaca. Cuma karena waktu yang sangat terbatas sehingga aku harus sangat selektif dalam memilih apa yang mau kubaca. Biasanya aku menjatuhkan prioritas kepada bacaan yang topiknya belum terlalu kukenal. Proses seleksi kulakukan pertama dengan mencari tahu latar belakang penulis dan penerbit. Kenapa? karena keduanya mempengaruhi isi (ideologi) dari buku. Dengan menggunakan methode ini, aku bisa dengan cepat melakukan pilihan jika dalam satu topik ada lima penulis dengan lima penerbit yang berbeda.

Kecintaanku pada Amerika dikarenakan buku sangat gampang didapat di sana. Second-hand book store biasanya ada disetiap desa, apalagi di kota. Harganya sangat murah. Setiap desa mempunyai perpustakaan, dan disitu kita bebas meminjam buku, kaset video, vcd, majalah, juga menggunakan komputer dan internet. Akses seperti ini adalah hak umum. Sehingga tidak heran jika hanya buku-buku yang menjadi isi koperku ketika aku pulang dari negeri ini. Sekarang sedikitnya dua puluh buku kubawa itupun karena harus bersaing tempat dengan mainan anakku. Sebelumnya aku bisa membawa buku sampai ratusan. Kalau ditanya dari mana uangnya aku mau cerita. Temanku yang juga pernah belajar di Amerika bertanya padaku belum lama ini, “kemana saja kamu belanjakan uangmu yang kamu dapatkan selama kamu di Amerika?” aku tersenyum, dan berkata “buku!”

Perlunya Pengadaan yang disengaja untuk buku yang bermutu di Indonesia

Selain aksesku yang sering ke Amerika, aku juga masih sering dikirimi buku oleh profesor dan temanku yang di Amerika. Sehingga di dalam hal ini aku masih beruntung dibandingkan bukan hanya dengan orang lain,tapi juga dengan banyak pengajar atau Doktor-Doktor yang lain yang ada di Indonesia. Aku juga masih beruntung karena memiliki teman di beberapa penerbitan di Indonesia sehingga acap dikirimi buku oleh mereka.

Perlu juga disimak bahwa di India dan Korea buku juga tidak terlalu mahal. Di negara ini bahkan mereka sangat gencar menterjemahkan buku-buku yang berkwalitas dan yang dari “Barat” dengan harga murah. Sudah waktunya kita melakukan “restorasi Meiji.”

Bagaimana dengan kita? Karena kesukaanku membaca disebabkan kehausanku untuk mencari tahu, sehingga wajar kalau aku frustasi melihat tidak adanya toko buku yang memadai di Medan tempatku. Gramedia adalah toko buku utama di sini, tapi buku yang ditampilkan belum memenuhi kebutuhanku. Juga harga yang mereka patokkan cukup mahal dibandingkan dengan pendapatan masyarakat umum. Walau menurut pengamatanku faktor ini bukanlah penyebab utama belum adanya tradisi membaca disemua kalangan di Indonesia umumnya dan di Medan khususnya. Aku merindukan toko buku yang mampu menyediakan banyak buku yang bermutu dan dengan harga yang terjangkau. Aku juga merindukan penerbit-penerbit yang mau menerbitkan karya karya intelektual dalam semua bidang dalam bentuk terjemahan dan menjualnya dengan harga yang terjangkau. Aku sedih melihat buku-buku sekarang yang tercetak cantik dan dari kertas yang luks tapi isinya tidak sesuai dengan pengorbanan beberapa pohon yang telah dimusnahkan untuk itu. Peran penerbit dan toko buku sangat besar di dalam memajukan bangsa dan negara.

Orang tua, guru dan buku adalah faktor penentu dalam menentukan arah satu bangsa

Bagaimana dengan anak kita? Faktor kesengajaan bisa diciptakan di rumah dan di sekolah untuk menggiring generasi muda untuk cinta membaca. Dan inilah yang kulakukan di rumah tidak saja dengan anakku yang besar tapi juga dengan anakku yang belum genap berumur dua tahun. Sejak bayi dia sudah melihatku dikelilingi oleh buku, membaca buku, menulis dan mengetik di komputer. Dia suka meniruku membaca buku atau koran dan dia juga sudah mulai mencoret-coret buku tulis, lantai dan dinding dengan pinsilnya. Sehingga bisa kukatakan bahwa peran orang tua dan guru sangat besar dalam menentukan bentuk generasi muda yang bagaimana yang akan kita dapatkan. Ingatlah, apa yang kita tanam itulah yang kita tuai.

Mindawati Perangin-angin

Juli 12, 2008 Posted by | wawancara | | 3 Komentar

BERTEOLOGIA SEUTUHNYA

BERTEOLOGIA SEUTUHNYA

1. Apa itu teologi.

Pertama tentu saja kita harus mengklarifikasikan apa itu teologi. Teologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theos-logia, jadi teologia diartikan sebagai perkataan tentang Allah atau bisa dimengerti sebagai pernyatan (statement) mengenai Allah.

2. Siapa yang berteologi

Definisi di atas menempatkan Allah sebagai objek pemahaman dan manusia sebagai subjek dan objek pernyataan. Sehingga bisa dikatakan bahwa yang berteologia adalah manusia dan untuk manusia/sesama (Band. Daniel Adams, Teologia Lintas Budaya. Refleksi Barat di Asia. Jakarta: BPK, 1996, 3-5; Juga lihat P. Latuihamallo, “Sekitar Persoalan Kontekstualisasi,” , Theodoron. Jakarta: BPK, 1979, 5-16. Eka menyatakan bahwa bertheologia tidak pernah selesai, selalu dalam proses yang dinamis, lihat, Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia. Jakarta: BPK, 2001,
4-5).

3. Sumber berteologi dan perannya di dalam berteologi seutuhnya.

Jika teologi adalah pernyataan mengenai Allah, maka bisa dikatakan bahwa jika seorang berteologi itu berarti ia menyatakan tentang Allah. Yang patut dipernyatakan adalah apakah pernyataan tentang Allah itu didapatkannya dari:
a. Allah yang menyatakan dirinya lalu manusia memahaminya? (ini yang disebut pendekatan dari atas, Paulus, Karl Barth dll),
b. Manusia yang mencoba memahami Allah melalui pengalamannya (ini yang disebut pendekatan dari bawah yang sangat dipengaruh pendekatan ilmu-ilmu sosial).
c. Manusia mendapat pengetahuan tentang Allah dari luar dirinya (mayoritas umat yang mengaku dirinya beragama ada dikategori ini. Ketika agama sudah identik menjadi dogma, maka faktor pengalaman religius sudah langka.) atau
d. Gabungan poin b dan c.

Perlu diingat bahwa Allah tidak bermateri sehingga tidak dapat diinderakan. Ia hanya diamini oleh iman. Sehingga seharusnya berbicara tentang Allah haruslah dari dan untuk kalangan sendiri/seiman. (Pendekatan fenomenologis bisa membantu kita dalam hal mencoba mengerti iman orang lain). Kalau tidak akan terjadi kepincangan atau pengungkapan yang tidak utuh. (Tom Jacob menuliskan bahwa paham Allah (atau teologi) bukanlah pemahaman atau pengetahuan tentang Allah, tetapi pemahaman diri manusia dalam relasinya dengan Allah. Jelas bagaimanapun pemahaman Jacob disini adalah pemahaman dari bawah. Sehingga penekanan unsur “pengalaman/pribadi-komunitas” sangat dipentingkan dalam pembentukan satu teologi, dan unsur ini yang saya sebut sebagai dialog yang tidak berkeputusan antara internalisasi dan praxis sehari-hari, Lihat Tom Jacob, Paham Allah. Yogjakarta: Kanisius, 2002, 211,217,231.)

Sehingga adalah konyol ketika pemahaman tentang Allah yang kita pahami hanya bersumber dari dogmatik atau ajaran gereja yang diajarkan oleh Alkitab, Tradisi, Misionaris, Pendeta, Penginjil, Penatua atau/dan Diaken, sedangkan kita sendiri tidak mempunyai pengalaman dalam berhubungan dengan Allah. Pemahaman yang bersifat fragmentaris seperti inilah yang menyebabkan semakin menjauhnya hubungan antara agama dan etika.

Maka adalah keharusan bagi subjek pelaku teologia mempunyai pengalaman berhubungan dengan Allah, dan pengalaman itu bisa memperkuat pernyataan-pernyataan-pernyataan tentang Allah yang telah dimilikinya selama ini. Pengalaman berhubungan dengan Allah ini menghasilkan pendalaman yang sejalan antara pengenalan diri akan manusia itu sendiri dan Allah (Adam mengatakan ini sebagai unsur spiritualitas, lihat Adams, Teologia Lintas, xiii. Dalam hal ini Tom Jacobs masuk kedalam diskusi antara iman dan agama, Paham Allah, 211-13. Atau dengan kata lain, ia mempertanyakan apakah pemahaman manusia tentang Allah dimulai dari pengalaman atau pernyataan dogma (agama)? Jelas pertanyaan ini sejajar dengan perdebatan yang ada antara kubu Emperisme dan rasionalisme. Namun tidak bisa disangkal bahwa mayoritas pemeluk Kristen di Indonesia menjadi Kristen dikarenakan warisan. Bandingkan dengan pengertian Calvin yang menuliskan judul untuk bab I dari Institutes of the Christian Religion, “The Knowledge of God and that of ourselves are connected, how they are interrelated,” lihat John Dillenberger. John Calvin. Montana:Scholar Press, 1975, 320-3; Yohanes Calvin, Institutio, Jakarta:BPK,1983,5-9.). Sumber dari pemahaman pelaku teologia tentang Allah sangat penting di dalam upaya berteologia seutuhnya.

4. Berteologia seutuhnya.

Berteologia seutuhnya ialah dimana pola pikir, tindak dan ucap subjek (pelaku) sejalan, sehingga menghasilkan pengakuan iman yang dibahasakan sesuai dengan konteks penyampaian.

Kata memahami/mengenal/mengetahui mempunyai pengertian yang dalam di Perjanjian Lama (PL). Pengertian ketiga kata ini dalam PL ditemukan dalam pengertian kata iman. Sehingga ketika seseorang disebut sebagai yang memahami Allah, itu berarti ia mengetahui kehendak Allah dan pengetahuannya tentang Allah itu terbukti dari ucapan dan tindakannya sehari-hari. Di sini pola pikir, tindak dan ucap sejalan. Orang seperti inilah yang disebut orang yang beriman. Seorang yang dikatakan beriman bukan dari pengakuan bibirnya, tapi dari penilain manusia diluar dirinya. Sehingga berteologia seutuhnya adalah dimana pola pikir, ucap dan tindak pelaku adalah sejalan.

5. Perbedaan antara berbicara teologia/talking about theology dan berteologia/doing theology (Band. Gerit Singgih tentang periode pra-akademis; akademis dan periode akademis kontekstual di Berteologia Dalam Konteks, Jakarta: BPK, 2000132-146.)

Ketika sumber pemahaman tentang Allah hanya di dapat dari luar diri, maka pelaku teologi masih ditaraf talking about theology. Di taraf ini hanya unsur kognitif yang berperan, dan subjek hanya memindahkan teologi dari luar dirinya ke sesama manusia, tanpa menghiraukan apakah objek penerimaan mengamininya. Indoktrinasi yang menekankan metode pengulangan (hapalan) adalah metode yang ampuh untuk tujuan ini. Semakin banyak teori yang diketahui, semakin aman kita, walau hanya dibatas kepala, tidak ada pergumulan akan pernyataan itu, atau teori itu tidak pernah didialogkan kerealitas kehidupan.

Berteologi/doing theology, pelaku, selain mendialogkan unsur pengetahuan kognitif tentang Allah dengan realitas kehidupan, ia juga mengindahkan keberadaan tidak hanya objek penerimaan pernyataan, tapi juga keberadaan dari sumber diluar dirinya yang mengenalkannya tentang Allah itu. Atau yang hendak ditekankan adalah ia memperhatikan factor konteks dari objek penerimaan pernyataan dan sumber pernyataan. Sehingga bagaimanapun deconstruct dan reconstruct adalah metode yang harus dilakukan di dalam upaya penemuan dan penyampaian kerygma di dalam konteks masing-masing (teks-konteks).

6. Alkitab dan Tradisi sebagai sumber diluar diri yang mendominasi pemahaman pelaku teologi.

Mayoritas gereja di Indonesia, Alkitab dan tradisi Calvinislah yang mendominasi pemahaman kita tentang Allah.

7. Pelaku teologi harus menguasai konteks sumber diluar diri dan konteks objek sipenerima pernyataan (Gerit Singgih mengertikan ini sebagai konteks alkitab, konteks tradisi sistematis dan konteks kita masa kini, E.G Singgih, Berteologia Dalam Konteks,19.)

Seperti ditulis di atas bahwa dalam upaya berteologia seutuhnya maka kedua sumber ini, sumber dari luar diri pelaku dan pengalaman religius pribadi dengan Allah haruslah dideconstruct sebagai upaya pencarian kerygma dan penyadaran akan factor konteks dalam pembentukan teologi.

Kerygma inilah yang diinternalisasikan dan dibahasakan/diwujudkan dalam konteks dimana pernyatan ini disampaikan [Paul Tillich menyebutkan ini sebagai metode korelasi antara iman dan konteks. Dikarenakan budaya, social dan keagamaan adalah bagian dari konteks, maka ketika terjadi pertemuan antara iman dengan konteks maka haruslah ada transformasi social, (Banawiratma) budaya (lihat proposal Richard Niebuhr dalam Christ and Culture yang dikomentari oleh Singgih dalam Iman dan Politik dalam Era Reformasi di Indonesia. Jakarta: BPK, 2000, 59-75, juga dalam Berteologia Dalam Konteks, 36-40. Sehingga Kobong menyatakan bahwa kebudayaan adalah masalah missiologis, lihat TH Kobong, “Kebudayaan Sebagai masalah Misiologis,” dalam Berakar Didalam Dia dan Membangun Di atas Dia. Jakarta: BPK, 1998, 162-175) dan agama (Viktor Tanya, Aloysius Pieris. S.J. Bandingkan dengan Danile Lukito, “The Unending Dialogue of Gospel and Culture,” Struggling in Hope. Jakarta: BPK, 1999, 233-237)]. Sehingga bisa dikatakan bahwa di dalam berteologia seutuhnya pelaku tidak hanya mampu mendialogkan pemahaman dari luar dirinya tentang Allah dengan realitas kehidupan, tapi juga mengenal konteks sumber dari luar dirinya dan konteks dari objek sipenerima pernyataan tadi yang mencakup budaya situasi sosial dan keagamaan. Dan mengcounterkan hasil dialognya kekonteks sipenerima pernyatan.

Jadi dalam berteologia seutuhnya metode deconstruct dan reconstruct harus dilakukan sehingga teologia ini menjadi teologia yang fungsional (bdngkan, Eka Darmaputera, “Menuju Teologia Kontekstual,” dan Banawiratma SJ, “Teologia Fungsional Teologi Kontekstual,” keduanya dalam buku Konteks Berteologi di Indonesia. Jakarta: BPK, 1988, 3-19, 47-64.)

Selamat Berteologi!

Juli 12, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | 1 Komentar

Is the Ideology of the Male a Source Which Distorts the Harmony of the Whole of Creation and the Relationship Between Human Beings and The Creator?

Is the Ideology of the Male a Source Which Distorts the Harmony of the Whole of Creation and the Relationship Between Human Beings and The Creator?

Actually I was asked to write a paper on justice and woman in the Bible. Certainly the appearance of injustice will be found in many places explicitly and implicitly if the position and experience of woman is explored in the Bible. It is natural. For the Bible is a product of the Male way of thinking and life. Unfortunately it seems to be universalized and becomes almost an established ideology.

Moreover, the Bible is understood as a book of instruction/guide for life, or even as a holy book. Thus it helps to transform the male ideology into universal faith. Whoever and wherever people only know and are familiar with the male faith experience with God. There is a tendency to assume that all people are supposed to receive this as part of their experience as well, though women are the majority of the faithful members of the church and themselves do not know about men and their ways.

Unfortunately there was a command to canonize the Bible, so that there was no chance to have the women’s view in what we call the Bible. The canonical system, in many places, also lifts up the authority of the bible to be absolute. Of course this status contributes much in the spreading of the male ideology all over the world. Regrettably, not many men who know that this is the case are willing to do take action. Why? Because if the Bible is to be deconstructed and reconstructed, this will Impact not only the Bible and church institutions but also all established structures and relationships in the world. Surely men would not like this to happen for they have been used to the privilege of the male ideology’s domination. Therefore there is no other way except for women as individuals or as a group/community to proclaim the Bible’s identity and to find a way to articulate, understand and explain the authority of the Bible.

Men’s Understanding of the Image of Women as Seen in The Bible

After exploring men’s conception of women in the Hebrew Bible, Phyllis Bird concludes that in general woman is placed inferior to men. Her function is more to produce children and act as men’s complement. A wife is considered a man’s possession, like others, such as children, animals, house, land, etc. In the Hebrew Bible’s laws, women are not recognized, though in Proverbs and in the Historical Writings there are images that woman is intelligent, and can either break or make a man.[i]

However still the criteria is based on the male point of view. Therefore it is very difficult to draw some conclusions about the image of woman in the Hebrew Bible. Perhaps there were many brave, intelligent, independent and wise women out there, but they had no power nor chance to be seen. This can be seen in the strong effort by men to reduce or even to banish the role of women in the beginning of Exodus story. Could Israel ever have existed without the role of Miriam, her mother and Pharaoh’s daughter? [ii] Would there be Christianity in Karo land Indonesia if Jesus had not appeared on the resurrection day to women?[iii]

Domination is a Root to Destroy the Harmony and Interrelatedness of Creation, and to Damage the Relationship Between Humans and God.

Domination[iv] is part of the male character. Thus, it is not surprising if other parts of creation outside of men himself have to be inferior and less and if there is a strong tendency to posses. Men need to proclaim themselves, therefore power and status is important for him to be himself. Possession is one way to show his power and authority, and woman is one of his possessions. Domination usually is interrelated with possessiveness in man, and its nature is to ruin the wholeness of creation and the relationship between humans and God.
Genesis 2:4b-3:15 J, the writer of Gen 2:4b-3:15 expresses male domination in putting Adam to naming the animals and the woman.[v] Adam also is the one who decides to chose the woman to be his match,[vi] his equal helper,[vii] in helping him to produce future generations. Moreover, male domination strongly is stressed in the implementation of Yahweh’s punishment for human disobedience in Gen 3:1-15. In this case, snake and the earth are cursed, woman has always to be in pain while doing her role to produce children, and she will be always under male authority.[viii] While men have to suffer to put the bread on the table. Apparently, male ideology is a form of Yahweh’s punishment.[ix] In this case I agree with the radical feminist suggestion
which is stated by Ynesta King.
“… the subordination of women in society is the root of oppression, closely related to the association of women with nature…. Men identify women with nature and seek to enlist both in the service of male “projects” designed to make men safe from feared nature and mortality.”[x]

This can be seen in the way J designs the form of punishment to the woman and man in
Gen 3: . Therefore talking and exploring injustice with regard to women in the Bible cannot be separated from talking about the injustices suffered by other parts of creation. And it turns out that we all still live in the form of Yahweh’s punishment. The creator knows that humans can not live without food. Therefore when humans disobey Yahweh, Yahweh destroys the earth. In this case the land is cursed (Gen 3:17, see also Gen 4:11; 5:29). So every living being’s food is taken from the earth. The same phenomenon is found in the flood story in Gen 8:21. Yahweh has to destroy the earth and everything in it for man’s great wickedness (Gen 6:5-7). Therefore no one part of creation bear its own punishment/blessing from its creator for its own disobedience. Because of one part’s disobedience, all creation becomes shaky. No one part of creation is able to live by and for itself. All creation is supposed to operate interrelatedly. Usually other parts of creation are in solidarity with the human condition. Even sometimes they become victims of the human attitude. Therefore humans can not live without other parts of creation. More on this phenomenon will be explained below.[xi]

The words radah[xii] and kabasy[xiii] in Gen 1:26,28 are understood by Lynn White as having a colonialistic understanding. Thus he blames these two words as providing a ground for the present ecological crisis.[xiv] I think there is no need to blame the words, instead, it is the male ideology. It is proper to blame the male ideology for the present ecological crisis and the damaged relationship between humans and God. Thus I think to restore and maintain the wholeness of creation and the relationship of humans and God, we need to deconstruct and reconstruct the whole established structure in the world. Is this a Utopian way? I don’t think so. However even longer time is required and courage for people who are able to proclaim something different is needed to achieve the goal above. Different voices apparently echo in the Bible, such as in Gen 1:1-2:4a; and the two eschatological texts in Hos 2:20-24 and Isa 11:6-9.

P’s creation story in Gen 1:1-2:4a

P divides the creation story into six days of activity concluding with a day of divine rest. After creating some of the divisions of time and space, on the third day Elohim creates two categories of vegetation: plants yielding seeds, and trees bearing fruit with seed in it, each according to its kinds. In this process the earth has the role of bringing forth the vegetation.
After creating the lights of the sky, on the fifth day Elohim commanded the water to bring forth living creatures in the water (the great sea creatures and everything that swarms in the sea), along with the appearance of the creatures in the sky (every winged bird), each according to its kind. Then Elohim blessed them and pronounced them good. On day six, Elohim created the land animals and humans. As with the vegetation, the earth still has a function in bringing forth the land animals, which are categorized as cattle, everything that creeps on the ground, and beasts of the earth. The sequence seems to be based on the character of encounter with the animals in ordinary life.

Then as the climax, P specifically emphasizes the different character of the creation of humans in Gen 1:26-28. Here P states that humans are created in accordance with Elohim’s image and likeness. Moreover, humans are given a role, i.e., the responsibility of ruling over the animals and subduing the earth. Again a blessing is given, this time to people, together with the command to be fruitful, multiply, and fill the earth. In addition, humans have an additional command, to “subdue” the earth. Then Elohim points out that both humans and animals are to consume the plants as their diet. In the above sequences, P distinguished the creation of plants, animals, and humans.

For the creation of plants in Gen 1:11-12, and of land animals in Gen 1:24-5, Elohim assigned the earth to be intermediary. Meanwhile for the water animals in Gen 1:20, Elohim delegates their generation to the sea. Only with the creation of humans, does Elohim create directly, indeed in Elohim’s image and likeness. Though P indicates that plants and animals were not created directly by Elohim, P considers them to be parts of creation which have their own identity. This can be seen in how P divides the plants and animals based on their place and kind, and how P uses the repetition of “each according to its kind”. Besides emphasizing the existence of each part of creation, P also stresses the interrelationship among them. P states that on the first day Elohim created the light and the dark, which is day and night. On the second day, Elohim creates the sky and water. On the third day water is divided into two spaces: the dry land which is called the earth, and the sea. On the same day, after creating the dry land, the vegetation was created. As we know, plants need land, water and light to live. Therefore the basic needs of plants were created first, then Elohim created the plants. Later Elohim created the individual lights, sun, the moon and the stars. These joining the light and the dark from the first day, are the sources for the determination of time. The sky, water and earth are the source for defining space. Plants, animals and human are limited by space and time. On the fifth and sixth day Elohim created water animals and birds, the land animals, and human beings. P explicitly states that the vegetation, created on the third day, and the land animals created on the sixth day, have a relationship with the dry land or the earth which was also established on the third day. The water animals which were created on the fifth day have a relationship with the water which was limited and named on the third day.

Meanwhile only humans are described as having a direct relationship with Elohim. Though P marks the existence of animals and plants and also the interrelationship among the parts of creation, P purposely expresses the special status of humans who are created in the image of Elohim. There is no explicit statement that the plants and animals are created for the sake of humans. Instead, the content and structure of Gen 1:1-2:4, clearly shows that every part of creation comes about in a seemingly logical sequence.

The status as “created in Elohim’s image” can not be separated from the role of humans in ruling over the animals and subduing the earth. These two are one. Most scholars recognize that P does not fully explain the meaning of “image of Elohim.” However based on the structure and content of Gen 1:26-28, it is understood that P emphasizes more the consequences of being in the image of Elohim, that is to rule (radah) over animals and subdue (kabasy) the earth.
Though scholars[xv] have some differences of understanding about it, all agree that the ultimate power/subject in this case is Elohim as creator. P is concerned that “something” has to manage/maintain the goodness of the earth and everything in it. Thus P combines the concept of status (created in Elohim’s image) and function of humans to rule over the animals and subdue the earth. These two understandings can not be separated.

The way I see the structure and content of P, the creation is not based on a strictly hierarchical system nor on authority without responsibility, but on sustaining the mutual relationships within creation. Within the structure of creation, the physical world, P focuses on the plants, animals and human structures, based on the need of every creature to be in a relationship of harmony. Note that the humans and animals eat only vegetation. The emphasis that only humans are crated directly by Elohim, and in Elohim’s image, has to do with P’s understanding that there has to be one who can serve as the “local” manager of the earth and everything in it. P frequently emphasizes that every part of creation is good, even very good, thus P needs a “representative” or someone in the right “relationship” who has to be related to Elohim as a creator, so as to take care of the whole creation. Of course the goal is to maintain the situation as it is, i.e., very good. So we know in this case woman and man work together as caretakers of the earth,[xvi] and they have a peaceful relationship with animals, for all of them are vegetarian.

However this stage has vanished. After the flood that was caused by kal basar (humans and animals) who created hamas (oppression; injustice and unrighteousness),[xvii] Elohim, the creator, revises criteria for the parts of creation, in Gen 9. To hold the original criteria in Gen 1-2:4a where the whole creation is very good is impossible. No more peace. Hamas every where. Therefore since the post-flood era, humans are eligible to eat meat (Gen 9:3), as long there is no blood in it, for life is in the blood, and life belongs to God.

In the Hebrew Bible, humans and animals are considered as living beings, plants not included. And there is no license for living beings to take the life of another living being. Consequently there is a tension always between humans and animals (Gen 9:2,5), and among humans themselves (Gen 9:5). In the post-flood era the status of animals is under human oppression for they have permission to kill them as food, therefore there is always a tension between them. However still Elohim owns the creation. The animals’ blood can not be eaten, for life is in it, and its life belongs to the creator. However no one can take a human life except the creator, for the status of humans created in Elohim’s image is preserved. Therefore, there is still hope whether humans want to do the right thing or not! But Elohim has anticipated already that, if humans cannot perform according to their status, Elohim will never destroy the earth anymore, for it is a promise in Elohim’s covenant with the living beings (Gen 9: 8-17.)

Hosea 2:20-24 (ET 2:18-22)[xviii]

In the book of Hosea, Yahweh is not the one who destroys (cf. Hos 11:9). Even though Yahweh had been angered by Israel’s attitude, and announces punishment to the people (Hos 2:11-15; ET 2:9-13), all these plans and feelings are melted by the compassionate love which Yahweh has for Israel. Laken hineh in 2:16 (ET 2:14) is used by Hosea to mark the changing attitude of Yahweh. Instead of making Israel’s life miserable with punishment, the compassionate Yahweh tries to persuade Israel to remain in their “marriage” relationship. (Hos 2:16-19; ET 2:14-17). As a result of this expected reconciliation, Yahweh will do two things: Yahweh will make a covenant , for the people with 1/ the wild animals, the birds, and creeping things (cf Hos 2:14/ET 2:12; 5:14; 13:7-8) and 2/ the bow, the sword and warfare will be abolished (“broken”) from the earth.

The text does not state what kind of covenant this is nor does it describe how the covenant will be made; only that this covenant will be made for the benefit of the people of Israel (though the animals would also benefit somewhat from the cessation of warfare). The purpose of the covenant is to make Israel able to lie down securely. The using of hiphil form for syakav and the adverbial labetah emphasizes that the security the Israelites will have comes from Yahweh
who will act according to the promise.[xix]

Scholars assume that the effect of the covenant between Yahweh and animals ensures the animals and human beings have a good relationship.[xx]
It is clear in Hosea 1-2 that the relationship between Yahweh and Israel is in serious trouble. The analogy of marriage points to “a mutual commitment;” they belong to each other. In this case, Israel is the unfaithful partner, Israel does not know her husband, Yahweh (Hos 4:1,6; 5:4; 6:3,6). Knowing Yahweh here refers to acknowledging the sovereignty of Yahweh who is the almighty and is the source of everything (Hos 2:10/ET 2:8). Yahweh responds to Israel’s betrayal with understanding, compassionate love. Yahweh’s love for Israel will initiate a transformed relationship, in which Israel will “know” Yahweh (Hos 2:21-22/ET 19-20). At that time Israel will “know” Yahweh and a true relationship between them will come about.
Thus by using the terrace pattern, Hosea proclaims that Yahweh will “answer/respond to” the heavens and the heavens will answer the earth, and the earth will answer the grain, the new wine, and the fresh oil, and they all will answer Jezreel. As a result there will be enough food for Israel, a gift from Yahweh (cf. Hos 2:10,11,14,17). Hos 2:20-24 indicates, therefore that when Yhwh brings about the transformed relationship between Yhwh and Israel, Israel will not need to fear the animals (cf. Hos 2:11b; 5:14;13:7-8)[xxi], war (2:20), or the lack of food (2:23-24).

This is a remarkable declaration of the interdependence among all parts of creation which can not be separated from the interrelationship between the creature and the creator (Yahweh-animals-humans-in Hos 2:20, and Humans-plants-humans in Hos 2:24). The well-being of the interrelationships among the parts of creation cannot be separated from the well-being of the relationship between Humans and YAHWE; these two aspects are interrelated.[xxii] This interrelationship also can be seen in Hosea’s statement of the consequences if Israel does not know Humans: there will be chaos on earth (Hos 4:3).

Isa 11:6-9[xxiii]

V. 6 indicates the idea of togetherness among the animals. The subject in both lines one and two is the wild and powerful animals, while the object of the preposition is the weak domestic animals which are usually prey for the wild animals. However, here they are pictured as living together. Even more they are not living together but also their young feed themselves together. The climax of this stanza indicates that a young child shall lead them. The harmonious relationship among animals expands to humans, since a young child shall shepherd them. Again, a human- indeed even a child-is portrayed as a leader of the animals (Cf. Gen 1:26,28).

The central idea in v.7 is still the harmonious relationship between the animals such as the cow and the bear. And this peace situation is transmitted to their offspring. The vegetarian idea appears as inclusion (Cf. Gen 1:31, humans and animals are vegetarian). So there will be no conflict for no one part of creation preys on another.[xxiv] v.8 indicated that the enmity which Yhwh Elohim put between the snake and the humans no longer exists (cf. Gen 3:14-15)

Therefore, Isa 11:6-8 points to a harmonious relationship among animals and also between animals and human beings.[xxv] This concept is supported and declared in the last stanza of this section of the poetry (v.9): They shall not hurt or destroy in my holy mountain For the earth shall be full of the knowledge of Humans As the waters cover the sea.

Like Hosea, Isaiah also understands that peace among living beings (humans and animals) cannot be separated from the well-being of the relationship between the creation and the Creator, “for the earth shall be full of knowledge of Yahweh. This statement implies a drastic change for Isaiah, who had claimed that Israelites do not know Yahweh (Isa 1:3; 6:9). Thus, at that time, there is a harmony of interrelationship among the living beings and also between humans and Yahweh.

Though the picture of harmony in the whole of creation and with the Creator is more detailed in the P creation story than in the eschatological texts in Hosea 2:20-24 and Isa 11:6-9, the three texts indicate together the interrelatedness of all creation.

Claiming kal basar (humans and animals) as a source of hamas in Gen 6 by P, is supported by these two eschatological texts which indicates that there is violence among the animals.
The three texts agree that food is an important factor. Plant, land, rain and some animals will be used by Yhwh to punish living beings for their disobedience. One creation disobey Yhwh, all creation will suffer for it. Food also as a factor of violence when living beings consume meat.
The three of them agree that the most important factor is humans know God, so their relationship will be good, and it will expand to the whole of creation. Therefore to be created in the image of God, is so important for humans. Thus though Yhwh revised some of Yhwh’s criteria for Yhwh’s creations in Gen 9, Yhwh did not revise the status of humans as being created in the image of God.

End Note

[i]See: Phyllis Bird,” Image of Women in the Old Testament,” in Religion And Sexism. Ed. By: Rosemary Radford Ruether, New York: Simon Schuster, 1974, 41-88

[ii] See: Phyllis Trible, “Subversive Justice: Tracing the Miriamic traditions,” in Justice and The Hoy, 99-109.

[iii] It is no coincidence that Jesus’ first appreance after his resurrection is to the women (Matt 28:1-10). If Jesus’ context was in Karo land and he showed himself to Karo men, I can say that the story of Jesus’ resurrection would have been kept in the coffee shop where Chess and cards are more important. However Jesus’ first appearance is to women who are active in every segment of society, so the resurrection story is spoken in the market, in the field, at the river, at the well, in the kitchen, at school, every where!

[iv] Cf. Ynesta King who took Murray Bookdun’s idea in The Ecology Of Freedom (Palo:Alto, Ca: Cheshire Books, 1982) in her article “Healing The Wounds: Feminism, Ecology and the Nature/Culture Dualism in Reweaving The World, 107.
[v] Cf. Gordon Wenham, Genesis 1-15. WBC. Texas: Word Book Publisher, 1987, 70; David Clines, What Does Eve Do to Help? Sheffield: SOT Press, 1990, 39; Nahum Sarna, Genesis, The JPS Commentary, 21-23.
[vi] The use of hafaam followed by the statement of the man, “bone of my bones, and flesh of my flesh,” indicates his emotional happiness and excitement (like: “eureka”) . Now finally the man finds his match, cf. Westermann, Genesis 1-11, 229-232.
[vii] Ezer kenegdo is used to highlight the superiority of women by Phyllis Trible for most often ezer is applied to Yhwh, either as a helper or with reference to the help that comes from Yhwh, see Trible’s view in God and the . However in this case I follow Clines who says that help in this matter, ezer means to help men to produce future generations, see. David Clines, 35-37.
[viii] Masal is a verb which is used with a special subject, who has the power to lead/guide and to take care of. This verb is applied to God in Pss 22:29; 59:14;89:10; 103:19; judg 8:3; Isa 63:19; 2 Chr 20:6; Job 25:2) to the king in Isa 19:4; Jer 22:30; to the expectation of Messiah in Mic 5:2; to sin in Gen 4:7 and to the heavenly bodies in Gen 1:18.
[ix] Cf. Nahum Sarna, 28.

[x] See: Ynesta King, 109-110.

[xi] Ruether considers this as Ecofeminism which she understands as bringing together ecology and feminism in their full form, and she explores how male domination of woman and of nature are interconnected, both in cultural ideology and in social structure, see: Rosemary R. Ruether, Gaia and God. (New York: Harper Collins, 1992), 3.

[xii] The word radah is used in Ezek 29:15; 34:4; Lev 25:34,46,53; 26:17; Isa 14:2; 1 Kings 5:4; 9:23; 2 chr 8:10; Num 28:19; Pss 49:15;72:8;110:2; Jer 5:31 and Neh 9:28. Using the sematics approach, I found that this verb is used in sentence in which the subject has more power than the object . The verb itself does not determine whether the subject of the verb uses power in negative or positive way. The verb is a neutral one, just indicating that the object of the verb is under the power of the subject. Cf. Barr, Man And Nature, 62-66.

[xiii] The same as radah, kabasy here is also neutral verb.

[xiv] See Lynn White, “The historical roots of our ecological crisis,” in Ecology and Religion in History, Ed. David and Eileen Spring (New York: Harper and Row, 1974)15-31, see also response to his article by James Barr in “Man in Nature,” Ecology and Religion in History; B. W. Anderson, From Creation to New Creation: An Old Testament Perspective, OBT (Minneapolis: Fortress Press, 1994); Steck, World and Environment, 198.

[xv] Scholars understand the meaning of “created in the image of God based on “analogical” and “consequential” relationships. Some point to humans as Elohim’s representatives (Von Rad, Jacob, Schmidt ) or point to the “relationship between Elohim and humans (Vriezen, Barr, Westermann and Sarna); or point to humans and Elohim having a dialogue and a knowledgeable-relationship (Eichrodt).
[xvi] Cf the idea of all humankind is entitled to glory and honor from and honor from God in Ps 8:6.
[xvii] See Cassuto, Genesis 2, 52; B. Jacob, Genesis, 48 and Sarna, Genesis, 51.
[xviii] Who wrote the text is still debated among scholars. Mays thinks it is possibly from Hosea, see James Luther Mays, Hosea, OTL (Philadelphia:Westminster Press, 1969) 47; while others consider it was composed later by a redactor, see Gale Yee, Composition and Tradition in the Book of Hosea: A Redaction Critical Investigation (Atlanta Scholar Press, 1987) 86,88, 142-43, 316-17; Martin Buss, The Prophetic Word of Hosea (Berlin: Verlag Alfred Topelmann, 1969) 33,72, 109; Andersen and Freedman, Hosea, 57-58; Jacob Myers, The Book of Hosea (Richmond: John Knox Press, 1959) 7. Based on the fact that the idea and language in v.20 are old, I think it was composed by Hosea.
[xix] Lev 25:18,19; 26:5;Ezek 28:26; 34:25,28; 38:8,11,14; 39:6,26; Job 11:18; Isa 47:8; Jer 32:37; 49:31.

[xx] See Vriezen, An Outline, 223; S.A Cook, The Old Testament A Reinterpretation (London: Cambridge W. Heffer&sons, 1963) 107, 163.

[xxi] See also Isa 30:23-25; Jer 29:17-8; 31:12; 32:24;38:2; 42:22; 44:12; Amos 9:13-15; Joel 2:19,24,26.

[xxii] Cf. Wolff, Hosea, 69.

[xxiii] Scholars have had differing views about the content of Isa 11:6-9. Some say that the change pictured in the passage is only a symbolic one, see Edward Kissane, The Book of Isaiah, 136; Others think that it can be understood in a literal way, but that it does not come from the original prophets, see George B. Gray, The Book of Isaiah 1-39, 214; Still others view it as composed by Isaiah of Jerusalem and to be understood in its literal meaning, see George A. Smith, The Book of Isaiah 1-31, 136,183; Skinner, Isaiah 1-39, 104;Wildberger, Isaiah 1-12, 462-69.
[xxiv] Cf. Solomon B. Freehof, Book of Isaiah, 77.
[xxv] Therefore most scholars take Isa 11:6-8 as portraying a situation in which peace exists. This situation is called paradise by some scholars, see Franz Delitzsch, The Prophecies of Isaiah, 282,85; Georg Fohrer, Das Buch Jesaja, 154-55; Johan Fischer, Das Buch Isaias, 103-4; August Dilmann, Jesaja, 118-19;Kaiser, Isaiah 1-12; R.E. Clement, Isaiah 1-39,14.

This paper is presented at the CCA Meeting in Chiang Mai 2002.

Juli 5, 2008 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

Pemberdayaan Perempuan Dalam Pelayanan Gereja Dewasa Ini

Pemberdayaan Perempuan Dalam Pelayanan Gereja Dewasa Ini
Pdt. Mindawati Perangin-angin, PhD.

Judul di atas adalah yang diberikan oleh panitia penerbitan buku Jubileum 50
tahun CCA kepada saya. Pilihan judul,mungkin karena gabungan bahwa saya perempuan dan yang sekarang mengemban sebagai Kepala Bidang Personalia dan sumber Daya Manusia (SDM) GBKP. Ruang lingkup perempuan dalam judul, acap akan saya persempit menjadi pendeta perempuan. Berbicara tentang pendeta perempuan, haruslah juga berbicara tentang pendeta lelaki, seperti ketika berbicara tentang perempuan dalam pengertian umum, haruslah juga membicarakan laki-laki. Karena keduanya adalah satu keutuhan yang saling melengkapi.

Pemberdayaan pendeta perempuan (dan lelaki) dalam pelayanan gereja dewasa ini diawali dari penggodokan di sekolah teologi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu dan yang paling ampuh untuk memberdayakan manusia adalah melalui pendidikan. Sehingga pemberdayaan pendeta baik perempuan ataupun lelaki dalam pelayanan gereja dewasa ini dimulai dari pendidikan di sekolah Teologia. Sayang bahwa sekolah teologia, tidak hanya di Amerika tapi juga di Indonesia, kurikulum dan aktivitas di luar sekolah tidak terlalu berhubungan dengan kebutuhan gereja kini dan nanti.[i][ii]

Sebenarnya saya pikir gereja dan sekolah teologia di Indonesia belum menyadari sepenuhnya akan dimana dan mau kemana ia. Sehingga bentuk dan isinya masih didominasi warisan lama, padahal zaman sudah berubah.[iii]

Dalam berteologia kontekstual, dimana mayoritas gereja di Indonesia adalah gereja suku, gereja masih sangat gamang dalam menempatkan inkulturasi[iv] di dalam konteks Pancasila sebagai civil religion.[v] Penekanan muatan lokal sangat dominan, sehingga warna dan rasa nasional menjadi samar, padahal yang ditawarkan dalam kehidupan sehari-hari sarat dengan pengaruh global (hybrid complexity). Mendialogkan ketiga konteks sehingga menghasilkan ciri kas Indonesia, gereja dan sekolah teologia masih terbata. Bisa dikatakan bahwa kemampuan menganalisa konteks kini dan memprediksi konteks nanti, untuk mempersiapkan masa transisi kepemimpinan ataupun/dan generasi, belum membudaya.

Ketika gereja dan sekolah teologia belum menyadari sepenuhnya akan siapa, dimana dan mau kemana ia, bagaimana ia bisa diharapkan untuk menciptakan pengkaderan dengan sengaja? apalagi untuk melakukan pemberdayaan khusus pendeta perempuan untuk trampil melayani di konteks kini dan nanti?

Konsep gereja, struktur dan teologianya yang sudah mem-patriakhal.[vi]

Gereja dalam keadaan seperti ini cenderung tidak memihak ke program pemberdayaan perempuan/pendeta perempuan. Jelas apa dan bagaimana struktur gereja adalah didasarkan dari teologianya, atau bisa saya katakan adalah dari konfesinya.[vii] Jadi adalah tidak mendasar jika pemberdayaan perempuan dan pendeta perempuan di gereja hanya melalui lokakarya,diskusi dan seminar, tanpa merubah dalil-dalil teologia yang mendominasi sesama ciptaan (theological will), dan tindakan nyata dalam meningkatkan pendidikan, ketrampilan dan peran mereka dalam kepemimpinan di semua level (political will).[viii]

Begitu juga dengan pendidikan di sekolah teologia, jika pemberdayaan perempuan (siswi) tidak dilakukan dengan sengaja dan comprehensive (kurikulum, beasiswa, komposisi kepemimpinan senat dll), maka ia akan menjadi tindakan yang politically correct, atau sebagai bahan yang layak jual dalam mencari bantuan.

Realita pemberdayaan perempuan (pendeta perempuan) dalam pelayanan gereja dewasa ini.

Seperti yang saya ungkapkan di catatan kaki no.7 bahwa diantara gereja-gereja di [ix]Sumatera Utara baru GBKP-lah yang memiliki dua (2) perempuan dari lima ketua Moderamen dan satu ketua-umum. Sehingga kita sendiri bisa menjawab apakah kini pemberdayaan perempuan (pendeta perempuan) telah maksimal dilakukan (political will). Dalam kepemimpinan sinode GMIM yang memiliki pendeta perempuan terbanyak di Indonesia, perempuan ada tapi diposisi wakil sekretaris umum; GPM di posisi wakil ketua sinode; GKSS diposisi ketua sinode; PGI setelah almarhumah Ibu Tina Lumentut, perempuan belum tampil kembali. Bagaimana di gereja lainnya seperti GKJ, GKJW, GKI-Papua, GKPB, GMIH, GPIB, Gereja Toraja, GMIT, KGPM dll? Sehingga setelah hampir sepuluh (10) tahun kita melalui Dasawarsa solidaritas gereja dengan perempuan DGD (1988-1998) dalam hal ini bisa saya garis bawahi bahwa di gereja-gereja Indonesia secara keseluruhan, ternyata theological will sudah mendahului political will.[x] Progress pemberdayaan perempuan di gereja-gereja dan PGI di Indonesia tidak jauh beda saya pikir dengan gereja-gereja anggota CCA. CCA sendiri belum pernah memiliki general secretary perempuan, kecuali associate general secretary yang adalah dari Indonesia, Dr. Ery Lebang. General secretary National Council of Churches di Filipina kini adalah perempuan dan dinilai sangat berhasil dalam kepemimpinannya.

Berdasarkan penampakan yang ada di atas baiklah kita menyimak apa yang dituliskan oleh Elisabeth
“Authority within the church as the discipleship community of equals must not be realized as “power over” as domination and submission, but as the enabling, energizing, creative authority of orthopraxis that not only preaches the gospel of salvation but also has the power to liberate the oppressed and to make people whole and happy. Jesus commissioned his disciples not only to preach but also to heal and to set free those dominated and dehumanized by evil powers.”[xi]

5. Sehingga untuk mewujudkan pemberdayaan perempuan (pendeta perempuan) dalam pelayanan dewasa ini maka adalah keharusan:
a. Gereja tidak perlu membatasi (apalagi berdasarkan gender) dan juga melakukan test-sinodal bagi orang yang hendak masuk sekolah teologia, biarlah proses penyaringan awal dilakukan oleh sekolah teologia
b. Sekolah teologia harus mengajarkan ajaran yang berintikan integration of creation, di dalam kurikulumnya, kesamaan lelaki dan perempuan termasuk disini (lihat catatan kaki no.1), dan menyediakan beasiswa yang cukup untuk para siswi yang berbakat dan menetapkan dengan sengaja balance gender dalam setiap kepemimpinan, pelatihan dll.
c. Pengajaran gereja (kategorial, kotbah, kebaktian rumah tangga, dll) hendaklah menekankan ajaran yang berintikan integration of creation -kesamaan lelaki dan perempuan termasuk disini (theological will)
d. Gereja haruslah dengan sengaja menekankan balance gender dalam semua level kepemimpinannya (political will).
e. Gereja haruslah dengan sengaja memberikan porsi beasiswa yang lebih/ atau sedikitnya seimbang- kepada siswi teologia /atau pendeta perempuan untuk S1,S2 dan S3. Juga kesempatan untuk menghadiri dan berperan dalam pertemuan tingkat lokal, nasional dan internasional (political will).
f. Gereja harus mampu mentransformsikan pola pikir dan tindak warganya yang tidak menunjang pemberdayaan perempuan yang sudah membudaya (faktor sosial-budaya).

6. Bagi para perempuan dan pendeta perempuan,
“Female friendship reminds feminists that our political activity consists in more than just conflict and struggle with men and male supremacy. Its end is to bring women together with our Selves and with each other.”[xii]
Let’s do it!

[ii] Saya setuju dengan pikirian Judo Purwowidagdo yang menekankan bahwa pendidikan teologia di abad ke 21 haruslah mengarah kepada kepentingan umat, gereja dan masyarakat pada umumnya, lihat Judo Purwowidagdo, Towards the 21st Century, Challenges and Opportunities for Theological Education. Geneva: WCC, 1994. Disitu ia memperlihatkan pergeseran 13 paradigma:
old paradigms new paradigms
1. Education for ordinate ministers Education for leaders-empower in Christian ministry, both ordinate and non-ordinate
2. Dominated by men Inclusive, men-women balance
3. Standard and fixed curriculum flexible curriculum, module system
4. Based in campus and classroom Based in campus, local community and society
5. Up-Bottom learning process Group learning process
6. Academic, intellectual and scholarly Academic excellence covered dynamic praxis of doing
orientation theology
7. Content, knowledge approach Methodological and skills approach
8. Dominated by compulsory subjects Dominated by elective subjects
9. Dogmatic confessionals orientation. Ecumenical, inter-denominational orientation
10. Motivated to submit and loyal to Motivated to critical, reflective and creative innovation
church doctrines and traditions to church doctrines
11. Biblical-historical orientation Biblical-contextual orientation
12. Metaphysical-ontological orientation existential-phenomenological orientation
13. Biblical-analysis, texts critic Social-anthropological analysis

[iii] Saya tidak mengatakan bahwa gereja dan sekolah teologia kita ada dalam kondisi krisis identitas, tapi apa yang saya sarankan adalah we have to find our own identity, dengan menggunakan metode dekonstruksi dan rekonstruksi.

[iv] Pengertian inkulturasi dengan sangat manis ditempatkan James Haire sebagai acuan untuk mengamini ekumenikal katolik teologi (yang saya bisa mengerti sejajar dengan pengertian Bhinneka Tunggal Ika, semboyan negara kita). —,“It is perhaps because the Christ event can never be exclusively identified either with one culture or one type of culture that Paul employs the ambiguous term he akoe to describe the action by which the Christ event enters a person’s or a community’s life that is, the crucial step that leads to faith…..the authentic gospel or Christ-event-for us is not prepackaged by cultural particularity but is living. The church in the acceptance of the Christ event within its particular culture in each place and yet in the wrestling with that which stands against its own particular acceptance in each place is called to be both catholic and ecumenical, reformed and yet reforming.” Lihat James Haire, Trends of the Ecumenical Movement in the Era of Globalization,” in CTC Bulletin vol. XXI, no.3, 2005, 40.

[v] Melihat penampakan yang ada akhir-akhir ini di Indonesia dimana semangat kebangsaan mulai memudar ditindih oleh semangat ke”agamaan” saya mempertanyakan kekuatan “tali pengikat” senasib sepenangungan yang ada pada bangsa in. Kekuatan tali pengikat ini juga yang saya pertanyakan pada gereja-gereja suku di Indonesia. Sampai berapa lama kita bisa mempertahankan sense kesukuan sebagai kekuatan, jika yang nampak kini adalah banyaknya warga gereja kita yang memegang double citizenships. Saya tidak menyalahkan mereka,apalagi di era perdagangan bebas seperti ini, Cuma yang saya mau ajak kita untuk berpikir adalah 1. apakah trend seperti itu menjawab kehidupan bergereja warga kita? Atau malah cara bergereja seperti ini menunjukkan bahwa tidak hanya warga tapi gereja juga belum tiba dipengenalan akan siapa dia. Deconstruct dan reconstruct harus dilakukan. Disinilah saya tawarkan gereja suku untuk menempatkan inkulturasi dalam konteks pancasila sebagai civil religion. Dalam hal ini tiga konteks kita dialogkan, lokal, nasional dan global. Kekuatan mempertahankan faktor kesukuan saja sebagai tali pengikat sudah mulai tergeser perlahan tapi pasti oleh globalisasi. Juga bukankah faktor ekonomi dan politik sangat berperan dalam mempertahankan keeksistensiannya selain kekuatan sosial dan emosional? Selain itu saya juga berpikir bahwa gereja harus mulai mengkaji teologinya yang nampak jelas dalam konfesinya. Saya tidak mau mengajak kita untuk menutup mata atas warisan teologia kita yang mewarnai ciri kita, tapi bagaimanapun dengan perkembangan yang ada kita harus melakukan perevisian khususnya penekanan atas integrasi ciptaan (perevisian atas konsep, manusia/ laki-laki dan perempuan, serta ciptaan lainnya); pengakuan akan keberadaan kepelbagaian, a.l: keimanan (perevisian atas konsep kristologi dan keselamatan), ras dan suku (konsep manusia); inklusif (perevisian atas konsep gereja, Allah, masyarakat dan pemerintah) dlsb. Banyak yang sudah tercakup di PBIK, namun saya berpikir adalah perlu untuk mengkaji PBIK kembali. Dengan banyaknya gereja yang ada kini dan para anggotanya yang mempunyai double bahkan triple citizenships, saya bertanya apakah penampakan ini dibiarkan saja sebagai dampak dari globalisasi sekaligus mengamini bahkan mencherish ini sebagai karya roh kudus atau meratapinya sebagai kegagalan gereja dalam memperbaharui dirinya, dan itu nampak dari situasi kehidupan bangsa ini yang semakin amburadul? (bandingkan Eddy Paimun, “Eksistensi Gereja dalam Masyarakat Pluralis,“ dalam Memelihara Harta Yang Indah, 279-82.)

[vi] Lihat bagaimana Elisabeth menuliskan bahwa patriarchal self-understanding and structure dan penekanan egalitarian character sudah ada sejak awal mula christian missionary movement, dan apakah kedua berada didalam ketegangan ataupun saling melengkapi yang jelas kata Elisabeth …”This argument, however telescopes distinct organizational forms and ends up with a dualistic understanding of church and ministry. It presupposes that equality and egalitarian organizational structures exclude authority and leadership. It overlooks the fact that equality or egalitarian structures are characterized by what sociologist call role-interchangeability, lihat Elisabeth Schuussler Fiorenza, In Memory of Her. New York: Crossroad, 285-6.

[vii] Bandingkan O.E. Ch Wuwungan, “Pemahaman Iman Sebagai Landasan Warga Gereja,“ dalam Memelihara Harta Yang Indah, Medan: PGIW-Sumut, 2006, 111-12.

[viii] Peran dan kepemimpinan adalah power. Power adalah bagian atau malah keseluruhan identitas lelaki dalam patriarchal ideology. Dampaknya peran dan kepemimpinan berbentuk hirarki, karena berparadigma power atau rule over. Sehingga perempuan adalah subordinate (the second sex). Maka tidak heran jika dalam kepemimpinan gereja di seluruh Indonesia, kita masih bisa menggunakan jari tangan untuk menghitung kehadiran pemimpin gereja perempuan. Perasaan minoritas tegas terasa ketika saya harus mewakili GBKP untuk menghadiri sidang MPL PGI. Di Sumut, dengan bangga saya deklarasikan bahwa baru Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang menghadirkan dua (2) perempuan dalam jajaran Ketua di Moderamen. Juga peran komisi perempuan GBKP (Moria) di dalam perjalanan kehidupan GBKP sebagai gereja dan juga bagi masyarakat sekitar tidak bisa dipungkiri. Sehingga untuk hal ini patut kita simak apa yang disarankan oleh Margaretha …”the need for the church to shift its power paradigm from ”power over” to the “power to serve and to empower” paradigm. This shift is really needed in reformulating the church vision of power. The church needs to affirm that power comes from God. This is why it is not meant to manipulate and overcome others, but to serve and empower people, especially the powerless women. Lihat, Margaretha Hendriks-Ririmase, Theology and Violence Against Women,” in CTC Bulletin vol XXI,no. 3, 2005, 10-11.
[x] Kita juga harus mengkaji penampakan jumlah pendeta perempuan di gereja yang selama ini tidak terlalu menerima penahbisan perempuan, juga jumlah penatua, preses dan ketua klasis perempuan di setiap gereja.
[xi] Lihat, Elisabeth Schussler Fiorenza, The Ekklesia of Women and ecclesiastical Patriarchy, in Discipleship of Equals. New York: Crossroad, 1998, 247.
[xii] Lihat, Janice Raymond, “Female Friendship and Feminist Ethics,” 166.

Juli 4, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

KONFESI GBKP DAN HUBUNGANNYA DENGAN PBIK DOKUMEN KEESAAN GEREJA, PGI,

KONFESI GBKP DAN HUBUNGANNYA DENGAN PBIK DOKUMEN KEESAAN GEREJA, PGI,

I. Latarbelakang dan hubungan judul topik dengan thema seminar.

Mengapa kita memunculkan topik konfesi dalam seminar teologia Permata yang pertama dilakukan Moderamen? Jawabnya adalah karena:
a. Konfesi adalah titik berangkat kita untuk me reconstruct teologia kita dan dari Konfesi-lah orang bisa melihat dasar teologia sesuatu Gereja. Sehingga Konfesi lah yang seharusnya sebagai landasan dari semua pernyataan-pernyataan teologia satu Gereja. Dampaknya maka seharusnya semua buku atau statement apapun yang dikeluarkan oleh satu Gereja yang mengandung unsur teologia, tidak boleh berbeda dari Konfesinya. Dan statement ini berlaku dengan semua stament teologi dan program yang dikeluarkan oleh Permata haruslah berdasarkan konfesi GBKP yang ada dalam tata gereja 2005-2010.
b. Sebelum kita beranjak untuk melihat konfesi kita baiklah kita simak pendapat Dr. Julianus Mojau yang memimpin lembaga khusus untuk mengadakan pencarian teologia kontekstual untuk Gereja Gereja di Indonesia menuliskan tentang peran Konfesi GBKP dalam upaya pencarian teologia kontekstual yang dituliskannya di majalah Oikumene terbitan Januari 2006 yang diterbitkan oleh PGI sbb:

“Saya kira GBKP tidak lagi mengalami kesulitan dalam hal ini karena dalam Pengakuan Dasar (Konfesi) GBKP hasil sidang sinode tahun 2005 secara sangat tegas dirumuskan bahwa “Alkitab adalah salah satu bentuk dari kumpulan kesaksian tentang Allah yang kontekstual yang dituliskan oleh bantuan Roh Kudus, dalam kumpulan tulisan yang dinamakan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.”[i]

Perlu Permata ketahui bahwa Moderamen menghasilkan konfesinya yang ada kini dari hasil seminar teologia yang ditujukan pada para pertua sejak tahun 2003. Dan seminar seperti itulah yang sedang kita lakukan sekarang. Dan seminar teologia itu adalah upaya pencarian teologia kontekstual GBKP, dan proses pencarian ini perlu diketahui Permata karena teologia inilah sebagai landasan kita dalam menjalankan kehidupan dan program Permata GBKP.

Sekarang saya mau mengajak kita melihat mengapa Dr.Mojau memfokuskan Alkitab diantara semua isi Konfesi GBKP? Karena seperti yang telah diseminarkan sebelumnya dan termuat dalam jurnal Beras Piher kita bahwa untuk me reconstruct teologia kita, maka aspek yang perlu diperhatikan adalah: Alkitab, tradisi dan konteks (lokal, nasional dan internasional). Dan Konfesi GBKP adalah khusus untuk GBKP. Sehingga tidaklah benar kita memakai konfesi gereja lain, peraturan gereja lain, kedalam gereja kita, karena konfesi mereka bukanlah hasil pergumulan kita dan tidak sesuai dengan konteks kita.

Karena jangkauan GBKP masih bertaraf lokal, maka kita harus melihat Konfesi yang memang ditujukan dan datang dari Gereja Gereja di Indonesia yang diwadahkan di PGI (dulu DGI) yang ada di Dokumen Keesaan Gereja (dulu disebut Lima Dokumen Keesaan), khususnya di Pemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK). Namun perlu disadari bahwa PGI bukanlah gereja seperti GBKP, tapi Persekutuan yang dulu namanya Dewan Gereja Indonesia, sehingga faktor organisasi dan tujuan untuk penyatuan gereja-gereja di Indonesia sangat dominan. Dampaknya di dalam PBIK sangat nampak pendekatan akomodasi.

b. Pemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK)
PBIK adalah bagian dari Dokumen Keesaan Gereja yang disahkan di sidang raya Ambon 1984 dengan landasan dan tujuan bahwa:
“PBIK sebagai langkah pendahuluan bagi Pengakuan Iman Bersama dan sebagai landasan dan sumber motivasi teologi bagi kami bersama untuk melanjutkan perjalanan kami sebagai Gereja.“ (kami di sini adalah Gereja Gereja di Indonesia)

II: Perbandingan Antara PBIK dan Konfesi GBKP

Isi: PBIK terdiri dari tujuh (7) Bab yaitu: Konfesi GBKP 6 Pasal

Bab I: Tuhan Allah Pasal 1: Allah
Bab II: Penciptaan dan pemeliharaan Pasal 2: Ciptaan
Bab III: Manusia Pasal 3: Alkitab
Bab IV: Penyelamatan Pasal 4: Manusia
Bab V: Kerajaan Allah dan Hidup Baru Pasal 5 : Gereja
Bab VI: Gereja Pasal 6 : Ibadah
Bab VII: Alkitab

Di bawah ini saya meninjau dan membandingkan pemahaman PBIK dengan Konfesi GBKP serta komentar saya akan perbandingan itu yang berhubungan dengan upaya perwujudan teologia kontekstual GBKP.
Bab I. Tuhan Allah:
- Tuhan Allah itu esa, menyatakan diri dalam karya penciptaanNya, sejarah umat manusia, anakNya.
- Allah berbicara dengan manusia sejak di PL dan di PB malah menjelma menjadi manusia dan mau mati untuk manusia
- Allah hadir dan bekerja di dalam dunia dan dalam Gereja melalui Roh Kudus

Dalam hal pengertian Tuhan Allah Konfesi GBKP menyatakan hal yang sama dengan PBIK. Cuma PBIK menempatkan peran Alkitab sebagai kesaksian yang menyeluruh mengenai Allah dan itu kembali diulang dalam Bab VII Pasal 28 (Alkitab yang terdiri dari PL dan PB merupakan kesaksian yang menyeluruh mengenai Allah yang menyatakan diri, kehendak dan karya penciptaanNya, pemeliharaan dan penyelamatanNya kepada manusia, dan juga mengenai jawaban manusia terhadapNya. Kesaksian yang menyeluruh ini berpusat pada Yesus Kristus “Firman menjadi manusia (Yoh 1:14) . Dengan demikan pemahaman atas bagian bagiannya harus selalu dilihat sebagai satu kesatuan).
PBIK juga menyatakan bahwa Alkitab sebagai firman Allah dan yang mempunyai kewibawaan tertinggi. Pengerian tentang ini ditafsirkan ulang berdasarkan kepercayaan dan upaya pencarian teologia kontekstual kita di dalam Konfesi GBKP yang ditulis lengkap di dalam Pasal 3 (lihat komentar DR.Mojau di atas).

Bab II. Penciptaan dan Pemeliharaan

- Alam semesta yang nampak ataupun tidak adalah ciptaan Allah dan tidak layak untuk disembah.
- Seluruh ciptaan adalah mempunyai hubungan yang ketergantungan
- Manusia dimandatkan sebagai pemelihara sistem ekosistem kesatuan ciptaan
- Pandangan eskatologis tentang adanya langit dan bumi baru

Bab III. Manusia
-
- Manusia, lelaki dan perempuan, dengan martabat yang sama, diciptakan menurut gambar Allah
- Manusia diciptakan dalam kebebasan# dan dalam kebebasannya itu ia bertanggung jawab kepada Allah
- individu harus diwujudkan dalam konteks komunitas
- Manusia pada dasarnya berdosa# dan berdampak pada kebinasaan seluruh ciptaan
- Karena kasih Allah maka Ia tidak ingin membinasakan manusia tapi menyelamatkan.

Pertanyaan kami bagi PBIK adalah bagaimana bisa kita satukan konsep bahwa manusia diciptakan dalam kebebasan dengan konsep bahwa manusia pada dasarnya berdosa? Penekanan konsep bahwa manusia pada dasarnya berdosa menghasilkan konsep Sola Gracia dan Sola fidei,dan bagaimana arti dari kebebasan manusia jika pada dasarnya berdosa? Dimana peran konsep manusia diciptakan di dalam Imago Dei. PBIK sangat pesimis akan kemampuan manusia sedang konsep Manusia dalam di Pasal 4 Konfesi GBKP lebih bersifat optimis dengan menggabungkan konsep Imago Dei, kedominasian dosa dalam manusia tapi disokong dengan konsep Roh Kudus serta konsep Imitation of Christ menuju kesempurnaan seperti Kristus.

Bab IV. Penyelamatan

- Dalam Kristus yang mati dan bangkit Allah mewujudkan rencana penyelamatanNya atas manusia
- Di dalam Kristus Allah mulai mewujudkan rencana penyelamatanNya, yang akan digenapkanNya pada kedatangan Yesus kembali.

Dalam masa penantian akan kedatangan Yesus kembali diantara tenggang waktu present/kekinian dan Future/nanti, PBIK menempatkan pernyataan tentang hubungan Gereja dan Pemerintah yang isinya saya kutip yang pentingnya saja:
- Allah menetapkan Pemerintah sebagai hambaNya yang dilengkapi dengan wewenang untuk memuji perbuatan baik dan menghukum perbuatan yang jahat, … sehingga Gereja dipanggil untuk mendoakan dan membantu Pemerintah dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah demi kebaikan semua orang.
- Jika Pemerintah sewenang wenang dituliskan, …Gereja senantiasa harus melaksanakan suara kenabiannya dengan mendoakan dan membantu Pemerintah tidak menyalahkan kuasa yang diberikan Allah kepadanya.
- Kita tidak pernah lebih memilih mengikuti Pemerintah dari Allah.
- Keagamaan, kebangsaan, ideology, politik, social, ekonomi, militer, adat, kebudayaan, ilmu dan tekhnologi ..yang ikut mempengaruhi perikehidupan masyarakat, dikembangkan dan digunakan untuk kebaikan semua orang dan …

Di dalam bagian penyelamatan PBIK menempatkan hubungan antara Gereja dan Pemerintah, dan kemudian hal ini ditegaskan dalam penjelasan tentang Gereja di Bab VI. Di dalam 10 butir pernyataan BPIK tentang Gereja sebenarnya hampir sejajar dengan pengertian Gereja dalam Konfesi GBKP. Cuma dalam BPIK nampak sekali pandangan Luther yang begitu menghormati kedudukan Pemerintah, sedang Konfesi GBKP nampak dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa:
- Gereja tidak mengadopsi nilai-nilai dunia tapi memproklamasikan nilai nilai Allah yang nampak dari kehidupan Yesus yaitu cinta kasih, keberpihakan pada yang miskin, tidak berdaya, dan yang tersingkir, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan (diakonia). Inilah panggilan Gereja, menyelamatkan dunia, mengubah dan mentransformasinya.[ii]
- Gereja harus mampu melakukan dialog dengan Pemerintah dimana ia berada.[iii]

Bab V. Kerajaan Allah dan Hidup baru.

- Perwujudan kerajaan Allah dimengerti dalam konteks present dan eskatologis (future) Sehingga hidup diantara dua zaman itu manusia dipanggil untuk menjalankan suatu kehidupan baru sesuai dengan tuntutan kerajaan Allah dan bersaksi.

Nampak jelas dalam PBIK pandangan eskatologis dari bagian keselamatan dan Kerajaan Allah dan hidup baru, dan dibagian inilah ditempatkan aspek etika kekristenan yang di dalam Konfesi GBKP dimasukkan dalam Pasal 6 yang disimpulkan sebagai ibadah kita (Roma 12).

Khusus mengenai ibadah kontekstual langsung tersirat di Pasal 6 l:
“Hendaklah dasar teologia, bentuk dan irama dari liturgy dan nyanyian yang digunakan dalam ibadah adalah hasil dari hubungan yang dialektik antara Alkitab, tradisi dan konteks peserta serta pemimpin ibadah.

III. Komentar
Jika kita melihat perbedaan yang ada antara PBIK dan Konfesi GBKP wajar saja karena: a/ perbedaan waktu 22 tahun dan roh zaman yang cukup berbeda antara PBIK dan Konfesi GBKP serta b/PBIK adalah dari dan untuk semua Gereja di Indonesia, sehingga metode akomodasi diwujudkan untuk menampung semua konsep teologis Gereja Gereja anggota DGI. Dan hal inilah yang kami pikir membikin kekacauan dalam pikiran teologisnya.

Harus dikatakan bahwa konsep Kristologi sangat dominan di dalam PBIK. Sedang konsep ini di Konfesi GBKP secara nyata hanya muncul di Pasal 1 dipenjabaran tentang Allah. Penekanan yang begitu kuat di PBIK bisa dimengerti sebagai yang mengarahkan kekristenan di Indonesia cenderung bersifat eksklusif.
Pernyataan PBIK tentang Alkitab membuat pernyataan Allah di luar Alkitab tidak mendapat tempat (tidak dapat diakomodasi).

[i] Saya pikir alasan Mojau atas pernyataan itu dikarenakan bahwa di dalam Konfesi GBKP khusus bagian pernyataan tentang Alkitab dapat dimengerti sebagai:
- pengakuan terhadap bentuk kesaksian tentang Allah di luar Alkitab
- Alkitab sendiri adalah produk teologia kontekstual dalam bentuk tulisan
- tulisan tentang kesaksian Allah ini tidak absolute, bergantung pada tempat/ruang dan waktu, di dalam sejarah

[ii] Disini kita harus teliti akan pengertian dari Gereja dan peran Roh Kudus dan tidak jatuh kepada pengertian kekuatan manusia untuk merubah dunia, tetapi merubah dunia melalui sikapnya yang tidak mengikuti “pola” dunia tapi “pola” Allah.Gereja harus berani tampil beda.
[iii] Disinilah peran Gereja sebagai bagian dari masyarakat sipil. Dan peran ini hanya bisa dilakukan jika Gereja a/ tidak sama dengan Dunia dan b/ Gereja mempunyai pandangan dan konsepnya yang berdasarkan mandat dari Allah.

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

Inkulturasi atau kontekstualisasi

Inkulturasi atau kontekstualisasi

I. Inkulturasi.

Inkulturasi adalah tindakan untuk mengkulturasikan kembali (me-reconstruct) kebudayaan asli/pribumi atau lebih sering disebut indigenization. [i] Gerakan ini semarak dilakukan oleh Gereja-Gerejadi Asia, Afrika dan Amerika Latin (Selatan), sejalan dengan proses pencarian identitas diri nasional maupun lokal setelah beratus tahun dibawah penjajahan “Barat”. Penjajahan yang di dalamnya Mission (Zending) mengambil kesempatan untuk memperluas misinya, umumnya “membunuh” identitas lokal, tidak hanya dengan mengclaimnya sebagai sesuatu yang “kafir” tapi juga memakai faktor ini sebagi dasar politik Devide et Imperanya (Divide and Conquer).[ii]

2 Kontekstualisasi.

Untuk konteks Indonesia, pencarian identitas lokal tidak bisa tidak sejalan dengan pencarian identitas nasional. Karena jika tidak sejalan, maka identitas yang tercipta, apakah itu identitas lokal saja, atau nasional saja, tidak menghadirkan identitas yang utuh. Lokal adalah bagian dari Nasional. Tidak ada satu identitas lokalpun yang diangkat untuk menjadi identitas nasional. Sehingga yang harus dilakukan adalah bagaimana menempatkan identitas lokal dalam konteks identitas nasional.[iii]

Itulah yang mau kita lakukan, dan yang sedang dilakukan oleh banyak Gereja di negara-negara lain di benua Asia dan Afrika. Hal inilah yang disebut kontekstual. Identitas lokal kita adalah kekaroan kita, dan identitas Nasional adalah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Identitas utuh ini akan berdampak bagi GBKP untuk me reconstruct identitasnya (ekkesiology dan tri-tugasnya).

3 Sejarah perkembangan inkulturasi dan kontekstualisasi.

Seperti diketahui bahwa gerakan ekumene sebelum perang dunia ke II hinga tahun 70-an masih sejalan sekali dengan gerekan kemerdekaan, fight for justice for every nation. Sehinga agenda mereka banyak terlibat dalam political practice (praxis), yang bagiannya di Dewan Gereja se-Dunia (DGD) adalah bagian Church and Society (Gereja dan Masyarakat). Cukup lama bahkan hingga kini, kami pikir, terjadi jarak yang cukup jauh antara bagian Faith and Order (Iman dan Peraturan) yang begitu Biblika dan Dogmatik oriented dengan Church and Society yang begitu konteks oriented (sosiologi, politik dan ekonomi).

Tetapi kemudian setelah makin banyaknya gereja-Gerejadi Asia dan Afrika yang, setelah semakin banyaknya Negara-Negara di kedua benua ini merdeka, terlibat aktif dalam program DGD, maka peran konteks yang berorientasi praktis mewarnai program dan juga konsep-konsep teologia di DGD. Nama-nama seperti: M.M Thomas, D.T Niles, Koyama, CS Song, Mbiti dll mengedepankan bahwa konteks adalah bagian dari identitas. Pernyataan ini pertama diproklamasikan di pertemuan pertama East Asia Christian Conference (yang kemudian menjadi CCA, Christian Conference of Asia/ Dewan Gereja Asia) pada tahun 1949:

…”Pesan kekristenan akan semakin menantang jika dihadirkan dalam hubungan yang dekat dengan kebutuhan khusus manusia pada tempat dan waktu nya (konteksnya), dan juga ia mengadopsi dan menggunakan beberapa nilai-nilai kebudayaan di tempat tsb.”[iv]

Penekanan yang sama ditekankan kembali dalam sidangnya tahun 1959 di Kuala Lumpur dan akhirnya pada tahun 1964. The East Asia Christian Conference mendeklarasikan dengan tegas bahwa:

Orang Kristen Asia harus hidup lebih nyata dalam kebudayaan masyarakatnya. Hal ini mungkin saja akan mengakibatkan kita harus meninggalkan banyak yang kita sudah sangat pahami atau kebiasaan kita, seperti tindakan pengosongan diri yang adalah kegiatan yang menyakitkan dan bahaya. Hanya inilah cara yang harus dilakukan sehingga roh akan menunjukkan bagaimana iman harus dinyatakan ulang dalam idiom-idiom dari kebudayaan pribumi, dalam bentuk bentuk kehidupan komunitas dimana iman menjadi bersinar, dan di dalam tindakan tindakan yang relevan untuk kebutuhan kebutuhan masyarakat pada zamannya.”[v]

Semangat ini juga dimiliki oleh gereja-Gereja Afrika yang mendeklarasikan keinginan ini dengan lebih hati-hati pada tahun 1963 di Kampala di Africa Conference of Churches:

…”Gereja-gereja harus mempelajari kepercayaan-kepercayaan tradisional Afrika. Kebudayaan Afrika tradisional tidak semuanya jelek, tapi juga tidak semuanya bagus. Sebagaimana di semua kebudayaan,ada selalu faktor yang positif yang menyatukan kesemua kebudayaannya, dan ada juga faktor yang jelek yang melecehkan kemanusiaan.Gereja-gereja seharusnya terlibat dalam dialog yang serius antara pandangan dunia yang tradisional dan kesinambungan pernyatan Kristus Yesus melalui Alkitab.”[vi]

Jika melihat kedua statements di atas, nampak sekali bahwa Gereja-Gereja di Asia jauh lebih demanding di dalam reclaiming their own identities. Lepas dari apakah ini dampak dari karismatik Sukarno, Nehru dan Naser dll, dan Konperensi Asia Afrika (KAA), yang jelas kami tahu bahwa semangat dan jiwa Sukarno sangat mempengaruhi teolog Asia saat itu.

Seperti laporan Van der Bent dalam bukunya bahwa semangat ini ditampung dan dikembangkan di Church and Society division dalam pertemuan New Delhi, 1961 dimana kombinasi dari religion, nationalism dan secular ideologies didiskusikan. Tapi hal ini tidak digodok di bagian Faith and Order secara serius, walau sejak tahun 1971 di Louvain, seksi V menangani thema The Unity of the Church and the Differences in Culture. Akibatnya, perjalanan kedua bagian ini timpang sekali. Dan hal ini nampak di dalam kegamangan Gereja-Gereja di Asia dan Afrika di dalam merevisi konsep teologisnya, seperti konsep Gereja, Trinitas yang seharusnya nampak dalam konfesi mereka)[vii] yang seharusnya sebagai landasan perubahan yang mereka wujudkan dalam konsep misinya dalam program Diakonia, dan juga kegamangan Gereja-gereja di “Barat” (khususnya Eropah dan Orthodox) untuk masuk dalam praxis tapi sibuk dengan Konfesi, Doktrin dan Tradisi.

Sehingga tidak heran jika URM (Urban Rural Mission yang sebagian dari job decsriptionnya adalah Parpem yang GBKP miliki) berkembang tak terkendali hinga mengakibatkan munculnya kritikan bahwa Gereja sudah menjadi seperti NGO atau LSM, dan manusia dianggap sebagai agen perubahan.

Perhatian (concern) akan kebudayaan yang lain (other cultures) bergerak ke-perhatian ke agama/iman yang lain (other faiths). Hal in dinyatakan dalam pertemuan komite pusat (central committee) DGD tahun 1971, ketika diadopsi dialogue dengan orang dari iman yang lain (other faiths).

4 Inkulturasi adalah proses yang tiada henti

Mengakui keberadaan budaya lokal yang mempunyai kekuatan untuk merevisi ajaran dan arah gereja, serta keterbukaan di dalam mengakui keberadaan iman di luar iman kekristenan, sangat mengkawatirkan Gereja-gereja dari kalangan Ortodox dan Evangelical,[viii] karena mengancam peran sola scriptura (Apalagi pernyataan keabsolutan Alkitab sebagai firman Allah)[ix] dan doktrin kristologi dan soteriologi..

Richard Niebuhr dengan bukunya Christ and Culture dari kelima pendekatan yang dikemukakannya tetap menempatkan Kristus di atas kebudayaan. Wajar saja, karena di zamannya adalah masa keemasan Karl Barth dan Hendrik Kraemer.
Sedang gerakan Evangelical walau mendukung proses kontekstualisasi tapi untuk tujuannya sendiri yaitu digunakan sebagai jalan masuk (metodologi) Kristenisasi. Tapi kini, dimasa post-kolonial, Christ and culture, keduanya duduk sama rendah berdiri sama tinggi, keduanya saling mempengaruhi dan melengkapi, equally, bergantung pada kepentingan konteks.[x] Inilah metode hibriditas, yaitu percampuran berbagai elemen cultural yang berbeda sehingga tercipta makna dan identitas identitas baru. Hibrida mengguncang stabilitas dan mengaburkan batas-batas cultural yang mapan lewat proses pengabungan atau kreolisasi.

Kreolisasi menekankan bahasa sebagi praktik budaya dan penemuan langgam ekspresi baru yang khas bagi dirinya sendiri.

Pendekatan hibriditas ini memudahkan kita untuk hidup di dalam konteks Pancasila yang memberi tempat pada segala sesuatu dan semboyan kita Bhineka Tunggal Ika. Dan tujuan kita melakukan inkulturasi bukan untuk kristenisasi tapi untuk pencapaian untuk menjadi diri kita sendiri.[xi] Bagaimana melakukannya? Tidak gampang. Huub yang meneliti upaya inkulturasi Gereja Katolik di Indonesia menuliskan:

…“khususnya refleksi teologis tentang kaitan antara injil dan inkulturasi, hal ini memang disebut “salib” para misiolog dan missionaries.“ (392).

…“hubungan antara injil dan kebudayaan serta pengaruh timbal balik antara keduanya itu adalah perkara yang sukar dan masalah yang abadi.“ (430).

5 Faktor-faktor yang penting dalam Inkulturasi dan kontekstualisasi

Po ho huang menuliskan dalam bukunya From Galilee to Tainan

…”sayangnya, gereja-gereja di Asia dan teologianya kekurangan bentuk bentuk pemikiran yang berhubungan dengan tradisi dan realita realita zaman sebelum penjajahan. Semua bentuk pemikiran itu telah dikondisikan oleh model pengkristenan yang ditanamkan oleh para missioner. Maka—dekontekstualisasi dari artikulasi teologia yang ada kini adalah kondisi awal untuk menempatkan bahasa yang baru dalam upaya untuk mencari prioritas prioritas dan pernyatan-pernyataan yang kontekstual— tugas kita adalah bukan untuk meng-adaptasi kan injil ke kebudayaan kebudayaan dan bahasa bahasa di Asia tapi untuk mengkonsepkan kembali dasar doktrin dari iman Kristen dalam terang konteks kehidupan Asia.”.[xii] Dan inilah yang kita lakukan dimulai dengan merumuskan Konfesi GBKP yang telah disahkan di sidang sinode 2005.

Dalam hal ini
…. Identity shaping requires critical understanding of both Gospel and one’s own culture. This process of mutual criticism and enrichment can be called the process of contextualization. This means that the relationship between gospel and diverse culture is not static but dynamic.”[xiii] (..”pembentukan/pencarian identitas memerlukan pengertian/cara pandang yang kritis akan Injil dan kebudayaan kita. Proses dari mutual kritik dan yang saling memperkaya ini disebut sebagai proses kontekstualisasi. Ini berarti bahwa hubungan antara injil dan kepelbagaian kebudayaan adalah tidak statis tapi dinamis.”)

Soosai Arokiasamy, S.J. dalam artikelnya Development of Theological Language in the Context of Encounter With Cultures and Religions,[xiv] mengajukan solusi dalam bagaimana memformulasikan bahasa teologia kontekstual yaitu,

Bahasa teologia (theological language) berkembang dan terbentuk dari pertemuan yang berkelanjutan dan dialog dengan kebudayaan dan agama-agama rakyat secara lokal dan nasional berdasarkan kehidupan dan pergumulan rakyat.
Realita kebudayaan dan agama-agama serta sejarah dan pergumulan rakyat adalah sumber untuk pembentukan teologia dan bahasa teologi
sehingga kekayaan keberagaman idiom bahasa dari bahasa teologia kita diwujudkan dan menyatu dalam symbol, seni, pengalaman astetik, mitos, cerita-cerita rakyat, peribahasa, perayaan-perayaan, peristiwa-peristiwa sejarah.

Berdasarkan pemaparan Soosai ini maka formulasi teologia kontekstual tidak akan bisa diwujudkan, jika kita tidak masuk dalam kegiatan kebudayaan lokal dan peristiwa sosial, ekonomi dan politik, lokal dan nasional.

Pdt. Minda Perangin-angin, PhD.

[i] GerejaKatolik bertitik tolak dari lampu hijau konsili Vatican II cenderung menggunakan istilah inkulturasi/indigenization, Lihat Franz Magnis Suseno, Beriman Dalam Masyarakat: Butir-Butir Teologia Kontekstual, 193-206, Yogyakarta: Kanisius, 1993; Hub J.W.M. Boelaars, Indonesianisasi; dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 2005, 390-3. lihat juga Anicetus B. Sinaga, Dendang Bakti: Inkulturasi Teologia Dalam Budaya Batak, Medan: Media perintis, 2004. Perdebatan antara gerakan Evangelikal dan Ekumene di David J. Hesselgrave dan Edward Rommen dalam Kontekstualisasi: Makna, Metode dan Model, (terjm), Jakarta: BPK, 1996, 47-55).

[ii] .“Pembunuhan” ini dilakukan dengan sengaja, karena tidak hanya penjajah tapi juga zending sangat sadar akan arti dari kekuatan identitas lokal. Di dalam identitas lokal itu adat/budaya menyatu dengan religi. Pola tindak dan pikir didasarkan oleh pola belief (kepercayaan). Jelas hal ini bisa terjadi jika ketiganya diangkat dari dan untuk situasi lokal. Kalaupun ada unsur dari luar kelokalan yang bisa menjadi bagian dari lokal hal ini disebabkan oleh faktor waktu, metode atau power (kuasa?) seperti yang nampak atas pengaruh Hinduisme dalam kepercayaan lokal Batak (Toba,Karo dll). Sehingga ketika penjajah dan zending (tidak dapat disangkal bahwa ada mutual relationship antara penjajah dan missionaris/lembaga zending) “membunuh” identitas lokal, itu berarti membunuh kekuatan politik dan kepercayaan lokal yang jelas akan berdampak ke aspek ekonomi lokal. Mungkin para zending dulu melakukan ini secara tidak sadar. Dalam arti metode ini harus dilakukan berdasarkan ukuran kekuatan identitas lokal tadi. Kami pikir juga para zending tidak menyadari bahwa dampak dari apa yang mereka lakukan kini adalah menciptakan orang orang Kristen yang split personality. Lebih jauh lagi yang mungkin sama sekali tidak mereka sadari adalah bahwa dampak dari metode yang mereka gunakan dulu, berdampak kini pada pemisahan yang tajam antara konfesi dan etika. Pola tindak dan pola pikir tidak sesuai dengan pola ucap. Hal ini juga terjadi di jemaat Gereja-gereja di benua Afrika (lihat Eunice Karanja Kamaara, From Anthropocentricsm to Community Mission in Caring For God’s dan Jean-Blaise Kenmogne and Ka Mana, An African Experience on Ecology And Sustainable Development, yang disampaikan dalam Mission and Creation Conference, Geneva, 17-21 September 2006)

[iii] Hal ini pasti dilakukan oleh Negara yang penduduknya plural dalam arti terdiri dari banyak suku seperti Indonesia, Taiwan, Afrika, atau yang memiliki suku asli, seperti di amerika Latin, New Zealand. Sedang di Korea kesukuan sudah tidak diperbesarkan lagi, sehinga konteks teologia mereka jauh lebih bersifat fight for sosial justice.

[iv] .“that the Christian message may be made more challenging if it is presented in close relation to the special needs of the human situation in any given time, and also if it adopts and utilizes certain values in the traditional culture of each people.” Ans J. Van der Bent, Vital Ecumenical Concerns, Geneva: WCC, 1986, 1.

[v] …”The Christians of Asia must live more actually within the culture of their own peoples. This may involve the abandoning of much that is familiar- a kind of self-emptying which will be both painful and dangerous. But it is only so that the spirit will show how the faith may be restated in the idiom of the indigenous cultures, in forms of community life where the faith becomes luminous, and in actions relevant to the needs of contemporary society.” Lihat Van der Bent, 1.
[vi] …”The church should study traditional African beliefs. Traditional African culture was not all bad; neither was everything good. As in all cultures, there were positive faktors which hold the culture together; there were negative factors which degraded human personality. The churches should become involved in a serious dialogue between the traditional world view and the continuing revelation of Jesus Christ through the scriptures.” lihat, Van der Bent, 2.

[vii] Karena tidak ada konsep teologis yang absolute, maka perevisian memang wajib dilakukan. Mengenai The Truth kami mengutip pendapat Terry, ….“When we try to describe the truth about God, we can only go part-way in our descriptions. We can say that God is like a king, God is good and not evil,and God wants to help us. But we must admit that, in the end, there are some things about God we can not describe, because God (or the transcendent), by definition, lies outside the normal sphere of things that can be seen, heard, tasted, and felt. God eludes final description, Terry, How To Study Religion, 98. Dan mengenai perevisian itu baik juga jika disimak apa yang Julius katakan, …”Theology and religious reflection cannot but take these trends seriously, though (Christian) theology, at any rate, has generally been slow to respond to such changes. The reason for this is that Christian theology has been bound up with dominant power structures, such as colonialism and capitalism, for so long that even when some of these structures are dismantled the momentum of traditional Christian theologizing tends to continue. An example of this is Christianity’s still poor records in the area of interreligious and cross-cultural dialogue. Too many Christian theologians still tend to discourse in naïve supremacist and exclusivist terms, not only soteriology (e.g., by sticking to some unnuanced account of Jesus as saviour of the world),but also epistemologically (e.g., by maintaining some forms of exclusive cognitive access to God’s plan of salvation , or divine revelation) as well as methaphysically (through a form of theism that is grossly dualistic).” Lihat Julius Lipner dalam artikelnya, “Religion and Religious Thinking in the New Millennium,“ di Plurarity, Power and Mission. London: The Council for World Mission, 2000, 87-8.

[viii] Lihat David, Kontekstualisasi, 54.
[ix] Lihat Footnote # 7 di atas
[x] Bandingkan dengan pendapat Gerit Singgih, “Membangun Sebuah Teologia Budaya Pasca Niebuhr di Dalam Era Reformasi, 59-75,…“asal teologia itu membangkitkan solidaritas dan bela rasa (compassion) untuk menolong dan memberdayakan semua lapisan masyarakat, entah Kristen, bukan kristen, 75, Iman dan Politik Dalam Era Reformasi. Jakarta: BPK, 2000.Lihat juga Masalah-masalah di sekitar definisi kontekstualisasi, dalam Berteologia Dalam Konteks, Jakarta: BPK dan Kanisius, 2000, 17-33.
[xi] Pendapat Robert Bellah dikutip oleh Terry menyatakan bahwa waktu menghasilkan bertambahnya masyarakat dan institusi yang kompleks yang selalu memberikan kebebasan dan pilihan yang lebih besar ke perorangan, sehingga agama-agama sendiri harus berubah untuk menyikapi hal ini, lihat Terry Muck, How To Study Religion, Willmore: Wood Hill Books, 2005, 86. Lihat juga pendapat Julius Lipner dalam artikelnya, “Religion and Religious Thinking in the New Millennium,“ 86-8.
[xii] …”unfortunately, the Asian churches and its theology lack a thought form that corresponds to the pre-colonial traditions and realities. It has been conditioned by a Christendom model transplanted by missionaries. Thus—a decontextualization of the present theological articulation is a precondition for locating the new language seeking for contextual priorities and affirmations. —the task is not to adapt the gospel to the Asian cultures and languages but to reconceptualize the basic tenets of the Christian faith in the light of the living context of Asia.” Lihat Po Ho Huang, From Galilee to Tainan: Atesea Occasional Paper no 15, hal.7.

[xiii] ibid, hal.16.
[xiv] Lihat Soosai Arokiasamy, S.J, Development of Theological Language in the Context of Encounter With Cultures and Religions yang dibacakan di CATS Hong kong 21-26 Agustus 2006.

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | 5 Komentar

DOA PERMINYAKAN (MINYAK URAPAN) DAN TUMPANGAN TANGAN

DOA PERMINYAKAN (MINYAK URAPAN) DAN TUMPANGAN TANGAN

A. Doa Perminyakan

1. Dalam PB yang menulis secara lengkap gabungan doa dan peminyakan terdapat di
a. Yakobus 5:14.

”Kalau ada seseorang diantara kamu yang sakit , baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.”

Dalam hal ini perlu diketahui bahwa penulis Yakobus bukan menekankan factor peminyakannya tapi factor doanya[i].[ii]

Bagi Yakobus iman tanpa perbuatan adalah mati (2:14-26) sehingga tidak heran jika ia menekankan aspek doa (mendekat kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu, 4:8a) sebagai bagian dari spiritualitas (expresi dari iman) yang sangat menopang ketahanan seseorang untuk mewujudkan imannya dalam tindakan.

”Kalau ada seorang diantara kamu menderita baiklah ia berdoa (5:13a). Kalau ada seseorang diantara kamu yang sakit , baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu — dan dosanya juga diampuni. Hendaklah kamu saling mengaku dosa dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan , sangat besar kuasanya.” (5:14-16).

Sedikit berkembang dari pandangan Paulus, ia mengatakan bahwa manusia dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman (2:24). Apakah katanya tentang doa?

”Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (4:2c-3).

Karena kecenderungan manusia untuk sama dengan dunia maka akan sangat membantu jika kedewasaan iman orang Kristen menurut Yakobus dibina dalam konteks komunitas (mutually supportive community) misalnya saling mengaku dosa; saling mendoakan; saling memperhatikan (5:16, 19-20).

Pernyataan bahwa pengertian yang ada dalam Yak 5:14 adalah penekanan pada doa bukan pada perminyakan didukung oleh penggunaan kata aleipho dan bukan kata chrio untuk menerangkan perminyakan (mengoleskan dengan minyak). Aleipho adalah kata umum yunani yang sekitar abad 1-2 digunakan untuk menerangkan praktek sehari-hari orang ketika meminyaki rambutnya, atau meminyaki badanya untuk berbagai kepentingan termasuk kepentingan pengobatan, dan penggunaan minyak zaitun untuk mempromosikan penyembuhan. Contohnya ketika kita mengoleskan kream penahan sinar matahari di kulit kita, ketika kita mengoleskan lotion di kulit kita yang kering, Atau bisa kita sebut juga sebagai yang digunakan untuk external physical anointing,

Sedangkan kata chrio dalam pengertian figurative adalah pengurapan yang dilakukan oleh Allah.

Kata aleipho lebih sejajar pengunaannya dengan kata suk (to anoint) dan tuah (to rub) daripada kata masyah (to anoint, to smear) dalam PL, Karena kata masyah parallel dengan kata chrio yang mengandung pengertian religius dan teologi dari konsep pengurapan.[iii]

Bisa kami katakana bahwa jika nilai doa dan perminyakan seimbang bagi Yakobus maka ia akan menggunakan kata chrio bukan aleipho, sebab kata chrio mengandung unsur tindakan keilahian (lihat pengertian doa bagi Yakobus seperti yang kami tulis di atas).

b. Markus 6:13:
…”mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”

Dalam injil ini perminyakan dilakukan minus unsur doa. Dan kata aleipho digunakan untuk kata kerjanya.

Cerita penyembuhan dengan minyak dalam kitab Markus 6:13 yang merupakan bagian dari 6:6b-13 paralel dengan Matius 10:5-15 dan Lukas 9:16. Cuma di kedua injil ini mengoleskan orang sakit dengan minyak tidak tertulis.

C.S Mann menuliskan bahwa kata kerja mengoles (to anoint/ aleipho) dan minyak (elaion) adalah baru (bandingkan Frederick C. Grant yang menuliskan…but anointing sounds unusual, though it was a common treatment of the sick in ancient times, lihat Mark, The Interpreters Bible, 733) walaupun menggunakan minyak sebagai emollient popular di dunia kuno. Di sini Markus menempatkannya sebagai yang factor yang mendampingi penyembuhan yang ajaib. Inti dari bagian cerita ini dalam ketiga injil sebenarnya adalah hendak mewartakan melalui pelayanan para murid bahwa kerajaan Allah itu sudah datang.

Penggunaan kata aleipho lainnya di PB:

“But when you fast, put oil on [aleipho] your head and wash your face” (Matthew 6:17)
“When the Sabbath was over, Mary Magdalene, Mary the mother of James, and Salome bought spices so that they might go to anoint [aleipho] Jesus’ body.” (Mark 16:1)
“and as she stood behind him at his feet weeping, she began to wet his feet with her tears. Then she wiped them with her hair, kissed them and poured [aleipho] perfume on them.” (Luke 7:38)
“You did not put oil on my head, but she has poured [aleipho] perfume on my feet.” (Luke 7:46)
“This Mary, whose brother Lazarus now lay sick, was the same one who poured [aleipho] perfume on the Lord and wiped his feet with her hair.” (John 11:2)
“Then Mary took about a pint of pure nard, an expensive perfume; she poured [aleipho] it on Jesus’ feet and wiped his feet with her hair. And the house was filled with the fragrance of the perfume.” (John 12:3)
Dari penggunaan kata di atas nampak bahwa mengoleskan dengan minyak ataupun rempah-rempah dengan menggunakan kata kerja aleipho menunjukkan suatu perbuatan/pekerjaan biasa saja, bukan suatu tindakan yang diartikan sacral
Peminyakan/pengurapan kudus dimana roh kudus berperan menggunakan kata chrio dan kata kerja ini tidak pernah dihubungkan dengan penyembuhan (healing), hal ini nampak di pemunculannya di PB di:
“The Spirit of the Lord is on me, because He has anointed [chrio] me to preach good news to the poor. He has sent me to proclaim freedom for the prisoners and recovery of sight for the blind, to release the oppressed” (Luke 4:18/ lukas)
“Indeed Herod and Pontius Pilate met together with the Gentiles and the people of Israel in this city to conspire against your holy servant Jesus, whom You anointed [chrio].” (Acts 4:27/ Kisah rasul)
“how God anointed [chrio] Jesus of Nazareth with the Holy Spirit and power, and how he went around doing good and healing all who were under the power of the devil, because God was with him.” (Acts 10:38/Kisah rasul)
“Now it is God who makes both us and you stand firm in Christ. He anointed [chrio] us” (2 Corinthians 1:21)
“You have loved righteousness and hated wickedness; therefore God, your God, has set you above your companions by anointing [chrio] you with the oil of joy.” (Hebrews 1:9)

Kata kerja mengurapi (chrio) mayoritas bersubjekkan Allah, lihat Lukas 4:18; Kisah rasul 4:27; 10:38; 2 Korintus 1:21 dan Ibrani 1:9 dan materi pengurapan adalah roh kudus (roh Allah), lihat 4:18; Kis 10:38 dan di Ibrani 1: 9 dengan minyak sebagai tanda kesukaan.

Berdasarkan penjelasan tentang perbedaan penggunaan kata kerja di atas nampak bahwa materi pengolesan/pengurapan bukanlah factor yang penting, yang penting adalah factor subjek siapa yang mengoleskan dan berdasarkan factor subjek inilah maka munculnya perbedaan pengenaan kata kerja, yaitu chrio dan aleipho. Pengurapan yang sacral menggunakan kata kerja chrio dan melibatkan roh kudus (Allah), sedangkan pengurapan/pengolesan yang dilakukan sehari-hari menggunakan kata aleipho yang menggunakan minyak, rempah-rempah ataupun parfum. Dan hanya dua bagian dalam PB yang menuliskan tentang pengurapan orang sakit denagn minyak yaitu di Yakobus 5:14 dan Markus 6:13. Dan dikedua tempat menggunakan kata kerja untuk tindakan sehari-hari. Seperti diketahui bahwa adalah hal biasa waktu itu untuk menggunakan minyak ataupun anggur untuk menyembuhkan, lihat cerita orang Samaria yang baik hati di Lukas 10:33-34.

2. Dalam Perjanjian Lama

Kata kerja- masyah (to smear, anoint) mempunyai pengertian sekuler dan sacral. Pengertian sekuler di dapat di Jer 22: 14; Yes 21:5 dan 2 Sam 1:21. Sedangkan kata kerja yang berfungsi untuk pengurapan yang bernuansa sacral yang berfungsi menguduskan biasanya dalam peristiwa penobatan/pengukuhan jabatan,[iv] dimana minyak adalah materi yang diurapi di atas kepala,
Lihat:
a. Nabi, lihat 1 Raja 19:16 (Elisha oleh Elijah); Yes 61:1;
b. kepada raja, terdapat di Hakim 9:8 (E); Hos 8:3; 7:3; I Sam 16:3,12,13; 1 Raja 1:39; 11:12,23,30; 2 Taw 22:7; 23:11; Maz 89:21 ; 45:8;
c. Kepada Israel: 1 Sam 15:1,17; 2 Sam 5:3,17; 12:7; 1 Taw 11:3; 1 Raja 1:34; 19:16; 2 Raja 9:3,6,12; 1 Taw 29:22; 1 Sam 9:16 dan 10:1;
d. kepada benda-benda suci Kej 31:13 (E)[v]; 28:18 ; Bil 7:1;
e. kepada tabernakel dan perlengkapannya: Kel 29:36; 30:26; 40:9-11; Im 8:10-11; Daniel 9:24
f. Keimamam Harun di Kel 28:41; 29:7; 30:30; 40:13,16; Im 7:36; 8:12; Bil 35:25; Kel 29:29.

Minyak yang digunakan untuk pengurapan disebut mishah yang dimengerti sebagai minyak suci (holy oil). Di dalam PL bentuk ini hanya terdapat di dalam tulisan P: Kel 25:6; 30:25; Kel 29:7, 21; 31:11; 35:8,15, 28; 37:29;39:38; 40:9; Im 8:2[vi],1012,30; 21:10; Bil 4:16; Kel 30:25,31; Im 10:17; 21:12. Di sini objek dari yang diminyaki adalah imam (Aron). [vii] Perminyakan ini mengartikan bahwa kekudusan Ilahi diperluas ke semua benda dan orang yang diminyaki.[viii]

Objek yang diurapi yang disebut masyiah yang pengertiannya sejajar dengan kata kristos dalam bahasa Yunani. Pengenaan objek ini adalah pada raja Israel; Imam besar/tinggi Israel; Cyrus; Messianic prince dan Patriach (Maz 105:15 dan 1 Taw 16:23).

Berdasarkan keterangan di atas bisa dikatakan bahwa di dalam PL kata mengoleskan/mencat/megurapi hanya satu kata yaitu mashah, satu kata yang mengandung dua nuansa yaitu sacral dan sekuler. Pengertian sacral selalu yang berhubungan dengan proses ritual, baik isi, maupun manusia dan benda-benda yang terlibat dalam proses ritual tersebut, seperti pelakon ritual (imam, nabi), benda yang digunakan dalam proses ritual (benda-benda suci dan tabernakel dan isinya). Perlu dikatahui bahwa masa itu tidak ada pemisahan antara agama dan pemerintahan sehingga penobatan raja juga menggunakan kata ini. Dan minyak yang digunakan juga memang khusus digunakan untuk pengurapan ini, sehingga nama minyak tersebut juga ditarik dari kata dasar mashah menjadi misheah. Tidak ada sama sekali dalam PL peminyakan dalam hubungannya dengan penyembuhan.

Setelah melihat penampakan dalam PL dan PB bisa kami katakan bahwa tentang doa perminyakan di dalam alkitab hanya didukung oleh satu text yaitu Yakobus 5:15. Setelah mengkaji isi Yakobus seperti yang dipaparkan di atas kami mengambil kesimpulan bahwa peminyakan tidak mengandung nilai sacral/keilahian, tapi lebih mengandung unsur obat. Peminyakan yang mengandung nilai sacral tidak bertujuan untuk penyembuhan. Hal ini juga didukung di PB bahwa Yesus sendiri tidak pernah menganjurkan kita untuk melakukan doa perminyakan, juga para rasul maupun orang Kristen lain tidak menganjurkan ini setelah hari Pentakosta. Jika kita setuju bahwa Markus 6:13 adalah tambahan kemudian (the last redactor)[ix], maka Ia juga tidak pernah menganjurkan muridnya untuk mengurapi orang dengan minyak. Yesus sendiri tidak pernah dicatat mengurapi orang dengan minyak. Sehingga bisa dikatakan bahwa berdoa peminyakan atau peminyakan adalah tidak penting, tapi tidak juga saya katakan bahwa itu dilarang, karena secara alkitabiah berdasarkan penjelasan di atas kita tidak bisa mengatakan apakah ini benar atau tidak. Karena perminyakan adalah bagian kehidupan sehari-hari (tradisi budaya) dan tidak mengandung nilai sacral . Pengolesan minyak pada kaki yang sakit sejajar dengan pemolesan krem pemutih/jerawat bagi orang yang ingin putih atau ingin hilang jerawatnya. Jadi jika dalam tradisi karo sendiri kita sudah mengenal penggunaan minyak sejak dulu maka baik juga jika dikatakan bahwa diminyaki mungkin menolong dari sudut ilmiah, tapi bukanlah persyaratan penyembuhan Ilahi (atau hal keilahian lainnya). Dan perlu juga disimak bahwa dalam PB banyak dituliskan berdasarkan iman sesorang sangat signifikan membantu proses penyembuhannya (lihat perempuan pendarahan; orang lumpuh yang dapat berjalan). Jadi jika pengurapan dengan minyak bisa meningkatkan iman seseorang (pengertian iman disini bisa dimengerti oleh psikologis sebagai sugesti- lihat hubungan antara otak dan tubuh) untuk proses penyembuhannya, mengapa tidak. Dan dalam PB tidak pernah menyebutkan jenis minyak apa yang harus digunakan juga cara pengolesan/pengurapan yang khusus.

B. Doa Tumpang Tangan

1. Dalam PL

Dalam PL menumpangkan tangan adalah sikap dalam upacara korban yang banyak ditulisan Priestly, dengan menggunakan kata samak (lean on, support). Di luar P sikap ini didapatkan di 2 Taw 29:32 dan Kej 48:14, 17, 18, yang menggunakan kata sim dan sit yang keduanya berarti ditempatkan/diletakkan.

Kata samak mengandung arti bersandar, meletakkan diri, beristirahat dan menumpangkan/meletakkan, dan menyandang/support. Untuk topic kita hanya yang mengandung arti menumpangkan/meletakkan tangan yang dilihat dan yang muncul dalam konteks ritual korban (persembahan korban) yang biasanya tangan diletakkan diatas kepala korban.

Kata samak digunakan dalam 2 kategori yaitu

1. Sikap yang muncul dalam konteks persembahan korban. Disini sipemberi korban meletakkan satu tangannya di atas kepala korbannya (bandingkan Im 1:4; 3:2,8 (perwakilan komunitas ),13; 4:4,24,29,33).

Jika dalam bentuk grup yang memberikan korban, maka setiap orang dalam grup itu meletakkkan satu tangannya ke atas kepala korban (Kel 29:10 (Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya keatas kepala lembu jantan),15 (Harun dan anak-anaknya) ,19 (Harun dan anak-anaknya); Im 4:15 (para tua-tua umat meletakkan tanganya di atas kepala, jika umat isreal yg bersalah)) ; 8 :14 (harun dan anak-anaknya), 18 (Harun dan anak-anaknya) , 22 (Harun dan anak-anaknya) ; Bil 8:12 (orang lewi) ; 2 Taw 29:23 (para imam dan orang lewi).

Penumpangan tangan tidak perlu dilakukan jika korban berbentuk jenis unggas atau unggas atau cereal/ gandum. Penumpangan tangan bagi para orang Lewi yang tertulis di Bil 8:10 yang dilakukan oleh orang Israel berarti bahwa orang Lewi dipersembahkan kepada Allah untuk melakukan merekalah yang memiliki otoritas tapi sebagai penguat legitimasi pengesahan penyerahan, karena tetap Harunlah yang memproposekan penyerahan orang lewi oleh umat Israel kepada Allah (Bil 8:11).

2. Tiga sikap dari samak yang tidak dalam konteks persembahan korban dan melakukannya dengan dua tangan yaitu di Im 16:21. Namun di Bil 27:18 (Musa meletakkan tanganya ke atas kepala Yosua) dan Ul 34:9 (Musa meletakkankan tangan atasnya) tidak terlalu jelas apakah satu atau dua tangan. Dalam Bil 27 menunjukkan bahwa dua tangan harus digunakan jika itu hari ritual pergantian tahta. Dan itu jelas di Im 16:21 (imam Harun), tapi tidak di Im 24:14 (seluruh jemaat/orang yang mendengar pengakuan salah orang tsb harus meletakkan tangannya diatas kepala orang tsb).

Penumpangan tangan dalam PL dilakukan dalam rangka memberikan berkat, mempersembahkan korban, mentranfer karunia atau tahta (ingat bahwa tidak bisa dipisahkan hubungan agama dan pemerintah). Nampak bahwa penompangan tangan tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, tapi orang-orang yang mendapat tugas (dipilih untuk itu), apalagi melihat pengertian teologis dari berkat, persembahan korban yang berarti proses pendamaian (rekonsiliasi dengan Allah). Walaupun di dalam persembahan korban pendamaian dan penyerahan suku Lewi kepada allah, perorangan, tua-tua Israel dan umat Israel menumpangkan tangan, itu bukan sebagai pemegang otoritas, tapi sebagai tanda mengambil bagian ataupun perwakilan.

B. Dalam PB

Konteks penumpangan tangan dalam PB tidak lagi persembahan korban tapi berhubungan dengan penyembuhan , baptisan dan penambahan unsur roh kudus. Sehingga dalam PB penumpangan tangan berhubungan dengan penyembuhan, berkat, baptisan dan roh serta pengutusan atas tugas tertentu. Konteks penumpangan tangan selalu religius dan dibarengi dengan doa. Penumpangan tangan bermakna simbolik. Dalam PL dan rabbinic tradisi tidak pernah penumpangan tangan berhubungan dengan penyembuhan, juga tidak berhubungan dengan mujizat.

Mark 5:23 (Yesus meletakkan tangannya atas seorang anak perempuan; 6:5 (menyembuhkan orang sakit dengan meletakkan tangannya); 7:32 (meletakkan tangan atas orang tuli dan gagap) ; 8:22-26 (menjamah orang buta) ; Luk 4:40 (meletakkan tangan atas mereka dan menyembuhkan mereka); 13:13 (meletakkan tangan atas perempuan itu), menunjukkan bagaimana Yesus menyembuhkan dengan menumpangkan tangannya atas sisakit. Juga orang Kristen mula-mula (Mark 16:18, penumpangan tangan atas orang sakit adalah kuasa yang diberikan Yesus kepada pengikutnya, walau kita tahu bahwa ini adalah tambahan kemudian), seperti Ananias (Kis 9:12,17; murid Yesus yang mencelikkan Saulus dengan menumpangkan tanganya) Paulus (Kis 28:8; Paulus berdoa dan menumpangkan tangannya ). Tentu saja penyembuhan dikomunikasikan melalui tumpangan tangan itu.

Yesus juga memberkati anak-anak dengan menumpangkan tangannya (Mark 10:13-16)

Dalam Kisah Rasul penumpangan tangan berhubungan dengan upacara baptisan dan Roh Kudus lihat Kis 19:5-6 dimana setelah hari pentakosta Paulus menumpangkan tangannya atas orang-orang yang tadinya dibaptis oleh John pembaptis dan sekarang dibaptis dalam nama Yesus, dan Roh kudus turun di atas mereka dan mereka berbicara dalam bahasa lidah dan bernubuat. Lihat juga Kis 9:17 dan 8:16-19, tentang peran roh kudus. Harus dibaptis tidak hanya dalam nama tuhan Yesus saja tapi juga atas nama roh kudus melalui tumpangan tangan agar menerima roh kudus. Lihat bahwa dalam kisah rasul penumpangan tangan adalah factor mendatangkan roh kudus. Kebanyakan para ahli setuju bahwa bahwa penumpangan tangan di Ibrani 6:2 berhubungan dengan baptisan.

Dalam 1 Tim 4:14 diingatkan agar Timotius tidak lalai menggunakan karunia yang ada padanya yang telah diberikan oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Dan di 2 Tim 1:6 dituliskan bahwa Paulus menumpangkan tangannya atas Timotius.
Dalam 1 Tim 5:22 Paulus menasihatkan Timotius untuk tidak terburu buru menumpangkan tangan atas seseorang.

Hampir sama seperti yang nampak dalam PL, dalam PB juga orang-orang yang menumpangkan tangan adalah orang-orang yang mempunyai otoritas, hanya di Timotius dikatakan bahwa ia mendapat tumpangan tangan oleh sidang penatua, tapi jika diperhatikan otoritas peneguhan Timotius adalah dari Paulus.

[i]
[ii] Peminyakan di sini hanya sebagai symbol dalam hubungannya dengan ritual penyembuhan, lihat, Mark. Anchor Bible Dictionary, 293, lihat juga apa yang dituliskan Easton dalam, James, The Interpreters Bible vol. 12, …”Here it s evidently presupposed that by virtue of their ordination their prayer would have a particularly efficacy. And then a second and distinct method of relief is directed: anointing him with oil in the name of the Lord….it is not trueat all that oil was regarded as a cure for every disease, no matter what its nature.” Hal. 70.
[iii] Bandingkan dengan apa yang tertulis di Kittel, Theological Dictionary of the New Testament, 229.
[iv] Lihat Migrom, Leviticus 1-16, Anchor Bible Series, 553.
[v] Brown Drivers Brigs (BDB) memasukkan ini dari sumber E; dan orang kudus tidak diragukan adalah praktek yang sangat kuno yang dikenal merupakan bagian masa kerajaan (1 Sam 10:1; 16:13; 1 Raja 1:39). Hal ini berhubungan dengan pengenaan kata yang diurapi pasti ditujukan kepada raja yang diharapkan datang memerintah, atau bisa juga dihubungkan dengan keimamam.
[vi] Leviticus 8 sangat bergantung dari bahan keluaran, lihat Jacob Milgrom, Leviticus 1-16, The Anchor Bible, 545
[vii]Perpindahan pengurapan kepada raja menjadi kepara imam terjadi setelah pembuangan. Lihat J.P Hyatt, Exodus, The New Century Bible Commentary, 287-88
[viii] Lihat Ronald Clement, Exodus, The Cambridge Bible Commentary,196-7.
[ix] D.E Aune bahkan berasumsi bahwa bukan hanya Mark 6:13, tapi juga Yak 5:14 adalah tambahan kemudian khususnya dampak dari kitab Didache, lihat ”Early Christian Worship, The Anchor Bible Dictionary vol.6, 987.

Pdt Mindawati Perangin angin

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | 1 Komentar

Spiritualitas Dalam Konteks Dasawarsa Mengatasi Kekerasan

Spiritualitas Dalam Konteks Dasawarsa Mengatasi Kekerasan

Apa itu spiritualitas?

Berdasarkan judul di atas saya pikir pertama sekali perlu diterangkan mengenai apa itu spiritualitas.

Ketakutan saya ketika kata spiritualitas digunakan kita terjatuh kepada pemahaman dualisme yang memisahkan antara fisik dan roh (spirit/pneuma/nefes) dan yang memang banyak muncul dalam kitab-kitab di PB. Dualisme adalah titik tolak pola pikir “barat“ yang menghasilkan pemahaman ”either-or,“ dan pemisahan yang tajam (yang umumnya antagonis) antara hati (perasaan) dan pikir (logika). Bukankah pola pemisahan-pemisahan ini yang menghasilkan keterpecah-belahan manusia, bahkan dalam kediriannya sendiri? Sadarkah kita bahwa ketika kita mengaplikasikan pola pikir pemisahan tsb kita dipaksa untuk mengambil pilihan untuk memilih yang mana yang terbaik dari yang ada (dialektik yang antagonis, bukan yang complementary/saling melengkapi).

Pemahaman ini berawal dari deklarasi Plato bahwa apa yang ada di dunia ini adalah semu dan yang ada sebenarnya adalah yang ada di dunia ide dan ini kemudian dikembangkan oleh Neoplatonisme.

Padahal kalau sumber segala sesuatu adalah Allah atau sang pencipta sendiri bagaimana mungkin pola pikir dialektik yang antagonis yang dominan dalam kehidupan ini, juga dalam pernyataan-pernyataan dogmatik gereja? Bukankah kalau kita mengamini bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, maka pola pikir dialektik yang saling melengkapi (complementary) yang harus diaplikasi? Sehingga pemahaman pluralisme tidak perlu diajarkan kembali pada kita yang telah mempunyai simbol bhineka tunggal ika.

Bukankah kita telah diingatkan bahwa metode pendidikan yang “benar” atau seharusnya adalah metode yang wholistik, keseluruhan? Pemusatan metode pendidikan pada aspek cognitif (pengaruh pola pikir “Barat” dan sekolah itu sendiri adalah berangkat dari pola pikir “Barat,” padahal kalau kita lihat pengajaran para filsuf klasik, selalu menekankan hubungan antara teori dan praktek, dogmatik dan etika) membuat manusia semakin terasing dari diri dan kehidupannya sendiri. Inilah yang mengakibatkan keterpisahan antara pola pikir dan tindak.

Bahkan agama yang sudah menjadi seperti pengajaran dari kumpulan-kumpulan dogmatik, menghasilkan manusia yang mempunyai keterpisahan antara pola pikir, ucap dan tindak. Bukankah manusia beragama seperti itu yang dominan kita miliki? Bahkan bukankah pendeta atau guru injil seperti itu yang dominan yang kita miliki sedari dulu?

Bukankah kurikulum sekolah-sekolah teologia, kegiatan-kegiatan gerejawi dan pola asuh orang tua terhadap anaknya di rumah, semuanya mengarah ke aspek cognitif dan yang diimpikan oleh ideologi kapitalisme yang mengglobal yaitu mencapai kesuksesan yang diwujudkan dalam bentuk kepemilikan materi/uang, yang umumnya dihasilkan dan menghasilkan kekerasan? Bukankah pola seperti itu juga yang teraplikasi ketika para gereja memendetakan atau mengguru injilkan sesorang? Sehingga apa yang mau diharapkan dari jemaat kalau para pendeta atau guru injilnya juga mempunyai keberadaan yang hampa, kering, tidak adanya keseimbangan kedewasaan, karena yang dilatih hanya satu aspek saja, itupun dengan tidak sempurna, sehingga robot lebih berguna dari kita.

Religiositas instead of spiritualitas.

Berdasarkan pemaparan di atas maka saya tidak mau melanggengkan kesalahan yang telah berlangsung lama, maka saya tidak menggunakan kata spiritualitas tapi religiositas, kata yang lebih condong digunakan ketika berbicara sosiologi dan antropologi agama.
Seperti yang telah saya paparkan di atas bahwa having religion (persyaratan untuk menjadi warga negara RI, walaupun agama itu ditentukan hanya 5 saja, dan sekarang alam taraf perombakan) belum menjamin seseorang itu menjadi being religious, dikarenakan pola beragama yang lebih mengarah kepada pengulangan pernyataan-pernyataan dogmatik/keimanan, dan hal ini disebabkan oleh pemusatan kepada kecakapan otak untuk mengulang formulasi-formulasi yang ada. Faktor ini ditambah lagi dengan:

1/ bahwa formulasi yang ada juga bukan formulasi yang dihasilkan oleh konteks sendiri, atau dalam arti formulasi-formlasi itu adalah yang diimpor,

2/ agama yg dianut bukanlah hasil keputusan pribadi tapi sebagai yang diwarisi atau bahkan yang dipaksakan (semua orang Indonesia harus menerakan agamanya di dalam KTPnya, persyaratan yang muncul setelah G30S, bukankah generasi ini yang mendominasi pekerjaan di tahun 80-an hingga tahun 2005? Bukankah keterpurukan ekonomi kita dimulai sejak tahun delapan-puluhan?). Sehingga agama hanya berperan sekedar sebagai pakaianyang menutup bagian luar saja.

3/ Motivasi para pendeta dan guru injil kita yang masih dipertanyakan apakah ada faktor panggilan atau karena tidak adanya pilihan lain.

Being religious, apakah sifat dasar yang dimiliki oleh setiap manusia?

Berdasarkan antropologi dikatakan bahwa being religious adalah bagian dari keberadan manusia. Setiap manusia, berdasarkan keterbatasannya selalu mencari sesuatu di luar dirinya, yang beyond dari kemanusiaannya. Sesuatu yang beyond ini dinamai sesuai dengan konteks dan kepentingannya (Rudolf Otto menyebutkan ini misterium tremendum). Hal ini nampak dari banyaknya peninggalan tempat pemujaan yang didirikan oleh para nenek-moyang kita di seluruh dunia. Sehingga tidak heran kalau Karl Barth menyebutkan bahwa tidak ada manusia yang atheis.

Aspek being religious dalam manusia selaras dan mempunyai hubungan dialektik antara perkembangan diri dan kebudayaan yang berlaku. Bahkan keduanya berjalan sama secara dialektik membentuk kebudayaan itu sendiri. Sehingga aspek being religious itu menjadi religi. Pengalaman menghasilkan pernyataan.

Yang ada di kita sekarang, religi yang dihasilkan oleh aspek dasar
Being religious (religiositas) kita, dicondemn sebagai sesuatu yang “tidak benar”karena bukan datang dari Allah. Yang kita pecayai atau imani sekarang adalah bukan hasil dari proses dialektik antara kita dengan kebudayaan kita. Sehingga asing. Tetapi tetap diyakini sebagai yang diimani walaupun sebenarnya adalah hasil indoktrinasi. Sehingga tidak heran kemampuan kita hanya sampai di taraf mengulang, bahkan dalam pernyataan pengakuan iman.

Talking about theology and doing theology.

Dampak dari beragama seperti itu umat hanya bisa talking about theology. Theology adalah pernyataan-penyataan tentang Allah (sehingga tidak ada yang absolut).

Seharusnya pernyataan-pernyataan tentang Allah dihasilkan dari pengalaman religius kita dengan allah kita. Sehingga tidak heran kalau banyak sekali pernyataan tentang Allah. Karena pengalaman adalah personal. Ini bisa nampak dalam kesaksian-kesaksian yang diucapkan dalam kebaktian di beberapa gereja kini. Atau sangat nampak di dalam kesaksian Alkitab sendiri. Sehingga semakin kenal kita akan Allah, semakin dekat kita padaNya, semakin kita copy diriNya (imitation of God, berlari-lari menuju kekesempurnaan itu! ), dan inilah yang disebut anak-anak Allah. Bukankah Yesus disebut anak Allah atau bahkan Allah sendiri karena perbuatannya?

Bagaimana dengan kita?

Pernahkah kita mengeluarkan pernyataan (atau berkotbah) tentang Allah berdasarkan pengalaman keimanan kita atau kita hanya sekedar mengulang pernyataan yang dihasilkan oleh pengalaman iman Paulus, Matius, Yohanes, Jeremia atau Yesaya?

Kalau pernah dan ini yang acap kita lakukan maka kita dalam kehidupan kita akan bertumbuh dalam iman yang bertumbuh. Kita akan terus berupaya untuk melakukan apa yang Yesus ajarkan. Pola pikir kita tidak akan teracuni oleh pola pikir yang dominan tapi tetap konsisten dalam pola pikir yang diancangkan oleh Allah. Semua kriteria tentang hidup dan kehidupan adalah diadopsi dari kriteria Allah. Jelas kita harus berani tampil beda dan kesepian karena kriteria Allah sangat berbeda dengan kriteria yang mendominasi kehidupan sekarang. Dan orang-orang seperti ini percaya bahwa kehidupannya telah dirancang oleh Allah. Orang-orang seperti ini pasti mengenal kata cukup; puas; semuanya ada waktunya; mengasihi siapa saja tanpa beda; berbagi; tidak menghakimi: karena setiap manusia mempuyai kecenderungan untuk “jatuh,” melayani bukan dilayani; pengertian; pemaaf. Orang seperti ini tampil dan hidup sederhana. Inilah yang disebut doing theology. Dan inilah spiritualitas yang bisa mengatasi kehidupan yang telah didominasi oleh kekerasan.

Apa itu kekerasan?

Sebagai seorang biblis, khususnya yang spesialisasinya di PL, maka saya memilih bahan Pl untuk menyorotinya, yaitu Kej 6 1-22 dan 9:1-7.
.
Dalam Kejadian 6:11-13 tertulis:

“(11) Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. (12) Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebabsemua manusia menjalankan idup yang rusak di bumi. (13) Berfirmanlah Allah kepada Nuh : Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi aku akan memusnhkan mereka be rsama-sama dengan bumi.”

P sebagai penulisnya menghantarkan pernyataan Allah di ayat 13 dengan pemaparannya sendiri yang ditempatkanya di ayat 11-12. Synthesis paralelisme digunka untuk menjelaskan situasi di bumi yaitu bumi telah rusak benar karena kekerasan.

P mengerti bahwa kekerasan tidak seharusya ada di bumi, karena pada mulanya bumi dan segala isinya diciptakan dengan bagus bahkan amat bagus oleh Allah.[i]

Para ahli PL[ii] mempunyai pendapat yang tidak sama akan pengertian dari kata kekerasan di sini. Walaupun begitu, setelah mengobervasi penggunaan kata kekerasan (hamas) dalam PL[iii] dapat dikatakan bahwa kata benda ini mengekspresikan beberapa nuansa yaitu seperti penindasan, ketidak adilan dan ketidak-benaran[iv]. Bahkan Von Rad menyatakan bahwa kadang-kadang kata ini menunjuk pada pengertiandari kata dosa.[v]
Umumnya subjek kekerasan adalah seseorang atau kelompok atau pemerintahan yang mempunyai kuasa lebih besar dari objeknya. Sehingga nuansa penindasan, ketidak dilan dan ketidak benaran ada di situ di dalam kata dan tindakan kekerasan. Walaupun kadang-kadang objek dari kekerasan bisa pindah menjadi subjek. Biasanya hal ini terjadi disebabkan ketidakberdayaan yang dialami oleh objek, ketidakberdayaan ini menghasilkan putusan satu-satunya cara, tiada lain selain melakukan kekerasan. Saya pikir bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang Palestina bisa dimasukkan dalam contoh ini, juga revolusi sosial.

Saya pikir kekerasan yang dimaksudkan oleh P dalam Kejadian 6:11-13 ialah kekeasan yang dilakukan oleh orang, kelompok atau regim yang mempunyai kuasa lebih dari objeknya.

Manusia yang seharusnya menjadi penjaga/pemelihara bumi dan isinya, sekarang bersama binatang bertindak sebagai penghancur. Sehingga tidak ada jalan lain bagi Allah selain memusnahkan mereka dan mengharapkan munculnya generasi baru yang lain. Tidak ada tanda pengharapan dari Allah akan perubahan yang mendasar setelah peristiwa air bah. Sepertiya Allah sudah mengantisipasi bahwa kekerasan akan tetap ada di bumi. Tapi sudah terlanjur bahwa Allah sekali pernah menciptakan mereka,maka jalan yang dilakukan oleh Allah bukanlah meletakkan pengharapan di tangan manusia, tapi Allah sendiri merubah pengharapannya pada manusia dan ini tertulis di Kej 9:1-7.

Manusia dan binatang yang tadinya hanya mengkonsumsi tumbuhan di Kejaian 9 diijinkan untuk mengkonsumsi daging binatang, selama daah mereka dicurahkan ke bumi. Karena didalam darah ada kehidupan dan kehidupan adalah milik Allah.

Tidaklah mengherankan bahwa sejak periode air bah hubungan antara hewan dan manusia berada dalam ketegangan. Dan kekerasan selalu ada di dalam hubungan itu. Hidupmanusia tetap dihargai oleh Allah sehingga tidak layak bukan hanya diambil oleh binatang tapi juga oleh sesama manusia. Hal ini disadari oleh Allah sehingga Allah mengikat perjanjian dengan manusia (Kej 9:8-17) dengan janji tidak akan menciptakan bair bah lagi untuk memusnahkan manusia. Tapi bagaimanapun sekarang bergantung pada bagaimana manusia mengatur kehidupannya.

Doing Theology hanya bisa dilakukan oleh manusia yang telah lahir kembali.

Dalam dasawarsa dunia yang penuh dengan kekerasan seperti sekarang ini hanya dua alternatf yang diproposekan yaitu intervensi Allah sepeti yang dilakukannya di Kejadian 6-9 atau perubaha pola ikir dan tindak oleh manusia. Ketika Allah mengatakan bahwa Ia tidak akan memusnahkan ciptaannya lagi,janji itu ia penuhi dan itu nampak dalam kedatangan Yesus ke tengah manusia untuk mengajak manusia berubah menuju pembentukan kerajaan Allah dimana hana kehendak atau perintah Allah saja yang berlaku. Sehingga orang-orang yan tinggal di dalam pemerintahan itu hanya memberlakukan mandat Allah dan merekalah yang layak disebut anak-anak Alah. Ajakan Yesus itu masih relevan hingga kini. Apakah itu berarti intervensi Allah tidak akan terjadi, dan Allah masih tetap berpengharapan bahwa manusia akan berubah (lahir baru) menjadi anak Nya, toch dasar manusia sebagai yang diciptakan dalam imag of God tetap dipertahankan ke eksistensiannnya di dalam manusia oleh Allah? Kalau ini benar, maka tiada jalan lain, berbaliklah kita, yang tadinya terlalu banyak berucap tentang theology sekarang masanya kita doing theology, dan ingat bahwa ini hanya bisa dilakukan kalau kita dilahirkan kembali seba[1]gai anak Allah.

[1]
[i] Kej 1:12, 18, 25 and 31.
[ii] Lihat Cassuto, Genesis 2,52; B. Jacob, Genesis, 48; Sarna, Genesis, 51; Leupold, Genesis, 266-7; Wenham, Genesis 1-15, 171.
[iii] Lihat Kej 49:5; Kel 23:1; Ul 19:16; Yes 53:9; 59:6; 60:18; Yer 6:7; 20:8; Yehz 7:23; 8:17; 28:16; 45:9; Amos 3:10; 6:3; Mik 6:12; Hab 1:2; Zef 1:9; Mal 2:16; Mzm 11:5; 18:49; 25:19; 27:12; 35:11; 55:10; 73:6; 74:20; 140:12; Ams 3:31; 10:6, 11; 13: 2; 16:29; 26:6; Ayub 16:17; 19:7; 1 Taw 12:18.
[iv] dengan memperkenalkan Nuh sebagai orang yang benar (righteous) sengaja untuk menunjukkan kekontrasan tindakannya dengan orang-orang lain yang hidup saat itu, lihat Kej 6:9; 7:1 (J).
[v] Lihat Von Rad, Old Testament Theology I, 263; Kittel, Bible Key Words, 15.lihat juga Ayub 19:7 dan Yehz 45:9.

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | 2 Komentar

GBKP dan Ekklesiology

GBKP dan Ekklesiology

Judul diatas adalah hendak menegaskan tentang GBKP dan konsepnya tentang gereja atau keberadaannya. Ekklesiology adalah ilmu (studies/knowledge about church) tentang gereja. Atau dengan kata lain, konsep gereja yang bagaimana yang seharusnya diterapkan oleh GBKP. Untuk mendapatkan jawabannya pertama adalah pemilihan dasar teologis alkitabiah yang tepat diperlukan. Apa maksudnya yang tepat? Maksudnya adalah karena konsep tentang gereja dalam alkitab, atau Perjanjian baru adalah beragam, maka kita harus memilih satu atau beberapa pengertian untuk digabung menjadi satu sebagai dasar pengertian GBKP akan dirinya. Jelas ketika memilih konsep yang tepat itu kita harus mendasarkannya pada Konteks dimana GBKP berada. Konteks dalam arti situasi kondisi warganya dari sudut social (termasuk psikologis), ekonomi dan politik.[i][ii] Karena keberagaman pengertian gereja juga dalam Perjanjian baru didasarkan karena perbedaan konteks (lihat paper J. Perangin angin). Perbedaan konteks disebabkan oleh dan menyebabkan perbedaan motifasi dan tujuan. Mengapa motifasi dan tujuan ditempatkan sebagai factor yang penting dalam pemilihan dasar teologis, karena keduanya membantu satu institusi atau organisasi untuk mencapai tujuan, yaitu menjawab sedikitnya, kebutuhan dasar anggotanya. Organisasi apapun atau persekutuan apapun atau perkumpulan apapun, jika diperhitungkan sudah tidak menjawab kebutuhan anggotanya, akan ditinggalkan oleh mereka. Hal ini tidak hanya berlaku kepada organisasi politik ataupun social, seperti serikat tolong menolong, merga silima atau Persatuan Ginting Mergana dll, tapi juga gereja.

Eka Darmaputra menuliskan,: “Gereja yang bertheologia adalah gereja yang dengan bersungguh-sunguh secaar terus menerus dan sadar menggumuli makna kehadirannya.”[iii]

Hal inilah yang menyebabkan GBKP sejak tahun 2003 melakukan seminar teologia ini yang bertujuan selain untuk memperkenalkan teologia dan strukturnya sebagai organisasi seperti yang ada kini – yang juga masih belum diketahui oleh banyak tidak hanya warga tapi juga pertua dan diakennya – tapi juga sekaligus untuk mencari bentuk yang “pas/cocok/tepat” untuk GBKP agar keberadaannya berdampak, sedikitnya bagi warganya.

Hampir semua gereja diseluruh dunia kini membicarakan ekklesiologynya. Jelas masih dalam kerangka tujuan yang sama seperti yang kita lakukan sejak tahun 2003. Tahun 2003, the Westphalian church di Jerman membicarakan ekklesiology mereka dengan melakukan pertemuan internasional mengundang semua partnernya di seluruh dunia untuk memberikan masukan kepada gereja itu. Thema pertemuan itu adalah church with the future. Penyatuan gereja-gereja dari berbagai denominasi di Belanda menjadi the Uniting Churches of the Netherlands juga dalam kerangka ini. Inilah bentuk yang pas menurut mereka. Walau penyatuan ini menurut saya lebih berdasarkan untuk mencapai keefisiensian gereja sebagai organisasi sehingga agak mengabaikan unsur teologis. Hal ini terpaksa dilakukan karena drastisnya turun minat orang Belanda menjadi anggota gereja. Penampakan seperti ini adalah umum di Eropah, Australia dan Newzealand, tapi tidak di Amerika, Afrika ataupun Asia. Cuma perlu disimak bahwa angka tetap pengunjung gereja di Amerika Utara dan Selatan, Afrika dan Asia terjadi bukan karena angka tetap pengunjung the mainline churches (GBKP/Presbyterian church; HKBP/Lutheran church; Methodist; Anglican church), tapi karena anggota the mainline churches pindah tidak ke agama lain, tapi ke gereja lain, yang umumnya adalah gereja yang muncul akibat perubahan yang cepat dari situasi ekonomi dan politik yang berdampak ke perubahan kondisi social. Di Amerika sendiri hal ini sudah dimulai sejak tahun 1960-an.[iv]

Banyaknya anggota GBKP yang “double citizenship” sudah menjamur dimana-mana, tidak hanya dari status anggota biasa tapi juga dari status pelayan (pejabat) gereja, seperti penatua (pertua). Hingga kini GBKP belum terlalu melakukan sesuatu tindakan yang signifikan dalam menghadapinya, apalagi memikirkan bagaimana masa depan keanggotaannya. Gereja dalam skala local (Runggun) masih menghadapi hal ini dengan pemecahan emergency gawat darurat, yaitu mengadakan ibadah alternative. Bagi saya ini hanya menjawab masalah dipermukaan saja (praktis), tapi tidak mencapai akar masalah. Akar masalah adalah kita, gbkp, sudah tidak menjawab kebutuhan mendasar warga kita. Kita tidak bisa juga hanya mengatakan bahwa adalah tidak benar warga datang ke gereja untuk memuaskan keinginannya. Menurut Calvin kita beribadah untuk memuliakan Allah. Yes, itu teologi bagi orang yang sudah dewasa dalam pertumbuhan iman, tapi bagi warga jemaat kita yang masih dalam stage diberi makanan lunak, bahkan ada yang masih hanya di stage minum susu murni, tuntutan atau jawaban seperti ini tidak menjawab persoalan. Kita selalu lupa bahwa tidak sampai bahkan lima persen dari anggota kita yang menjadi pengikut Kristus karena keputusan pribadi di dalam memilih either/or. Mayoritas anggota kita adalah hasil PI darurat dan yang menerima keanggotaan sebagai warisan atau yang ikut-ikut-an karena tetangga dan kade-kade. Selain ini factor globalisasi dimana manusia hidup dalam tekanan persaingan (gelar – mutu sekolah- skills/ketrampilan- penampilan/performance- koneksitas) dan banyaknya pilihan yang ditawarkan kepada kita yang datang dari global market yang bahkan telah mendikte taste (citra rasa) kita dalam semua hal yang memunculkan pola tindak konsumerisme yang adalah dari dan menuju hedonisme, membikin banyak warga yang sakit secara psikologis. Frustrasi, kawatir, tertekan, kesepian, kelelahan, kebosanan/jemu, merasa gagal, tidak berguna adalah kondisi psikologis mayoritas warga kini. Dan gereja tidak bisa membantu warga menangani hal ini. Bahkan tidak memberikan sedikitpun penghiburan baik di kebaktian minggu, atapun pjj. Malah warga semakin lelah dengan kebaktian dan pjj kita. Lalu untuk apa datang? Faktor malu dan kekaronan masih bisa dipakai sebagai pengikat kaki mereka untuk tinggal kini. Tapi nanti bagaimana? Apalagi factor itu tidak dimiliki oleh generasi muda yang juga banyak dalam kondisi sakit psikologis. Tidak heran pemuda kita dan juga pemuda di gereja lain, dalam jumlah yang cukup signifikan beribadah tidak di GBKP atau gereja orang tuanya, tapi di gereja-gereja hasil haleluyah movement. Sehingga menurut saya it is a time to find the solution! Dalam upaya finding the solution inilah maka kita bicara ekklesiology, karena tidak bisa dan tidaklah bijaksana jika solusi itu fragmentaris atau yang tidak ada korelasi antara solusi praktis dan dasar teologis kita akan gereja. Disamping itu yang juga harus kita lakukan kini adalah memusatkan konsentrasi kita lebih banyak kepada pelayanan (percakapan pastoral, perkunjungan rumah tangga, kegiatan/pelatihan ketrampilan, pembinaan warga gereja, perkunjungan orang sakit) dari pada urusan organisasi/lembaga ataupun membicarakan keuangan.[v] Teologi dan ministry haruslah interrelated yang muncul dari dan untuknya konteksnya, sehingga eksistensial.

Sejak tahun 2003 seminar teologia sudah menyatakan bahwa dalam mencari ekklesiologi GBKP maka kita harus mendasarkannya pada alkitab, tradisi (calvinisme) dan konteks (local-nasional-internasional). Dr. Binsar menyatakan bahwa HKBP mewarisi Uniert yang bisa diartikan sebagai neither Lutheran nor reformed, atau bisa juga diartikan sebagai both, Lutheran and Reformed, memilih bergantung konteks dan tujuan. Walau A. Ginting Suka Dps menyatakan bahwa dalam prakteknya HKBP lebih menampakkan warna Lutheran. Saya sendiri tidak kaget dengan statement Ginting Suka, karena persyaratan LWF adalah keseragaman konfesi anggotanya, yang berbeda dengan persyaratan WARC. WARC lebih menghargai unity in diversity yang bisa diartikan menghargai konteks. Statement HKBP sebagai yang adalah bukan gereja suku, cukup mengangetkan saya, HKBP adalah untuk semua (inklusif). Menurut saya untuk tiba dipengertian GBKP haruslah mencakup sebagai gereja yang berwawasan dan berorientasi keIndonesia saja kita masih dalam proses, itupun mendapat sangat banyak sekali tantangan dengan mengeraskan hati mengatakan bahwa namanya saja GBKP, Batak Karo, ya Gereja Karo. Dr Binsar mengatakan, HKBP namanya saja yang Batak, karena sejak tahun 2002 HKBP adalah gereja yang inclusive. Jadi Batak itu sudah obsolete. Buat GBKP saya pikir yang lebih tepat adalah GBKP yes, gereja Karo, tapi juga gereja yang bisa menjawab tantangan nasional dan internasional. Makanya kami katakan bahwa konteks kita bukan hanya local saja, tapi juga nasional dan internasional. Penggabungan ketiga konteks ditawarkan melihat penampakan yang muncul sekarang dan mengantisipasi keadaan yang akan datang. Hal ini dilakukan agar gereja tetap dan selalu berdampak.

Apakah kecalvinisan GBKP harus dipertahankan? Terserah pada anda! Karena keputusan diambil di sidang sinode oleh perwakilan dari tiap runggun. Walau yang memikirkan ini haruslah moderamen yang membahasnya di konven, karena ini adalah percakapan teologis yang harus dianalisa secara cermat dengan analisa social, politik, budaya dan ekonomi. Cuma, saya hanya mau mengatakan bahwa ajaran calvin selalu berkembang dan tidak pernah berhenti pada satu zaman dan menjadikannya sebagai yang absolute. Makanya saya katakan di atas bahwa tidaklah diperlukan kesatuan konfesi untuk menjadi anggota warc. Malah Ginting suka sudah mengajak kita untuk mengkaji apakah kita masih mau mempertahankan bentuk kita yang presbyterial sinodal? Saya sudah sejak tahun lalu mengingatkan khususnya kepada para pendeta bahwa melihat realita yang ada, ada kemungkinan GBKP menuju kearah congregational. Hal ini akan mewujud jika para pendeta, aparat klasis dan moderamen tidak berfungsi seperti seharusnya. Sudah waktunya, Para pendeta harus tidak hanya mampu melayani tapi juga mempunyai pengetahuan dan skills dan jabatan klasis dan moderamen tidak lagi jabatan politis tapi keahlian dan professional. Apalagi dengan struktur dan job description yang ada. Kenapa ini menjadi pertimbangan prioritas pertama, karena warga jemaat kita, baik warga biasa maupun para pertua dan diaken sudah banyak yang memiliki pengetahun teologi yang dulu masih menjadi kemampuan monopoli para pendeta. Jika anggota jemaat seorang ahli hukum, mempunyai beberapa ketrampilan, lalu tahu teologi, dimana lagi pendeta difungsikan, apalagi pendetanya hanya mampu berteologi dan itupun teologi sampai di level-sarjana-lokal.

Dari kepelbagaian pendapat tentang apa itu gereja seperti People of God[vi]; Body of Christ[vii]; Temple of the holy spirit[viii] dan pandangan gereja sebagai koinonia/community[ix], GBKP berpikir bahwa pandangannya tentang gereja adalah seeprti yang tertulis dalam konfesi GBKP yang disahkan di sidang sinode 2005 (lihat paper S. Tarigan):

a. Gereja adalah persekutuan manusia baru yang harus terus menerus diperbarui oleh Roh Kudus, agar mampu dan bertahan menjadi garam dan terang di konteks dimana ia berada. Sehingga gereja haruslah menyaksikan pola hidup Yesus, agar Kerajaan Allah terwujud di dunia ini. Inilah arti gereja sebagai tubuh Kristus dan Kristus sebagai kepalanya. (Mat. 5:13-16; Ef. 4:12-16)
b. Gereja tidak mengadopsi nilai-nilai dunia, tapi memproklamasikan nilai-nilai Allah yang nampak dari kehidupan Yesus yaitu cinta kasih, keberpihakan pada yang miskin, tidak berdaya, dan yang tersingkirkan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan (diakonia). Inilah panggilan gereja, menyelematkan dunia; mengubah dan mentransformasinya.
c. Gereja harus mampu melakukan dialog dengan pemerintahan dimana ia berada.
d. Semua anggota persekutuan yang adalah manusia baru berperan dan mendapat bagian dalam kesaksian (marturia), persekutuan (koinonia) dan pelayanan (diakonia) gereja, sebagai wujud dari jemaat yang missioner dibawah koordinasi dan arahan dari para pelayan khusus: pendeta, penetua dan diaken.

Itu mengartikan bahwa:

- manusia baru berarti orang yang telah dipanggil keluar (ek-kalio) jadi tidak boleh menjadi sama dengan dunia.
- Terus menerus diperbaharui berarti walaupun anggotanya adalah manusia baru yang seharusnya hidup dalam roh tapi pengampunan dan pertobatan dan hidup baru terus berlangsung dalam persekutuan ini (lihat Institutio 192: ”jadi pengampunan dosa bagi kita merupakan langkah masuk yang pertama ke dalam gereja dan kerajaan Allah. Karena kalau itu tidak ada, kita tidak mempunyai perjanjian atau persekutuan dengan Allah. Tetapi dengan pengampunan dosa itu Allah tidak hanya menerima kita di dalam gerejaNya dan memasukkan kita ke dalamnya, tetapi melaui pengampunan itu juga, kita dipelihara Nya dan dilindungiNya di dalamnya.”
- Diperbarui oleh roh kudus berarti manusia dengan dirinya semata tidak mampu bertahan tinggal di dalam ketaatan pada Tuhan
- Agar mampu dan bertahan menjadi garam dan terang, menjadi saksi adalah suatu proses yang pasti menuju kekesempurnaan (atas bantuan Roh kudus)
- Di konteks dimana ia berada, tidak memisahkan antara dunia gereja, dunia rumah tangga, pergaulan dan kerja
- Gereja harus menyaksikan pola hidup Yesus: berpihak pada orang-orang yang tersingkirkan (Singgih menuliskan ini sebagai ekklesiologi asia-pasific yang harus memperhatikan rakyat, perempuan, pemuda dan anaka-anak, serta orang miskin)- hal ini berkaitan dengan poin b tentang gereja—nampak dalam kehidupan Yesus—
- Agar kerajaan allah terwujud di dalam dunia ini- melalui sikap gereja yang berpihak pada yang tersingkirkan kita mejalankan koinonia, marturia dan diakonia kita-
- Gereja adalah tubuh kristus dan kristus adalah kepalanya, supaya gereja mengingat bahwa arah dan kesianmbungannya bukan bergantung dari siapa dan system/lembaganya, tapi kristus sendiri; gereja tubuh kristus berkonsekwensi bagaimana kita menjaganya agar tidak tercemar dengan nilai keduniawian dan mempertahankan kekudusan (lihat poin b).
- Gereja tidak di atas ataupun dibawah pemerintah, sehingga hubungan dengan pemerintah dilakukan dalam bentuk dialog. Sebagai tubuh dan milik kristus gereja harus menjadi moral support dan konsultan, penasehat, mengarahkan, jika pemerintah tidak mengindahkan hak-hak warga Negara dan ciptaan lainnya. Walaupun gereja bukan dari dunia tapi gereja harus mengetahui system keduniawian untu mampu melakukan dialog dengan pemerintah
- Poin d- mengartikan bahwa semua warga yang adalah manusia baru harus berperan dalam melaksanakan marturia, diakonia dan koinonia. Peran kita beragntung dari kemampuan dan talenta kita. tidak ada talenta dan kemampuan yang satu lebih penting, atau lebih tinggi dari yang lain, semuanya dihargai sama, saling melengkapi. Kesemua talenta ini yang disalurkan melalui jalur diakonia, marturia dan koinonia diarhkan oleh para presbiter yaitu pendeta, pertua dan diaken.

[i]
[ii] Menurut Paul Tillich theologia bergerak antara dua kutub yaitu, “the eternal truth of its foundation, and the temporal situation in which the eternal truth must be received.” Dan ia menerangkan tentang the temporal situation sebagai, “the creative interpretation of existence, an interpretation which is carried on in every period of history under all kinds of psychological and sociological conditions.” Systematic Theology I, 3, 4.
[iii] Lihat “Pergumulan dan Pembaharuan Theologia di Indonesia” dalam Tabah Melangkah, 115.
[iv] Kelley menuliskan, “In the latter years of the 1960’s something remarkable happened in the united States: for the first time in the nation’s history most of the major church groups stopped growing and began to shink. Though not one of the most dramatic developments of thos years, it may prove to be one of the most significant, especially for students of man’s social behavior. Certainly those concerned with religion, either as adherents or observes, have wondered what it means and what it portends for the future. At least ten of the largest Christian denominations in the country, whose membership totaled 77, 666,223 in 1967, had fewer members the next year and fewer yet the year after. Most of these denominations had been growing uninterruptly since colonial times. In the previous decade they had grown more slowly, some failing to keep pace with the the increase in the nation’s population. And now they have begun to diminish, reversing a trend of two centuries.” Dean M. Kelley, Why Consevative Churces Are Growing. New York: harper and Row, 1972,1.
[v] Bandingkan dengan pendapat Singgih yang melihat kegagalan gereja dalam melakukan koinonia, diakonia dan marturia karena gereja tidak peka lagi pada hal-hal kemanusiaan. Jelas ini terjadi karena menipisnya rasa kasih terhadap sesama dan berdampak pada tidak mampu melihat masalah “rakyat,” Gerrit Singgih, Berteologia Dalam Konteks, Jakartadan Yogja: BPK dan Kanisius, 2000, 198-233.
[vi] Lihat Yer 31:33; Yeh 37:27;
echoed didalam 2 Kor 6:16; Ibr 8:10) Gal 6:16; Rm 11:11-36; Ef 2:14; 1 Ptr 2:9-10; Ibr 9:15; Ibr 4:9-11

[vii] Lihat Ef 2:13-14; Ef 2:16; Ef 1:23; Ef 5:26; Rm 12:5; 1 Kor 12:12; 1 kor 12:3-13; 1 Kor 10:16; 1 Kor 12:4; 7-11; Rm 12:4-8; 1 Kor 12:4-30)

[viii] Lihat Kis 2:1-4; Rm. 8:22-23; Wahyu. 21:1; Ef 2:21-22; 1 Ptr 2:5; Kis 1:8; Ef 4:1-3

[ix] Lihat Kej 1-2; Kel 19:4-6; Hos 2:18-23; Kej 3-4; Rm 1:18-3:20; wahyu 21; 1 kor 10:16; Gal 2:9; Rm 15:26; 2 kor 8:3-4; Kis 2:42-45; 1 Yoh 1:3. Juga dituliskan bahwa The biblical images already treated, as well as others such as “the flock” (Jn 10:16), “the vine” (Is 5; Jn 15), “the bride” of Christ (Rev 21:2; Eph 5:25-32), “God’s house” (Heb 3:1-6), “a new covenant” (Heb 8:8-13) and “the holy city, the new Jerusalem” (Rev 21:2), evoke the nature and quality of the relationship of God’s people to God, to one another and to the created order. The term koinonia expresses the reality to which these images refer.

Pdt. Mindawati Perangin angin

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | 1 Komentar

Bibelvrouw HKBP Terpanggil Secara Pro-aktif Untuk Membaharui Diri di Dalam Panggilan Pelayanan di Tengah Dunia Yang Mengglobal

Bibelvrouw HKBP Terpanggil Secara Pro-aktif Untuk Membaharui Diri di Dalam Panggilan Pelayanan di Tengah Dunia Yang Mengglobal

Tulisan ini akan bertumpu pada penguraian judul di atas yang adalah sub- Thema dari rapat kita ini dalam terang Thema: Berubahlah Oleh Pembaharuan Budimu (Roma 12:2b).

I. Sebelum membaharui diri (reconstruct) hendaklah kita mengenal diri kita sendiri dulu dalam stage yang sekarang (deconstruct).

A. Rapat ini adalah rapat Bibelvrouw HKBP. Bibelvrouw HKBP adalah dua kata benda yang digabung menjadi satu. Bibelvrouw dan HKBP. Keduanya mempunyai hubungan dialogis yang saling melengkapi dan mendukung dalam upaya pencarian identitas yang kontekstual. Identitas kontekstual yang saya maksud adalah dimana ide dasar pendirian dan tujuan adanya Bibelvrouw dalam HKBP (visi-misi) nya yang tertuang dalam program harus terus berdialog dengan teologia yang nampak dalam visi misi HKBP, dalam terang konteks lokal, Nasional dan Global.

B. Bibelvrouw adalah penggabungan dua kata, Bibel dan vrouw (bahasa Belanda) yang saya mengerti berarti perempuan yang mengajar Alkitab, lepas dari apakah Alkitab yang dimaksud adalah PAK. Dan memang kategori ini dimilik oleh gereja yang berlatarbelakang tradisi Lutheran (walau semua gereja yang ada di Sumut yang adalah anggota LWF saya pikir adalah berlatarbelakang Uniert). Biblevrouw HKBP adalah pengajar alkitab perempuan HKBP, sehingga visi misi mereka harus dalam terang visi misi HKBP secara keseluruhan. Dan ini nampak karena dalam acara rapat ini saya pikir hal ini disampaikan oleh bapak Ephorus HKBP kemaren dalam sidang ke II.

C. Sehingga pencarian identitas Bibelvrouw tidak bisa dilepaspisahkan dari pencarian identitas HKBP. Karena saya adalah orang “diluar” HKBP maka paper saya hanya bisa memberikan pengamatan dan pemasukan secara umum berdasarkan situasi dan kebutuhan konteks lokal, nasional dan global, dan dalam diskusi kelompok bisa dikunyah kembali dan langsung mengaplikasikannya ke konteks HKBP.

II. Biblevrouw Kini Dan Nanti

Untuk melihat kekinian kita dalam upaya untuk semakin berdampak nanti (bukan eskatologis), yang perlu dievaluasi adalah:

1. Kurikulum kita
2. Program kerja kita
3. Dampak kehadiran kita di dalam jemaat HKBP dan masyarakat Indonesia dan dunia
4. di atas ketiga point di atas adalah evaluasi atas panggilan kita sebagai Bibelvrouw. Mengapa? karena faktor panggilan ini adalah faktor utama dalam upaya pewujudan visi dan misi institusi ini. Thema kita “Berubahlah oleh Pembaharuan Budimu” adalah sebagai pijakan untuk point ini.

1. Kurikulum Sekolah Bibelvrouw.

Apakah kurikulum Sekolah Bibelvrouw sudah mengandung tiga aspek yang mengantar calon Bibelvrouw sebagai manusia seutuhnya, yaitu aspek, kedewasaan knowledge, kedewasaan emosi dan kedewasaan spiritual? Penyatuan ketiga aspek dalam kurikulum kita akan mengantar siswa untuk berpola pikir, ucap dan tindak yang sejalan.

Terlalu lama institusi pendidikan keagamaan, khususnya sekolah teologia dimana saya lebih banyak menghabiskan masa hidup saya, memisahkan antara kedewasaan knowledge dengan kedewasaan emosi dan spiritual.

Ketiga aspek ini sangat menentukan dalam mempertajam “panggilan“ siswa (lihat point 4 di atas). Jadi menurut saya proses pendidikan sebagai calon Bibelvrouw sudah dipakai sebagi proses penyaringan (tidak perlu semua siswa harus menjadi Bibelvrouw). Jika kurikulum kita sudah mencakup ketiga aspek tadi maka
- program kerja kita tidak dipandang hanya (mere) sebagai kerja semata, tapi panggilan, dengan penuh sukacita dan bangga melakukannya sebagai pelayanan kita. Dampaknya, kita selalu memperkaya diri (life-learning process) untuk bisa tetap bermakna, sehingga
- Jelas pasti akan ada slogan,“tiada hari tanpa Bibelvrouw.”

2. Program Kerja Kita.

Sepengetahuan saya (maaf jika tidak terlalu correct), focus Biblevrouw adalah pendidikan untuk kaum perempuan dan anak. Sehingga saya pikir institusi ini khususnya dan HKBP secara menyeluruh haruslah mempunyai konsep yang jelas dan benar tentang keluarga.

Disadari sekali bahwa belakangan ini dikarenakan konsep HAM, maka tidak hanya hak perempuan tapi juga hak anak sangat diperjuangkan. Cuma bagaimana hak-hak ini bisa dirangkai dalam hubungan yang saling ber-ketergantungan[i] dalam konteks komunitas keluarga, gereja dan masyarakat. Keluarga dan masyarakat akan menuju kekehancuran jika masing-masing kategori (anak-perempuan-laki-laki- manula dll) memperjuangkan haknya tanpa menempatkannya dalam konteks keluarga dan masyarakat.

Saya sangat menekankan konteks keluarga karena keluarga adalah cerminan masyarakat bahkan gereja dalam skala kecil. Jika penampakan bentuk keluarga yang dominant sekarang adalah broken home, haruslah dianalisa penyebabnya, sehingga bukan langsung menyatakan bahwa bentuk keluarga yang terdiri dari suami dan istri sudah tidak relevan. Penampakan social yang muncul belakangan ini adalah: perkawinan sejenis (dipelopori oleh Belanda); orang tua tunggal (single parent); menunda usia berumah tangga, tapi mempercepat usia melakukan hubungan seksual; mudahnya kawin-cerai (nilai perkawinan yang sudah tidak dihormati lagi); narkoba, penganguran, putus sekolah, mutu pendidikan yang kurang; HIV-AIDS sudah mulai menjadi penyakit biasa. Penampakan sosial yang muncul belakangan ini sangatlah erat dari derasnya arus informasi dan konteks
kehidupan kita yang tidak bisa dilepaskan dari konteks global.

Semua program kerja kita kini dan nanti haruslah selalu berhubungan dengan kurikulum pendidikan, visi-misi HKBP, khususnya pandangan HKBP akan anak, perempuan, keluarga, perkawinan, kemiskinan (semuanya ini masuk dalam kategori pandangan HKBP tentang manusia dan haruslah dengan dasar teologis yang jelas sesuai dengan tradisi teologis kita, sehingga pandangan kita dan program kita tidak sama dengan LSM, let the church be the church!)[ii], analisa sosial-politik kini dan nanti di tiga konteks, lokal, nasional dan global.[iii]

3. Dampak kehadiran Bibelvrouw dijemaat HKBP khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Saya pikir jika point 1,2 dan 4 (panggilan) masih belum memadai dimaksimalkan hingga kini, dampak kehadiran kita juga masih samar, antara ada dan tiada. Kita tidak akan pernah tiba ditahap pembaharuan diri jika belum pernah tiba ditahap pertobatan yang saya sebut sebagai proses deconstruct. Sakit dan tidak gampang. Tapi bukan berarti tidak bisa.

4. “BERUBAHLAH OLEH PEMBAHARUAN BUDIMU,”[iv] adalah anjuran yang HARUS DILAKUKAN untuk pemurnian panggilan kita.

Saya harap ceramah thema dari sidang I kemaren sudah cukup jelas untuk bagian ini, sehingga saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Malah saya berpikir alangkah bagus jika ceramah thema berdampak sebagai proses penyaringan pemurnian panggilan kembali sebagai Bibelvrouw. Mengapa? Karena besar kecilnya faktor panggilan ini sangat berdampak bagi Bibelvrouw secara pribadi dalam menentukan keproaktifannya untuk memperbaharui dirinya (life-learning process yang terdiri dari tiga aspek- knowledge/pengetahuan, emosi/mental dan spiritual) dalam pelayanan yang sangat dipengaruhi oleh situasi tiga konteks yang akan dijelaskan dibawah ini.

III. Konteks pelayanan kita adalah Lokal, Nasional dan Global.

A. Konteks Lokal.

HKBP sama seperti gereja lain di Indonesia adalah gereja suku, Huria Kristen Batak Protestan. Kesukuan itu adalah konteks lokal. Batak klannya. Walau dalam antropologis, Toba dimasukkan dalam sub-clan, dengan yang lainnya, seperti karo, mandailing, simalungun, dll. Cuma jika HKBP hanya dikatakan adalah milik Toba, apalagi dengan getolnya keinginan untuk perwujudan propinsi Tapanuli, adalah tidak tepat. Identitas HKBP sebagai Batak sebagai unsur local saya pikir patut dikaji ulang sejalan dengan hal di atas dan perkembangan wilayah pelayanan HKBP. Ada tiga hal
yang saya pikir patut dipikirkan disini:

1. Pencarian identitas HKBP tadi dalam upaya pencarian sebagian dari factor teologia kontekstual HKBP (dalam hal ini saya sebut upaya inkulturasi)[v], dan

2. Berdasarkan hasil analisa keadaan sekarang saya juga mengajak kita untuk terbuka dalam mengantisipasi sampai seberapa jauh konteks lokal ini bisa dipertahankan, atau apakah dalam 15 tahun yang akan datang, karena kekuatan arus tekhnologi komunikasi, faktor lokal sudah memudar dan kita hanya mempunyai konteks nasional, Indonesia dan global, internasional. Hal ini biasanya sangat nampak dikalangan usia muda dan usia ini adalah termasuk wilayah pelayanan Bibelvrouw.

3. Kita juga harus mampu mengantisipasi kekuatan bertahannya faktor nasional tadi, juga pembagian atau pengklasifikasian skop global, apakah berdasarkan aspek ekonomi, teknologi atau agama?

Karena wilayah pelayanan Bibelvrouw adalah perempuan dan anak, dan keduanya ini adalah acap sebagai victim arus globalisasi, maka Bibelvrouw harus mempunyai kemampuan menganalisa konteks untuk mengantisipasi ke depan.

B. Konteks Nasional, Indonesia.

Realita Indonesia dan Asia yang plural tidak hanya dalam iman tapi juga dalam etnis haruslah saya pikir berdampak dalam isi dan metode pengajaran kita. Inkulturasi saya pikir belumlah lengkap sebagai pencarian teologia kontekstual gereja–gereja di Indonesia. Haruslah gereja di Indonesia menempatkan proses inkulturasi itu dalam konteks berbangsa dan bernegara yang Pancasila. (pengupayaan Pancasila sebagai civil religion). Revisi isi pengajaran dan metode kepada seluruh jemaat sangatlah diharuskan saya pikir.

C. Konteks Global.

Untuk konteks ini saya pikir patutlah para Bibelvrouw menyadari bahwa dalam konteks global hubungan antara ekonomi dan politik adalah interrelated dan sangat
mempengaruhi peta keagamaan dunia. Apakah globalisasi yang dikuasai oleh multi-cooperation malah memakai metode devide et impera (memecah belah dan menguasai) sehingga muncul penampakan akan adanya Cash of Civilitations, Samuel Huntington? Dan yang memang terwujud (lepas dari apakah ini skenerio USA saja),
cuma tidak bisa disangkal bahwa penampakan yang ada kini adalah munculnya kekuatan Islam secara politik karena tekanan ekonomi, politik dan tekhnologi; lihat
penyerangan Israel kembali terhadap Palestina dan Libanon, dan dimana peran PBB?

Munculnya kekuatan ekonomi dan kuantitas yang akan bermuara kekuatan bargaining politics dari kalangan “gerakan Haleluya“ yang dulu dianggap oleh Main
churches sebagai tantangan negatif, sekarang menjadi tantangan yang menstimulasi kita untuk berbenah karena kesadaran akan semakin tidak berdampaknya kehadiran kita di anggota kita sendiri khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Pemunculan New Age yang berlandaskan pemahaman Hindu dan Budha sangat popular di Eropah dan Amerika. Di Eropah yang tidak populer adalah agama Kristen. Di Amerika Kekristenan masih populer sebab Billy Graham dkk masih diminati, tapi
Tidak the Mainline churches. Kekristenan di Amerika Selatan dan Afrika sangat diwarnai oleh “gerakan haleluya.“ Bagaimana dengan kita di HKBP, Indonesia dan Asia?

Semua pemunculan di atas besar sekali dikarenakan faktor ekonomi. Sehingga pemunculan-pemunculan itu sebenarnya adalah reaksi untuk tetap bertahan walaupun banyak yang bersifat semu, reaktif, fragmentaris dan sementara. Disinilah saya pikir maka rapat ini sengaja memilih subthema yang menganjurkan semua Bibelvrouw untuk proaktif memperbaharui diri dalam panggilan pelayanan di tengah dunia yang mengglobal, karena jika tidak, maka kita akan tersingkir secara perlahan tapi pasti, atau kita tetap exis namun tidak bermakna, sama seperti garam yang tidak asin lagi. [vi]

Selamat memperbaharui diri!

Salam,
Pdt. Minda Perangin angin Ph.D
Kabid Personalia dan SDM GBKP

Ivan Illich, Matinya gender, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997:
[i] Sebagai contoh adalah hubungan/relationship antara perempuan dan laki, saya berpendapat bahwa keduanya adalah saling melengkapi supaya menjadi sempurna dan ini sesuai dengan konsep ezer knegdo yangtertulis di Kej 2:18, lihat pemaparan saya dalam Paper, “ Interpersonal Relationship of Women (Female Friendship),” hal 1-2,

“It can be noted that to achieve the integration of creations (JPIC) is only an utopia saying if the relationship between men and women can not be in the stage of being mutual and equal companion/partner (See: Ynesta King, “Healing The Wounds: Feminism, Ecology and the Nature/Culture Dualism in Reweaving The World,” in Ecology Of Freedom (Palo:Alto, Ca: Cheshire Books, 1982), 109-110.
[i] Most of the time is applied to Yhwh, either as a helper or the help come from Yhwh: see Ps. 20:3; 33:20; 70:6; 89:20; 115: 9,10,11; 121:1,2; 124:8; 146:4; Exod. 18:4; Deut. 33:7,26,29; Hos. 13:9 and in Ezek. 12:14 points to a bodyguard. No wonder why feminist biblical scholars highlight this motif, because after finding that animals are not compatible to the man, then Yhwh Elohim created the woman who is finally a fit (see the connection of meaning of ezer[i] knegdo in Gen 2:18 (Most of the time is applied to Yhwh, either as a helper or the help come from Yhwh: see Ps. 20:3; 33:20; 70:6; 89:20; 115: 9,10,11; 121:1,2; 124:8; 146:4; Exod. 18:4; Deut. 33:7,26,29; Hos. 13:9 and in Ezek. 12:14 points to a bodyguard. No wonder why feminist biblical scholars highlight this motif, because after finding that animals are not compatible to the man, then Yhwh Elohim created the woman who is finally a fit helper/companion to the man. This time the man finds his match. If Trible and Clines argue and debate about the role/function of the “helper”, I try to see the usage of this word from a different angle. Always the subject and the object of ezer must have a “relationship.” In a true and pure relationship there is no “take and give” motif; there is no competition on power; but it is simple the act which is based on compassionate and trust. See Clines’ argumentation on Trible’s views in “What does Eve Do to help? and Other irredeemably androcentric Orientations in Genesis 1-3.” What Does Eve Do to help? and Other Readerly Questions to the Old Testament (Sheffield: JSOT Press, 1990) 25-48. See Trible’s view in God and Rhetoric of Sexuality. (Philadelphia: Fortress Press, 1978).and the understanding of human being created in the image of God in Gen 1:26, 28)
[ii] Karena menurut saya gereja adalah gathering of the people called dimana semuanya diharapkan untuk hidup setia di dalam proses menuju keketibaan seperti Yesus (bdgnkan Gal 5:16-26); Disini ada penekanan akan proses Tapi tidak ada maaf jika tidak ada pertumbuhan iman (1 Kor 13:11; 3:1-3; 14:20, Bdgnkan Hans Conzelmann. I Corinthians, 71-2.) dan Eph 4:7-16.] Hidup mereka hanya dipimpin oleh Allah karena panggilan mereka membuat mereka lahir kembali (Ef 4:17-32; Kol 3:1-17; Bd. Rm 6:1-11; 8; 12:9-21;16:3; 1 kor 13; 2 kor 5:17; Gal 2:20; 3:5-17; 5:6-16; Fil 2:5; 3:21; John 3:3) kepunyaan Allah (Bd John Bright, The Kingdom of God, 256-59). Maka agape (see: Mt 22:34-40; Mrk 12:28-34; Luk 6:27-36; 10:25-28; 1 Kor 13; Bd. 1 Kor 4:6-21; Rom 12:9-21; 13:8-10; 1 Pet 3:8-12; 4:8; 1 Jn 4:7-21; Yoh 15:9-17; Yoh 17: 20-26.) dan ide tentang kesatuan (lht Ef 2: 11-22; 4:1-16; 1 Kor 12; Bd. Rm 12:1-8; Fil 2:1-11; 1 Pet 3:8-12; Yoh 17:20-26; Kis 4:32-37) sangat penting bagi gereja, sehingga semua anggota harus saling menolong (Mat 6: 1-4; 2 Kor 8-10; Gal 6: 1-10; 1 Pet 4:9; 3 Jn 1:5-12; Kis 2:41-47), saling mengajar dan mengingatkan (lihat berapa kali Paulus mengajardan mengingatkan jemaat untuk hidup suci, lihat juga 1 Tes 5:12-22; 2 Tes 2:13-3: 15; lihat juga isi surat Timotius; Ibr 12: 1-16; Yakobus; 1 Pet 5:1-11; Jude 1:17-22; Mat 18:15-20); saling mengerti (Luk 6:37-42; Rom 14-15:13), saling memaafkan (Mat 18:21-35; 2 Kor 2:5-11), karena semua orang sudah dibawah kuasa dosa, tidak ada seorangpun yang benar (Rm 3:9-18) dan semua orang diciptakan dalam gambarAllah.

[iii] Moltmann Says that Christian ethics are eschatological ethics, see Moltmann in ”Liberating And Anticipating the future, 205, in Liberating Eschatology, Kentucky: John Knox Press, 1999.Cf also Jesus’ ethics that can not be separated with his eschatology, see: Wolfgang Schrage, The Ethics of the New Testament, Philadelphia: Fortress Press, 1988, 24-30.

[iv] Lengkapnya: (2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini (Dunia ini atau waktu kini (zaman ini). Tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (Dalam NRSV dituliskan: Do not be comforted to this world (this age) but be transformed by the renewing of your minds. Jadi LAI memakai budi, karena hendak menunjukkan perubahan kelakukan manusia, bukan perubahan pikiran saja, lihat Van den end, Surat Roma, 658) sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Guthrie berpendapat bahwa Paulus mempertimbangkan pola pemikiran sebagai yang penting dalam pembentukan watak Kristen (pemikiran mendahului bahkan menentukan perbuatan) lihat Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, 279-80.

[v][v] Lihat pandangan Paul Tillich yang disingkat Moltmann dalam bukunya Theology Today, London: SCM Press, 1988:
…”Although for Tillich theology is ‘a function of the church’, his theology is an authentic theology of culture, since for him the culture with which human beings respond to the questions of their basic situations at all times and in all places,by giving themselves forms of life, is the real vehicle of the religious and the most universal manifestation of the absolute: religion is the substance o f culture – culture is the form of religion. It is the task of the theologian to expound the truth of the Christian message and interpret it a new for each generation. So theologians are caught in a te nsion between the eternal truth and the situation of the time in which this truth is to be perceived….The true task of theology lies in the correlation of tradition and situation, since theology is always ‘answering theology’ : ‘it answers the questions implied in the “situations” in the power of the eternal message and with the means provided by the situations whose questions it answers’ (78-9).
[vi] Lihat Samuel P. Huntington, Who Are We? The challenges to America’s National Identity. New York: Simon and Schuster, 2004

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

The culture of peace is expected to exist in the eschatological time as it is seen in

The culture of peace is expected to exist in the eschatological time as it is seen in
Hos 2:18-22 and Isa 11:6-9.

As we stated yesterday that humans are the ones who decide whether we want to follow God’s way or our own way. It is up to us. Whatever we decide there is a consequence of it. However the optimistic sense is there for God still has maintained the humans’ status as being created in God’s image. It creates hope which is revealed in the eschatological expectation.

I chose two sets of eschatological texts of the Old Testament are pertinent to this part, these are Hosea 2:18-22 (English Translation) and Isaiah 11:6-9.

Hosea 2:18-22

(18) On that day, I will make a covenant for them with the animals in the field and with the birds of the heaven and the creeping things of the land; and bow, and swords and warfare I will abolish from the earth, and I shall cause them to lie down securely
(19) I will betroth you to me forever; I will betroth you to me in righteousness and in justice and in loving kindness and in compassion
(20) And I will betroth you to me in faithfulness and you shall know Yahweh
(21) On that day, says YHWH, it shall be, I will answer to the skies, and they will answer the earth
(22) and the earth will answer the grain and the new wine and the fresh oil; and they will answer Jezreel.

Scholars argue about the date of the composition above whether it is from
Hosea [i]or the redactor either during pre-exile[ii] or exile period.[iii]
If we read carefully the book of Hosea from chapter one, it is stated clearly, like what is stated on Genesis 6-9 that Yahweh is not one who destroys (cf. Hos 11:9). Though Yahweh had been angered by Israel’s attitude (see Hos 2:1-8), and announces punishment to the people (Hos 2:9-13), all these plans and feelings are melted by the compassionate love which Yahweh has for Israel (cf. genesis 9: ). Instead of making Israel’s life miserable with punishment, the compassionate Yahweh tries to persuade Israel t remain in their “marriage” relationship (hos 2:14-17). As a result of this expected reconciliation, Yahweh will do two things:
- God will make a covenant for the people with the wild animals and
- The bow, the sword and warfare will be abolished (broken) from the earth.
It means there is no violence anymore between humans and animals and among
Humans themselves.
It is clear in Hosea 1-2 that the relationship between Yahweh and Israel is in serious trouble. The analogy of marriage points to “a mutual commitment,” they belong to each other. In this case, Israel is the unfaithful partner, Israel does not “know” her husband, Yahweh (Hos 4:1, 6; 5:4; 6:3, 6). Knowing Yahweh here refers to acknowledging the sovereignty of Yahweh who is the almighty and is the source of everything (Hos 2:8).[iv] Yahweh responds to Israel’s betrayal with understanding, compassionate love. Yahweh’s love for Israel will initiate a transformed relationship, in which Israel will “know” Yahweh (Hos 2:19-20). At that time Israel will know Yahweh, and a true relationship between them will come about. Thus, by using the extended terrace pattern,[v] Hosea (or the redactor) proclaims that Yahweh will answer to the heavens, and the heavens will answer the earth, and the earth will answer the grain, the new wine, and the fresh oil[vi] and they will answer Jezreel. As a result, there will be enough food for Israel, a gift from Yahweh (cf. Hos 2:8, 9, 12, and 15).[vii]
Hos 2:18-20 indicates, therefore that when Yahweh brings about the transformed relationship between Yahweh and Israel, Israel will not need fear of animals, war and the lack of food. This is a remarkable declaration of the interdependence among all parts of creation which can not be separated from the interrelationship between the creation and the creator (Yahweh-animals- humans in Hos 2:18 and Yahweh-plants –humans in Hos 2:21).
The well being of the interrelationships among creation can not be separated from the well being of the relationship between Yahweh and Israel; these two aspects are interrelated[viii]. These interrelationships also can be seen in Hoisea’s statement of the consequences if Israel does not “know” Yahweh: there will be chaos on earth (Hos 4:3).

Isaiah 11:6-9
(6) The wolf shall dwell with the lamb,
And the leopard shall lie down with the kid;
The calf and the young lion and the fatling together,
And a little child shall lead them.
(7) The cow and the bear shall feed together,
Their offspring shall lie down;
And the lion like cattle shall eat straw.
(8) The sucking child shall play over the hole of the cobra;
The weaned child shall put his hands on the den of the adder.
(9) They shall not hurt and destroy in all my holy mountain;
For the earth shall full of the knowledge of Yahweh as the waters cover the sea.

Though scholars have had differing views about the content of Isa 11:6-9,[ix] but I understand this part in a literal way.
The combination of the preposition “with” in lines one and two with the adverb “together” in line three, emphasizes the idea of togetherness among animals in v. 6. The animals are not only living together, but also their young feed themselves together. The climax of this stanza indicates that a young child shall lead them. The harmonious relationship among the animals expands to humans, since a young child shall shepherd them.
The repetition of the word “lie down” and “together” is found in v.7 indicates the importance of the central idea, that is, the harmonious relationship between the animals such as the cow and the bear, even till to their generations. The vegetarian idea is appears as inclusion in the second stanza. Te first and the third lines contain the same idea: the cattle, the bear and the lion shall eat straw (taban).[x] Therefore there will be no conflict because of one animals preying on another.[xi]
Three different categories of children are mentioned in V. 8. to point out that the enmity which Yahweh Elohim puts between the snake and humans no lonher exits (Cf. Gen 3:14-15).
Therefore Isa 11:6-8 indicates the harmonious relationship among animals and also between animals and humans, even children. This concept is supported and declared in v.9; they shall not hurt or destroy in my holy mountain, for the earth shall be full of the knowledge of Yahweh as the waters cover the sea.
Like Hosea, Isaiah also understands that peace among the living beings (human and animals) can not be separated from the well-being of the relationship between the creation and the creator, “for the earth shall be full of the knowledge of yew.”

Conclusion:

These two eschatological texts indicate that when Israel knows Yew (Hos 2:20, Isa 11:9), there is a peace interrelationship among creatures (animals- humans- plants/food) and between themselves. Thus there is no violence and automatically unjust and oppression are not exist among them and they have enough food for themselves. This situation was found in the creation period as well (Genesis 1:1-2:4a). However when humans follow their own way, this harmony situation is replaced by tension situation. Among humans and between humans and animals, there are tendency to pray one another. And this is violence; the more powerful being abuses their power on the less powerful being. This is unjust and oppression and this is sin, because the less powerful being has no identity anymore. However being created in God’s image is a hopeful sign for the continuation of life on the earth. It means that being created in God’s image enable us to replace the culture of violence that has been around since the post-creation period with the culture of peace. But being created in God’s image has no meaning if we don’t empower it intedtentionally. We, you and I, must empower our own status in order to know and follow God’s way. It means the culture of peace only be able to replace the culture of violence when humans full of the knowledge of God not of themselves, so that [1]they are called the children of God.
[1]
[i] See James Luther Mays, Hosea (OTL), 47.
[ii] Hans Walter Wollf, Hosea, 48; Buss, The Prophetic Word of Hosea, 33, 109.
[iii] Gale Yee, Composition and Tradition in the Book of Hosea: A Redactin Critical Investigation, 86,88, 142-43, 316-17.
[iv] “Knowing” is an important aspect n the establishment of the covenant between two parties: see Herbert Huffmon, “The treaty Background of the Hebrew Yada,” BASOR 181, 31-7. See also Mays’ view in which he prefers to see it in theological understanding. To know Yhwh means :the whole response of Israel to the acts and words of Yhwh so that the people is defined in its total life by what Yhwh reveals of himself,” see Mays, Hosea, 52; Douglas Knight, Hosea, 31,60.
[v] See Wilfred G. E Watson, Classical Hebrew Poetry, 211-12
[vi] See also Hosea 14:8; Jer 31:12; Amos 9:13-14; 1 Enoch 10:19; 2 Baruch 29:5
[vii] See also Isa 30:2325; Jer 29:17-18; 31:12; 32:24; 38:2; 42:22; 44:12; Amos 9:13-15; Joel 2:19, 24, 26.
[viii] Cf. Hans Walter Wolff, Hosea, 69.
[ix] Some scholar say that the change pictured in the passage is only a symbolic one, see: Edward Kissane, The Book of Isaiah, 136;Chistopher Seitz, Isaiah 1-39, 105-7; see Ibn Ezra’s understanding in M. Friedlander, Commentary of Ibn Ezra on Isaiah, 60. Some think it can be understood in a literal way and was inserted later in either the exilic or post-exilic time, see: George Buchanan Gray, The Book of Isaiah 1-39, 214; Eissfeldt, The Old Testament, 319. And some others suggest it come from the original prophet and is understood in a lteral way, see:George Adam Smith, The Book o Isaiah 1-31, 136,183, 192; SKINNER, Isaiah 1-39, 104; John Brght, Covenant and Promise, 108; Wildberger, Isaiah 1-12, 462-69.

[x] Taban is food for animals, see Exod 5:7, 10-12, 13, 16, 18; Gen 24:25, 32; Jer 23:28; Job 21:13; 41:19; Judge 19:19; Isa 65:25 and 1 Kgs 5:3.
[xi] Cf. salomon B. Freehof, Book of Isaiah, 77.

Bahan PA UEM General Assembly Yogjakarta

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

There needs to be a desire to create a culture of Peace on the earth:

There needs to be a desire to create a culture of Peace on the earth:
“How honored[i] are the Peacemakers, for they will be called children of God.” (Mat 5:9)

Bahan PA UEM General Assembly Yogjakarta

Steps to be followed:

Read Mat 5:9 carefully (3 minutes)
Discuss the questions below (10 minutes)
Read the explanation (7 minutes)
End this bible study with a discussion on the final summary (10 minutes) 1. Read Mat 5:9 2. Question: Why do you think that the culture of peace has to be createdintentionally? 3. Explanation

Though the stage of the interrelationships among the created beings has been revised by God in the post-flood period, humans’ status as beings created in God’s image is maintained (Gen 9:1-7). Therefore humans never lose the knowledge of God. Thus in all areas of life, humans have to decide whether they want to follow God’s way or their way.[ii]

Based on God’s experience in dealing with the living creatures since the creation period, God understands that humans have a tendency to follow their own ways of thinking and the inclinations of their hearts which are evil already (Gen 6:5; 8:21). Therefore we do not need to be surprised if violence is omnipresent (Gen 6:11-13). God’s love for God’s created beings makes God take the initiative to make a covenant with living creatures (Gen 6:18-19; 9:9-17), otherwise these living creatures will destroy not only themselves but also the whole creation.

Though God is quite pessimist about humans’desire to follow God’s way, however we, human beings are the ones who do the actions, you and I. We are the ones who have to decide which way we want to follow. God’s way that bring us to a situation of peace or our own way that brings us to a situation of chaos.

Because peace belongs to God, therefore the culture of peace is the culture of God where justice rolls down like waters and righteousness like an everflowing streams (Amos 5:24).[iii]

In order to decide, the kind of thinking and way of living to be used here is either-or: not both-and. There is no middle road of compromise that combines both. We have to decide which one to follow and then take responsibility for our choice. We have to start to decide! This is the first step but very important! There is a process before we decide something. Yes, that is true. However the process itself also has to be created or done purposely. So that we know for sure what we want to be, which way needs to be followed and what we have to do. Live in the messy world which we are in now where violence is not considered as sinful; where violence is considered as something that is normal, the culture of peace has to be purposely created. Creating the culture of peace has to start from us, we need to train ourselves intentionally to be peacemakers. To be a peacemaker someone needs to have peace within him/herself. Since a lot of us here have called ourselves children of God, is it not the case that the culture of peace is supposed to be prevalent in this world rather than the culture of violence?

How honored are the Peacemakers, for they will be called children of God.” (Mat 5:9).

This is one of Beatitudes (makarisms) that is part of the sermon in the mount which is written in Matthew 5-7. Based on the fundamental difference between makarisms and blessing thus I can say that there is no nuance of reward in this saying, instead it is just stating a fact.[iv] Somebody who is a peacemaker, he or she must be a child of God.

Children of God are the ones who follow God’s way,[v] the ones who understand him/her-self as a created being and God as Creator, the ones who live in the spirit.[vi] Therefore to be a peacemaker, somebody has to be born again. No wonder Jesus is considered as the best example of a peacemaker,[vii]

Who, though he was in the form of God,
Did not regard equality with God as something to be exploited,
But emptied himself, taking the form of a slave
Being born in human likeness
And being found in human form,
He humbled himself,
And became obedient to the point of death- even death on a cross (Phil 2:6-8).

Now, it is time to decide whether God’s way or our own way has to be practiced on earth. If it is God’s way, we have to be born again by emptying ourselves and be obedient to God, and the culture of peace will exist where all people are the peacemakers. We are able to achieve this stage for being created in God’s image is still humans’ status- but if we choose our own way where our minds and hearts are full of evil- the culture of violence where we live now is maintained till God intervenes. We have a right to choose and remember
There needs to be a desire to create a culture of Peace on the earth.

Final summary (10 minutes)
Do you think we are able to create the culture of peace on earth? Give your reasons!

[i] Hanson points out that makarisms (or beatitudes) are not the same as blessing. However to understand makarisms one must examine them in terms of their relationship with the blessing and honor /shame value system of Mediterranean. Honor is a positive social value- it is not simple self-esteem or pride; it is a status claim that is affirmed by community. It is tied to the symbols of power, sexual status, gender and religion. Thus, it is a social system. Honor in Hebrew is asyrey- and makarios in Greek. They are fundamentally an affirmation made by an individual or community about someone else. Blessing is barukh in Hebrew and eulogemenes in Greek. Makarios may be related to blessing but is not synonymous with the terms for blessing. Makarisms are fundamentally different from blessing: they are not words of power; they are not limited to pronouncements by God or cultic mediators; they only refers to humans, and never to god or non-human object; they do not have their setting in ritual; and one does not pray for makarisms, or refer to oneself with a makarism. They are not joyous emotion either. There are three usages makarism in the Old Testament: congratulation for success; congratulation for behavior and congratulations fop those who trust in God. See: KC Hanson, “How Honorable! How Shameful!” A cultural Analysis of Matthew’s Makarisms and Reproaches,” Semeia 68, 1994, 81-112. Based on the explanation above therefore I did not translate this makarism into blessing formula by using blessed as an opening word, instead I use “how honored.” Of course this translation means that my understanding of the content and goal of this makarism is to the “present” situation and not to the future at all. And this is not something offering reward (like blessing) but just stating a fact. Though Collins realizes the difference between makarisms and Blessing however the way he understands Mat 5:3-11 is from blessing formula point of view and considers the present and the eschatological hope is there, see: Raymond Collins, “Beatitudes,” in The Anchor Bible Dictionary vol. I, 629-31; cf. Hans Dieter Betz, “Sermon on the Mount/ Plain,” The Anchor Bible Dictionary vol. 5, 1106-1112; see also Günter Bornkamm, Jesus of Nazareth, 76-77;R. Bultmann, Theology of the New Testament I, 20-1; Wolfgang Schrage, The Ethics of the New Testament, 144-5; Paul D. Hanson, The People Called, 402-3.
[ii] Cf. the idea of the tree of the knowledge of good and evil in Gen 2:9, 17; 3:5. See more explanation on this in Howard N. Wallace, “Tree of Knowledge and Tree of Life,” in The Anchor Bible Dictionary vol. 6, 656-660. Cf. Rom 7:14-25.

[iii] In Hebrew Bible, an understanding of a noun form- justice (mishpat) and righteousness (tsedaqah) are inter-mingled, sometimes these two nouns are used interchangeably in a sentence or a line of poetry, sometimes they are used to complement each other to show the existence of God’s way that God’s commands to be followed by God’s followers, see Isa 1:17; 30:18; 33:22; 56:1; 61:8; Deut 32:4; Pss 33:5; 37:28; 89:15; 97:2; Job 34:12; 37:23; Mic 3:1; 6:8; .Prov 21: 15; 29:4; cf. Gen 18:25 and Job 8:3. These two noun forms most of the time are connected with two other noun forms, there are steadfast love and peace, see: Pss 33:5; 37:28; 72:7; 85:11;89:15; 97:2; Deut 32:4; Isa 16:5; 32:16, 17; Jer 9:23.
[iv] See: Theodore Robinson, The Gospel of Matthew, 27
[v] Therefore be imitators of God, as beloved children, and live in love, as Christ love us and gave himself up for us, a fragrant offering and sacrifice to God, see Eph 5:1. Cf. 2 Cor 6: 14-8; Cf. Robinson, Matthew, 31-2.
[vi] Peace is one of the fruits of the spirit, though I think all spirit’s fruits that are stated in Gal 5:22-23 are interrelated to each other. One fruit can not stand without the others.
7. See Eph 2:15; 2 Cor 5:18-20; Heb 2:17; Rom 3:25; 5:11; 1 John 2:2; 4:10; Col 1:20.

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | 1 Komentar

In the beginning, a culture of peace was proposed by God to make interrelationships among creatures (Gen 1:1-2:4a).

In the beginning, a culture of peace was proposed by God to make interrelationships among creatures (Gen 1:1-2:4a).

Steps to be followed:

Read Gen 1:1-2:4a carefully (5 minutes)
Discuss the questions below (10 minutes)
Read the explanation (7 minutes)
End this bible study with a discussion on the final summary (8 minutes).

1. Read Genesis 1:1- 2: 4a

2. Questions: (10 minutes)

Why do you think P (Priestly) as the writer of this creation story designed the story logically and quite different from the J writer in Gen 2:4a-25?
Why do you think P declared the status of humans (man and woman) together with their role?
Why do you think P explicitly mentioned that the living being (humans and the animals) in the beginning consumed vegetation as their diet?

3. Explanation (7 minutes)

P divides the creation story into six days of activity concluding with a day of divine rest. After creating some of the divisions of time (Gen 1:3-5) and space (Gen 1:6-10), on the third day God creates two categories of vegetation: plants yielding seeds, a n trees bearing fruit with seed in it, each according to its kind (Gen 1:11-13). In this process the earth has the role of bringing forth the vegetation.

After creating the lights of the sky (Gen 1:14-19), on the fifth day God commanded the water to bring forth living creatures in the water, along with the appearance of the creatures in the sky, each according to its kind. God blessed them and pronounced them good.

On day six, God create the land animals (Gen 1:24-25) and humans (Gen 1:26-28). As with the vegetation, the earth still ahs a function in bringing forth the land animals, which are categorized as cattle, everything that creeps on the ground and beast of the earth. The sequence seems to be based on the character of encounter with the animals in ordinary life.

Then as the climax, P specifically emphasize the different character of the creation of humans in Gen 1:26-28. Here P states that humans are created in accordance with God’s image and likeness and are given a role, i.e., the responsibility of ruling (rada (radad)) over the animals and subduing (kabash) [i] the earth.

Though most scholars recognize that P does not fully explain the meaning of “image of God,”[ii] however it is recognize that P emphasizes more the consequences of being in the image of God that is to rule over animals and subdue the earth.[iii]

Scholars have different views of the relationship between the status and the role of humans. It does not matter whether the meaning of “created in God’s image” is understood points to humans as “God’s representative (Von Rad, Jacob, Schmidt, Koehler can be placed here as well), or points to “the relationship between God and humans” (Vriezen, Barr, Westermann and Sarna) or points to “humans and God having a dialogue and a knowledgeable-relationship (Eichrodt), all these observations agree that the ultimate power in this matter is God as creator.

Many systematic theologian scholars misinterpreted this combination. Some of them only emphasize the status and ignore the function of humans, thus the result is the statement that humans has the highest status among creations. Some other scholars emphasize more on the function of humans that is to rule over animals and to subdue the earth, without connecting it with humans’ status. Therefore they have claimed that this verse is a cause of environmental problems.[iv]

P does not put kabash and rada (radad) either in perfect or imperfect form, but in the imperative mood. God commands humans to subdue the earth and have dominion over the animals, thus this role as a caretaker of the earth, not because they want to, but because they are commanded to do so![v] Later in Gen 9:1-17, the role is taken from humans, and the covenant is cut with all flesh, humans and animals.

In Hebrew Bible the word rada (radad) is used in Ezek 29:15; 34:4; Lev 25:43, 46, 53; 26:17; Isa 14:2; 1 Kgs 5:4; 9:23; 2 Chr 8:10; Num 24:19; Pss 49:15; 72:8; 110:2; Jer 5:31 and Neh 9:28. This verb is used in sentences in which the subject has more power than the object. The verb itself does not determine whether the subject of the verb uses power in a negative or positive way. The verb is a neutral one, just indicating that the object of the verb is under the power of the subject. Meanwhile, Kabash in the niphal stem is found in Josh 18:1; Num 32:22, 29 and 1 Chr 22:18 where the subject (the land) is in the inferior position. In Mic 7:19, the subject of the verb is Yhwh and the object is Israel. In 2 Chr 28:10; 2 Sam 8:11; Neh 5:5; Est 7:8 and Jer 34:11, 16, this verb is more often used in context where both the subject and the object are humans who represent different social strata. Generally the subject of kabash has an authority over the object of the verb. However again it does not mean that the subject abuses its authority. It can be seen in the using of this verb in the creation story, the word kabash and rada more indicate to the subject that has a rule as a care taker rather than abusive, it can be supported with the vegetarian idea in the following verse.[vi]

To maintain the living being’s life, God points out that they are to consume vegetations as their diet. The demonstrative particle hinneh, which is followed by the qal perfect of natan in Gen 1:29-30, emphasizes that there is no other choice for humans and animals except eating the plants as their food. [vii]

Finally, God saw everything that he had made, and indeed, it was very good.

The way I see the structure and the content of P’s creation story is not based on a strictly hierarchical system nor an authority without responsibility, but on sustaining the mutual interrelationship within the creation. Within the structures of creation, the physical world, P focuses on the plant, animal and human structures, based on the need of every creature to be in a relationship of harmony.[viii] Note that humans and the animals eat only vegetation. The emphasis that only humans are created directly by God, and in God’s image, has to do with P’s understanding that there has to be one who can serve as the local mana[1]ger of the earth and everything in it.

It is clear that in the beginning all creation lives in interdependent harmony, therefore violence was not supposed to be there, only the culture of peace was allowed there. In the beginning God was the creator who had the highest power, and the creatures were comfortable being as and among creatures. However, humans who were created in God’s image, the ones who supposed to be God’s representative, the ones who supposed to be responsible for God, wanted to take the responsibility for themselves. They want to be the creator, rather than as creatures (Genesis 3). They want to go their own way, instead of following God’s instructions (Genesis 3). It is the beginning of destructiveness not only in humans but also in all creatures, because they are supposed to be interdependent and always will be[ix]. The culture of peace slowly but surely has changed to the culture of violence and finally God cannot take it any longer- enough is enough! (Genesis 6).

Intervention is the one thing that God must do in order to stop evil conditions on earth, otherwise humans will destroy the earth with their evil heart and mind (Gen 6:5-7).[x] Though God let them to keep their status created in God’ image and likeness but humans are not care takers anymore (Gen 9:1-7)

4. Final Summary: the three questions below can be answered all together (8 minutes):

Have we ever considered that no part of creation can live by and for itself?
Have we ever considered that whatever we do in and for our lives impacts on the rest of creations?
Have we ever considered whether we are aware about the two question above, violence can not grow, instead we will declare together with Jesus:
Don’t do to others what you do not want them to do to you!
Love your neighbors like yourself

[1]
[i] Barr and Hamilton agree that the meaning of kabash in Gen 1:28 is parallel with tilling and keeping the land in Gen 2:5, 15 (creation story in J’s version), see Barr, “Man and Nature,” 64; Hamilton, Genesis 1-17, 139-40.
[ii] See Dillmann, Genesis, 82; Sarna, Genesis, 12; Anderson, “Human dominion over nature,” in Creation, 121; Barr, “The Image of God in the book of Genesis-A Study of Terminology,” Bulletin of the John Rylands Library, 51, 11-16; Sarna, Understanding Genesis, 15; Wolff, Anthropology, 159-61; Von Rad, Genesis, 58; and his Old Testament Theology, 146-7; Wenham, Genesis, 32-33.
[iii] Psalm 8 also states that God crowns humans with glory and honor, therefore humans have to mashal everything that Yhwh created, cf. Westerann, Genesis 1-11, 158-9; Von Rad, Genesis, 59; see also his Old Testament Theology 1, 146-7; Delitzsch, Genesis 1, 101.
[iv] Lynn White, Jr. “The Historical roots of our Ecological Crisis,” in Ecology and Religion in History, 15-31.
[v] Even tough rada (radad) in Gen 1:26 is not in the imperative mood, it is still explicitly pointed out that God assigns humans to have dominion over the animals. By using a semantics approach, Barr explores the verbs rada and kabash. He says that rada means “govern, rule, have dominion,” and is used generally of kings ruling over certain areas, of masters controlling servants, of god ruling over his land, ruling in the midst of his enemies, and so on. The verb he says is not a strong one. The verb kabash, “to subdue” is stronger. It can be sued to suggest violent physical movement like trampling own. But this word is applied in Gen 1:28 to the earth, not to the animals. Basically he says that the verb kabash has parallel meaning with abad and syamar in Gen 2:5,15, which the J writer claims as the role of man. Meanwhile the meaning of rada is parallel with mashal in Gen 1:16, 18 as Westermann suggests in Genesis 1-11; see Bar, “Man and Nature,” 62-66; see Hamilton, Genesis 1-17, 139-40. Yoel Arbeian explores the meaning of rada and kabash, as found in Gen 1:26, 28, by using a semantic and text critical approach in his article “In all Adam’s domain.” He investigates the use of the verb yaab that has its root as asah. This verb is juxtaposed with the verb mashal in Gen 1:16, 18; 3:16 and 4:7. In the Aramaic translation Arbeitan says that the four usages of mashal and the two of raah are translated by forms from same root salat. He favors the Jerusalem Bible translation as “rule or be master of.” So he says that the verb means “to rule or shepherd in a neutral sense.” The verb kabash for hikj is to conquer, in the understanding of the first conquest of Israel in the promised land, that is, the freeing and opening of the land of the counity that God wants to stay; see Arbeitan,”In all Adam’s domain,” in Judaism and Animal rights, 33-42.
[vi] Can we say that the permission to eat meat indicates that there is now a greater power tension between humans and animals rather than being based on nutritional needs?
[vii] See Steck, World and Environment, 97,108; Rust, Nature, 99; Zimmerli, World, 41; Wolff, Anthropology, 163; Hamilton, Genesis 1-17, 140; Barr, “Man and Nature,” 62-3; Vriezen, Outline, 224; Von Rad, Genesis, 29-30; Gowan, Eschatology in the Old Testament, 99; Driver, Genesis, 17. Some scholars say that this idea implied also in J’s creation story, see Delitzsch, Genesis, 102-3; Dilmann, Genesis, 87; Robert Davidson, Genesis, 37; Westermann, Genesis 1-11, 208.
[viii] Cf. William Brown,”Divine Act and the Art of Persuasion in Genesis I,” 30-1.
[ix] Notice how the land is cursed by Yhwh because of Humans’s disobedience to Yahweh, see: Gen 3:17b-18, 4:11; 8:21.
[x] According to J, it is a reason for God to send flood to destroy the earth and everything in it.

Bahan PA UEM General Assembly Yogjakarta

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

[1]Violence becomes the dominant post-creation culture and the reason God renews the earth by sending the flood (Gen 6:9-22; 9:1-7)

[1]Violence becomes the dominant post-creation culture and the reason God renews the earth by sending the flood (Gen 6:9-22; 9:1-7)

Steps to be followed:

Read Gen 6:1-22; 9:1-7 carefully (5 minutes)
Discuss the questions below (10 minutes)
Read the explanation (7 minutes)
End this Bible study with a discussion on the final summary (8 minutes)

1. Read Genesis 6:1-22; 9:1-7 (5 minutes)

2. Questions: (10 minutes)

What do you understand by violence?
Mention/ give some subjects and objects of violence that you are familiar with!
Why does violence arise?

3. Explanation (7 minutes)

The culture of peace that God has proposed in the beginning cannot be maintained any more after the disobedience of humans (Genesis 3). When humans start following their own way, God is not their creator anymore. As a result, they have to leave the garden that was prepared for them by God. Their disobedience not only breaks their relationship with the creator but also causes relationships between humans and among created things to be not harmonious anymore: there is always enmity between the snake and woman and her descendants (Gen 3: 15); humans have difficulties in harvesting the food from the land (Gen 3:17b-18); wowan has a difficulty in maintaining the generations (bearing children) and her subordinate status in relation to the man (Gen 3: ) there is jealousy between brothers (Gen 4:5) and resulting in killing (Gen 4:8, 23). There is a sense of violence[i] in all these activities and attitudes. Humanity and life are not honored anymore.

“Now the earth was corrupt in God’s sight, and the earth was filled with violence, and God saw that the earth was corrupt; for all flesh had corrupted its ways upon the earth. And God says to Noah:
“I have determined to make an end of all flesh, for the earth is filled with violence because of them; now I am going to destroy them along with the earth.”
(Gen 6:11-13)

P introduces God’s statement in v.13 by putting P’s own description first in v.11-12. Synthesis parallelism is used to explain the earth’situation: the earth was corrupt because it was filled with violence. P understood that violence is not supposed to exist on earth for in the beginning the earth and everything in it was good, even very good in God’s sight. [ii]

Scholars[iii] have different understanding of violence in Gen 6:11-13. However based on observing the use of the word hamas in Hebrew Bible[iv], it can be said that this noun form expresses several nuances, such as oppressions, injustice and unrighteousness[v]. Von Rad and Kittel state that hamas is one of the concepts that is used by Israel to express their understanding of sin.[vi]

Most of the time violence is done by the one who has more power than the object of violence. Therefore nuances of oppression, injustice and unrighteousness exist in the word and act of violence. However sometimes the objects of the violence change their position to become the subject of violence instead. Usually this happens when the object think that there is no way out except doing violence to its subject. The prominent example now a days is the suicide bomb that has been used by the Palestinians to face Israel.

I think that the violence stated in Gen 6:11-13 was done by the subject who has more power than the object, therefore P understood that they were corrupt.

Humans, who were supposed to be caretakers of the created things, now together with animals destroy the earth. [vii] Therefore there is no way out according to God except destroying them, though just [viii]for the sake of the continuation of life, God needs to preserve some of the living creatures to start afresh. There is no sign of hope in God[ix] to expect some change in the future after the flood era. God has anticipated already that violence will remain on the earth.[x] However created beings were created already[xi]- and have to be continued. Therefore the change is not expected come from the creatures, instead it has to come from God. Thus, God has to revise God’s criteria for God’s creatures (Gen 9:1-7) and God’s blessing has to give for them as God has been given it to the creatures in the beginning.[xii]

Originally humans and animals have consumed vegetation, but at the post-flood era, humans are permitted to kill animals for food, as long as the animal is not eaten with its blood. Because the blood is life and life belongs to God.

Since this period there has always been a tension between humans and animals. P explicitly states that animals have a fear (yare) and dread (hat, from hatat) of human beings. In the Hebrew Bible these two words are used in the sentences, which show a kind of fear of the subject who has strength and multiple powers.[xiii] Therefore violence is always present in the relationship between humans and animals and among humans themselves (Gen 9:5-6), even though P values life very highly as belonging to and created by God. This awareness prompted P to bind the living creatures in the covenant with God (Gen 9:8-17) to guarantee to them that whatever happens, God will never again cause the flood to destroy living beings. Now everything depends on how the living beings conduct themselves.

4. Final Summary (8 minutes):

Do you think violence can be stopped or removed altogether from the earth? If yes, explain how! If no, explain why!

[1]
[i] Von Rad says that the characteristics of the human’s condition after the flood is violence, see Von Rad, Old Testament Theology I, 157
[ii] Gen 1:12, 18, 25 and 31.
[iii] See Cassuto, Genesis 2:52; B. Jacob, Genesis, 48; Sarna, Genesis, 51; Leupold, Genesis, 266-7; Wenham, Genesis 1-15, 171.
[iv] See: Gen 49:5; Ex 23:1; Deut 19:16; Is 53:9; 59:6; 60:18; Jer 6:7; 20:8; Ezek 7:23; 8:17; 28:16; 45:9; Amos 3:10; 6:3; Mic 6:12; Hob 1:2; Zeph 1:9; Mal 2:16; Pss 11:5; 18:49; 25:19; 27:12; 35:11; 55:10; 73:6; 74:20; 140:12; Prov 3:31; 10:6, 11; 13: 2; 16:29; 26:6; Job 16:17; 19:7; 1 Chr 12:18
[v] To introduce Noah as a righteous person purposely aims to contrast his actions with the rest of the population, see: Gen 6:9; 7:1 (J).
[vi] See Von Rad, Old Testament Theology I, 263; Kittel, Bible Key Words, 15. See also Job 19:7 and Yehz 45:9.
[vii] P seems to add kol basar (all flesh) as a new character in the narrative in Gen 6:12, because P wants to say that humans and animals alike had corrupted the earth. If P wants to state that only humans were the cause of the corruption, P would have used adam instead of kol-basar, as P specifies adam in Gen 7:21 and 9:6. In Genesis 6-9 it is clear that if kol-basar stands by itself, the phrase points to all living being, that is, humans and animals, such as in Gen 6:12-13; 7:21-22 and 9:6, 11, 15-16. This view is also supported by God’s statements in Gen 9:2-6. Yes kol-basar used in certain special context, preceded by a preposition, or in the construct form (with another noun), refers to the animals only, as in Gen 6:19; 7:15, 16 and 9:15, 16. However J understood that human is the only creation who destroy the earth, see: Gen 6:5 and 8:21.
[viii] It seems that God has no high expectations for humans to live in God’s way, see: Gen 6:5 and 8:21.
[ix] There is no mandate anymore for humans to be caretakers of the earth when God has to revise God’s criteria for God’s created beings, however humans’ status as created in God’s image is maintained, see
Gen 9:1-7; cf: Gen 6:5 and 8:21 (J).
[x] See God’s revision of the interrelationships among creatures in Gen 9:1-7.
[xi] Cf. Gen 6: 6, 7: God is sorry that God has made them (humans).
[xii] God’s blessing which is revealed in the capability to multiply, given in the beginning of time (Gen 1:1-2:4a), the first thing commanded by God after the flood (Gen 8:17), and occurs twice as an inclusion in the post-flood story in Gen 9:1-7.
[xiii] Yare is found in Deut 11:25; Mal 2:5; Isa 8:12,13 and Ps 76:12. A noun form of yare refers to the fear of Yhwh. Hat is found only in Job 41:25.

Bahan PA UEM General Assembly di Yogjakarta

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

Thema: BERUBAHLAH OLEH PEMBARUAN BUDIMU (Roma 12:2b)

Thema: BERUBAHLAH OLEH PEMBARUAN BUDIMU (Roma 12:2b)

Tulisan ini sebagai bahan PA yang dikirim keseluruh gereja anggota PGI dalam rangka Sidang Raya PGI 2004

Thema PA diambil dari Roma 12:2b yang merupakan bagian dari Roma 12:1-2 yang adalah pembukaan bagi Roma 12:1-13:14.[i] Untuk pembahasan PA Thema pagi ini saya sengaja menekankan hanya ayat 1-2 yang walaupun hanya berperan sebagai pembuka dari 12:1-13:14 atau 15:33, tapi isinya sudah mencakup tidak hanya pokok pikiran kitab Roma tapi juga pemikiran Paulus secara keseluruhan.

Roma 121:1-2

(1) Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan[ii] kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati[iii]

(2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kemurahan Allah[iv]

Aku manusia celaka! siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?[v]. Di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-angota tubuhku [vi]

Sebagai orang Yahudi dan yang berguru pada Gamaliel, yang tinggal di dan berwarganegara Romawi, sepertinya agak susah untuk melepaskan diri dari gaya bahasa dualisme yang ada dalam pengajaran Gnostik dan Stoa yang berlaku saat itu. Sepertinya batin dan anggota tubuh dipertentangkan secara antagonistik, begitu juga antara hukum Allah dan hukum dosa; antara tubuh/daging (flesh/ soma, yang paralel dengan dosa) dan roh (kebenaran); antara hamba dosa dan hamba kebenaran (6:15-23); antara perbudakan dan kemerdekaan (Roma 8:18; Galatia 4:1-10; 5: 1-15). Namun, dalam pengertian, Paulus berbeda dengan para Gnostik.[vii] Paulus mengerti bahwa semua anggota tubuh, termasuk batin sudah jatuh dalam kuasa dosa[viii], walaupun ia suka akan hukum Allah.[ix]

…Bahwa di dalam aku , yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang membuatnya, tapi dosa yang diam di dalam aku (7:18-20).

Kuasa dosa bahkan sudah menguasai semua.

…Tidak ada yang benar, seorangpun tidak (3:10b),… semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (3:23)

Ketidak-mampuan manusia untuk berbuat yang baik semakin terpuruk ketika diperhadapkan dengan hukum Taurat. Hukum taurat membuat jarak antara manusia dengan kebenaran semakin jauh. Dan kelak bermuara kekefatalan.[x] Allah harus berginisiatif bertindak menyelamatkan manusia dari keterpurukannya yang perlahan tapi nyata menuju kekehancuran. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus yang diberi gelar Kristus, Allah melakukan rekonsiliasi dengan manusia. Semua yang dibaptis dalam Kristus, yang disebut Kristen, menjadi satu dengan kematian dan kebangkitanNya. Sehingga manusia lama orang Kristen seharusnya sudah mati di Golgota, dan yang hidup sekarang adalah manusia baru yang bukan hamba dosa (6: 1-8). Perubahan status dari manusia lama menjadi baru hanya bisa terjadi oleh kemurahan hati Allah semata (sola gracia- sola fidei), sehingga:

Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati[xi]

Bagian ini akan[1] sangat jelas kalau kita melihat 1 kor 3:16 dan 6:13-20. Di kedua bagian ini hendak menekankan bahwa tubuh adalah kedirian manusia seutuhnya yang dimengerti sebagai bait Allah dimana roh Allah tinggal di dalamnya, dan merupakan milik Kristus. Sehingga orang Kristen seharusnyalah mempersembahkan tubuhnya kepada Allah, bahkan kehidupannya, dan berupaya untuk tetap menjaganya sebagai persembahan yang kudus dan berkenan pada Allah. Inilah ibadah yang sejati (Soli Deo Gloria)[xii]. Penyerahan diri dan kehidupan yang total pada Allah.[xiii]

Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai sebagai senjata kelaliman , tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Serahkanlah anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata senjata kebenaran (6:12-13)[xiv]

(2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini[xv], tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu[xvi] sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Menjadi serupa atau mentransformasikan pikiran?

Berani tampil beda, adalah anjuran yang diperintahkan oleh Paulus di ayat 2 ini. Jelas keberanian tampil beda harus didasari oleh pola pikir yang baru,[xvii] yang berbeda dari cara pandang dunia ini, karena dosa sudah masuk ke dalam dunia (Rom 5:12) [xviii].
Dosa yang menjadi sumber malapetaka bagi seluruh ciptaan tergambarkan seperti satu ciptaan yang begitu berkuasa (Rom 6:6, 7,12,13) yang dimengerti Paulus sebagai keberadaan yang ada bahkan sebelum adanya hukum Taurat (Rom 5:13) dan Yesus diutus ke dunia karena dosa (8:3) dan Allah telah menjatuhkan penghukuman atas dosa di dalam daging (8:3; lihat juga 7:23).[xix] Dosa memisahkan manusia dari Allah[xx], kita hidup tapi kita mati (upah dosa adalah maut)[xxi]. Upaya orang Kristen adalah dengan bantuan roh[xxii], harus selalu memperbaharui diri (memperbaharui pola pikir yang dimengerti sebagai yang memotivasi tindakan, sehingga pola pikir dan tindak adalah sejalan[xxiii]) dianjurkan disini, untuk mampu berperan sebagai garam dan terang. Peran roh perlu ditekankan disini mengingat sedikitnya gereja-gereja kita memberi perhatian pada peran roh kudus. Perlu disadari bahwa tidak ada seorangpun yang tahu pasti kehendak Allah jika pikirannya tidak diperbaharui oleh Allah.[xxiv] Kosongkan diri. Biarkan roh Allah memasuki diri. Mulailah bergaul dengan Allah. Milikilah pengalaman pribadi dengan Allah, seperti Paulus, sehingga pengalaman itu mengasilkan teologia-teologinya. Marilah kita saling bertolong-tolongan sesama perempuan Kristen, sesama jemaat Allah, untuk mencari kehendak Allah melalui bergaul dengan Allah, dan ini memampukan kita untuk menjadi pelaku keadilan, kesetaraan dan perdamaian.

————————–
[i] Lihat Van den End, Surat Roma, Jakarta: BPK, 2003, 650. Norman perrin dan Dennis Duling mengertikan Roma 12:1-15:33 sebagai bagian besar yang kelima atau yang terakhir dari isi kitab Roma. Bagian besar yang pertama 1:18-3:20; kedua 3:21-4:25; ketiga 5:1-8:39 dan keempat adalah 9:1-11:36, lihat The New Testament and Introduction, New York: HBJ, 1982, 189-96. lihat juga Charles yang membagi 12:1-15:33 menjdi dua bagian yaitu 21:1-13:14 dan 14:1-15:13, lihat Charles Myers, the Anchor Bible Dictionary, vol. 5, 824-25;
[ii] Saya pikir kata menganjurkan lebih tepat digunakan di sini.
3 NRSV menuliskan spiritual worship, or reasonable.

[iv] lihat juga 2 Kor 1:3 dan Fil 2:1
[v] Rom 7:24
[vi] Rom 7:22-23
[vii] Bandingkan Frederick C Grant, An Introduction to the New Testament Thought, 168 yang menuliskan bahwa Paulus tidak beranggapan bahwa tubuh itu dosa (as in the Old Testament the flesh is weak, but not in itself sinful. It provides the occasion for sin (cf. Roma 7:8,11) the point at which sin finds lodgment in a human being—for the seat of sin is in the will, in the consent of the mind, in the weakness of mortal flesh. Pengertian ini saya pikir bisa dibandingkan dengan Kej 6:5 yang menerangkan sebab dari adanya air bah sebagai bentuk penghukuman dari Allah.
[viii] Grant menuliskan …only in Paul sin is viewed as the corruption of man’s whole nature, to such degree that human nature is in need not only of redemption and cleansing but of total transformation and renewal, An Introduction, 175; bandingkan dengan Martin Dibelius and Werner Georg Kummel, Paul, 112-13.
[ix] Paul Tillich menuliskan…it is not a mater of balance sheets between good and evil that the words express, but rather a matter of our whole being, of our situation as men, of our standing in the afce of eternal- the source, aim, and judge of our being. It is our human predicament that a power takes hold of us, that does come from us but is in us, a power that we hate and at the same time gladly accept. We are fascinated by it; we play with it; we obey it. But we know that it will destroy us if we are not grasped by another power that will resist and control it. We are fasicinated by what can destroy us, and in moments even feel a hidden dsire to be dstroyed by it. This is how Paul saw himself, and how a great many of us see ourselves.” The Eternal Now, 48.
[x] Martin Dibelius and Werner Georg Kummel, Paul, Philadelphia: The Westminster Press, 1966, 118
“the law is holy, and the commandment is holy and just and good (Rom 7:12), but as man would have to fulfill, and yet cannot fulfill, all the requirement of the law, the law has no longer any power, except o show man how lost he is before God and to sink him deeper and deeper in his helplessness (Rom 3;20; 5:20)
[xi] Kausner berpendapat bahwa pikiran ini didapatkan paulus dari gurunya Gamaliel yang adalah murid dari Hillel, karena ajaran ini mirip dengan ajaran Hillel
…since man was created in the image of God and hence his body is like “the statues of kings” entrusted to keepers to guard and keep clean. Lihat Joseph Klausner, from Jesus to Paul, 554. Tapi Dodd berpendapat bahwa pikiran ini sangat dipengaruhi oleh ide bahwa gereja adalah tubuh Kristus, sehingga diidentifikasikan dengan Yesus sendiri di dalam pengorbanan dan kepatuhannya kepada Allah di dalam kehidupan dan kematiannya (1 Kor 11: 23-26), lihat Ch Dood, 191
[xii] Karl Barth, The Epistle to the Romans, New York: Oxford University Press, 1957, 431.
[xiii] Bandingkan Gunther Bornkamm, Paul, New York: Harper and Row, 1969, 130. Guthrie berpendapat bahwa bagi orang Kristen yang penting bukan lagi keinginan dirinya, melainkan kehendak Tuhan, lihat Teologi Perjanjian baru, 285.
[xiv] Anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan (6:19)
[xv] Dunia ini atau waktu kini (zaman ini).
[xvi] Dalam NRSV dituliskan: Do not be comforted to this world (this age) but be transformed by the renewing of your minds. Jadi LAI memakai budi, karena hendak menunjukkan perubahan kelakukan manusia, bukan perubahan pikiran saja, lihat Van den end, Surat Roma, 658.
[xvii] Guthrie berpendapat bahwa Paulus mempertimbangkan pola pemikiran sebagai yang penting dalam pembentukan watak Kristen (pemikiran mendahului bahkan menentukan perbuatan, lihat Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, 279-80.
[xviii] Paul Tillich menuliskan,… this eon means the state of things in which we are living , which is, according to Paul, a state of corruption, The Eternal Now, 137.
[xix] Bandingkann Martin Dibelius and Werner Georg Kummel, Paul, Philadelphia: The Westminster Press, 1966, 111.
[xx] Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah. Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah 8:7-8.
[xxi] Efesus 2:1; Roma 8:3, 1 Kor 15:26.
[xxii] Lihat Gal 5:16-26; 1 Kor 12-14; 2 Kor 3; Roma 8. Dibelius menuliskan tentang besarnya peran roh dalam Paulus, … Paul was able simply to take for granted as regards both his own and the other churches, that every Christian had received the spirit as a supernatural gift connected with his conversion….There is no doubt that the young Christian churches experienced extraordinary things in their midst: cures and other mighty works…Prayers, too could be the gift of the spirit,…. But Paul clearly emphasised too, that not only wonderful and striking phenomena but also all the powers of the new life, such as love, kindness, gentleness, and chastity were “the fruit of the spirit” (Gal 5:22). Indeed, the gift of guiding the churches, and everything that was done in them in word and deed, doctrine and help was to him a revelation of the new power that ruled in the churches- the divine spirit, Martin Dibelius and Werner Georg Kummel, Paul, 92-3.
[xxiii] Dan inilah keberadaan manusia baru yang seharusnya. Saya sendiri berpendapat bahwa berteologia seutuhnya adalah dimana pola pikir, ucap dan tindak sejalan, lihat Minda Perangin angin, Berteologia seutuhnya, Jurnal Teologia Beras Piher, vol. 1.
[xxiv] Bandingkan The Interpreters Bible vol 9, 582.

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

I Corinthians 1: 26-31

I Corinthians 1: 26-31

We will ask after reading these verses ‘why did Paul write like that? What happened in the Corinthians’ congregation? If we look at the preceding verses we notice that the congregation is divided. Some members of the Corinthians congregation think that they are better than others, for they became Christian through Paul, some others because of Apollos, and each person thinks that he/she is a better qualified Christian than the other. So Paul says:’ weren’t you all baptized in the name of Christ, and so all of you belong to Christ. You do not belong to Paul, Apollos or other missionaries! No one is better than the other!’

He continues by saying: Let’s remember your situation when God called you, not many of you were wise, powerful or noble by human standards, but God did call you! God chose what is foolish by human standards to shame the wise; God chose what is weak by human standards to shame the strong. So God has His own standards, His own criteria. Don’t ever think that if you think that you were chosen or called by God because of what you are “something or someone special” No, and No!! There is no human criteria that can be applied to God! God chose you not because of you, but because of He wanted to choose you! You don’t contribute at all to your calling.

Nobody in the Corinthian congregation contributed anything at all to his or her calling; therefore no one has a right to boast! And everyone present here in this congregation doesn’t contribute at all to his/her calling. So don’t ever say that you are a better or more qualified Christian than others. Not only the Corinthians congregation is so polluted by human standards, all Christians in the world have been polluted already! We analyze ourselves, our family, our friends, society, and country according to human standards. No wonder the result is chaos, war, hatred, enmity, corruption, destruction in the family and of the environment, nepotism, sickness, killing, frustration, alcoholism, drug addiction, and what ever else you want to add.

How can we use and apply human standards in our life and family when we know that the human self is the only one of God’s creation who has the most tendencies not to obey God. Human standards are what divide us, all human beings. There is rich and there is poor, there is good and there is bad, there is pretty and there is ugly; there is clean and there is dirty. Though all criteria are relative, but those criteria divide us, make us feel bad, to feel less, to be arrogant by claiming that I am better than the next person; richer; clever; prettier, more capable !Have we ever felt this kind of feeling?

We are so proud of ourselves because we think that we are successful men or women by having a degree, car, a good house, our children get a good education by studying at the best school in Medan (best by human standards!) we are proud of ourselves because we think and feel that we already fulfill all human requirements to be successful!

So we also apply these criteria to others, and analyze others by our own criteria, so we consider some one who has no degree, no car, no house, whose children studies at public school, has failed to achieve the human standards of success! Therefore no wonder we always look up to the rich ones, to the ones who hold the highest degree in education, to the powerful people, and we look down on the people who aren’t rich, well educated or powerful! Answer me honestly, could you treat them equally, if the Governor of north Sumatra and a beggar come to your house!

In Christ there is no rich, no poor, no pretty, no ugly, no better Christian and less qualified Christian, no Chinese, no Tobanese, Karonese, no white, no brown, no black, no men, no women, no Methodist church, no Karo church, Toba church, all are the same, belong to Christ! This is the point! God doesn’t apply human criteria, if God Did, not one of us could fulfill His standards, because God’s standard is love! Whoever you are, whatever you are, wherever you are, God loves you with no conditions attached! Brothers and sisters in Christ, have you ever felt so tired, so frustrated, so worried in trying to achieve human standards. We work so hard, spend all of our energy and time to fulfill human dreams to have a house at villa Polonia, Taman setia budi, what ever you think the most expensive area in Medan is ; to have a BMW or Mercedes,Or Jaguar or Ferrari whatever you think the most expensive car is in Medan; to work so hard and use all your political contacts and pull strings be mayor, governor, director or manager of a company.

Have you ever realized that when you try and work at something beyond your capacity you are destroying yourself and your family! You become so distanced from yourself, your family and your environment! Sometimes you don’t know yourself anymore! All these human standards already occupy your mind, all yourself! You think that before achieving all that humans’ value you have no status in your family or society! We worry too much about not to having status in our family and society than through God. We just use God to help us to achieve all that status, all the things that God doesn’t care about! For how long and how much have we been hurting God! When you have already achieved what you dream, are you satisfied with your achievement? Are you happy with your achievement; is your family happy with your achievement? What is your situation within yourself and in your family When you achieve your dream? Remember that the Bible warns us that there is a tendency in human being not to be satisfied, to be greedy, to want more and more, and to have more and more, humans do not like the words: limit, stop, enough.

Paul says! By human standards you are not qualified, but Christ chose you! Christ isn’t interested in all our standards! I don’t know what you did to close the year of 2000 and to open the year of 2001. I feel so sad if all that you did were the things that fulfill the human standards: such as spending lots of money on parties, hotels, or other things that are just for pleasure but have no meaning for yourself and your family! Let us turn round 180 degrees in the year of 2001 by using and trying to achieve God’s standard that is love. So for the year of 2001 let us live in Christ > that is to love everybody! To appreciate everybody.

Let us not using the human standards that have divided us up in our lives anymore! Let us consider that everyone is equal to us, not judging them based on who and what he or she is! Let us go to the one who feels so bad because we never treated them as a human being, like we treat ourselves, let us use this year, the year of 2001 as the year of reconciliation with all the people we have been hurting because of the human standards that we have applied that are so deeply embedded in our way of living. Let us live in Christ: that is to apply Christ’s standard as the foundation of our way of life in the year of 2001. The result will be a family, a community, a congregation where everybody helps each other, supports each other, prays for each other, there is no hatred, no jealousy, no gossip, quarrelling, no selfishness, slander, conceit and disorder!

Kotbah yang disampaikan dalam ibadah penutupan pertemuan para bendahara anggota UEM di Retreat center Sukamakmur

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

HIV-AIDS To Have or Not TO Have, it is not a Question.

HIV-AIDS To Have or Not TO Have, it is not a Question.
A Question is What the Church Should Do for the New
Phenomena in This World ?

It is a good progress that we are in Asia generally and Indonesia (more specific North Sumatra) in particular, agree to talk and find solutions in dealing with HIV-AIDS.HIV-AIDS is not a new phenomenon. In Indonesia, Mass Media has been perceiving and participating in socializing about it since the eighty. [i] It is a pity, religious institution, in this case, the church, as always, is late for responding to the society’ situation. Thus, it is not surprising that church still plays no role to determine the society’s direction.[ii].

Why church be as a latecomer for this issue? There are two important causes:

The fragmentarical way of thinking. There is an understanding that HIV-AIDS is not my problem because it is not in my back yard. It is something some where out there. Thus, I do not need to care about it. Who can deny that act of damaging the protected forest Lauser in North Sumatra will give an impact for the people who live in other continents in the world? We are living in one world that everything in it is interrelated.[iii] So that our passive attitude toward the destructive behaviour that disturb the wholeness of creation (HIV-AIDS is one of that) is not a right attitude that supposed to be shown by humans to whom God gave a mandate to be a care taker of the world,[iv] and by the church as a gathering of the people called by God.[v]
Claiming that HIV-AIDS is God’s punishment for people who misuse their sex. We say: “They deserve it.”[vi] Has Job not [vii] already acted against the retribution way of thinking that was proposed by the Deuteronomist[viii] since four century before Christ? Is it not the case when definitions are given to God, God is not God anymore? [ix]

I agree with an understanding that there is a purpose in every occasion. Whether the occasion is understood as the happy one, or a sad one, or a tragedy or even as a miracle one, it is a result of our interpretation. We always have different understanding from God for we don’t abide in God anymore.[x] Whereas actually the purpose of creating the status of humans in God’s image is to solve this matter.[xi] Is it not the case that the existence of all chaotic phenomena every where now, because of our will be done and not God’s?[xii]

I don’t think we need to waste time for debating theologically about whether HIV-AIDS is God’s punishment or not. Theology that is found in the Bible is always contextual. It has an impact on its situation and is created based on the writer’s eschatological expectation.[xiii] Thus, doing theology is never end. Consequently, church has to perceive and be creative in dealing with the spirit of every ages. I also think that it is no need to have divisions in the church because of the differentiation of ideas on some issues.[xiv] The most important thing that we need to be aware of is that this pandemic is a wake up call[xv] for all of us, more over, it is a noisy wake up call for church that is failed of preventing its people and the world from getting it. This wake-up call determines that people must change their understanding of and attitude toward sex. And this is the case.

Social Sciences are very progressive in the State, particularly psychology and its connection with Pastoral counseling. Americans way dominates the world’s way of thinking and life in dealing with humanity’s problems. Humans are allowed to express freely and fully about themselves, their thought and need. The impact of this kind of expression in the society is not so much considered. Thus, there is a tension between individual’s right and community’s. Let alone if the Law and all professions that suppose to apply the law can not be functioned properly, there will be a total confusion in the society. It is going into horrible situation if the religious institution, such as church has no courage to take a stand in stipulating its rules and ethics.[xvi]

There is a tendency that the liberal voice dominates in the ecumenical institutions, while that voice is not popular in the local congregation.[xvii] Sometimes there is no distinction between the voice of the ecumenical institutions and NGO’s. Also there is the juxtaposition between the United Nation’s program and the ecumenical institutions’. While we know that NGO and United Nations financially really depend on the multi-corporations and the G7. I do not know whether the ecumenical institutions/ and or church want to deal with the trend issues just for being in the politically correct attitude. However I do not think that church need to adapt itself in the modern world, new social and political tendencies.[xviii]

Is it not the case that when we talk about HIV-AIDS, we talk about sex, its meaning and function? Is it not the case when we talk about sex’s meaning and functions, we also need to talk about marriage and having sex before and after marriage? Is it not the case that when we talk about having sex before and while marriage, we also need to talk about Abortion, Single Parent and Divorce? Also is it the case that when we talk about sex, its meaning and function we need to talk about homosexual?

So, are we ready to redefine the new concept of family, sex, marriage, divorce, etc? What is the function of the Bible to accomplish this task? Can hermeneutical approach help us in doing so, or must the authority of the Bible be questioned? However we believe in Sola Gracia, Sola Fidei and Sola Scriptura. Whatever is the answer, we need to do something.

Sexuality need to be reversed to its original form and function as a bless from the Creator in order to continue the generation.[xix] We are given a right to enjoy God’s blessing.[xx] However sexuality and all God’s blessing are still blessing as long as they are put in the God’s order.

Talking about sex is talking about relationship. Talking about relationship is talking about covenant (berith). It contains a deep understanding. Though there are some arguments among the Old Testament scholars on the substance of Old Testament Theology, however Eichdrot has stated that the foundation of the Old Testament theology is a covenant idea. A covenant that binds relationship between Israel and YHWH; between us and God[xxi]; between husband and wife.[xxii] Yahweh is the one who initiates the covenant, thus Yahweh also is the one who determines the rules in the relationship. “You shall be holy for I am holy” (Lev 11:45).[xxiii] Faithfulness and steadfast love[xxiv] are the foundation of perpetuating the covenant.

Therefore, of course the HIV-AIDS infected peoples must be consoled, helped and given guidance by the church.[xxv] However does the church prevent its people, whom are created in the image of God, whom are supposed to live as a new born people by Christ (imitation Christ), from getting it?[xxvi] Do we need to propose the new ethics by revising some of dogmatic statements, such as about sex, marriage, divorce, etc? Do we agree that what is happening now and what we want to decide after this meeting supposed to be in a form of anticipation of the coming of God’s reign?[xxvii] Do not we think that it is a time to see our theology as a whole? I mean what we teach in catechism parallel with church’s teaching, and also accord with the practice of the church in every segment such as pastoral counseling. I think we are facing a lot of home work now.

[i] See the article’s collection that is put in a book by Kompas, Irwan Julianto, Jika Ia Anak Kita. Aids dan Jurnalisme Empati.Jakarta: Kompas and the Rockefeller Foundation, 2002, xi.
[ii] Jurgen Moltmann writes: “Many people who are working for liberation in one way or another no longer expect anything from the church. Many others, who are living in the church, have become so blind that they no longer see that the need to free the oppressed has a Christian justification. They do not see because they do not want to see. Unless the churches are rescued from their imprisonment in the ruling classes, races and nations, there will hardly ever be a rescuing church. Jurgen Moltmann, The Future Of Creation, Trans, by: Margaret Kohl, Philadelphia: Fortress Press, 1979, 105-6.
[iii] This understanding clearly put by Priestly writer in Genesis 1:1-2:4a. However it can be seen in Gen 2:4b-15 as well.
[iv] See Gen 1:26, 28; cf. Gen 2:5, 15; Psalm 8:6-9.
[v] I understand the church as a gathering of the people called, though there is no agreement among scholars whether the term ekklesia come from the idea of ‘to call out’ as seen in the word combination ek-kaleo. Ekklesia is a secular word in Greek and usually means a gathering or assembly. But the first Christians, who were Greek speaking, designated themselves as ekklesia/or ekklesia tou theou based on their understanding of qahal Yahweh in the OT. See: Robert Nelson, The Realm of Redemption. Studies in the Doctrine of the Nature of the Church in Contemporary Protestant Theology, 5-9. See also Richardson in quoting K. L Schmidt’s suggestion on p. 285-6. Barr disagrees to say that ekklesia can represent the understanding of qahal Yahweh, see James Barr, The Semantics of Biblical Language. London: SCM Press, 1983, 119-29. See also Kittel’s explanation about how difficult it is to find the real meaning of the term based on its etymology, since the meaning of a word always develops, becoming either broader or narrower, see Kittel, Bible Key Words, New York: Harper and Brothers, 1951, 57-61. Based on the motif of God’s calling, such as:
1. to live lives worthy of God in Eph 1:18; 4:1,4; 1Thess 2:12; 1Tim 6:12; Gal 5:8; 1 Pet 2:21
2. to live in holiness in 1Thess 4:7; 1 Pet 1:15; to be God’s witnesses in 1 Pet 2:9
3. to be a blessing for others in 1 Pet 3:9
4. to always learn to know God so the people called can grow firm and mature in their calling and election in 2 Pet 1:3,10);
5. the people called are free (connect the idea with rebirth) and now belong to God only in 1 Cor 7:22; Gal 5:13; Rom 1:6
6. the people called have to be faithful to God as God, God self is a faithful one in Heb 3:1; Rev 17:14; 1 Thess 5:24.
and the idea of to call out, church means to do a service to God and people. To be church means to be active: Worship to God, and to perform the calling. Thus the aspects of koinonia, diakonia, and to be the witness to the world (marturia) are there.
[vi] Until now in Asia, generally the HIV- Aids is caused by and spread through having free sex, before and after marriage. Getting the virus through using the same needle is getting increase in number lately, for drugs is so much common now.
[vii] The message of the book of Job is an opposition against the retribution idea – that is so much established in his society at that time- was created by the Deuteronomist in the sixth century BC.
[viii] The main writing of the Deuteronomist is found in Exodus 12-25. Later the school also composed the history of Israel in Joshua, Judge, 1-2 Samuel, 1-2 Kings, and has a big role in editing almost all the prophetic books in Exile.
[ix] As long as the definition about God came from humans who are part of creations, the definition can not be absolute. The absolute one is God God-self. How can the limited definition can cover the unlimited God?
[x] See John 14:10-11; 17c, 20; 15:1-8 / Jesus the true vine and 15:9-11). John did not propose the mistical understanding when he used the preposition “in”. However he wants to emphasize that Jesus’ word is God’s; Jesus’ deed is God’s; what ever Jesus says and does it is to accomplish his mission from God ( Yoh 8:28; 12:49-50), therefore all his doing is accord with God’s desire (8:28). Proof of his word materialized in his action, and if his word isnot enough, just look at his action (17:4 see Verkuly. Injil Yahya, 186-7, 197; Raymond Brown.The Gospel According to John, 631-33. Therefore the mutual accord between his word and deed shown his recognation and faithfulnees to the owner of the word (Yoh 15:1-8; 9-11).
“ Now by this we may be sure that we know him,if we obey his commantmennt.Whoever says, “I have come to know him,” but does not obey his commantments, is a liar, and in such person the truth does not exist;but whoever obeys his word, truly in this person the love of god has reached prefecion. By this we may be sure that we are in him. Whoever says,”I abide in him,” ought to walk just as he walked.” (NRSV 1 John 2:3-6).
Life in Christ means that is based on word and deed of Jesus who has died and arised (Rm 6:1-14; 8:10; Kol 2:6; 1 Tes 2:12; Gal 2:20; 1 Yoh 2:6.) and not based on our will, power or the current trend. Thus Life in Christ is life of a reborn person that is always full of hope (Roma 5:2,4,5; 8:24; 12:12; 15:4,13; 1Kor 13:13; 1 Pet 1:3,13,21) and it is life in spirit as well (Roma 8:5-6, 9-11; 12:9-21; Gal 5:16-26; Kol 3:5-17.) and it must reveal justice (Ef 5:9; 6:14; cf 1 Tim 6:11; 2 Tim 2:22; 1 Br 1:9) and the right thing (1 John 2:29; 3:10,19). Compare this idea with the covenant idea in the OT. You have to be holy for I am holy. Therefore no one who abides in him sins (1 John 3:6a,9a,c; 5:18a; Raymond Brown, The Epistle of John, 383-420.
[xi] Cf Gen 1:26-28; Gen 9: 6. This phrase is understood by some OT scholars as one possible model for theological ethics in Israel, see John Barton, “The Basis of Ethics in the Hebrew Bible,” in SEMEIA 66, 1994, 11-22. While it is also used by some people to be a reason to care for the HIV-AIDS people. Imago Dei is also as a basis for the community life, therefore there is no tension between individual and community. It needs to be understood that OT theology is the ethics. Cf also Rm8:29, for those whom he foreknew he also predestined to be confirmed to the image of his son.”
[xii] Cf. Your will be done, on earth as it is in heaven; Jesus’ pray in Gethsemane.
[xiii] The creation idea in Genesis is repeated in the eschatological expectation that is found in Isa. 11:2-9; 65:25; Hos. 2:10; Ezek. 34:25; cf. Jurgen Moltmann, “Liberating And Anticipating the Future,” in Liberating Eschatology, Kentucky: John Knox Press, 1999, 189-208.
[xiv] It happens in the PC USA and the Methodist church of USA, see Leon Howell, United Methodism: A Risk. A Wakeup call. New York: United Methodist, 2003. This tension affects the financial factor in the church. The right wing that is considered as the conservatives and also as a dominant source for church’s financial, withdraw its money from the church or does not want to contribute its money to the church anymore. Thus there is a quake in the church, not only effects its dogmatics and rules, but also numbers of its workers. This case also can be applied to the ecumenical institutions, such as WCC, CCA, NCC, PGI etc.I think we need to be aware of the increasing numbers of people who go to the church that belong to the evangelical and fundamentalist Protestant. Cf. Harvey Cox, Religion In the Secular City, New York: Simon and Schuster, 1984.

[xvi] Can we say that the church itself is in the crisis identity situation lately?
[xvii] Our task is how to converge these two poles. Otherwise each pole goes by itself and it won’t ever be a real theology. Or in other words I want to say that how we can converge the liberal and the conservatives to deal with the current issues?
[xviii] In this case I agree with Moltmann, The Future of Creation, 106, Though I want to add that we also need to consider our own context (culture and tradition).
[xix] Part of the living creatures’ obligation is to multiply them selves. This is stated as Elohim’s blessing to animals in Gen. 1:22 and human beings in Gen 1:28, but not to the plants; see also Tikva Frymer-Kensky, “Sex and sexuality,” in The Anchor Bible Dictionary vol. 5, 1146.
[xx] Gen 2:23-24
[xxi] The blood of Christ is understood as an act of redemption once for all. Once you become Christian, it means that you are in the new covenant. Therefore the cross empowered us to do righteous (Rm 3: 25; 10:4) for we are new born peoples, peoples who live in spirit (John 3:16; 13:1,34; 14:15,21,23; 15:9,12,17; 16:27; Rm 12:10; 13:8,10; 1Chr 13; Gal 5:13,22; Ef 4:2,15; 5:2; 6:24; Flp 2:2; Kol 2:2; 3:14; 1Pet 1:22; 2:17; 3:8; 4:8; 1 John 3:11, 14,23; 4:7, 8, 11, 19, 21; 5:1,2; 2 John 5; 2 John 6.)
[xxii] Look at the metaphor that is used by Hosea, Jeremiah, Ezekiel, Deutero Isaiah and Malachi. Even in this metaphor it is stated that loyalty is very much needed in relationship. Cf. Katharine Doob Sakenfeld, Faithfulness in Action. Philadelphia: Fortress Press, 1985, 112-16.
[xxiii] The death of Jesus is understood as making a new covenant (cf. the idea of sacrifice in the OT), see: 1 Cor 11:25; Lk 22:10; Mat 26:27; cf. foot note # 21.
[xxiv] Faithfulness (emet) is put as God’s attitude, it often coupling with steadfast love (hesed), see: ex34; Lam 3:22-23.
[xxv] It is as a sign that the church is faithfulness in action, cf. Katharine, Faithfulness in Action, 147-8.
[xxvi] Based on the motifs of God’s calling it is understood that the people called are expected to live faithfully in the process of growing into God’s direction till they are able to live in holiness (cf. Gal 5:16-26). Thus, there is an emphasis on the process, but there is no excuse for not growing into mature faith (1 Cor 13:11; 3:1-3; 14:20 and Eph 4:7-16.) Their life is conducted only by God, from and for God, since their calling makes them the reborn ones (Eph 4:17-32; Col 3:1-17; cf. Rom 6:1-11; 8; 12:9-21;16:3; 1 Cor 13; 2 Cor 5:17; Gal 2:20; 3:5-17; 5:6-16; Phil 2:5; 3:21; John 3:3) and belonging to God Cf. Hans Conzelmann. 1 Corinthians, Philadelphia: Fortress Press, 1985, 71-2; Therefore the gathering of the people called is supposed to be and perform as the kingdom of God in and to the world. Cf. John Bright, The Kingdom of God, Nashville: Abingdon Press, 1983, 256-59. See also Jesus’ understanding of it, on p. 219-21.
[xxvii] Cf. Wolfhart Pannenberg. Theology and the Kingdom of God. Philadelphia: The Westminster Press, 1977, 102-120; Moltmann Says that Christian ethics are eschatological ethics, see Moltmann in ”Liberating And Anticipating the future,”205.

Batam, 1 December 2003
Mindawati Perangin-angin Tampubolon

Paper dibacakan sebagai refleksi teologis terhadap aids dalam pertemuan gereja lutheran se Asia dan Afrika di Batam[xxvii]

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

Atonement

Atonement

[1]This paper tries to see why the Yom Kippur celebration is disappear in the new testament.
As it is understood that Judaism’s way of thinking and life based on an oral torah, which can be paralleled as “tradition” in the way Christian (catholic and Protestant) understand it. The written torah (Pentateuch) is the last one to be consulted, left alone the rest of the Tanakh. Therefore this paper starts with Judaism understanding of the basic meaning of Yom Kippur in which the idea of atonement is focused. Talking about atonement is talking about human and God. Human is the one who needs an atonement and God is the one who gives the atonement. The question is why human need atonement? Is that very crucial thing to do in the matter to keep the relationship with God?[1][2] Does human has to have the atonement? Wait is sin? Can human be without being sin?
When we talk about Judaism, we talk about Jews’ people. The question is, is the atonement an individual need, in other word, universal need, everybody, every where if human have to have the atonement? Or is this just an act of Jews’ people as the one who understood that Jews have relationship with God, and in this relationship there is a commitment that they have to be in “a special stage/ in a special way of life” to be still staying in that relationship?[3]
If it is the idea, it means that the idea of Yom Kippur must have connection with ethics.[4] The Israelite misunderstood this undesratnding in the prophetic times, so that misbehavior condemned by the prophets[5]. There is no separation between faith and dead how could you do sacrifice to God and abuse your fellow-it is a split personality. Initially, ritual act and everyday bevaiour are one. Worship, ritual things, and way of life is one as a faith’s expression.[6] Later, when life is more complicated, and worships and ritual acts become more institutionalized and legalized, the wholeness idea is almost gone. This division is alwsy understood since we believe that this is more important that. This fragmentaris way of thinking will keep us in this stage (status quo). It is the time for us to see something in the holistic way. The fragmentarical way of thinking makes us value one thing more and try to ignore other things (Methode berpikir yg fragmentaris inilah yg menyebabkan selalu ada faktor yg diutamakan dan ada faktor yg diabaikan). Then the valuable things we try to legalize them. This is our problem in the modern era, even post modern.
Theological reflection that the writers wrote in the exilic and a post exilic era is the Israelite had not done what God’s wanted them to do. Therefore, it is no wonder that since the exilic time, the emphasize to live as a chosen people is heightened and there is a demand to live as holy nation (cf.: god is holy). Based on the understanding that worship, ritual and the way of life are one, makes the function of the temple is very important. Worship, ritual and socialize activities are done in the temple. Therefore it is not surprised that the idea/need to rebuild the temple in Judah at the post exilic time, is strong. To have an idea that the idea of a synagogue appeared in the exile can be understood. The exclusiveness of Israelite at and after the time of Ezra and Nehemiah make the torah as a foundation of way of life and thinking, and later the torah became legalized and dogmatized. Worship, ritual and the way of life try to be done exactly as it is written in the torah. The emphasis to live based on God’s way for the sake of “being in the relationship” between Israel/invodual with God makes the factor of sacrifice is important. The purpose of sacrifice is usually to reconcile the relationship between human and God.[7] Therefore they do not surprise that the day of atonement is done in the sacrificial form and in the temple.[8] Later when there is no temple to make them being able to perform the sacrifice, the rabbis transform the idea of sacrifice into prayer, fasting and do charity. Though the form is different but the meaning of the content of celebration is remained the same, asking God’s forgiveness.[9] Because lev.16 as a basis of the meaning and content of the celebration, how is understood the meaning of the animals (bull and goat/ram Lev. 16:3, 5-11, 14-15), animals’ blood and kipper (Lev. 16: 14-16,18-20,27) can be see in Lev. 17:11. Why in this celebration is united two kinds of sacrifices, purification/sin and burnt offerings (Lev. 16:3,5)? We understood that based on this understanding so that later Christian claimed that Jesus is the lamb of God; the idea of blood Jesus in the cross symbolized in the wine at the holy communion as blood of Christ understood as redemption once for all and once you become Christian means you are in the new covenant/new relationship between the christian-god/through Jesus. As it is stated that the goats that does the expiation are the live ones and still alive. They are not the ones that sacrificed (Lev. 16, 10,21).
Milgrom in his commentary emphasizes that it is no way the animals can be as a substitute for human’s sin. The idea of a gift is still here and animals just still as a gift for to the god to ask the purge action (kipper) from God. Lev. 16:10
(To perform the expiation/ Upon it) he understands that “the purgation of the sanctuary is completed when the goat, laden with the sanctuary’s impurities, is dispatched to the wilderness. As will be shown in the note on vv. 21-22, the expressed purpose of the scapegoat is to carry off the sins of the Israelites transferred to it by the high priest’s confession.[10] Here, then kipper takes on the more abstract notion “to expiate.” In effect, the original purpose of the scapegoat, to eliminate the impurities removed from the sanctuary[11], has bee altered to a new theological notion-once a year, on the tenth of Tishri, the purgation rites of the sanctuary also remove Israelis’ sins, provided the people show their remorse through acts of self-denial and cessation from labor.

In some groups in Judaism, prior to the day of atonement [12]sephardi and eastern communities still maintain the kapparot ritual and some orthodox ashkenazim. This entails the symbolic transfer of guilt from a person to a fowl. Some do substitute coins for the fowl, and in some traditional congregations many charity boxes are available at the morning and early afternoon services preceding the day of Atonement. Based on this we understand that Judaism understood the role of animals as gift to persuade God to forgive them. The act to start doing it as a needy sign for forgiveness. So the animal itself does not consider as a substitute, instead the value/the price of the animals is valued. This idea later developed into the catholic system to sell a confession letter to ask God’s forgiveness. Therefore the aspect of human repentance[13] is still the most important aspect to renew the status of relationship (reconciliation) with God, especially after the destruction of the temple. The day of atonement itself atones. That day becomes the day of judgement but also the day of salvation. There is forgiveness from God to human and from human to human. This is the day of the new creation.[14]
There is no Yom Kippur celebration in the Christian tradition. It seems that the early Christian communities (Paul) still celebrate Yom Kippur (perhaps in Acts 27:9) but later the idea of Yom Kippur it is given into the meaning of Jesus’ death such as in Rom. 3:24-25; 5:8,11.[15] By God’s grace[16], every Christian automatically be as a new creation. (cf.: the meaning of Yom Kippur, cf. : Rom. 6, and Paul’s undesratnding that there is always tension between yezer hara and yezer hatob in Rom. 6:15-22; 7:7-25[17], and the impact as a new creation/covennat, people have to live based on love Rom. 13:8-10; 1 Cor. 13). to be able to win the war with yezer hara though through torah and doing charity (cf. his understanding of law and the way of his react how people misused the law, see Rom. 2:17-29; 3:19-20) so that he claims that only God’s grace can be justifice human (Rom. 3:21-31; ) and live in the new covenant (2Cor 5:17).
[1]
[1]
[2]Cf: the concept of atonement in Encyclopedia Judaica, vol.3, 830.
[3] The emphasis on invidual atonement is found after there is no temple. It can be said starting in the exile and then continue till in Judah, and in the rabbinic tradition.However the idea of the individual atonement can not be separated from the idea that Israel is God’s people.
[4] Cf: the concept of between man and God in encyclopedia Judaica, vol 7, 650-51. It is stated that “at the highest level Israel’s ethic and theology are indissolubly linked.”
[5] See Hos 6:6; Amos 5:21-24 cf: Amos 5:11-12; Isa 1:15-17; 58:Mic 6:6-9; Jer 7:4-10
[6] Cf: the idea of covenant in the hebrew bible.
[7] Though difficult for Milgrom to get a single idea of the meaning and purpose of sacrifice, however he can claim that he rejects the ideas of doing sacrifice as 1/ to provide food for the god; 2/to assimilate the life force of the sacrifical animal (the substitute idea) and 3/to effect union with the deity. He more in agreement with Taylor by sttaing that based on the its’ connote (sacrifice/gift) and the motivation in the ola (burn offering), minha (grain offering), selamim (peace offering) and isseh ( ) the purpose of sacricice is more in undesranding “toB induce the aid of the deity by means of a gift.” Because there is no one statement of sacrifice he ended by stating that “Sacrifice is a flexible symbol which can covey a rich vaiety of possible meanings.” See Jacob Milgrom, Leviticus 1-16. AB. New York: Doubleday, 1991, 440-443; see also the idea of sacrifice in the Encyclopedia of Judaism in which try to get the general and neutral idea by stating the oiginal hebrew of sacrifice is korban (karab) which means to bring closer human to God and vise versa (the eccyclopedia of Judaism. Jerusalem: The Jerusalem Publishing House,1989, 615-16.) Based on this general undersatnding it is understood that the underline of doing sacrifice is to make the relationship between human and god closer/better. Judaism itself understood sacrifice into there board categories: “sacrifice brought as a sign of submission to God; those brought as thanks; and those brought as part of the repentance fo asin commited inadvertently, through negligence.”
[8] See Lev.16. Milgrom states that yom kippur was celebrated since pre-exilix time, though he is not really sure when the changing tone from the happy day to be a day of penitence happened, see Milgrom, 1065-1071.
[9] The segments of the yom kippur celebration are: the fast, the penitential prayers, the bible readings, the formulas of confession, see: encyclopedia judaism, 192.
[10]According to Rabbinic Theology, sacrifices are always accompanied by repentance. Moreover though forgiveness can be achieved in various ways, but repentance is the most divine aspect, see Solomon, 294, so that on the yom kippur day is the new creation day, 304.
[11] Milgrom writes, “instead of being an offering or a substitute, the goat is simply the vehicle to dispatch Isreal’s impurities abd sibs to the wilderness/netherworld.” see, Milgrom, 1021.
[12]Torah and charity (loving kindness) can be used as substitute of sacrifice, see solomon, 312.
[13] Cf. Lev 16:21. The term of repentance in rabbinic understanding is teshuvah ( ). This term implies that human has been endowed by God with the power of “turning”. He can turn from evil to the good, and the very act of turning will activate god’s concern and lead to the forgiveness. see: Encyclopedia Judaica, vol. 6, 1434; see also Solomon, 334-339. There is an optimist belief to get God’s forgiveness. It is to be based on their undesratnding on the covenant idea. Our question is not on God’s side, but on the human’s side. How can human to do teshuvah? The idea of free will is emphasized strongly in judaism belief. So it is human to choose whether he/she wants to do good or evil (this idea expressed the idea God’s justice). See encyclopedia judaica vol. 7, 126-131 (free will); vol 8, 1318-19 (inclination good and evil). There is a general undesratnding that the yezer hara (yezer hara is not sin. Sin is understood as a rebellion against the majesty of God, based on yezer hara, Gen 6:5; 8:21; Deut 3:21; Ps 103:14) is part of human’s exietence, while the yezer hatob makes first appearance on the bar/bat mitzvah (cf: the idea of confirmation in the protestant church). See: Solomon Schechter. Aspect of Rabbinic Theology. Woodstock: Jewish Light Publication, 1993/1909 first publication, 242. Start from the bar/batmitzvah time, it is a time to study torah to make it as a weapon against the yezer hara, though finally the conquest come from God (based on God’s grace) See, Solomon, 273,278,280. All of these complicated existence of humans make them diferent from the angel being and the rest of the creations, and by conquering the yezer hara the humans enter into close communion with God, see, Solomon, 292.
[14]See Solomon, 302-4.
[15]Based on the idea of the role of blood as a kipper, cf. Davies, 234-35.
[16] Cf David Flusser, “The Dead
[17]See W. D. Davies, Paul and Rabbinic Judaism, 30-31.

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

Approaches to lay formation and leadership

Approaches to lay formation and leadership

This paper will explore the topic above from biblical and theological point of view. As materials and time are limited, I only put forward the main points that I think are needed as a biblical and theological foundation for the topic.

Who are we talking about?
If we consider ‘lay formation and leadership’, who are we talking about?

The lay.
According to Webster dictionary[i][ii] ‘the lay’ are ordinary peoples as distinguished from the clergy; not belonging to or connected with a given profession; non-professional. Webster also indicates that the word ‘lay’ comes from Latin: laicus and the Greek: laikos. Laikos is a noun form that designates the common people. [iii] In the writing of Homer laikos clearly pointed specially to the people as distinct from the rulers, or, in some relationship of subordination to their master.

Laos or laos tou theou?
Though Kraemer understands that the term laikos can not be found in the Bible, he emphasizes that its meaning is clear, that it is about laos, the people of God. Thus when he talks about laity he means the people of God.[iv]

Laos
Laos has an equivalent in Hebrew am[v] and go[vi]y in the Old Testament[vii], it means people as general, nation, crowd or tribe. There is no idea of separation in laos, on the contrary, there is a sense of unity in it. The members of laos are considered as one. Since all belong to laos, the member/community and laos can represent each other.[viii] Whether the people, nation or tribes outside of laos consider laos to be of lower status or degree than them , the degree in laos and everything in it remain the same. Therefore based on understanding of both terms, it is impossible to equate the term ‘lay’ and laos[ix]. My question now is whom are we talking about? Who do we mean when we speak about ‘lay’? is it Webster’ s definition mentioned above? If yes, my question would be what is our understanding of the church, so that we dare to categorize its people? If no, and we prefer to use the understanding of laos, meaning that there is a unity in it, and all the members belong to laos, why do we keep using the term laity? Isn’t it better to find another term to represent the members of the church who all belong to Jesus? [x] Who are they?

laos and laos tou theou are they the same?
Some scholars think yes, as both indicate the people of God.[xi] However I think Laos can be understood as the people of God or of Israel only if to Laos is added the genitive singular case tou theou or tou Israel.[xii] Thus if Laos stand by itself it cannot be translated or understood as the people of God.

Laos tou Theou.
Laos tou theou is found in New Testament mostly in quotations from the Old Testament, such as Rom 9:25 (Hos 2:22); 15:10 (Deut 32:43); 2 Cor 6:16 (Lev 26:12; Ezek 37:27); Titus 2:14 (Ex 19:5; 4:20; 7:6; 14:2, Ps 130:8); I Pet 2:9-10 (Ex 19:5-6; Deut 4:20; 7:6; 14:2; Isa 9:1; 43:20-21/ v.10- Hos 2:22); Hb 8:10 (Yer 31:31,34); 10:30 (Deut 32:35-36); Acts 7:34 (Ex 1:7-3:10); Rev 18:4 (Isa 48:20); 21:3 (Lev 26:11,12; Ezek 37:27).
The understanding of laos here has been built on the term am Yahweh from the Old Testament and is used to harmonize the relationship between the Jews and Gentiles by claiming that now all of them are the new eschatological people of God.[xiii] Now they are in a covenant relationship with God through Jesus who has died for them.[xiv] In this case we can use the understanding of laos tou theou as one that is able to represent Christians, for 1/ the inclusive way of thinking, so we are as Asian are also part of new eschatological people of God, 2/ We are still part of the continuation of the OT in doing God’s mission, though 3/ Jesus’death cuts the continuation between the OT and NT in the salvation history, for people who believe in Jesus they are free already, they are people who have been rebirth.

Why Christians formation and leadership is important?

However it is much better to use the understanding ‘the people called’ to represent Christians and the gathering of them is called ekklesia. Everybody in Christian community, the church member or not; the minister, the servant, the king, the lawyer, the farmer, the merchant, the bankers, the unemployment, the prostitute, etc, is called by God based on God’s grace (See 2 Tim 1:9; Rom 12:9; Gal 1:6,15; 2 Tes 2:14; 1 Pet 5:10; Heb 9:15). The question is whether they live consistently with their calling? The church has to play a role here, that is why formation and leadership of the people called (Christian) is so important.

The people called, (Christian) formation and leadership.

The church is a gathering of the people called, though there is no agreement among scholars whether the term ekklesia come from the idea of ‘to call out’ as seen in the word combination ek-kaleo. [xv] However based on the motif of God’s calling[xvi] [There are some motifs of God’s calling: 1/ the people called have to live lives worthy of God (Eph 1:18; 4:1,4; 1 Thess 2:12; 1 Tim 6:12; Gal 5:8; 1 Pet 2:21); to live in holiness (1 Thess 4:7; 1 Pet 1:15; to be God’s witnesses (1 Pet 2:9); to be a blessing for others (1 Pet 3:9); to always learn to know God so the people called can grow firm and mature in their calling and election (2 Pet 1:3,10); the people called are free (connect the idea with rebirth) and now belong to God only (1 Cor 7:22; Gal 5:13; Rom 1:6); the people called have to be faithful to God as God, Godself is a faithful one (Heb 3:1; Rev 17:14; 1 Thess 5:24], and the idea of to call out, church means to do a service to God and people. To be church means to be active: Worship to God, and to perform the calling[xvii]. Thus the aspects of koinonia, diakonia, and to be the witness to the world (marturia) are there. The question is how does the church do all those things? The answer is by Christian formation and leadership. Based on the motifs of God’s calling it is understood that the people called are expected to live faithfully in the process of growing into God’s direction till they are able to live in holiness (cf. Gal 5:16-26). Thus, there is an emphasis on the process, but there is no excuse for not growing into mature faith (1 Cor 13:11; 3:1-3; 14:20[xviii] and Eph 4:7-16.) Their life is conducted only by God, from and for God, since their calling makes them the reborn ones (Eph 4:17-32; Col 3:1-17; cf. Rom 6:1-11; 8; 12:9-21;16:3; 1 Cor 13; 2 Cor 5:17; Gal 2:20; 3:5-17; 5:6-16; Phil 2:5; 3:21; John 3:3) and belonging to God.[xix] Therefore agape (see: Mt 22:34-40; Mark 12:28-34; Lk 6:27-36; 10:25-28; 1 Cor 13; cf. 1 Cor 4:6-21; Rom 12:9-21; 13:8-10; 1 Pet 3:8-12; 4:8; 1 Jn 4:7-21; Yoh 15:9-17; Yoh 17: 20-26.) and the idea of oneness, (see: Eph 2: 11-22; 4:1-16; 1 Cor 12; cf. Rom 12:1-8; Phil 2:1-11; 1 Pet 3:8-12; Yoh 17:20-26; Acts 4:32-37) are so important for the church, thus all members have to support and help each other (Mt 6: 1-4; 2 Cor 8-10; Gal 6: 1-10; 1 Pet 4:9; 3 Jn 1:5-12; Acts 2:41-47), teach and remind each other (see: how many times Paul teaches and reminds the congregation how to live as the people called; see also 1 Thess 5:12-22; 2 Thess 2:13-3: 15; see the content of Timothy’s letter; Heb 12: 1-16; letter of James; 1 Pet 5:1-11; Jude 1:17-22; Mt 18:15-20); understanding each other (Lk 6:37-42; Rom 14-15:13), forgive each other (Mt 18:21-35; 2 Cor 2:5-11), for all people are under the power of sin, none is Righteous (Rom 3:9-18) and all people are created in the image of God (Gen 1:26). Therefore Christian formation has to have the above goals through Sunday worship service, bible study, counseling, Sunday school, youth group, prayer meeting, retreat and meditation, visitation to the people who are in need both in and outside the church, adult Bible school and conference/seminars that provides inter-disciplinary approaches. Through these activities it is expected that Christian are no longer schizophrenic. There is no longer separation between life at the church and everyday life at home and in society. It is so much needed for the people called to emphasize the spiritual experience and reflection theology in their everyday life so that all the things that they have been getting from the church that are supposed to equipment them in and to the world, is not like indoctrination. Therefore, the people called can be God’s witness to the world, to be salt (Mt 3:13) and light (Mt 5:14) in and to the world (cf. the idea of being part of civil society).
Who will responsible to all these kinds of activities? All the members of the church for their own calling (Tit 2:14; 3:1,8,14). Though they can be classified according to their talent, training and capacity (1 Pet 2-4; Rom 12:6; 1 Cor 5:7; 7:7; 12:7-8; 14:26; Eph 3:7; 4:16; Rom 12:3). Whatever they participate in, all are participating in order to develop the body of Christ in and to the world. (1 Cor 14:12,17[TSK1] )[xx]

[i]
[ii] Webster New World Dictionary, 827’
[iii], See William Arndt, A Greek English Lexicon of the New Testament, 462; Kittel, Theological Dictionary of the New Testament, vol. IV, 30.
[iv] see: H. Kraemer. Theologia Kaum Awam (A Theology of the Laity), 116. See also Andar Ismail who in this case so much follows the idea of Kraemer above, Andar Ismail, Awam dan Pendeta: Mitra Membina Gereja, 168-9.
[v] In a general sense am is understood as a group of people larger than a tribe or a clan but less than a race. However in the group, relationship sustained within or to the group and the unity of the group, see: Theological Words Books in The Old Testament, vol.2, 1640.
[vi] Goy is used especially to refer to specifically defined political, ethnic or territorial groups of people without intending to ascribe a specific religious or moral connotation, see: Theological Word Book, vol. I, 327.
[vii] See G. Kittel, Theological Dictionary of the NT, 32.
[viii] See the understanding of the terms am and goy in f.n # 4 and 5 above.
[ix] Cf. Kung, The Church, 125-6; Richardson, An Introduction to the Theology of the New Testament,
301-2.
[x] Hans Ruedy in his article “On Being Christian in the World. Reflections on the ecumenical Discussion about the Laity,” uses Christian to replace the term lay and laity since Christians link directly to Christ and also the Christian believers became known and designated themselves as it, 33.
[xi] Besides Kraemer, Johannes Louw also understands the term Laos to indicates a collective of people who belong to God, see: Greek English Lexicon of New Testament. Based on Semantic Domains, 123. Kung said that in early times laos itself could mean people of God, see: Hans Kung, 116
[xii] Cf: James Barr, The Semantics of Biblical Language, 124 n; 126 n; 234.
[xiii] There is an idea of inclusive salvation here, where the gentiles are included. Thus the concept of laos indicates the fulfillment of the Old Testament prophecy. Bultmann suggested to designate itself the congregation retains this title as a second meaning, see: Rudolf Bultmann, Theology of the New Testament, 97-98. He also said that in all the titles that the earliest church used to designate itself, there is always an eschatological idea, see, Bultmann, 37-9. For an understanding of am Yahweh, see Walter Eichrodt, Theology of The Old Testament, vol. I, 40. Bultmann understood that the earliest church regarded itself first as qahal Yahweh that is translated later as ekklesia, Bultmann, p.37-38. But Kung understands the term people of God as the first and foremost besides ekklesia. He adds, “The idea of the people of God is the oldest and most fundamental concept underlying the self-interpretation of the ekklesia.” See Kung, 119.
[xiv] See Richardson, 229-32. The death of Jesus is understood as making a new covenant (cf. the idea of sacrifice in the OT), see: 1 Cor 11:25; Lk 22:10; Mat 26:27.
[xv] Ekklesia is a secular word in Greek and usually means a gathering or assembly. But the first Christians, who were Greek speaking, designated themselves as ekklesia/or ekklesia tou theou based on their understanding of qahal Yahweh in the OT. See: Robert Nelson, The Realm of Redemption. Studies in the Doctrine of the Nature of the Church in Contemporary Protestant Theology, 5-9. See also Richardson in quoting K. L Schmidt’s suggestion on p. 285-6. James Barr disagrees to say that ekklesia can represent the understanding of qahal Yahweh, see Barr, 119-29. See also Kittel’s explanation about how difficult it is to find the real meaning of the term based on its etymology, since the meaning of a word always develops, becoming either broader or narrower, see Kittel, Bible Key Words, 57-61.
[xvi] cf. Abraham’s calling in Gen 12:1-4; Isa 42:6.
[xvii] According to Nelson early Christian who called themselves as k’ nishta did these activities.
[xviii] Cf. Hans Conzelmann. 1 Corinthians, 71-2.
[xix] Therefore the gathering of the people called is supposed to be and perform as the kingdom of God in and to the world. Cf. John Bright, The Kingdom of God, 256-59. See also Jesus’ understanding of it, on p. 219-21.
[xx] See image of the church as the body of Christ in 1 Cor 12:12-27; Rom 12: 4-8.

Pdt. Mindawati Perangin angin

[TSK1]

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

Gereja dan Tantangan Pemuda dalam konteks Indonesia

Gereja dan Tantangan Pemuda dalam konteks Indonesia

Tulisan ini telah kami bacakan di pertemuan NHKBP di Tarutung.

Tantangan pemuda dalam konteks Indonesia.

Dalam era globalisasi ini konteks lokal, nasional dan internasional sudah “interrelated” sehingga jika kita tidak mengenal siapa kita (identitas) yang berhubungan dengan keber”ada”an dan konteks, maka kita akan terputar oleh arus yang dikuasai oleh multi-cooperation, yang tidak memuja Allah tapi mammon. Dampaknya, konteks global sekarang adalah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keutuhan interrelationship dari semua ciptaan. Sehingga yang nampak adalah ketidakadilan.

Perbedaan dianggap sebagai ancaman bukan kekayaan yang saling menopang. Hal ini disebabkan karena yang memiliki, yang berkuasa, yang lebih pintar menindas/ memanipulasi yang tidak/ kurang memiliki, yang tidak berkuasa (powerless) dan yang bodoh. Saling berbagi (the idea of sharing) tidak dikenal dalam era ini. Prinsip Doa Bapa Kami dan kotbah di Bukit yang diajarkan oleh Yesus tidak berlaku di era perdagangan bebas dan global market ini. Manusia kini, amat cepat terserap oleh pola pikir dan tindak yang ditawarkan oleh global market ini, karena mereka menguasai dunia informasi. Termasuk pemuda gereja.

Konsumerisme, hedonisme, pragmatisme, kebudayaan instant (coffee three in one) mengarahkan kita menjadi individualisme yang tidak sesuai dengan pola local (kebatakan- hula-hula, anakboru dll) dan nasional (gotong royong, musyawarah mufakat) yang berorientasi kepada kekuasaan (power) dan uang (money). Semua orang menuntut dilayani bukan melayani. Yang tinggi direndahkan dan yang rendah ditinggikan tidak dikenal pemuda kini.

Ekonomi dan politik adalah berkaitan dan sangat berhubungan dengan keberadaan agama. Keterkaitan ketiga aspek ini dan yang dimana aspek agama adalah yang the most sensitive, maka jika gereja belum mengertikan Pancasila sebagai civil religion (Civil religion stands somewhat above folk religion in its social and political status, since by definition it suffuses an entire society, or at least a segment of a society; and is often practised by leaders within that society. On the other hand, it is somewhat less than an establishment of religion, since established churches have official clergy and a relatively fixed and formal relationship with the government that establishes them. Civil religion is usually practiced by political leaders who are lay people and whose leadership is not specifically spiritual) muncullah seperti yang kita kenal di tanah air tragedi Ambon dan Poso, juga yang pemerintah RI dan media sebut “teroris.” Ini adalah penampakan umum sebagai dampak negatif dari pluralisme kita (kepercayaan/iman dan suku). Penampakan khusus adalah masalah intra-church. Maraknya gerakan “haleluyah“ (bisa dimasukkan Pentakosta dan Karismatik) jangan dengan cepat dimengerti sebagai buah dari pekerjaan roh kudus. Ini adalah buah dari tatanan global market (Bandingkan Iman Santoso, “Misi Gereja Dalam Era Pluralisme Budaya Dan Teknologi Canggih,” dalam Masihkah Benih Tersimpan, penyunting F. Suleeman, Jakarta: BPK, 216-7).

Berdasarkan pemaparan di atas, bisa dikatakan bahwa sebagai pemuda yang hidup di konteks kini tidak gampang. Karena tidak hanya complex tapi juga complicated, jika kita tidak mempunyai identitas yang jelas tentang siapa dan dimana kita.

Pengangguran karena putus sekolah dan tidak dapat kerja adalah dampak dari era yang high competition ini. Konsep keluarga juga sudah bergeser dikarenakan komoditi ekspor Indonesia yang menghasilan devisa yang tinggi buat negara adalah TKI dan TKW. Pemuda banyak yang jebolan keluarga yang kita sebut “broken home.“ Banyak yang melarikan diri (Eka Dharmaputra menuliskan bahwa dalam menghadapi status quo dan kemapanan disekitarnya, generasi muda a. melarikan diri,b. Menghanyutkan diri dan c. Reaktif dan agresif, lihat Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, Jakarta: BPK, 570.) daripada stress ke narkoba, miras, berjudi, atau menjadi aktif di kegiatan-kegiatan yang positif seperti GMKI, pemuda gereja HKBP atau Persekutuan-persekutuan doa yang menjamur kini.

Dalam era sejuta pilihan ini, pemuda harus mempunyai kemampuan untuk memilih. Kemampuan in haruslah dilandaskan di bekal pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolah dan pendidikan ketrampilan sehingga memampukannya berpikir secara global dan bertindak lokal, serta keteguhan iman. Perpaduan kedua ini jelas berhubungan dengan pemunculan sikap yang kerja keras, inovatif, kreatif dan jujur.

Gereja, keberadaan dan fungsinya.

Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang terpanggil,walaupun tidak ada persetujuan para ahli tentang apakah term ekklesia berasal dari idea ‘to call out’ (memanggil keluar) sebagai hasil dari kombinasi dua-kata ek-kaleo (Ekklesia adalah secular word dalam bahasa Yunani,biasanya berarti a gathering or assembly. Tapi orang Kristen mula-mula yang adalah berbahasa Yunani mengerti diri mereka sebagai ekklesia/or ekklesia tou theou berdasarkan pengertian dari qahal Yahweh dalamPL, lihat Robert Nelson, The Realm of Redemption. Studies in the Doctrine of the Nature of the Church in Contemporary Protestant Theology, 5-9. Lihat juga Richardson yang mengutip pikiran K. L Schmidt’s di hal. 285-6. James Barr tidak setuju untuk mengatakan bahwa ekklesia dapat merepresentasikan pengertian qahal Yahweh, see Barr, 119-29. Lihat juga penjelasan Kittel tentang bagaimana sulitnya untuk mendapatkan the real meaning of the term berdasarkan etymologynya, apalagi arti dari kata selalu berkembang menjadi jika tidak semakin luas ya semakin sempit. Lihat Kittel, Bible Key Words, 57-61)

Namun berdasarkan motif dari pemanggilan Allah (Band. Pemanggilan Abraham di Kej 12:1-4; Yes 42:6) yang bertujuan agar orang yang terpanggil harus hidup berdasarkan ajaran Allah (Eph 1:18; 4:1,4; 1 Tes 2:12; 1 Tim 6:12; Gal 5:8; 1 Pet 2:21); hidup dalam kesucian (1 Tes 4:7; 1 Pet 1:15; menjadi saksi Allah (1 Pet 2:9); menjadi berkat bagi orang lain (1 Pet 3:9); harus selalu belajar semakin mengenal Allah agar kita dapat bertumbuh kokoh dan dewasa dalam pemanggilan dan pilihan kita (2 Pet 1:3,10); orang yang dipanggil adalah bebas (hubungkan in dengan idea lahir kembali ) dan sekarang hanya menjadi kepunyaan Allah semata (1 Kor 7:22; Gal 5:13; Rom 1:6); orang orang yang terpanggil haruslah hidup setia kepadaAllah sebagaimana Allah adalah setia (Ibr 3:1; Wah 17:14; 1 Tes 5:24], dan ide dari “memanggil ke luar” berarti melakukan pelayanan ke Allah dan manusia. Menjadi gereja berarti aktif dalam ibadah kepada Allah dan mewujudkan panggilan itu (mnurut Nelson, orang Kristen mula-mula yang menyebut dirinya sebagai as k’ nishta melakukan kegiatan in.) sehingga aspek dari koinonia, diakonia, dan menjadi saksi ke dunia (marturia) nyata ada. Melalui ketiga aspek inilah gereja berperan dalam mengarahkan dan mempersiapkan pemuda dalam menghadapi tantangan kini dan di sini.

Pemuda sebagai bagian dari persekutuan gereja

Pemuda adalah bagian dari koinonia, sehingga ia masuk dalam persekutuan kategorial. Dalam persekutuan in mereka di arahkan melalui PA, kebaktian pemuda, katekisasi dan percakapan pastoral. Melalui program diakonia gereja, pemuda ditingkatkan daya saingnya sehingga mampu berkompetisi di level local, nasional dan internasional (peningkatan SDM). Juga Diakonia memprogramkan penciptaan lapangan kerja buat mereka.

Peran gereja dalam mempersiapkan dan membantu pemuda dalam menghadapi tantangan ini haruslah dilandaskan atas aspek agape (lihat: Mat 22:34-40; Mark 12:28-34; Luk 6:27-36; 10:25-28; 1 Kor 13; bandingkan 1 Kor 4:6-21; Rom 12:9-21; 13:8-10; 1 Pet 3:8-12; 4:8; 1 Jn 4:7-21; Yoh 15:9-17; Yoh 17: 20-26.) dan idea dari kesatuan (oneness) [lihat Ep 2: 11-22; 4:1-16; 1 Kor 12; band Rom 12:1-8; Fil 2:1-11; 1 Pet 3:8-12; Yoh 17:20-26; Kis 4:32-37) yang adalah sangat penting dalam mengerti akan apa itu gereja. Sehingga ada pernyataan bahwa dalam gereja, jemaat haruslah saling menopang dan menolong (Mat 6: 1-4; 2 Kor 8-10; Gal 6: 1-10; 1 Pet 4:9; 3 Jn 1:5-12; Kis 2:41-47), haruslah saling mengajar dan mengingatkan(1 Tes 5:12-22; 2 Tes 2:13-3: 15; lihat isi kitab Timotius; Ibr 12: 1-16; kitab Yakobus; 1 Pet 5:1-11; Jude 1:17-22; Mat 18:15-20); saling mengerti satu sama lain (Luk 6:37-42; Rom 14-15:13), saling mengampuni (Mat 18:21-35; 2 Kor 2:5-11).

Maka adalah mandat dan tugas gereja agar pemuda mampu menjadi saksi di dunia, menjadi garam (Mat 3:13) dan terang (Mat 5:14). Sehingga generasi muda yang kini mayoritas mengidentitaskan dirinya berdasarkan what they have bergeser menjadi what they are. Di sini karakter dan integritas yang didasarkan iman berperan menentukan. Generasi muda kembali menjadi dirinya yang idealis, dinamis, berpengharapan, penuh semangat dan cita-cita. Mereka berani tampil beda tanpa takut untuk diasingkan seperti Yesus. Sehingga pemuda, baca juga gereja, tidak enggan untuk mengambil bagian di dalam civil society di dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air di Indonesia. Dan Pemuda dan Gereja hanya bisa berperan jika ia a. tidak sama dengan Dunia dan b. mempunyai pandangan dan konsepnya yang berdasarkan visi misi perwujudan kerajaan Allah di dunia.

Kabanjahe, Pdt. Mindawati Perangin angin Ph.D

Juli 2, 2008 Posted by | artikel teologia dan sdm | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.